Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
113. Ingin Bertanya


__ADS_3

Aurora yang sedang berada di ruang kerjanya yang ada di kafe menatap handphone nya yang berdering. Aurora mengambil benda pipih lalu melihat siapa yang sedang menghubungi dirinya.


"Halo, Bu!"sahut Aurora setelah menerima panggilan masuk yang ternyata dari ibunya.


"Apa Rayyan sudah pulang?"tanya Bu Ella.


"Belum, Bu,"


"Rayyan sudah satu minggu belum pulang juga, dan kamu tidak tahu kapan dia pulang? Ibu semakin curiga kalau kalian sedang bertengkar,"


"Ibu berpikir terlalu jauh. Rayyan memang orang yang sibuk. Sudah biasa dia pergi ke luar kota dalam waktu yang lama,"kilah Aurora yang tidak ingin dimarahi ibunya.


"Ra, mungkin kamu akan bosan mendengar nasehat ibu ini. Tapi ibu akan tetap mengatakan nya. Kamu sebagai seorang istri,, harus bangun lebih dulu dari suami kamu. Usahakan kamu sudah wangi dan cantik saat suami kamu bangun. Siapkan makanan dan minuman suami kamu. Bantu dia memakai dan melepaskan pakaiannya. Antar dia sampai di depan pintu saat akan berangkat bekerja. Sambut dia dengan senyuman manis dan sapa dia dengan lembut saat dia pulang kerja. Jika ada yang ingin kamu tanyakan dan kemungkinan akan membuat dia marah, atau mungkin akan menyulut pertengkaran di antara kalian, jangan tanyakan saat dia baru pulang dari bekerja. Tanyakan saat dia sudah satai dan bicarakan baik-baik. Jangan berasumsi sendiri hingga terjadi salah paham. Dan ingat! Jangan pernah temui ibu lagi jika kamu bercerai dengan Rayyan karena kesalahan kamu,"ujar Bu Ella panjang lebar.


Bu Ella seolah punya feeling jika putrinya sedang bertengkar dengan suaminya dan mengancam tidak mau lagi ditemui putrinya jika putrinya bercerai karena kesalahan putrinya. Tidak ada maksud lain di hati Bu Ella selain agar putrinya menjadi istri yang baik untuk suaminya. Bu Ella memang khawatir dengan rumah tangga putrinya, mengingat sikap putrinya yang keras kepala dan kurang perhatian pada suaminya.


"Iya, Bu. Aku akan ingat nasehat ibu,"


"Jangan cuma di ingat! Tapi dilakukan!"


"Iya, Bu,"


"Ibu tutup dulu teleponnya, bapak kamu sudah pulang. Ibu akan menyambutnya,"


"Iya,"sahut Aurora menghela napas lega. Akhirnya bisa terbebaskan dari ceramah ibunya. Aurora segera mengemasi barang-barangnya kemudian bergegas untuk pulang.


"Ibu ini kenapa selalu tahu jika aku punya masalah? Apa ibu sekarang sudah menjadi cenayang?"gumam Aurora kemudian.


Selama satu minggu ditinggal Rayyan Aurora memang sudah berusaha berubah. Dan saat Rayyan pulang nanti, Aurora memang berniat untuk melakukan apa yang dikatakan oleh ibunya.


Sementara itu di panti asuhan, Rayyan bersiap meninggalkan panti asuhan. Berniat untuk kembali ke perusahaan. Rayyan kembali memakai jas dan juga dasinya, kemudian keluar dari dalam panti itu. Andi mengekor di belakang majikannya yang berjalan menuju mobilnya itu.


"Tuan, apa Tuan yakin ingin kembali ke kantor? Sudah satu minggu Tuan tidak pulang. Sampai kapan kita akan menginap di kantor? Tuan, sih, enak. Tidur di atas ranjang di ruangan pribadi Tuan. Beda dengan saya Badan saya pegal semua karena harus tidur di sofa selama empat hari ini,"keluh Andi kemudian menutup mulutnya yang ceplas-ceplos itu.

