
Andi masuk ke dalam kamarnya. Pemuda itu mendudukkan Zayn di tengah-tengah ranjang, kemudian pemuda itu berbaring di sebelah Zayn dan mulai memutar vidio bucin majikannya yang direkamnya tadi.
Sesekali Andi tertawa melihat vidio itu. Sedangkan Zayn nampak serius menatap layar handphone Andi. Entah apa yang ada di dalam pikiran bayi lucu dan menggemaskan itu saat melihat vidio kedua orang tuanya itu.
"Hei, Tuan Muda! Jangan terlalu serius seperti itu. Santai saja nontonnya,"tegur Andi seraya mencolek dagu Zayn.
Andi merasa gemas melihat ekspresi serius Zayn yang terlihat menggemaskan di matanya. Sedangkan Zayn yang mendapatkan colekan di dagu pun terkekeh, membuat Andi semakin gemas dan menciumi Zayn yang semakin terkekeh.
"Tuan Muda sepertinya sangat teliti dan selalu mengamati apa saja yang ada di sekelilingnya. Jika dewasa nanti, dia pasti akan menjadi pribadi yang peka dan mudah menganalisis segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Bisa menilai mana orang yang baik dan mana orang yang tidak baik. Tuan Muda sepertinya juga bisa menempatkan diri, kapan harus bersikap serius dan kapan harus bersikap santai. Dia sepertinya juga memahami apapun yang aku katakan,"
"Aku yakin, IQ Tuan Muda pasti tinggi. Kelak, Tuan Muda pasti menjadi pebisnis yang lebih handal dari Tuan Rayyan dan Tuan Aiden. Asal jangan jadi Casanova seperti kedua pamannya saja. Karena, tanpa tebar pesona pun, Tuan Muda sudah mampu memikat hati semua orang,"gumam Andi dalam hati seraya mengelus kepala Zayn penuh kasih sayang.
***
Malam ini Naima membawa Zayn tidur bersamanya. Sehingga Rayyan dan Aurora hanya berdua saja di kamar mereka. Rayyan menyusul Aurora yang sudah lebih dulu naik di atas ranjang. Wanita itu terlihat fokus pada layar handphonenya. Rayyan memeluk Aurora dari samping, lalu mengecupi leher Aurora.
"Rayy.. Apakah tidak bisa libur semalam saja? Apa kamu sama sekali tidak capek dan bosan melakukannya setiap hari?"tanya Aurora seraya mendorong dada Rayyan pelan.
"Bagaimana aku mau bosan? Kamu membuat aku kecanduan. Dan kalau soal capek, capek ku malah hilang setelah melakukannya. Tidurku lebih pulas, dan esok harinya tubuhku menjadi segar,"sahut Rayyan jujur adanya. Pria itu kembali mendekatkan bibirnya ke leher Aurora. Namun, Aurora kembali mendorong dada Rayyan.
"Tapi, apa tidak bisa libur sehari saja?"tanya Aurora yang benar-benar heran dengan suaminya yang tidak pernah terlihat lelah, jika sudah berhubungan dengan urusan ranjang.
"Sayang, baru tiga malam ini kamu selesai datang bulan. Tinggal tiga hari lagi kita tinggal di sini. Setelah pulang, aku cuma bisa menginap satu malam di rumah. Karena aku dan Andi harus pergi ke luar negeri untuk mengurus perusahaan cabang kita di sana. Itu artinya aku harus puasa lagi, 'kan? Jadi, sebelum aku pergi, kamu jangan minta libur dulu, ya!"pinta Rayyan dengan wajah memelas penuh harap.
"Kamu mau pergi ke luar negeri?"tanya Aurora nampak terkejut. Karena baru malam inilah Aurora tahu, jika Rayyan akan pergi ke luar negeri berapa hari lagi.
"Hum,"sahut Rayyan yang sebenarnya enggan berjauhan dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Berapa lama?"
"Paling cepat seminggu,"sahut Rayyan menghela napas panjang.
"Paling cepat? Berarti, bisa lebih dari satu minggu kamu di luar negeri?"
"Hum,"
"Kok, lama? Biasanya, 'kan, cuma dua atau tiga hari saja?"tanya Aurora terlihat tidak rela.
"Semenjak enam bulan yang lalu, pejabat di kota tempat aku mendirikan perusahaan itu sudah diganti. Perusahaan kita mengalami sedikit kendala. Karena pejabat itu terkesan mempersulit perusahaan kita dengan pengaruhnya. Jika tidak segera ditangani, perusahaan kita di sana bisa gulung tikar. Karena semakin lama, pendapatan perusahaan kita di luar negeri itu semakin menurun. Jadi, aku harus menyelesaikan masalah itu secepatnya,"jelas Rayyan.
"Begitu, ya?"sahut Aurora terlihat lesu.
Sebenarnya, selama mereka menikah, sudah beberapa kali Rayyan meninggalkan dirinya untuk memeriksa perusahaannya yang ada di luar negeri. Namun, semakin lama usia pernikahan nya dengan Rayyan, Aurora semakin mencintai Rayyan. Tidak rela rasanya jika harus berjauhan dengan Rayyan agak lama. Walaupun Aurora pernah nekat meninggalkan Rayyan.
"Memangnya, kamu tidak rindu jika berpisah lama dari ku?"tanya Aurora balik, tanpa menjawab pertanyaan Rayyan seraya meletakkan handphone-nya di atas nakas.
"Kenapa kamu masih menanyakan tentang hal itu? Sudah pasti aku sangat merindukan kamu. Tapi aku tidak mungkin membawa kamu dan Zayn bersamaku. Karena di sana aku akan lebih sibuk dan tidak akan memiliki banyak waktu untuk kamu dan Zayn. Kamu akan bosan tinggal di hotel. Sebab aku tidak akan tenang jika kamu keluar sendirian tanpa aku. Karena di negara orang, aku tidak akan bisa menjaga dan mengawasi kalian sebaik aku menjaga dan mengawasi kalian di sini."jelas Rayyan jujur adanya,"Kamu bisa mengerti maksud dan juga keadaan ku, 'kan?"tanya Rayyan yang tidak ingin Aurora salah paham jika dirinya tidak mau membawanya dan putra mereka bersamanya.
Memiliki istri cantik dengan body bohay, tentu akan banyak pria di luar sana yang akan tertarik pada Aurora. Rayyan tidak ingin ada pria yang nekat menjadi pebinor karena melihat kecantikan dan juga body istrinya yang begitu menggoda di matanya itu. Rayyan yakin, pria lain pun akan merasakan hal yang sama dengan dirinya jika melihat istrinya itu. Dan Rayyan tidak ingin mengambil resiko seperti itu.
Sebab itu, Rayyan tidak ingin membawa Aurora ikut bersama dengan dirinya. Lebih baik menahan rindu, dari pada menahan rasa cemburu. Karena kata Dilan, rindu itu berat. Entah seberat apa rasa rindu itu, author pun tidak tahu. Karena beratnya rindu tidak bisa di timbang dengan timbangan apapun yang ada di dunia ini. Yang bisa menimbangnya hanyalah hati. Dan kalau sudah menyangkut masalah hati, tidak akan bisa di pikir dan di jelaskan dengan logika lagi.
"Hum. Aku mengerti,"sahut Aurora yang tahu bahwa Rayyan pasti ingin yang terbaik untuk dirinya dan selalu ingin membuat dirinya bahagia. Karena itu, Aurora menurut dengan pengaturan suaminya.
"Kalau begitu, jangan libur dulu sebelum aku pergi,"ucap Rayyan yang tidak pernah lupa dengan jatahnya.
__ADS_1
Aurora tersenyum lembut, melingkarkan sebelah tangannya di leher Rayyan, lalu mencium bibir Rayyan dengan lembut, memulai kegiatan panas mereka di atas ranjang.
Di sisi lain, Andi belum bisa memejamkan matanya. Perjaka ting-ting yang memiliki banyak tabungan dan sampai saat ini masih jomblo itu iseng berjalan-jalan mengelilingi villa. Menikmati udara malam di daerah yang sejuk dan tenang
"Tapi, Tuan.. Apa alasan saya memberikan minuman ini pada Kanaya. Jika tiba-tiba saya memberikan minuman ini tanpa alasan yang masuk akal, bukankah terlihat aneh? Dan Kanaya pasti akan curiga. Ujung-ujungnya, dia tidak akan meminum minuman ini, Tuan. Kalau di taruh doang di depan pintunya, juga kecil kemungkinannya akan di ambil, apalagi diminum Kanaya,"ujar seorang wanita dengan suara pelan, membuat Andi menghentikan langkahnya.
"Iya, juga, ya,"sahut pemuda yang tidak lain adalah pengurus villa. Pemuda itu berbicara dengan suara yang juga pelan.
"Aku mencium ada rencana busuk yang akan di jalankan orang-orang itu,"gumam Andi yang mendengar percakapan dua orang berbeda jenis kelaminn itu. Andi pun bergegas mencari tempat untuk bersembunyi dan memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan pembicaraan dua orang yang nampak sedang menyusun strategi itu.
"Ahh.. Aku tahu. Bukankah biasanya dia selalu membawa air minum ke kamarnya? Sebentar lagi, dia pasti ke sini untuk mengambil air minum. Kamu diam di dapur dulu, pura-pura makan roti ini, lalu minum minuman kamu. Saat dia ke dapur, beri dia roti dan minuman yang ini. Pasti dia tidak akan curiga,"ujar pemuda itu menjelaskan skenarionya untuk menjebak gadis yang bernama Kanaya.
"Bagaimana jika cara ini tidak berhasil?"tanya wanita itu nampak ragu.
"Maka kamu yang harus meminum minuman ini dan melayani aku malam ini,"ujar pemuda itu menatap tajam wanita itu.
"Ba.. Baiklah. Saya akan berusaha agar Kanaya meminum minuman ini,"sahut wanita itu yang tidak mau dijadikan pemuas kebutuhan biologis pemuda itu.
Pemuda kikir, pelit bin medit yang ingin kebutuhan biologisnya terpenuhi, tapi tidak mau rugi serupiah pun. Memvideokan pergulatan panasnya dengan semua wanita yang pernah ditidurinya sebagai senjata untuk mengancam para korban agar mau melayani dirinya kapanpun pemuda itu mau tanpa bisa menolak keinginan pemuda itu.
"Hmm.. Sepertinya orang ini perlu di beri pelajaran. Dari tadi siang aku sudah melihat dia menindas wanita, dan sekarang sepertinya ingin menjerat wanita. Dasar pemuda brengseek,"gumam Andi dalam hati.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1