
Beberapa detik kemudian Andi membulatkan matanya karena baru sadar kalau dirinya telah keceplosan.
Bukannya menerima ucapan terimakasih dari Kanaya, Andi malah membuat statemen ( pernyataan ) yang menyiratkan bahwa Kanaya bukanlah wanita baik-baik.
"Mampus! Aku keceplosan dan salah bicara lagi,"gumam Andi dalam hati.
Sedangkan Kanaya, tadinya gadis itu merasa sangat berterimakasih karena telah di tolong oleh Andi. Dan juga merasa kagum dengan ilmu beladiri yang dimiliki Andi.
Namun seketika wajah Kanaya yang terlihat tulus mengucapkan terimakasih itu pun berubah menjadi garang.
Andi menelan salivanya kasar melihat ekspresi wajah Kanaya yang berubah seratus delapan puluh derajat itu.
"Apa maksud Tuan mengatakan itu? Wanita baik-baik tidak akan berada di tempat tidak baik? Maksud anda, saya bukan wanita baik-baik? Begitu, 'kah, maksud anda?"tanya Kanaya dengan tatapan tajam layaknya pedang yang hendak menusuk Andi sampai mati.
"Ah, maaf! Aku tadi salah berucap. Aku tidak bermaksud mengatakan kamu bukan wanita baik-baik,"ucap Andi menyampaikan pemikirannya yang sebenarnya.
Kanaya tersenyum sinis mendengar permintaan maaf Andi,"Jika wanita baik-baik, maka tidak akan berada di tempat yang tidak baik, berarti anda juga bukan pria baik-baik. Karena anda juga berada di tempat yang tidak baik. Bukankah begitu, Tuan Andi yang terhormat?"tanya Kanaya masih dengan senyuman sinis di bibirnya.
"Sekali lagi aku minta maaf! Aku tadinya ingin mengatakan, bahwa wanita baik-baik tidak seharusnya berada di tempat yang tidak baik. Maafkan aku! Aku salah bicara,"ucap Andi tulus.
"Terserah Tuan mau mengatakan saya apa. Itu hak anda dan tidak penting bagi saya. Saya tidak bisa memaksa orang lain menilai saya sebagai orang baik. Lagipula, walaupun saya di nilai sebagai orang baik oleh orang lain, penilaian itu tidak akan menjamin saya bisa masuk surga. Dan jika orang lain menilai saya bukan orang baik, saya juga belum tentu masuk neraka. Terserah Tuan mau menilai saya apa. Jalan ke surga juga tidak melewati pekarangan rumah anda,"ujar Kanaya datar.
"Ya, mana ada jalan ke surga melewati pekarangan rumah orang?"celetuk Andi kembali keceplosan.
"Terimakasih atas bantuan anda malam ini. Suatu saat, jika ada kesempatan, saya pasti akan membalasnya. Karena saya tidak ingin lagi berhutang apapun pada orang lain. Termasuk berhutang budi. Sekali lagi, terimakasih karena anda telah menolong saya. Permisi!"ucap Kanaya kemudian pergi meninggalkan Andi tanpa menunggu jawaban dari Andi.
Andi membuang napas kasar melihat Kanaya yang semakin menjauh.
"Shiitt! Arghh! Kenapa aku bisa salah bicara? Menyebalkan sekali! Sudah tiga kali ini aku salah bicara dengan dia. Dan akibatnya, dia selalu pergi dengan wajah kecewa. Aku seperti menolong dia yang akan jatuh ke jurang, tapi setelah itu, aku banting dia ke aspal,"gumam Andi yang merasa kesal sendiri pada dirinya sendiri.
Andi sangat tahu, jika hati wanita itu selembut sutra. Seperti cermin. Sekali retak, maka sebuah cermin tidak akan memantulkan bayangan yang sempurna lagi. Apalagi kalau sampai pecah. Walaupun bisa di satukan lagi, tapi bayangan yang di pantulkan akan tetap pecah.
Akhirnya Andi memilih mengikuti Kanaya dari jauh. Entah mengapa, Andi merasa tidak tenang sebelum melihat Kanaya sampai di tempat tinggalnya.
Kanaya akhirnya sampai juga di tempat kost nya yang minimalis. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai yang tipis.
"Dasar menyebalkan! Aku mengucapkan terimakasih padanya, tapi dia malah mengatai aku bukan wanita baik-baik. Memang nya siapa dia, sehingga berhak menilai aku wanita baik-baik atau bukan? Dia sendiri memangnya pria baik-baik apa? Seorang pria kaya berada di klub malam, kalau nggak mabuk-mabukan, ya pasti ingin memboking perempuan malam, 'kan?"
"Orang kaya kalau ngomong memang seenak jidat mereka saja. Tidak memikirkan perasaan orang lain. Apa mereka tidak ingat, atau tidak tahu? Harta itu hanya titipan-Nya. Bisa di ambil sewaktu-waktu jika Tuhan menginginkan nya,"
__ADS_1
"Hidup masih butuh bantuan orang lain saja sombong. Memangnya kalau mati bisa mandi sendiri dan bisa masuk kuburan sendiri?"gerutu Kanaya di kamar kost nya yang benar-benar merasa dongkol pada Andi.
Sudah tiga kali Kanaya berurusan dengan Andi. Dan selalu saja ceritanya sama. Dirinya di angkat oleh Andi, lalu di banting. Sakit, tapi tidak berdarah. Karena yang terluka bukan badan, tapi harga diri.
Andi menghela napas panjang setelah melihat Kanaya masuk ke tempat kost nya. Ada perasaan lega dalam hati Andi, karena Kanaya sudah sampai di tempat kost nya dengan selamat.
"Dia tinggal di tempat kost yang seperti ini. Kasian juga gadis itu. Tapi, kenapa dia bisa berada di klub malam itu? Aku tidak yakin jika dia menjual diri. Harga diri gadis itu terlalu tinggi. Dia tidak mungkin menjual diri,"gumam Andi kemudian berbalik pergi meninggalkan tempat itu.
Untung saja Andi memakai motor security di rumah Rayyan dengan sewa berupa sebungkus rokok, kopi, cemilan dan uang bensin. Jadi Andi bisa mengikuti Kanaya yang tempat kost nya masuk gang. Jika Andi memakai mobil Rayyan, akan sulit bagi Andi untuk mengikuti Kanaya.
***
Keesokan harinya, Kanaya kembali bekerja di perusahaan Rayyan seperti biasanya.
"Aku berharap tidak bertemu dengan dia lagi. Bertemu dengan dia hanya membuat aku darting, alias darah tinggi. Jika sering bertemu dengan dia, lama-lama aku bisa mati muda karena stroke sebelum merasakan apa itu surga dunia,"gerutu Kanaya sambil membawa kemoceng dan kain lap untuk membersihkan meja para staf kantor.
"Kanaya! Cepat ke meeting room. Tuan Andi menyuruh kita membereskan meeting room,"ujar seorang office girl berambut pendek yang menghampiri Kanaya.
"Apa di sana ada Tuan Andi?"tanya Kanaya yang malas bertemu dengan Andi.
"Kenapa? Kamu ingin bertemu dengan Tuan Andi? Naksir? Kalah saingan, sayang! Dari penampilan, jabatan, dan kekayaan, kamu sudah kalah telak. Banyak yang naksir Tuan Andi. Jabatan sebagai staf, penampilan trendy, dari keluarga mampu. Tapi mereka aja nggak di lirik sama sekali oleh Tuan Andi. Apalagi yang hanya office girl tidak kaya dan berpenampilan biasa saja kayak kita,"ujar teman Kanaya yang sudah lama kerja di perusahaan Rayyan.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Memangnya Tuan Andi pernah berkata apa padamu?"tanya office girl berambut pendek itu memicingkan sebelah matanya menatap Kanaya.
"Sudahlah! Jangan di bahas! Aku sebel kalau mengingatnya. Sebelum kena semprot, ayo cepat kita ke meeting room!"ajak Kanaya yang malas membahas tentang Andi lebih jauh lagi.
"Ishh.. Kamu ini bikin penasaran aja, sih, Aya,"ujar office girl berambut pendek itu seraya menepuk lengan Kanaya.
Kanaya mulai berjalan menuju meeting room bersama office girl berambut pendek itu. Tidak ingin di marahi atasan karena tidak segera menjalankan apa yang di perintahkan.
Setelah sampai di meeting room, Kanaya benar-benar melihat Andi di sana. Kanaya mengerjakan pekerjaannya tanpa melirik sedikit pun pada Andi.
Andi menghela napas kasar melihat sikap Kanaya yang nampak enggan dekat dengan dirinya itu.
"Dia pasti sakit hati karena kata-kata ku semalam,"gumam Andi dalam hati.
***
Hari beranjak sore. Kanaya dan teman-temannya pun bersiap untuk pulang.
__ADS_1
"Kamu tahu, nggak, dimana ada lowongan kerja malam hari?"tanya Kanaya pada office girl berambut pendek. Kanaya masih belum menyerah untuk mencari pekerjaan.
"Kenapa? Kamu ingin berhenti bekerja dari tempat ini?"tanya office girl berambut pendek itu seraya membereskan barang-barangnya.
"Tidak. Aku hanya mencari tempat kerja malam hari. Jadi aku bisa bekerja di dua tempat,"
"Kamu nggak capek apa, di sini sudah kerja seharian, pulangnya harus kerja lagi?"
"Capek, sih. Tapi, ya, gimana lagi? Aku harus mendapatkan uang lebih banyak untuk membayar angsuran rumah,"
"Kenapa nggak di jual saja rumah di kampung itu. Bawa ibumu pindah ke sini,"
"Ibuku tidak mau. Rumah itu adalah hasil kerja keras ibu dan bapak ku. Terus, kata ibu, ibu merasa lebih nyaman tinggal di desa karena bisa mengobrol dengan tetangga. Kalau tinggal di kota, ibuku merasa kesepian karena semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Baru tiga hari ibuku ikut aku ke sini, tapi ibu ku sudah tidak betah,"
"Bukannya kemarin kamu bilang mau bekerja di klub malam?"
"Iya. Tapi, aku nggak mau lagi kerja di sana. Semalam, pemilik klub malam itu menyuruh aku memakai baju seragam waiter yang begitu ketat dan pendek. Aku tidak mau dan berniat mengundurkan diri. Tapi perempuan itu mencegah aku pergi dan mengatakan aku boleh memakai bajuku sendiri. Dia mengatakan akan menjahitkan baju yang lebih panjang dan longgar untuk ku. Tapi, nyatanya aku malah di jual pada seorang pria tua. Untung saja aku bisa kabur. Hampir saja keperawananku hilang. Seumur hidup, aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kakiku di tempat yang namanya klub malam,"ujar Kanaya yang benar-benar jera pergi ke klub malam.
"Aih.. Mengerikan sekali,"sahut office girl berambut pendek.
Andi yang entah sejak kapan menguping pembicaraan Kanaya dan temannya itupun hanya bisa menghela napas panjang.
"Ternyata semalam dia berada di klub malam itu karena sedang bekerja,"gumam Andi dalam hati, yang akhirnya tahu, kenapa semalam Kanaya berada di klub malam.
...πππ...
...Ada beberapa hal yang lebih baik diabaikan, agar bisa terus melangkah meraih kebahagiaan....
...Jangan pedulikan apa yang mereka katakan, karena hidup kita, hanya Tuhan dan kita sendiri yang menentukan....
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Maaf telat update. Spill aja kalau ada typo.πππππ
.
To be continued
__ADS_1