__ADS_1


"Itu, sih derita kamu,"sahut Rayyan datar, terus berjalan menuju mobilnya.


"Sampai kapan Tuan akan menghindari dan lari dari masalah seperti ini? Kalau punya masalah itu di segera di selesaikan Tuan. Jangan dibiarkan berlarut-larut seperti ini! Kalau seperti ini, namanya Tuan menggantung. nyonya,"ujar Andi yang ingin membujuk Rayyan pulang.


Rayyan membuang napas kasar lalu berhenti melangkahkan kakinya.


"Brukk"


"Aduh"


Andi menabrak punggung Rayyan karena pria itu berhenti mendadak. Rayyan langsung membalikkan tubuhnya menatap Andi.


"Aisssh.. kenapa Tuan berhenti mendadak?"protes Andi seraya mengusap hidungnya yang sakit karena menabrak punggung Rayyan.


"Aku tidak menghindar, apalagi lari dari masalah. Aku hanya menenangkan diri,"ujar Rayyan tidak terima karena di tuduh menghindar dan lari dari masalah oleh Andi.


Andi menghela napas panjang, lalu berkata,"Lalu sampai kapan Tuan akan menenangkan diri dan tidak pulang ke rumah? Tanpa memberi kabar apapun pada nyonya. Masalah Tuan akan membuat hati Tuan sendiri tidak tenang, jika Tuan tidak segera menyelesaikannya. Seperti duri yang menusuk daging, jika tidak segera di cabut akan membuat kita merasa terganggu dan merasa semakin sakit. Bahkan bisa menimbulkan penyakit lain. Masalah pun juga begitu. Jika tidak segera kita selesaikan, maka akan menimbulkan masalah lain,"ujar Andi Mencoba memberi pengertian, sekaligus memberi saran dan membujuk Rayyan untuk pulang.


"Yes! Yes! Yes! Akhirnya berhasil juga!"gumam Andi mengepalkan kedua tangannya ke atas penuh semangat dengan senyuman lebar, kemudian menyusul majikannya.


Rayyan memejamkan matanya seraya bersandar di sandaran kursi mobil. Rasanya masih enggan untuk pulang. Tapi benar apa kata Andi. Sampai kapan dirinya akan menenangkan diri dan membiarkan masalah ini berlarut-larut? Mau tidak mau, cepat atau lambat, dirinya harus menyelesaikan masalahnya dengan istrinya.


Setengah jam kemudian, Rayyan sudah sampai di rumah nya. Menghela napas yang terasa berat, Rayyan melangkahkan kakinya yang terasa enggan untuk masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


Saat baru tiga langkah Rayyan masuk ke dalam kamarnya, Rayyan sempat tertegun hingga tanpa sadar menghentikan langkahnya karena melihat Aurora yang baru saja keluar dari walk-in closet dengan wajah yang terlihat segar dan rambut yang setengah kering. Untuk beberapa detik, keduanya saling bertatapan.


"Ray.. kamu sudah pulang?"sapa Aurora lembut dengan seulas senyum manis di bibirnya, membuat Rayyan semakin tertegun.


𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞? 𝘼𝙩𝙖𝙪𝙠𝙖𝙝 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙡𝙪𝙨𝙞𝙣𝙖𝙨𝙞?"gumam Rayyan dalam hati.


Selama menikah, tidak pernah Rayyan di sapa dengan nada lembut dan disambut dengan senyum manis seperti ini oleh Aurora.


"Ray!"panggil Aurora yang melihat Rayyan tertegun menatap dirinya. Wanita itu melangkah menghampiri Rayyan,"Ray! panggil Aurora yang kali ini memegang lengan Rayyan seraya sedikit menggoyangkan nya.

__ADS_1


"Aku akan membersihkan diri,"ujar Rayyan yang tersadar dari ke tertegunannya hendak melangkah menuju kamar mandi.


"Biarkan aku membantu mu melepaskan dasi kamu,"ucap Aurora lembut, tersenyum tipis seraya menahan lengan Rayyan.


"Hum,"sahut Rayyan singkat menatap wajah Aurora yang sedang mendongak untuk melepaskan dasi Rayyan. Hal itu karena tinggi badan Aurora hanya sebatas bahu Rayyan.


"𝘼𝙙𝙖 𝙖𝙥𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖? 𝘼𝙥𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙞𝙣𝙪𝙢 𝙤𝙗𝙖𝙩? 𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞? 𝘼𝙩𝙖𝙪𝙠𝙖𝙝 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙖𝙡𝙪𝙨𝙞𝙣𝙖𝙨𝙞, 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙧𝙚𝙡𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙥𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙞𝙠𝙖𝙥 𝙢𝙖𝙣𝙞𝙨 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖𝙠𝙪?"gumam Rayyan yang merasa semua yang terjadi saat ini tidak nyata. Rayyan tetap menatap Aurora yang melepaskan dasi, jas, bahkan kemeja nya.


"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙞𝙪𝙢 𝙖𝙧𝙤𝙢𝙖 𝙥𝙖𝙧𝙛𝙪𝙢 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙠𝙚𝙢𝙚𝙟𝙖 𝙣𝙮𝙖? 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙙𝙖 𝙖𝙧𝙤𝙢𝙖 𝙥𝙖𝙧𝙛𝙪𝙢 𝙗𝙖𝙮𝙞 𝙟𝙪𝙜𝙖. 𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠𝙞 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪! 𝘿𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙩𝙪𝙟𝙪𝙝 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙠𝙚 𝙡𝙪𝙖𝙧 𝙠𝙤𝙩𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙣𝙜𝙜𝙪𝙞 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙝𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣,"gumam Aurora yang mencium aroma parfum wanita dan parfum bayi di kemeja Rayyan. Ada perasaan marah dan curiga yang ditahannya.


Aurora belum ingin menanyakan soal aroma parfum yang menempel di kemeja suaminya itu. Karena mengingat nasehat dari ibunya agar jangan menanyakan hal-hal yang kemungkinan menyulut pertengkaran saat suaminya baru pulang. Karena itu, Aurora mencoba untuk bersabar.


"Sudah selesai,"ucap Aurora tersenyum tipis, tepatnya terpaksa tersenyum. Bahkan karena aroma parfum itu, Aurora yang biasanya sangat mengagumi bentuk tubuh Rayyan pun seolah tidak berminat untuk melihat tubuh berotot milik suaminya yang saat ini terpampang jelas di depan matanya itu.


"Hum,"sahut Rayyan singkat, kemudian bergegas menuju kamar mandi dengan bertelanjang dada.


Aurora menatap Rayyan yang berjalan menuju kamar mandi, hingga pria itu hilang di balik pintu kamar mandi. Kemudian duduk di tepi ranjang dengan memegang dasi, jas dan kemeja milik Rayyan. Aurora teringat ketika ibunya menelponnya tadi saat dirinya masih berada di kafe dan bersiap-siap akan pulang.


"Aku akan menanyakan hal ini pada Rayyan. Aku ingin tahu apa penjelasan nya tentang parfum wanita dan parfum bayi di kemeja nya ini,"gumam Aurora yang tanpa sadar meremas kemeja Rayyan. Baru juga dirinya mencoba bersikap manis pada Rayyan, tapi sudah menemui hal seperti ini.


Di dalam kamar mandi, Rayyan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


"Jika ini mimpi, aku tidak ingin terbangun dari mimpi ini. Dan jika ini adalah halusinasi, biarkan tetap ada dan jangan pernah menghilang,"gumam Rayyan seraya memejamkan matanya, membiarkan derasnya air shower menerpa tubuhnya.


...🌟"Kita harus bertanya supaya mengerti. Namun, ada kalanya kita harus mengerti tanpa harus bertanya."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2