Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
152. Boleh, ya?


__ADS_3

Pria itu memejamkan matanya seraya memijit pelipisnya sendiri. Sudah beberapa hari tidak bercinta, membuat Rayyan sangat menginginkannya.


"Kamu kenapa?"tanya Aurora menatap Rayyan yang wajahnya terlihat kusut.


"Tidak apa-apa. Hanya saja, kepalaku agak sakit,"sahut Rayyan tersenyum tipis.


"Biar aku pijit,"ucap Aurora tanpa rasa berdosa malah duduk di pangkuan Rayyan.


"Eh, tidak perlu memijit kepala ku, sayang! Nanti kamu capek,"ucap Rayyan beralasan. Padahal kepala yang dibawah jadi berdenyut gara-gara di duduki Aurora. Pria itu memeluk pinggang Aurora karena takut istrinya itu terjatuh.


"Hanya memijit kepala kamu tidak akan membuat aku capek,"ucap Aurora seraya memijit kepala Rayyan.


Rayyan semakin tersiksa kala melihat dua buah benda bulat kenyal favoritnya malah terlihat mengintip dari balik baju tidur kimono yang dipakai istrinya.


"Astagaa.! Kalau begini caranya, sakit kepalaku tidak akan sembuh. Yang ada, kepala atas bawah tambah berdenyut,"gumam Rayyan dalam hati, tidak berdaya menghadapi istrinya itu.


"Sayang, jangan bergerak terus! Nanti kamu jatuh,"ujar Rayyan karena Aurora tidak bisa duduk dengan tenang hingga membuat gesekan dengan sesuatu di bawah sana.


"Aku tidak akan jatuh. Kamu, 'kan, memeluk aku. Lagian kalau aku diam, bagaimana bisa aku memijit kamu, Ray,"ucap Aurora yang masih saja tidak bisa duduk diam. Dan Rayyan hanya bisa menghela napas berkali-kali, berusaha menahan diri.


"Tok! Tok! Tok!"


Suara ketukan pintu membuat Rayyan bernapas lega. Karena Aurora terpaksa turun dari pangkuan Rayyan.


"Biar aku saja yang membukanya,"ucap Rayyan bangkit dari duduknya.


"Jangan! Biar aku saja. Itu pasti Bik Mas yang mengantarkan makanan. Aku tidak ingin kamu dilihat orang lain dengan penampilan seperti itu. Cepat, masuk ke kamar mandi dulu sana! Jangan keluar sebelum aku suruh!"ucap Aurora mendorong Rayyan menuju kamar mandi.


"Memangnya kenapa jika aku berpenampilan seperti ini?"tanya Rayyan yang merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya.


"Apa kamu ingin memperlihatkan dia pada para pelayan perempuan itu?"tanya Aurora menatap milik Rayyan saat mengatakan 'Dia', lalu bergegas menuju pintu.


Rayyan menghela napas melihat miliknya yang berdiri tegak karena ulah nakal Aurora saat memijit kepalanya tadi. Aurora memijit kepalanya, bukannya membuat sakit kepalanya sembuh, tapi membuat kepalanya bertambah sakit.


"Apa dia sengaja melakukannya? Dia bahkan tahu kalau milikku bangun. Shiitt! Apa dia ingin balas dendam pada ku karena aku dulu selalu memaksanya untuk melayani aku? Berani sekali dia mempermainkan aku! Seandainya dia tidak sedang mengandung, pasti akan ku hajar dia di atas ranjang sampai memohon ampun kepada ku,"gerutu Rayyan yang baru menyadari jika Aurora sengaja mengerjainya.


Mau marah? Tidak bisa. Karena bayi di dalam kandungan Aurora, Rayyan benar-benar tidak berdaya di depan Aurora. Hanya bisa pasrah dan menurut.

__ADS_1


Aurora membuka pintu, dan benar saja, ada Bik Mas yang mengantarkan makanan. Mastuti meletakkan makanan dan minuman bersama dua orang pelayan lainnya. Mereka menyusun kan makanan. di atas meja sofa. Setelah itu pamit undur diri.


"Ray! Keluarlah! Ayo makan!"panggil Aurora sambil mengambilkan makanan untuk Rayyan.


Rayyan keluar dari dalam kamar mandi menghampiri Aurora yang duduk di sofa. Rayyan duduk dan menghela napas berkali-kali saat melihat menu makanan yang tersaji di atas meja. Tiram, daging, ikan salmon, telur, bayam, kacang-kacangan, apel, buah bit dan juga buah persik. Semua makanan yang tersaji di atas meja itu adalah makanan yang dapat meningkatkan gairaah untuk melakukan hubungan suami-istri.


"Apa maksudnya ini? Apakah ini alasannya dia tidak ingin dinner di luar? Apa dia benar-benar ingin menyiksa aku? Apa dia tidak tahu, semua makan ini akan membuat aku semakin sulit untuk mengendalikan diri untuk tidak menerkam dia? Tanpa mengkonsumsi semua makanan ini, aku sudah sulit untuk mengendalikan diri. Apalagi jika aku mengkonsumsi semua ini,"gumam Rayyan dalam hati hanya bisa diam, menurut tanpa bisa protes.


"Ayo, Ray, makan! Aku tidak akan makan jika kamu tidak makan,"ucap Aurora menyodorkan sepiring makanan yang membuat benar-benar ingin memakan istrinya itu.


Keduanya makan dengan tenang. Rayyan bahkan hanya pasrah saat Aurora manambahkan lauk ke piringnya. Hingga akhirnya mereka selesai makan. Aurora berdiri di depan jendela kamar, Aurora menatap langit yang tidak begitu cerah.


"Jangan lama-lama berada di sini dengan membuka jendela seperti ini. Kamu akan kedinginan. Nanti kamu bisa masuk angin,"ujar Rayyan mengingatkan.


"Aku tidak akan kedinginan jika kamu memeluk aku,"ucap Aurora seraya menarik kedua tangan Rayyan. Membimbing pria itu agar memeluk dirinya dari belakang.


"Ray!"panggil Aurora seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Rayyan. Kedua tangannya memeluk lengan kekar suaminya yang memeluk perut bagian atasnya. Tepatnya di bawah kedua buah bukit kembar miliknya.


"Hum,"sahut Rayyan ikut menatap langit malam.


"Apakah kamu akan tetap bersikap lembut padaku seperti ini, jika bayi kita sudah lahir?"tanya Aurora membuat Rayyan mengernyitkan keningnya.


"Jawab saja pertanyaan ku!"titah Aurora.


"Tentu saja aku akan tetap bersikap seperti ini padamu. Karena aku mencintaimu,"ucap Rayyan tanpa ragu, mengecup puncak kepala Aurora penuh cinta.


"Janji?"tanya Aurora seraya membalikkan tubuhnya, mendongakkan kepalanya menatap Rayyan yang lebih tinggi darinya.


"Janji,"sahut Rayyan serius.


Aurora berjinjit, lalu meraih tengkuk Rayyan, hingga Rayyan menundukkan kepalanya. Aurora mendekatkan bibir mereka, lalu mencium bibir Rayyan. Rayyan pun dengan senang hati menyambut ciuman lembut dari istrinya itu. Tangan Aurora menyusup di balik baju tidur kimono milik suaminya dan meraba dada berotot itu.


Keduanya melepaskan pagutan mereka untuk menghirup udara. Rayyan menatap Aurora dengan tatapan sayu penuh hassrat.


"Sayang, aku ingin. Boleh, ya? Aku janji akan melakukannya dengan lembut. Aku akan berusaha agar tidak menyakiti bayi kita. Boleh, ya?"pinta Rayyan penuh harap.


Aurora tersenyum tipis, mengangguk kecil seraya memejamkan matanya sesaat sebagai tanda bahwa Aurora menyetujui permintaan Rayyan.

__ADS_1


Dengan senyum cerah, Rayyan menggendong tubuh Aurora ke atas ranjang. Rayyan menutup jendela, lalu kembali menghampiri Aurora dan malam itu pun Rayyan bisa berbuka puasa. Rayyan melakukannya dengan hati-hati agar tidak menyakiti janin dalam kandungan istrinya.


***


Hendrik sudah tiba di depan rumah Sumi. Hendrik menghampiri security yang berjaga di samping pintu gerbang.


"Bisa saya bertemu dengan Nona Sumi?"tanya Hendrik sopan.


"Anda siapa?"tanya security itu.


"Saya Hendrik. Teman nona Sumi,"sahut Hendrik.


"Tunggu sebentar. Saya tanyakan dulu,"ucap security itu. Hendrik pun menunggu security itu melapor pada majikannya.


"Bodohnya aku! Kenapa waktu itu aku lupa menanyakan nomor teleponnya,"gumam Hendrik merutuki kebodohannya.


Pada awalnya, Hendrik memang tertarik pada Sumi karena wajahnya yang mirip dengan Aurora. Tapi setelah berbicara dengan Sumi, Hendrik malah semakin tertarik pada Sumi. Gaya Sumi yang santai, tenang dan terang terangan tanpa menutupi isi hatinya itulah yang membuat Hendrik tertarik pada Sumi.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Hendrik di ijinkan masuk. Hendrik tersenyum cerah saat melihat Sumi duduk di teras depan rumahnya.


"Malam, cantik!"sapa Hendrik masih dengan senyuman cerahnya seraya mengedipkan sebelah matanya. Tanpa basa-basi langsung duduk di sebelah Sumi.


"Ck. Apa kamu membututi aku? Hingga kamu tahu di mana rumahku?"tanya Sumi seraya memicingkan sebelah matanya menatap Hendrik.


"Inilah yang aku suka dengan mu. Kamu selalu berterus terang dengan isi hatimu. Berbeda dengan sekian banyak wanita yang pernah aku temui. Mereka selalu berpura-pura di depan ku. Menjaga image wanita baik-baik, tapi nyatanya dengan suka rela naik ke atas ranjang ku dan sudah tidak lagi perawan. Miris bukan?"ujar Hendrik masih dengan senyuman di bibirnya.


"Sumi menghela napas panjang menatap Hendrik,"Lalu, apa yang membuat pria tampan seperti kamu terdampar di gubuk ku ini?"


...🌸❤️🌸...


Notebook :


•Citra diri atau gambaran diri (self image) merupakan gambaran mengenai diri individu atau jati diri seperti yang digambarkan atau yang dibayangkan (Chaplin, 2009).


•Menurut (Sutarno, 2006) menjelaskan citra diri adalah gambaran atas perilaku seseorang di mata orang lain dan masyarakat di sekitarnya.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2