
Kanaya yang berada di dalam kontrakkan kecilnya nampak berbaring di kasur lantainya. Gadis itu menatap langit-langit kamar kontrakan nya mengingat kejadian senja tadi.
"Huff.. Aku tidak menyangka, jika Tuan Andi akan menembak aku. Tuan Andi, maafkan aku!"gumam Kanaya membuang napas kasar,"Tuan Andi tidak akan memecat aku, 'kan, karena aku menolaknya? Sekarang ini sangat sulit mencari pekerjaan. Apalagi hanya dengan mengandalkan ijazah SMU. Jika aku di pecat dari tempat itu, entah kemana lagi aku harus mencari kerja. Bahkan sampai saat ini, aku belum mendapatkan pekerjaan di malam hari. Apa aku bisa membayar angsuran rumah untuk bulan ini? Semoga saja ibu memiliki uang untuk menambah uang ku,"
"Huff.. Lusa aku harus memberikan jawaban untuk kak Randy. Sebenarnya, aku masih bimbang untuk menerimanya. Aku belum terlalu mengenal dia, apalagi mencintai dia. Aku hanya merasa nyaman saja saat bersama dia. Tapi, apa yang di janjikan nya sangat menggiurkan,"gumam Kanaya menghela napas beberapa kali.
*
Di sisi lain, Rayyan menghela napas panjang setelah berbicara dengan Andi. Pria itu keluar dari ruangan kerjanya, lalu melangkah menuju kamarnya.
"Zayn sudah tidur, sayang?"tanya Rayyan pelan saat melihat Aurora membaringkan putra mereka di ranjang kecil khusus untuk bayi itu.
"Hum. Kamu dari mana, sayang?"tanya Aurora, kemudian menghampiri Rayyan yang duduk di tepi ranjang.
"Dari bicara dengan Andi,"sahut Rayyan menarik pelan tubuh Aurora ke atas pangkuannya.
"Kalian pasti berdebat lagi,"tebak Aurora yang sudah hafal dengan suaminya yang suka berdebat dengan asistennya itu.
"Itu hanya bumbu dalam persahabatan, sayang,"sahut Rayyan seraya menyelipkan anak rambut Aurora di telinganya.
"Bumbu? Emang masakan apa? By the way, bagaimana perkembangan hubungan Andi dan Kanaya?"tanya Aurora yang kepo.
"Dia di tolak Kanaya,"sahut Rayyan terkekeh kecil memeluk Aurora.
"Kenapa Kanaya menolak Andi? Padahal Andi itu tampan, walaupun belum punya rumah sendiri, tapi tabungan dan investasi sahamnya banyak. Wanita yang bisa menjadi pendamping hidupnya, pasti masa depannya akan terjamin. Belum lagi Andi itu orang yang bijaksana, humoris, sangat peduli dan juga perhatian. Pasti bahagia jika memiliki suami seperti dia,"ujar Aurora membuat raut wajah Rayyan tiba-tiba berubah.
"Sepertinya kamu begitu mengagumi Andi,"ujar Rayyan seraya melepaskan pelukannya.
Aurora mengernyitkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Rayyan. Wanita itu tersenyum saat menyadari suaminya terlihat tidak suka karena dirinya memuji Andi. Aurora melingkarkan sebelah tangannya di leher Rayyan, sedangkan tangan sebelahnya memegang rahang Rayyan.
"Aku suka dengan karakter Andi, tapi bukan berarti aku memiliki perasaan padanya. Aku tetap saja tidak bisa berpaling dari suamiku yang semakin terlihat mempesona saat menampilkan wajah dingin dan datar ini. Kamu terlihat cool dan keren saat menampilkan wajah dingin dan datar,"puji Aurora seraya mengelus rahang suaminya yang sedang cemburu itu.
"Cup"
__ADS_1
Aurora mengecup lembut bibir Rayyan, agar mood pria itu membaik.
"Kamu adalah pria yang mau menerima aku apa adanya tanpa memandang latar belakang keluarga ku dan juga pendidikan ku. Kamu tetap bertahan di sisiku dan bersabar menghadapi aku. Walaupun aku ini egois, keras kepala dan suka membuat masalah. Bahkan terkadang kekanak-kanakan. Mana mungkin kamu bisa di bandingkan dengan pria lain? Hanya kamu yang bisa membuatku merasa nyaman dan sempurna. Aku sangat mencintaimu,"ucap Aurora tulus dari dalam hatinya, kemudian memeluk Rayyan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
Rayyan menghela napas panjang, kemudian memeluk Aurora.
"Kamu tahu? Aku sangat takut kehilangan mu,"ujar Rayyan jujur adanya.
"Aku juga takut kehilangan mu,"sahut Aurora semakin mengeratkan pelukannya pada Rayyan.
"Aku ingin menua bersama mu. Melihat anak-anak kita dewasa, menikah dan memiliki anak. Kita akan memiliki cucu-cucu yang manis untuk menemani kita di masa tua,"ujar Rayyan membayangkan masa tuanya bersama Aurora.
***
Hari ini Rayyan dan Andi datang ke kantor setelah makan siang. Begitu tiba, Andi dan Rayyan langsung bergerak untuk mengerjakan pekerjaan mereka yang menumpuk.
"Apa kamu mau minta cuti untuk bulan madu, Ndi?"tanya Rayyan yang sedang memakan buah kedondong dengan mata yang menatap layar laptopnya.
"Apa Tuan sedang meledek saya? Saya menikah seperti bernegosiasi. Itupun masih belum pasti akan berhasil. Bagaimana mau bulan madu?"sahut Andi menghela napas kasar seraya memilih beberapa berkas yang harus di kerjakan nya.
"Tuan merasa cemburu karena Nyonya memuji saya?"tanya Andi terkekeh kecil saat menyadari Rayyan cemburu pada dirinya. Sesaat kemudian pemuda itu menghela napas panjang,"Tuhan membuat jalan saya berbeda, Tuan. Lagipula, semua hal itu butuh perjuangan bukan? Kita akan lebih menghargai apa yang kita miliki jika kita tidak mudah mendapatkannya,"ujar Andi menghela napas panjang.
"Iya juga, sih. Jika sulit mendapatkannya, kita akan lebih menghargainya,"sahut Rayyan, kemudian kembali memakan kedondong.
Wajah Andi nampak mengerut karena sedari tadi melihat Rayyan yang memakan buah kedondong.
"Tuan, apa Tuan tidak merasa ke aseman makan kedondong yang masih muda itu? Tuan membuat gigi yang terasa ngilu,"tanya Andi yang terbayang bagaimana asamnya rasa kedondong yang di makan Rayyan.
"Memang asam, sih. Tapi, rasanya segar, bikin rasa enek ku hilang,"sahut Rayyan yang sudah dua hari ini membuat Andi repot karena harus mencari mangga muda dan juga kedondong. Untung saja hari ini Rayyan tidak minta di ambilkan buah kedondong dari batangnya. Dan beruntung jualannya ada. Walaupun Andi harus berkeliling mencari jualan buah kedondong itu.
"Apa nyonya benar-benar sedang mengandung, Tuan?"tanya Andi memastikan.
"Aku belum tahu. Kemarin aku ajak dia ke dokter, tapi belum mau. Oh, ya, apakah hari ini kamu mau lembur?"tanya Rayyan yang masih saja memakan kedondong.
__ADS_1
"Saya akan berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, agar tidak perlu lembur. Jika tidak ada lagi yang anda butuhkan, saya permisi kembali ke ruangan saya Tuan,"ujar Andi kemudian keluar dari ruangan Rayyan setelah Rayyan mengangguk kecil seraya melambaikan tangannya, mengisyaratkan Andi boleh pergi
*
Seorang office boy nampak menghampiri Kanaya yang sedang membersihkan pantry.
"Aya, ibu mu mencari kamu. Sekarang ibu kamu sedang menunggu di lobby. Cepatlah temui dia! Tapi jangan terlalu lama, karena ini masih jam kerja. Atasan kita mengizinkan kamu menemui ibumu karena ada hal penting yang ingin di bicarakan ibumu dan katanya tidak dapat di tunda,"ujar office boy itu.
"Iya, terimakasih,"ucap Kanaya.
Office boy itu mengangguk kecil, kemudian pergi. Kanaya pun bergegas pergi ke lobby gedung itu dengan penuh tanda tanya dan juga perasaan khawatir.
"Ada hal penting apa hingga ibu datang jauh-jauh dari kampung sampai ke sini? Ibu pasti kesulitan mencari tempat ini,"gumam Kanaya dalam hati. Gadis itu berjalan dengan perasaan tidak menentu.
Tak lama kemudian, Kanaya pun sampai di lobby gedung itu dan melihat ibunya sedang duduk menunggu.
"Bu, ada hal penting apa hingga ibu menemui aku?"tanya Kanaya to the point dengan ekspresi khawatir.
"Syukurlah ibu bisa bertemu dengan kamu. Aya, cepat tandatangani semua ini! Mereka mengizinkan kamu menemui ibu sebentar. Selain itu, ibu juga harus segera kembali ke kampung,"ujar ibu Kanaya seraya menyodorkan sebuah map padak Kanaya.
"Apa ini, Bu?"tanya Kanaya mengambil map yang di berikan ibunya, kemudian membukanya.
"Ini surat pernyataan tidak mampu, persetujuan renovasi rumah, dan surat persetujuan penerimaan bantuan. Cepat tanda tangani! Ibu harus secepatnya menyerahkannya pada kepala desa. Selain itu, ibu tidak mau kemalaman di jalan,"ujar ibu Kanaya seraya memberikan pena pada Kanaya. Wanita paruh baya itu terlihat buru-buru.
"Tapi, Bu, kenapa harus memakai tanda tangan ku? Bukankah seharusnya tanda tangan ibu? Soalnya, kepala keluarga kita adalah ibu,"tanya Kanaya yang merasa aneh. Namun melihat judul semua surat yang ada di dalam map itu memang semuanya mengenai bantuan seperti yang dikatakan oleh ibunya.
"Ibu juga tidak tahu. Sudah, cepatlah tanda tangani! Kamu harus segera kembali bekerja dan ibu juga harus segera kembali ke kampung. Besok pagi semua surat itu akan di serahkan kepala desa ke kecamatan. Lagipula, ibu akan kesulitan mendapatkan angkutan umum untuk ke desa kita jika terlalu sore,"ujar ibu Kanaya terlihat tidak sabar.
Kanaya terpaksa menandatangani surat-surat yang lumayan banyak itu dan hanya bisa membacanya sekilas saja. Setelah Kanaya selesai tanda tangan, ibu Kanaya pun pamit pulang.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued