
Andi meninggalkan Rayyan dan Hendrik yang terus saja membully dirinya. Pemuda itu menghampiri istri dan mertuanya.
"Kalian sudah mau pulang, ya?"tanya ibu Kanaya saat melihat Andi menghampiri dirinya dan putrinya.
"Iya, Bu. Apa ibu akan menginap di apartemen kami?"tanya Andi yang tidak mungkin tidak menawari mertuanya untuk menginap, mengingat hari sudah sore.
"Tidak usah! Ibu langsung pulang saja. Tadi, kamu, 'kan, sudah bilang, kalau kamu akan mengantar ibu pulang kapanpun ibu mau. Jadi, ibu mau pulang sekarang saja,"sahut ibu Kanaya yang tidak ingin menganggu kebersamaan anak dan menantunya.
Dari putrinya, wanita itu tahu, jika Andi sangat sibuk. Dan tentunya, hal itu akan membuat waktu kebersamaan putri dan menantunya tidak banyak. Jadi, ibu Kanaya tidak ingin waktu kebersamaan putri dan menantunya yang tidak banyak itu semakin tersita karena kehadiran dirinya.
"Baiklah, kalau itu mau ibu,"sahut Andi tersenyum lembut.
Sedangkan Kanaya terlihat kecewa, karena ibunya tidak mau menginap di apartemen mereka.
Andi dan Kanaya mengantarkan ibu Kanaya ke mobil yang sudah di siapkan Andi khusus untuk wanita paruh baya itu.
Ibu Kanaya menatap Kanaya dan Andi dengan penuh senyuman saat mereka sudah tiba di samping mobil yang sudah di siapkan untuk mengantarkan ibu Kanaya pulang.
"Kalian yang rukun, ya! Jadi suami-istri harus saling terbuka. Kalau ada masalah, kalian bicarakan baik-baik. Jangan menyimpan apapun di dalam hati, dan berasumsi sendiri -sendiri!"pesan ibu Kanaya yang ingin rumah tangga anaknya harmonis.
"Iya, Bu,"sahut Andi dan Kanaya bersamaan.
"Oy, ya, Bu, di dalam mobil sudah ada oleh-oleh yang bisa ibu bagikan pada saudara dan tetangga. Jika di dalam perjalanan ibu ingin membeli sesuatu, katakan saja pada supir, biar nanti di belikan,"ujar Andi yang tidak membiarkan ibu mertuanya pulang dengan tangan kosong.
"Kamu tidak perlu sampai seperti itu. Melihat kalian rukun dan bahagia saja sudah cukup bagi ibu. Bukannya ibu tidak senang karena kamu belikan oleh-oleh, tapi sebaiknya kalian simpan uang kalian untuk masa depan kalian. Kemarin, 'kan, kamu sudah banyak membawakan oleh-oleh untuk ibu,"ujar ibu Kanaya yang malah merasa tidak enak hati karena menurutnya, menantu nya itu terlalu baik.
"Nggak apa-apa, Bu. Berbagi pada tetangga dan saudara itu, 'kan, baik. Biar semakin akrab. Bukannya mendoakan yang tidak baik, tapi ibu tinggal jauh dari kami, jika ada apa-apa sama ibu, tetangga dan saudara lah yang pertama kali akan membantu ibu di sana. Jadi, akan lebih baik jika ibu akrab dengan mereka,"ujar Andi mengemukakan pemikiran nya yang malah membuat ibu Kanaya terharu.
"Ah, ibu benar-benar tidak salah menikahkan kamu dengan Kanaya. Kamu benar-benar orang yang baik dan bijaksana. Suami dan menantu yang ideal. Kanaya sangat beruntung bisa menikah dengan kamu. Entah kebaikan apa yang ibu dan Kanaya lakukan di kehidupan sebelumnya, hingga Kanaya bisa memiliki suami seperti kamu. Ibu yakin, Kanaya pasti bahagia hidup bersama mu,"ujar ibu Kanaya seraya menghapus air matanya yang tanpa terasa menetes karena merasa bahagia dengan perhatian yang di berikan oleh Andi.
"Ibu terlalu memuji,"ucap Andi tersenyum lembut, kemudian memeluk ibu Kanaya dengan hangat. Ibu Kanaya semakin terharu dengan sikap Andi itu.
Sedangkan Kanaya semakin merasa kagum pada Andi. Tidak menyangka kalau pemuda yang terkenal dingin dan datar di kantor itu begitu perhatian pada dirinya dan juga ibunya.
"Ibu benar, aku beruntung karena dia mau menjadi suamiku. Dia yang nyaris sempurna itu malah mau menjadi suami gadis yang memiliki banyak kekurangan seperti aku,"gumam Kanaya dalam hati.
Ibu Kanaya meninggalkan kota itu dengan perasaan tenang dan bahagia karena merasa sudah menyerahkan putrinya pada orang yang tepat.
Kanaya dan Andi menatap mobil yang membawa ibu Kanaya hingga mobil itu tak terlihat lagi.
"Kita pulang ke apartemen dulu,"ucap Andi membuat Kanaya terhenyak.
"Ah, iya,"sahut Kanaya yang menurut saat Andi menggandeng tangan nya menuju mobil.
Saat berada di dalam mobil, Kanaya hanya diam menatap ke arah jendela mobil dengan perasaan tidak tenang. Kanaya merasa was-was memikirkan bagaimana jika suaminya meminta hak nya. Karena mengingat rasa sakit saat suaminya berusaha memasuki tubuhnya kemarin.
"Ya, Tuhan.. Kenapa aku jadi takut sekali? Jantung ku berdetak kencang tidak menentu. Apakah dia akan melakukannya lagi? Aku merasa berada di samping harimau yang sedang lapar, yang kapan saja bisa menerkam dan memakan aku,"gumam Kanaya dalam hati. Gadis itu terlihat gelisah dan takut.
__ADS_1
Sedangkan Andi, pemuda itu sesekali melirik istrinya itu. Pemuda itu tersenyum tipis melihat istrinya yang tidak tenang dan nampak memilin jemari tangannya sendiri
"Apa dia takut aku makan?"gumam Andi dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, sepasang suami-isteri itu pun sudah sampai di apartemen mereka.
"Bersihkan dirimu!"pinta Andi seraya melepaskan tuksedo nya.
"Iya,"sahut Kanaya tanpa membantah.
Bagaimana Kanaya bisa membantah Andi? Seperti kata ibunya, sebagai seorang suami dan menantu, Andi bisa dikategorikan sebagai suami dan menantu ideal. Sudah mendekati sempurna. Minus pemuda itu hanyalah satu, yaitu mulut nya yang pedas. Tapi, bukankah itu wajar? Setiap manusia memiliki kekurangan, bukan?
"Tunggu!"ucap Andi membuat Kanaya menghentikan langkah kakinya.
Andi membuka lemari pakaian Kanaya, lalu memilih pakaian untuk Kanaya. Pemuda itu tersenyum miring, lalu memilih kemeja berwarna hitam bermotif kupu-kupu, celana kulot berwarna hitam dan pakaian dalam dengan warna senada.
"Pakai ini!"pinta Andi memberikan semua pakaian yang di ambilnya pada Kanaya.
"Iya,"sahut Kanaya mengambil pakaian yang di pilihkan oleh Andi itu, lalu bergegas masuk ke kamar mandi,"Kenapa dia meminta aku memakai pakaian serba hitam begini? Memangnya dia mau mengajak aku pergi melayat apa?"gumam Kanaya dalam hati.
Sedangkan Andi berjalan menuju kamar mandi lain dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Tubuhnya yang putih itu akan terlihat kontras dengan pakaian yang berwarna hitam,"gumam Andi yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang mesum.
Saat Kanaya keluar dari kamar mandi, gadis itu melihat Andi duduk di tepi ranjang memakai celana kain berwarna hitam dan kemeja berwarna hitam yang lengannya di gulung hingga ke siku. Otot-otot di lengan pemuda itu membuat penampilan pemuda itu semakin terlihat maskulin.
"Dia tampan dan gagah sekali dengan penampilannya yang seperti itu. Tapi... Penampilan kami ini benar-benar terlihat seperti orang yang mau melayat,"gumam Kanaya dalam hati. Namun Kanaya enggan untuk bertanya pada suaminya, kenapa mereka memakai pakaian serba hitam.
Dengan motornya, Andi membonceng Kanaya menuju sebuah hotel. Pemuda itu telah memesan kamar suite room dengan tema kamar pengantin.
Kanaya menelan salivanya kasar saat menyadari bahwa suaminya membawa dirinya ke hotel. Pemuda itu mengajak Kanaya makan malam di restoran hotel itu. Usai makan, Andi mengajak Kanaya menaiki lift.
Jantung Kanaya kembali tidak aman, alias berdetak tidak karuan saat Andi mengajaknya masuk ke sebuah kamar hotel.
"Brugh"
"Akkhh"
Setelah mereka masuk dan pintu kamar itu tertutup, tiba-tiba Andi mendorong tubuh Kanaya ke dinding. Tanpa di duga Kanaya, Andi langsung mencium dirinya dengan agresif.
"Astagaa.. Apa malam ini dia akan menghabisi aku? Apa malam ini aku bisa menahan rasa sakitnya?"gumam Kanaya dalam hati.
Walaupun takut dan merasa belum siap, jika Andi meminta hak nya malam ini, tapi Kanaya tetap melayani Andi dengan membalas ciuman Andi. Gadis itu mengingat pesan ibunya yang mengatakan bahwa berdosa jika dirinya menolak melayani suaminya.
"Aku tidak akan melepaskan nya malam ini. Aku sudah tersiksa dari kemarin malam karenanya,"gumam Andi dalam hati.
Karena gagal membobol gawang kemarin malam, burung Andi jadi tidak mau tidur. Walaupun Andi sudah mencoba menidurkan nya, tapi burung tak bersayap itu tetap saja tidak mau tidur. Karena itu, Andi tidak akan melepaskan Kanaya malam ini, sebelum Kanaya menidurkan burung nya itu.
__ADS_1
Andi melepaskan pagutannya, lalu meraih kedua tangan Kanaya. Pemuda itu meletakkan tangan Kanaya di dadanya. Dengan posisi seperti itu, detak jantung Kanaya semakin berdetak kencang.
"Lepaskan kancing kemeja ku!"bisik Andi kemudian kembali memagut bibir Kanaya.
Dengan jemari tangan yang sedikit bergetar, Kanaya melepaskan kancing kemeja Andi.
Andi mencium Kanaya dengan jemari tangan yang bergerak melepaskan kancing kemeja Kanaya. Sesekali pemuda itu melepaskan pagutannya agar mereka bisa menarik napas.
Andi melepaskan kemejanya yang seluruh kancingnya sudah di buka Kanaya itu dan melemparnya asal.
Andi melepaskan pagutannya dan menyibak kemeja Kanaya yang seluruh kancingnya sudah di bukanya itu. Andi menatap ke arah dada Kanaya. Pemuda itu menelan salivanya kasar melihat dua buah benda putih yang tertutup push up braa berwarna hitam berenda yang terlihat begitu menggoda itu. Walaupun tanda yang di buatnya kemarin malam masih terlihat jelas di sana.
Kanaya memalingkan wajahnya yang memerah karena merasa malu saat melihat Andi menatap dadanya.
Tanpa aba-aba, Andi mengangkat tubuh Kanaya dan menggendongnya ke arah ranjang.
"Mampus! Sepertinya malam ini aku tidak akan selamat,"gumam Kanaya dalam hati yang mau tak mau harus melayani suaminya.
Andi membaringkan Kanaya di atas ranjang, lalu pemuda itu langsung mengungkung tubuh Kanaya.
"Raba tubuh ku seperti kemarin!"pinta Andi seraya meletakkan tangan Kanaya di dada dan lehernya, kemudian kembali mencium bibir Kanaya.
Kanaya melakukan apa yang di pinta Andi, karena sejujurnya Kanaya sangat suka melakukannya.
Andi kembali memagut bibir Kanaya, kemudian turun ke leher dengan jemari yang bergerak nakal menyusuri tubuh Kanaya. Pemuda itu mulai mengeluarkan dua benda kembar milik Kanaya dari tempatnya.
Kanaya menggigit bibirnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara. Setiap sentuhan jemari tangan, bibir dan lidah pemuda itu membuat tubuh Kanaya semakin meremang.
Andi menurunkan ciumannya ke arah dada Kanaya dengan jemari yang memainkan dua buah benda kembar yang terasa lembut dan kenyal itu bergantian.
"Tok! Tok! Tok! Tok!"
Suara ketukan di pintu itu tidak di hiraukan oleh Andi. Pemuda itu tetap melanjutkan kegiatannya. Namun Andi menjadi sangat kesal saat ketukan di pintu itu berubah menjadi gedoran.
"Shiitt! Siapa yang berani menggangguku dan menggedor pintu?"umpat Andi terlihat kesal. Mau tak mau, Andi pun turun dari tubuh Kanaya. Pemuda itu memakai lagi kemejanya sambil berjalan menghampiri pintu. Sedangkan Kanaya bergegas merapikan kembali pakaiannya.
"Ceklek"
"Selamat malam!"
...π"Perhatian itu sederhana, tapi banyak yang gengsi melakukannya....
...Nyatanya, sedikit perhatian pun bisa memberikan kesan mendalam yang tak terlupakan."π...
...πΈβ€οΈπΈ...
Notebook : Push up braa adalah braa yang menggunakan bantalan pada bagian bawah atau samping cup sehingga mendorong payu daraa ke tengah atau atas. Dengan demikian belahan dada akan terlihat lebih jelas. Biasanya bentuk cup pada push up braa hanya menutup setengah bagian payu daraa.
__ADS_1
.
To be continued