
Rayyan membawa Aurora masuk ke dalam kamar. Sebegitu sudah berada di dalam kamar, Aurora langsung melepaskan tangan Rayyan yang memeluk pinggangnya. Wajah wanita itu nampak di tekuk. Rayyan menghela napas berat, kemudian melepaskan jas nya. Pria itu membuka satu persatu kancing kemejanya sambil berjalan menuju kamar mandi.
Dengan wajah yang masih di tekuk, Aurora duduk di depan meja rias seraya menyisir rambutnya yang sepanjang punggung. Rambut yang kusut karena di Jambak oleh Naima tadi.
"Jika saja dia bukan ibunya Rayyan dan aku tidak takut kuwalat, sudah aku tampar mulutnya yang suka menghina orang itu. Akan aku patahkan kakinya, dan akan aku banting tubuhnya karena telah berani menganiaya aku. Dasar ibu mertua durhaka!"gerutu Aurora merasa sangat dongkol.
"Auwh! Sakit!"pekik Aurora karena rambutnya yang kusut susah di sisir. Kulit kepalanya juga terasa hampir lepas akibat ulah Naima tadi. Naima menarik Aurora seperti menarik hewan peliharaan.
"Memangnya aku kambing apa? Seenak jidatnya menarik rambut ku sampai rambut ku rontok dan kulit kepala ku terasa hampir lepas dari kepalaku. Semakin lama, aku semakin muak berada di sini. Aku lelah menghadapi Rayyan, keluarganya dan juga pelakor itu. Semenjak ada di sini, aku sama sekali tidak bisa hidup dengan tenang,"gerutu Aurora merasa sangat kesal jika mengingat kejadian tadi. Dan merasa tidak tahan lagi hidup bersama dengan Rayyan.
Beberapa menit kemudian Rayyan keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan celana boxer saja. Aurora sama sekali tidak melirik apalagi menatap ke arah Rayyan. Aurora duduk bersandar di headboard ranjang seraya memainkan handphone nya tanpa mempedulikan Rayyan, seolah Rayyan tidak terlihat
"Apa begitu caramu menyambut kedatangan suamimu yang baru pulang dari luar kota?"tanya Rayyan dengan suara yang terdengar ketus.
"Memangnya aku mau menyambut mu bagaimana? Menaburkan bunga tujuh rupa di tempat yang mau kamu injak?"tanya Aurora balik tak kalah ketus, tanpa menatap wajah suaminya.
"Ck. Apa tidak bisa kamu tersenyum manis saat suamimu ada di rumah?"ketus Rayyan semakin kesal.
"Memangnya kamu tersenyum manis saat bersamaku?"tanya Aurora membalikkan perkataan Rayyan.
"Kau.. Sepertinya aku terlalu memanjakan mu, hingga kamu sekarang berani bersikap acuh seperti ini pada ku,"ujar Rayyan terlihat emosi.
"Memanjakan aku? Dari mana rumusnya kamu memanjakan aku? Yang ada, kamu mengurung aku,"ketus Aurora yang merasa tidak diperlakukan seperti yang dikatakan oleh Rayyan.
"Apa kamu tidak bisa bicara lembut pada suamimu sendiri?"sergah Rayyan yang emosinya semakin naik.
"Apa kaca di walk-in closet itu kurang besar, hingga kamu tidak bisa melihat dirimu sendiri? Kamu selalu bersikap datar dan dingin padaku, tapi kamu minta aku tersenyum manis dan bersikap lembut padamu. Kamu menuntut ini dan itu padaku, tanpa mau tahu apa keinginan ku. Rumah tangga macam apa yang kita jalani ini? Apa kamu menganggap bahwa istri itu hanya perlu di berikan tempat berteduh yang layak dan uang untuk berbelanja saja?"sergah Aurora yang ikut emosi.
__ADS_1
"Kenapa semakin ke sini, kamu semakin berani dan banyak menuntut padaku? Apa kamu sengaja mencari gara-gara agar aku menceraikan kamu dan kamu bisa memilki semua hartaku?"tuduh Rayyan yang merasa Aurora semakin banyak maunya setelah tanda tangan surat perjanjian beberapa hari yang lalu.
"Suruh Andi membuat surat perjanjian yang baru! Ceraikan aku sekarang juga! Aku tidak akan menuntut apapun darimu. Aku hanya ingin berpisah dari kamu. Aku muak dengan sikapmu yang dingin, datar, tidak pengertian dan tidak peka itu. Mamamu yang membenci aku, dan kakakmu yang selalu. menatap aku dengan tatapan mesum itu. Ceraikan aku! Aku tidak ingin lagi hidup bersama kamu. Aku benci padamu! Benci! Aku tidak ingin lagi bersamamu!"pekik Aurora histeris.
