
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, akhirnya keluarga Rayyan sampai juga di rumah.
"Huff.. Akhirnya sampai di rumah juga. Mama mau istirahat duluan, ya?"pamit Naima mencium pipi Zayn yang terlelap dalam gendongan Rayyan, kemudian bergegas ke kamarnya untuk merebahkan tubuhnya.
"Mana kakak? Kok, belum sampai?"tanya Rayyan yang tidak melihat Hendrik dan Sumi.
"Sepertinya mereka mampir ke mall"sahut Aurora.
"Ya, sudah. Kita ke kamar dulu, yuk! Sebentar lagi kita akan makan malam,"ujar Rayyan, lalu berjalan ke arah kamarnya.
"Hum,"sahut Aurora mengikuti suaminya.
"Tuan, Nyonya!"panggil Andi yang bergegas menghampiri Rayyan dan Aurora.
"Ada apa?"tanya Rayyan seraya mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Andi yang sepertinya akan menyampaikan berita yang tidak baik.
"Saya baru tahu, jika Tuan Aiden mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu,"sahut Andi.
"Kecelakaan? Bagaimana keadaan kakak ku?"tanya Aurora nampak khawatir, demikian pula dengan Rayyan.
"Saya sudah menghubungi Roni via chat. Kata Roni, dokter menyatakan, jika kaki tuan Aiden lumpuh dan kemungkinan untuk sembuh hanya empat puluh persen. Menurut Roni, Tuan Aiden sengaja menyembunyikan kecelakaan yang terjadi padanya, karena tidak ingin Tuan dan nyonya tidak jadi berlibur karena dirinya. Sekarang, Tuan Aiden berada di rumah peninggalan kedua orang tua Tuan Aiden dan nyonya Aurora"jelas Andi sesuai yang dikatakan oleh Roni via chat.
"Sayang.."panggil Aurora menatap Rayyan dengan wajah yang terlihat sedih.
"Kita ke sana untuk melihat keadaan kakak,"ujar Rayyan yang mengerti perasaan Aurora. Aurora pasti ingin melihat keadaan kakaknya.
"Terimakasih,"ucap Aurora tersenyum tulus.
"Andi, tolong kamu atur keberangkatan kita besok,"pinta Rayyan.
"Baik, Tuan. Tapi, bagaimana rencana nyonya Aurora dan nyonya Naima untuk pulang ke kampung nyonya Aurora, Tuan?"tanya Andi memastikan nyonya nya akan tetap pergi atau tidak.
"Aku putuskan besok saja setelah melihat keadaan kakak ku,"sahut Aurora.
"Baik, nyonya,"sahut Andi.
Rayyan dan Aurora akhirnya tidak jadi masuk ke dalam kamar mereka. Sepasang suami-isteri itu memilih untuk pergi ke rumah Aiden untuk melihat keadaan pria itu.
Sedangkan Andi juga tidak ikut karena harus mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi besok.
***
Naima mengernyitkan keningnya saat waktu sarapan pagi sudah tiba, tapi wanita paruh baya itu tidak menemukan anak, menantu dan juga cucunya di meja makan.
"Tuti, kemana anak, menantu dan cucu-cucuku? Apa mereka belum pulang?"tanya Naima pada Mastuti.
__ADS_1
Dari semalam Naima sudah makan malam sendirian karena Hendrik dan Sumi menginap di rumah Sumi. Sedangkan Rayyan dan Aurora menginap di rumah almarhum kedua orang tua Aurora.
"Belum, nyonya,"sahut Mastuti.
Tidak lama setelah Naima selesai sarapan, terdengar suara pintu mobil yang di tutup. Naima pun bergegas menuju pintu utama.
"Akhirnya kalian pulang juga,"ujar Naima penuh senyuman saat melihat Rayyan dan Aurora pulang,"Mama dengar dari Andi, kakak kamu kecelakaan, Ra?"tanya Naima yang semalam mengetahui hal itu dari Andi.
"Iya, ma,"sahut Aurora.
"Bagaimana keadaannya?"tanya Naima seraya mengambil Zayn dari gendongan Rayyan. Bayi lucu itu sedang asyik menyusu dari botol susunya. Kedua tangannya yang mungil memegang botol susu itu.
"Kaki kakak lumpuh. Tapi, Fina akan mencarikan dokter terbaik yang bisa menyembuhkan kaki kakak"jelas Aurora.
"Kamu akan tinggal di rumah kakakmu untuk merawat kakakmu?"tanya Naima yang takut jika Aurora akan tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya dengan alasan Aiden sakit. Naima merasa enggan berpisah dengan cucunya.
"Sepertinya Aurora tidak perlu merawat kakak, ma. Kakak sudah memiliki perawat sendiri. Lagi pula, kakak juga tetap bekerja seperti biasanya,"sahut Rayyan.
"Syukurlah kalau begitu. Lalu, apa kita jadi pergi ke rumah bapak dan ibumu?"tanya Naima penuh harap.
"Kalau mama mau, akan aku temani,"sahut Aurora tersenyum tipis.
Aurora merasa Aiden tidak membutuhkan dirinya untuk merawat Aiden. Karena Aiden sudah memiliki perawat sendiri. Dan sepertinya kakaknya terlihat nyaman dengan perawatnya.
Rayyan dan Aurora pergi ke kamarnya, meninggalkan Zayn bersama Naima.
"Bantu aku mengemasi pakaian ku, sayang,"pinta Rayyan saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Hum,"sahut Aurora bergegas mengemasi barang-barang Rayyan.
"Tidak usah terlalu banyak, sayang. Jika kurang, aku akan membeli di sana. Apa kamu ingin aku belikan sesuatu saat aku pulang nanti?"tanya Rayyan yang ikut mengemasi barang-barangnya.
"Tidak perlu, sayang. Aku sudah memiliki semuanya. Sayang, kamu merasa nggak, sih, kalau di antara kakak dan Yuniar itu seperti ada sesuatu yang di sembunyikan?"tanya Aurora mengungkapkan isi hatinya.
Saat semalam mengunjungi Aiden, kehadiran Yuniar di sisi kakaknya sempat membuat Aurora terkejut. Dan entah mengapa Aurora merasa bahwa hubungan kakaknya dan Yuniar tidak sekedar hubungan antara perawat dan pasien.
"Menurut penyelidikan Andi, kakak menolong Yuniar yang hendak di lecehkan beberapa orang pria di jalanan yang sepi di dekat kebun pisang. Setelah itu kakak berniat mengantar Yuniar pulang. Namun, dalam perjalanan, mereka mengalami kecelakaan. Mungkin karena merasa berhutang budi pada kakak yang telah menolongnya Yuniar berinisiatif menjadi perawat kakak,"jelas Rayyan sesuai informasi yang diberikan oleh Andi semalam.
"Ohh.. Begitu rupanya. Aku sangka ada hubungan apa gitu di antara mereka,"sahut Aurora dengan tangan yang terus bergerak mengemasi barang-barang Rayyan yang akan di bawa Rayyan ke luar negeri.
"Kalaupun ada, memangnya kenapa? Kakak sudah dewasa, sudah waktunya menikah. Di akan menjadi bujang lapuk jika tidak segera menikah,"sahut Rayyan.
"Tapi, siapa wanita yang mau menikah dengan pria lumpuh seperti kakak? Kalaupun ada, aku tidak yakin wanita itu menikah dengan kakak karena mencintai kakak. Wanita yang mau menikah dengan kakak pasti karena melihat harta yang dimiliki oleh kakak, semata,"sahut Aurora menghela napas panjang.
Aurora merasa sedih dengan keadaan kakaknya, tapi tidak menunjukkannya di depan kakaknya. Aurora tetap bersikap seperti biasanya, tidak ingin kakaknya merasa rendah diri sebab dikasihani karena keadaannya yang sekarang lumpuh.
__ADS_1
"Kita tidak tahu takdir dari Tuhan, sayang. Walaupun kakak lumpuh, belum tentu tidak ada wanita yang tulus bersedia mendampingi kakak. Jika, menurut aku, malah saat inilah waktu yang tepat untuk melihat siapa wanita yang benar-benar tulus pada kakak,"
"Bagaimana jika hanya berpura-pura tulus?"tanya Aurora yang tidak yakin ada wanita yang tulus mencintai kakaknya dengan keadaan kakaknya saat ini.
"Jangan terlalu memikirkannya! Jalani saja dengan hati ikhlas dan sebaik mungkin. Bagaimana pun jodoh kakak nanti, itu sudah merupakan takdir dari Tuhan yang tidak bisa kita hindari apalagi kita tolak. Karena jodoh, rezeki dan mati itu adalah ketentuan Tuhan yang tidak bisa kita ubah. Sebagai manusia, kita hanya diwajibkan untuk berusaha sebaik mungkin dalam menjalani hidup,"ujar Rayyan yang tidak ingin Aurora merisaukan keadaan kakaknya.
"Kamu memang benar. Tapi, kakak cedera apa hingga jadi lumpuh seperti itu?"
"Menurut informasi dari Andi, kakak mengalami lumpuh kaki karena cedera pada tulang belakang nya, sayang,"
"Cedera tulang belakang? Setahu aku, dengan cedera tulang belakang dan keadaan lumpuh seperti itu, bukankah kecil kemungkinannya bagi kakak untuk memiliki keturunan?"tanya Aurora terlihat sedih.
"Iya. Dalam keadaan seperti itu, memang kemungkinan besar kakak akan mengalami ejakulasii dinii, atau yang lebih parah adalah impotensii. Tapi, pengobatan zaman sekarang sudah semakin maju, sayang. Kita akan mengusahakan berbagai macam cara pengobatan agar kakak bisa sembuh kembali. Kita tidak boleh putus asa sebelum berusaha, mencoba dan berdoa. Fina tidak akan tinggal diam, jika melihat sahabatnya seperti sekarang. Fina pasti akan mencari jalan agar bisa membantu kesembuhan kakak,"ujar Rayyan berusaha menenangkan Aurora.
"Aku harap kakak bisa sembuh,"gumam Aurora menghela napas panjang.
Setelah selesai mengemasi semua barang-barang yang akan di bawanya, Rayyan memilih kembali membersihkan diri sebelum berangkat.
Aurora mengantar suaminya hingga di depan pintu utama rumah. Mobil Rayyan pun sudah terparkir di depan pintu rumah itu.
"Aku akan merindukanmu,"ucap Aurora mengecup lembut bibir Rayyan.
"Aku jadi tidak rela meninggalkan kamu,"ujar Rayyan kemudian menciumi wajah istrinya.
"Tuan, kalau ciuman perpisahannya tidak selesai-selesai, kita akan ketinggalan pesawat. Karena pilotnya tidak akan menunggu Tuan selesai dan puas melakukan ciuman perpisahan,"celetuk Andi yang ceplas-ceplos.
"CK. Dasar jomblo! Kamu mana tahu bagaimana rasanya akan berjauhan dengan orang yang dicintai?"decak Rayyan dengan wajah kesal.
"Saya tidak ingin merasakan berpisah dengan orang yang saya cintai, karena itulah saya memilih menjadi jomblo sejati dari pada menjadi budak cinta, apalagi menjadi galau karena patah hati,"celetuk Andi asal.
"Kalau nanti jatuh cinta baru tahu rasa kamu!"ketus Rayyan, kemudian mengecup kening Aurora dan masuk ke dalam mobil.
"Sudah tahu yang namanya jatuh itu pasti sakit. Kenapa masih juga mau jatuh cinta? Manusia memang aneh,"gumam Andi yang belum pernah merasakan jatuh cinta. Dan mungkin juga Andi tidak merasa jika dirinya juga manusia biasa yang suatu saat akan merasakan apa itu jatuh cinta.
Andi masuk ke dalam mobil, dan tak lama kemudian mobil itupun melaju meninggalkan rumah itu. Aurora hanya menatap sendu ke arah mobil suaminya yang semakin jauh dan akhirnya menghilang dari pandangan.
"Aku akan merindukanmu,"gumam Aurora dengan suara lirih menghela napas panjang.
"Tuan, perjalanan kali ini, kita benar-benar harus berhati-hati. Menurut informasi yang saya dapatkan, pejabat itu memiliki dekeng kelompok mafia,"ujar Andi dengan wajah serius.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1