
Mendengar suara gaduh di dalam ruangan, para bodyguard Mami pun membuka pintu ruangan itu dan mendapati Aurora sedang menginjak kepala perempuan yang di tugaskan Mami untuk merias Aurora.
"Ada apa ini?"tanya salah satu bodyguard itu.
"Beraninya kamu macam-macam dengan aku! Aku pastikan, kalian akan menyesal karena telah menculik aku!"ucap Aurora dengan tatapan tajam penuh amarah pada perempuan yang memaksa dirinya memakai baju seksi tadi.
"Kau! Berani sekali! Jika kamu tidak mau menurut, kami akan menggilir bodyguard mu sampai dia tidak bisa apa-apa lagi. Apa kamu ingin melihat kami menggilir dia?"ancam bodyguard itu.
Mendengar hal itu, Aurora terdiam dan menyingkirkan kakinya dari perempuan yang baru saja di hajarnya tadi.
"Kalian lihat! Dia tidak mau dirias ataupun memakai baju pilihanku. Dia bahkan mematahkan tangan dan kakiku,"ucap perempuan yang baru saja di hajar Aurora, meringis menahan sakit.
"Kamu urus dia! Aku akan menghubungi Mami,"ucap salah satu bodyguard pada temannya.
"Baiklah,"bodyguard satunya, kemudian memapah perias itu keluar dari ruangan ganti itu. Sedangkan yang satunya menutup pintu dari luar, lalu menghubungi Mami.
"Mi, perempuan ini mematahkan tangan dan kaki perempuan yang Mami tugaskan untuk mendandaninya,"lapor bodyguard itu.
"Ya sudah. Biarkan dia seperti itu. Walaupun tanpa di dandani, dia juga tetap terlihat cantik,"sahut Mami seraya memijit pelipisnya sendiri, kemudian menutup teleponnya.
"Perempuan itu benar-benar ganas. Tadi dia memukul dan membanting tubuhku. Dan sekarang malah mematahkan tangan dan kaki orang yang aku tugaskan untuk mendandani dia,"gumam Mami menghela napas berat. Mengusap pinggangnya yang masih terasa sakit karena di banting Aurora tadi.
Di sisi lain, setelah meeting dengan para kepala divisi, Rayyan kembali ke ruangannya. Mengerjakan semua pekerjaan kantornya agar pulang nanti bisa fokus pada istrinya saja. Sedangkan Andi terus mengerahkan anak buahnya tanpa memberitahu Rayyan bahwa nyonya-nya telah di culik orang. Tidak mau majikannya mengamuk.
"Andi, keruangan ku sekarang!"titah Rayyan melalui sambungan interkom.
"Baik, Tuan,"sahut Andi.
"Ada apa Tuan memanggil aku ke ruangannya? Aku sekarang masih sibuk mencari nyonya,"gumam Andi seraya berjalan menuju ruangan Rayyan.
Beberapa saat kemudian, Andi pun sudah berada di ruangan Rayyan. Pria tampan itu tampak serius dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Tidak lama kemudian, Andi pun masuk ke ruangan pria itu.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan?"tanya Andi terlihat seperti biasanya. Berusaha keras untuk menyembunyikan kegelisahan dan juga kecemasannya, karena belum menemukan Aurora.
"Kamu kerjakan saja semua ini! Nanti aku hitung sebagai lembur. Aku ingin cepat pulang,"ujar Rayyan.
"𝙈𝙖𝙢𝙥𝙪𝙨! 𝙉𝙮𝙤𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙠𝙚𝙩𝙚𝙢𝙪, 𝙙𝙖𝙣 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜? 𝘽𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢 𝙡𝙚𝙢𝙗𝙪𝙧 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙨𝙚𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪. 𝙄𝙣𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞!"gumam Andi dalam hati.
"Tidak bisa, Tuan. Ini semua memerlukan tanda tangan, Tuan. Lagi pula, saya masih harus memeriksa beberapa perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita. Saya harus memeriksa track record mereka secara detail sebelum kita menerima mereka sebagai rekan bisnis. Hari ini saya juga harus lembur, Tuan. Jika Tuan menyuruh saya mengerjakan semua ini, saya tidak akan tidur sampai pagi, Tuan,"ujar Andi beralasan. Padahal pekerjaannya hampir selesai. Tapi karena harus mencari dan harus segera menemukan nyonya-nya, Andi belum bisa menyelesaikan pekerjaan nya.
"Haiss... aku ingin segera pulang,"ujar Rayyan merasa kesal melihat tumpukan berkas di hadapannya. Entah mengapa, hari ini Rayyan ingin cepat-cepat pulang. Ingin segera melihat istrinya.
"Tuan kerjakan saja sekarang. Agar lebih cepat selesai. Saya kembali ke ruangan saya dulu, Tuan,"pamit Andi bergegas keluar dari ruangan Rayyan.
Mau tidak mau, Rayyan mengerjakan semua berkas yang menumpuk di meja kerjanya. Berusaha mengerjakan dengan cepat.
"Aku ingin segera pulang. Entah mengapa aku ingin cepat-cepat bertemu dengan dia. Aku merasa hatiku tidak tenang sebelum melihat wajahnya,"gumam Rayyan berusaha berkonsentrasi bekerja agar bisa segera pulang dan bertemu dengan istrinya.
Di ruangan Andi, pria itu nampak tidak tenang, menunggu laporan dari anak buahnya. Sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya.
Di klub malam milik Mami.
"Tok! Tok! Tok!"
"Masuk!"ucap Mami.
"Mi, semua orang sudah menunggu Mami di ruangan biasanya,"ucap seorang perempuan berambut pendek.
"Berapa banyak yang datang?"tanya Mami.
"Banyak, Mi. Mereka sangat penasaran dengan perempuan yang Mami katakan. Mereka ingin melihat orangnya secara langsung,"ujar perempuan berambut pendek itu
"Suruh para bodyguard itu membawa perempuan itu ke ruangan yang ada di sebelah ruangan para pria itu berkumpul,"titah Mami.
__ADS_1
"Baik, Mi,"sahut perempuan berambut pendek itu, segera keluar dari ruangan Mami.
"Kita lihat! Berapa aku bisa menjual perempuan itu,"gumam Mami tersenyum simpul.
Wanita paruh baya itu dengan perlahan keluar dari ruangan nya. Berjalan menuju sebuah ruangan di mana sudah ada banyak pria-pria berdompet tebal yang telah menunggu dirinya. Memulai tawar menawar harga perempuan yang baru saja di culiknya.
Sedangkan Aurora juga di bawa kesebuah ruangan yang di perintahkan oleh Mami. Perempuan itu itu menatap sekeliling ruangan yang salah satu sisinya di sekat dengan dinding kaca.
Para pria yang ada di ruangan sebelah ruangan Aurora berada pun berdecak kagum melihat kecantikan Aurora yang baru masuk ke ruangan di sebelah ruangan para pria itu berada. Sedangkan dari ruangan Aurora berada, wanita itu tidak bisa melihat dan mendengar orang-orang yang berada di ruangan sebelah ruangannya berada saat ini. Tidak tahu jika saat ini dirinya sedang diperhatikan banyak mata pria yang seolah ingin menelanjangi dirinya.
"Wahh.. cantik sekali!"
"Bodynya benar-benar aduhai,"
"Seperti bidadari,"
Gumam para pria hidung belang itu menelisik tubuh Aurora dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menatap Aurora dengan tatapan mesum.
"Ruangan apa ini? Kenapa aku di suruh masuk ke ruangan ini?"gumam Aurora masih mengamati ruangan itu. Tanpa tahu jika dirinya menjadi pusat perhatian para pria hidung belang. Para pria yang mencari kepuasan dan kenikmatan dunia yang hanya sesaat.
"Bagaimana? Cantik dan bohay bukan?"tanya Mami membuat pandangan mata para pria itu beralih ke arah Mami yang baru saja masuk ke ruangan itu.
"Berapa harga penawarannya, Mi?"tanya salah seorang pria, tampak sudah tidak sabar.
"Saya buka dengan harga tujuh puluh juta. Seperti biasanya, siapa yang menawar paling tinggi akan memiliki perempuan itu. Tapi..."
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1