Dengan langkah cepat, Aurora meninggalkan Rayyan yang nampak menahan emosi. Wanita itu berjalan menuju walk-in closet.
"Argh! Apa maunya perempuan itu?"geram Rayyan mengusap wajahnya dengan kasar.
Rayyan duduk di tepi ranjang, mencoba meredakan emosinya. Dirinya benar-benar tidak Mengerti dengan apa yang diinginkan Aurora. Menceraikan Aurora? Itu tidak akan pernah Rayyan lakukan.
Beberapa saat kemudian, Aurora keluar dari walk-in closet. Wanita itu sudah berganti pakaian, lalu mengambil Sling bag dan juga handphonenya dengan wajah penuh kekecewaan.
"Greb"
Melihat Aurora yang seperti bersiap untuk pergi, Rayyan mencekal lengan Aurora.
"Kamu mau kemana?"tanya Rayyan masih mencoba menahan emosinya.
"Akhhh"pekik Aurora saat tiba-tiba Rayyan menarik tangan Aurora, hingga Aurora membentur dada Rayyan,"Lepaskan aku! Dasar brengseek! Lepaskan!"pekik Aurora mencoba melepaskan diri dari Rayyan yang memeluknya.
"Mau meninggalkan aku? Aku tidak akan pernah membiarkan kamu meninggalkan aku. Selamanya kamu akan menjadi milikku,"ujar Rayyan semakin mengeratkan pelukannya.
"Argkhh!"pekik Rayyan saat tiba-tiba Aurora menggigit lehernya dengan kuat, hingga Rayyan melepaskan pelukannya. Aurora pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Wanita itu bergegas berlari menuju pintu, hendak keluar. Tapi dengan cepat Rayyan kembali menangkap tubuhnya. Memanggul tubuh Aurora layaknya karung beras.
"Turunkan aku! Turunkan! Dasar iblis! Turunkan aku!"pekik Aurora seraya memukuli punggung Rayyan.
"Brugk"
__ADS_1
"Akhh!"
Rayyan membanting tubuh Aurora ke atas ranjang dengan kasar, kemudian mengungkung Aurora dengan memegang kedua tangan Aurora.
"Aku sudah menuruti apa yang kamu mau. Masih kurang apalagi aku padamu, hingga kamu kembali mengatakan ingin bercerai dariku?"tanya Rayyan penuh amarah.
"Kurang perhatian, kurang pengertian, kurang kasih sayang, kurang peka! Kamu hanya memberiku materi dan menjadikan aku sebagai pemuas kebutuhan biologis mu. Aku tidak pernah merasa menjadi istrimu. Aku selalu merasa bahwa aku hanya kamu anggap sebagai pemuas nafsu mu.Kamu selalu berbuat kasar dan sesuka hati mu padaku tanpa memikirkan perasaan ku. Aku benci kamu! Aku benci kamu! Aku benci!"pekik Aurora yang akhirnya tangisnya pecah.
Rayyan membuang napas kasar beranjak dari atas tubuh Aurora, kemudian duduk di tepi ranjang membelakangi Aurora. Pria itu nampak mengusap wajahnya dengan kasar.
Aurora beranjak duduk diatas ranjang. mengusap air matanya yang terus menetes. Duduk menunduk memeluk kedua lututnya.
"Aku mohon lepaskan aku! Aku tidak akan menuntut apapun dari mu. Aku juga tidak akan membawa apapun yang pernah kamu berikan padaku. Tolong lepaskan aku!"mohon Aurora dengan isak tangis yang terdengar menyedihkan.
"Kamu boleh membunuh ku. Tapi aku tidak akan pernah menceraikan kamu,"ucap Rayyan dengan suara datar.
Aurora terperanjat mendengar apa yang dikatakan oleh Rayyan. Spontan Aurora mengangkat wajahnya menatap Rayyan yang duduk membelakanginya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, pria itu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju walk-in closet. Tak lama kemudian, pria itu keluar dengan celana jeans berwarna hitam dan kemeja yang juga berwarna hitam. Tanpa mengatakan apapun, Rayyan keluar dari kamar.
Aurora menatap Rayyan yang keluar dari dalam walk-in closet. Pria itu kemudian keluar dari dalam kamar mereka dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
...π Bahagia itu bukan tergantung dari seberapa banyak kita memiliki harta. Karena kebahagiaan tidak bisa diukur, apalagi di beli dengan harta."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued