
"Kami ke sini sedang menunggu seseorang yang sebentar lagi akan datang. Orang ini mengaku mengetahui tentang asal usul Sumi yang sebenarnya,"ucap Rayyan dengan suara datar, namun terlihat sangat berwibawa.
Seketika, ruangan itu pun menjadi hening. Mereka larut dalam pemikiran mereka masing-masing.
Sumi dan ibunya saling menatap. Ada secercah harapan di hati Sumi untuk mengetahui siapa sebenarnya kedua orang tua kandungnya.
Sedangkan ibu Sumi merasa dilema. Di satu sisi merasa bahagia jika Sumi menemukan orang tua kandungnya. Tapi, di sisi lain juga merasa takut kehilangan Sumi yang sudah terlanjur disayanginya. Jika Sumi sudah bertemu dengan kedua orang tuanya, mungkin dirinya tidak bisa lagi bertemu dengan putri angkatnya itu. Mungkin juga, jika kedua orang tua Sumi mengetahui dirinya dan anak-anaknya menumpang hidup pada Sumi, mereka akan di usir dari rumah ini. Tapi itu tidak masalah bagi ibu Sumi. Ibu Sumi hanya takut tidak bisa bertemu dengan Sumi lagi.
Ibu Sumi terlalu menyayangi Sumi, bahkan tidak pernah membeda-bedakan Sumi dengan anak-anaknya yang lain. Bagi ibu Sumi, Sumi adalah permata yang paling berharga di hati dan hidupnya.
Sedangkan adik-adik Sumi nampak terkejut mendengar kata-kata Rayyan. Kecuali Yuniar yang sudah tahu tentang rahasia ini waktu ibunya masuk rumah sakit. Dari kata-kata Rayyan, adik-adik Sumi bisa mengerti kalau maksud Rayyan, Sumi bukanlah saudara kandung mereka. Memang ada perbedaan di antara Sumi dan mereka,. karena wajah Sumi tidak secantik saudara-saudaranya yang lain. Dan tentunya tidak ada kemiripan dengan saudara-saudaranya yang lain.
Namun adik-adik Sumi tidak pernah mencurigai hal itu, karena mereka merasa kedua orang tua mereka malah lebih menyayangi Sumi dari pada mereka. Tapi mereka memaklumi hal itu, dan sama sekali tidak merasa iri pada Sumi. Karena Sumi adalah anak yang pengertian. Sebelum di suruh kedua orang tua mereka, Sumi sudah lebih dulu mengerjakannya dan menjaga serta menyayangi mereka sebagai adiknya. Karena itu pula, mereka sangat menghormati dan menghargai kakak tertua mereka itu
"Jadi, apakah memungkinkan besar, Sumi akan bertemu dengan kedua orang tua kandungnya, Tuan?"tanya ibu Sumi memberanikan diri.
"Saya tidak tahu pasti. Karena orang ini tidak mau mengatakan apapun jika belum bertemu dengan Sumi secara langsung,"sahut Rayyan membuat ruangan itu kembali hening.
Suara bel rumah itu memecahkan keheningan yang terjadi. Seorang pelayan membukakan pintu. Terlihat seorang nenek tua dan dua orang anak buah Andi di kanan kiri nenek tua itu. Kedua orang anak buah Andi memapah nenek tua itu sebab tubuhnya agak lemah karena mabuk di perjalanan tadi. Andi yang melihat anak buahnya membawa seorang nenek pun menghampiri nenek itu, lalu menggantikan anak buahnya memapah nenek itu untuk duduk di salah satu sofa.
"Tuan, mana yang namanya Sumi? Anak yang di temukan di bus?"tanya wanita itu pada Andi, lalu menatap semua wanita muda yang ada di ruangan itu.
Andi mencari foto Sumi di handphonenya, foto sebelum Sumi melakukan operasi plastik, lalu menunjukkannya pada nenek itu,"Ini fotonya, nek,"
__ADS_1
Mata nenek tua itu berkaca-kaca saat melihat foto Sumi,"Dia sangat mirip dengan ibunya,"ujar nenek tua itu, lalu kembali menatap Andi,"Dimana dia sekarang, Tuan?"
"Dia telah melakukan operasi plastik. Coba nenek lihat ini!"ucap Andi menunjukkan foto tahap demi tahap Sumi menjalani operasi plastik, hingga akhirnya wajahnya seperti saat ini.
"Jadi.. "nenek tua itu tidak melanjutkan kata-katanya, mengedarkan pandangannya lalu berhenti pada Sumi,"Ka.. kamu yang bernama Sumi?"tanya nenek itu menunjuk pada Sumi.
"Iya. Ini adalah Sumi. Sumi Sumarti. Saya dan suami saya memberikan nama itu karena di bedongnya saat kami menemukannya ada sulaman nama itu. Kami menemukan dia di mobil Akas Jaya.. Tanggal lima September tahun dua ribu, hari Selasa,"ucap ibu Sumi yang masih ingat dengan jelas, kapan dan dimana dirinya dan suaminya menemukan Sumi.
"Benar. Itu adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Dan dari bus, tanggal, bulan, tahun dan hari yang kamu sebutkan semuanya benar,"sahut nenek itu dengan mata yang berkaca-kaca,"Apakah kamu memiliki tanda lahir?"
"Saya memiliki tanda lahir di telapak kaki.."
"Berwarna merah?"tanya nenek itu memotong kata-kata Sumi. Sumi pun mengangguk dan menunjukkan tanda lahir di telapak kakinya.
"Jadi, jika kami boleh tahu. Bagaimana ceritanya sampai Sumi bisa tertinggal di bus?"tanya Rayyan sopan setelah nenek itu terlihat tenang
"Ceritanya panjang, Tuan. Tapi saya akan menceritakannya. Saya memiliki empat orang putra. Ayah Sumi adalah anak ke empat, yang paling bungsu. Dulu, keluarga kami adalah keluarga terkaya di kecamatan kami. Saya dan suami saya membagi warisan secara adil. Anak kedua saya memilih mengadu nasib ke kota, sedangkan tiga lainnya tetap di kampung dan tinggal di bawah atap yang sama bersama saya dan suami saya. Mengembangkan pertanian, peternakan sapi dan juga perkebunan. Kami hidup rukun dan bahagia, walaupun hanya tinggal di desa,"
"Suatu hari, putra kedua saya pulang dari kota dan meminta anak-anak saya yang lainnya untuk meminjamkan sertifikat tanah mereka. Dengan alasan untuk mengembangkan perusahaan yang didirikannya di kota. Anak-anak saya menyelidiki usaha anak kedua saya di kota yang ternyata mengalami kerugian, dan perkembangan dari awal didirikan juga tidak terlalu bagus. Jadi, anak-anak saya yang lain tidak mau meminjamkan sertifikat tanah mereka. Takut jika usaha anak kedua saya mengalami kebangkrutan. Jika itu terjadi, maka kami semua akan jatuh miskin karena harus membayar hutang perusahaan. Apalagi anak kedua saya itu sombong pada anak-anak saya yang lain. Bahkan tidak pernah mau membawa menantu dan cucu saya pulang ke kampung,"
"Tepat satu Minggu setelah anak kedua saya kembali ke kota, malam itu saya terjaga di tengah malam karena mendengar Sumi menangis. Namun saya terkejut saat melihat api dimana-mana. Saya bangunkan suami saya, tapi dia seperti orang pingsan. Saya berteriak-teriak memanggil anak, cucu dan menantu saya, tapi tidak ada seorang pun yang menyahut. Akhirnya saya mengambil Sumi yang ternyata kedua orang tuanya juga seperti pingsan. Karena api semakin besar, saya keluar dari rumah itu membawa Sumi,"
"Saya menangis tanpa suara karena syok melihat seluruh keluarga saya tewas terpanggang di depan mata saya. Warga desa pun tidak bisa memadamkan apinya yang terlalu besar. Saat saya ingin meminta air minum pada tetangga, saya tidak sengaja mendengar dua orang menelpon anak saya yang tinggal di kota dan mengatakan pekerjaan mereka sudah beres dan berhasil mengambil semua sertifikat tanah dan melenyapkan seluruh keluarganya. Saya semakin syok mendengar itu. Akhirnya saya membawa Sumi pergi. Menjual perhiasan yang saya pakai untuk memenuhi hidup kami,"
__ADS_1
"Namun satu Minggu setelah itu, saya mendengar semua tanah yang kami miliki di jual oleh anak durhaka itu. Dan akhirnya saya meninggalkan Sumi di bus karena merasa tidak akan mampu memberikan kehidupan yang layak untuk Sumi. Sampai saat ini, saya hanya tinggal menumpang pada seorang warga yang berbaik hati memberikan tempat berteduh untuk saya,"jelas nenek itu dengan berderai air mata.
Semua orang yang ada di ruangan itu pun ikut sedih mendengar cerita anak Sumi itu. Dan juga merasa geram pada anak kedua nenek itu.
"Sungguh tega, seorang saudara sekaligus anak, membakar saudara, keponakan dan kedua orang tuanya sendiri hanya untuk mendapatkan harta,"ujar Andi merasa miris.
"Tuhan Maha Adil. Dia tidak akan membiarkan anak durhaka itu bahagia,"ucap nenek itu penuh kebencian dan amarah yang terpancar di mata dan wajahnya.
"Berarti putra nenek seorang pebisnis, 'kan? Kalau boleh tahu, siapa nama anak nenek itu?"tanya Rayyan yang sangat penasaran. Siapakah orang yang sekejam itu? Orang yang membunuh seluruh keluarganya termasuk kedua orang tuanya hanya demi mendapatkan harta. Itulah yang ada di dalam hati Rayyan.
"Namanya Junedi. Tapi di kota, dia merubah namanya menjadi Jony,"sahut nenek tua itu.
"Jony?!"
...๐Darah itu lebih kental dari pada air. Namun nyatanya, banyak orang yang tak dianggap saudara karena tak punya harta ,"๐...
..."Nana 17 Oktober"...
...๐ธโค๏ธ๐ธ...
.
To be continued
__ADS_1