Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
87. Di Gerebek?


__ADS_3

"Ra, dia siapa?"tanya Bu Ella yang sedari tadi sudah sangat penasaran. Putrinya terlihat begitu dekat dengan pria yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.


"Dia.. "


"Maaf, Bu. Saya telah lancang,"ucap Rayyan memotong kata-kata Aurora,"Saya telah menikahi Aurora tanpa sepengetahuan ibu sebagai orang tuanya. Kami terjebak situasi, hingga kami menikah tanpa sepengetahuan ibu,"sahut Rayyan yang membuat Bu Ella mengernyitkan keningnya.


"𝙎𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣! 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝? 𝙎𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖, 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙥𝙖𝙘𝙖𝙧𝙖𝙣. 𝘿𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙬𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙠𝙚𝙩𝙖𝙝𝙪𝙞. 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙨𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩 𝙗𝙚𝙧𝙙𝙞𝙨𝙠𝙪𝙨𝙞 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞. 𝘿𝙞𝙖 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝,"gerutu Aurora dalam hati.


Sebenarnya niat Aurora menyuruh Rayyan menemui kedua orang tuanya adalah untuk meminta restu untuk menikah dengan dirinya. Aurora berniat mengatakan bahwa dirinya dan Rayyan sedang berpacaran, agar tidak ada pertanyaan kenapa dirinya menikah dengan Rayyan tanpa memberitahu kedua orang tuanya. Tapi Rayyan malah mengatakan bahwa mereka sudah menikah.


"Terjebak situasi? Maksud kamu, kalian menikah karena digerebek warga?"tanya Bu Ella terlihat ragu-ragu setelah mencerna kata-kata Rayyan.


"Benar Nyonya. Tuan Rayyan dan nyonya Aurora menikah karena di gerebek warga. Warga salah paham pada Nyonya dan Tuan. Tuan dan nyonya hanya berpacaran di tempat yang agak sepi sambil berpelukan. Tapi malah digerebek warga dan di tuduh berbuat mesum,"sahut Andi cepat.


"𝘿𝙞𝙜𝙚𝙧𝙚𝙗𝙚𝙠 𝙬𝙖𝙧𝙜𝙖? 𝘼𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙜𝙪𝙨, 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙬𝙖𝙡𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝 𝙠𝙤𝙣𝙩𝙧𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙞𝙢𝙗𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨 𝙗𝙪𝙙𝙞. 𝙄𝙩𝙪 𝙢𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙪𝙧𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙣𝙞𝙡𝙖𝙞 𝙥𝙡𝙪𝙨 𝙏𝙪𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙢𝙖𝙩𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖 𝙣𝙮𝙤𝙣𝙮𝙖. 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙜𝙚𝙧𝙚𝙗𝙚𝙠 𝙬𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠,"gumam Andi dalam hati. Tidak ingin citra majikannya menjadi buruk di mata mertuanya.


"𝘿𝙞𝙜𝙚𝙧𝙚𝙗𝙚𝙠 𝙬𝙖𝙧𝙜𝙖? 𝙊𝙝,..𝙖𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖𝙖𝙖..!! 𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙡𝙖𝙨𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙩𝙪, 𝙨𝙞𝙝?"gerutu Aurora dalam hati.


Aurora dan Rayyan sempat terkejut mendengar penuturan Andi yang saat ini berdiri di belakang mereka.


"Iya, benar, Bu,"sahut Rayyan membenarkan kata-kata Andi. Tidak bisa berkata apa-apa lagi selain membenarkan ucapan Andi.


"𝘼𝙠𝙪 𝙧𝙖𝙨𝙖, 𝙞𝙙𝙚 𝘼𝙣𝙙𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙪𝙧𝙪𝙠 𝙟𝙪𝙜𝙖,"gumam Rayyan dalam hati.


Menurut Rayyan, mengatakan mereka sudah menikah tanpa meminta restu orang tua Aurora, itu akan membuat Rayyan tidak punya etika dan tata krama di hadapan orang tua Aurora. Apalagi jika mengatakan bahwa awalnya mereka menikah kontrak sebagai imbalan balas jasa. Jawaban itu juga hanya akan memunculkan anggapan tidak serius pada Rayyan. Dan entah anggapan apa lagi yang akan timbul jika mengatakan alasan sejujurnya kenapa mereka menikah tanpa memberitahu orang tua Aurora. Jadi, memilih mengatakan menikah karena digerebek warga adalah alasan terbaik menurut Rayyan dan Andi. Ingat! Menurut Rayyan dan Andi.


"Jadi, begitu, ya? Ya sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting, kalian saling mencintai dan bahagia, itu sudah cukup buat ibu,"ujar Bu Ella yang nampak berlapang dada. Asalkan Aurora bahagia, itu sudah cukup bagi Bu Ella


"Kami akan mengadakan resepsi pernikahan sekitar dua bulan lagi. Kami harap, ibu dan bapak bisa hadir. Tidak perlu repot-repot membawa apapun. Yang penting, ibu dan bapak hadir di pesta resepsi pernikahan kami nanti. Itu sudah cukup membuat kami bahagia,"ujar Rayyan yang sudah merencanakan semuanya bersama Andi.


"𝙈𝙚𝙣𝙜𝙖𝙙𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙧𝙚𝙨𝙚𝙥𝙨𝙞 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙞𝙩𝙖𝙧 𝙙𝙪𝙖 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞? 𝙆𝙤𝙠, 𝙖𝙠𝙪 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪, 𝙮𝙖? 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣, 𝙠𝙤𝙠, 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙣𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪?"gumam Aurora menatap Rayyan yang duduk di sebelahnya, menyembunyikan kekesalannya.


"Bapak dan ibu pasti datang. Oh iya, sejak kapan kalian pacaran?"tanya Bu Ella antusias.

__ADS_1


"Setahun yang lalu, Bu,"sahut Rayyan cepat.


"𝘼𝙥𝙖? 𝙎𝙚𝙩𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙡𝙪? 𝘽𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙞 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙨𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙖𝙡 𝙗𝙚𝙗𝙚𝙧𝙖𝙥𝙖 𝙗𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙠𝙝𝙞𝙧 𝙞𝙣𝙞. 𝙍𝙖𝙮𝙮𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙥𝙖𝙣𝙙𝙖𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙗𝙤𝙝𝙤𝙣𝙜,"gumam Aurora dalam hati.


"Oh, sudah satu tahun, ya? Kok, kamu nggak pernah cerita sama ibu, sih, Ra?"tanya Bu Ella yang lebih terdengar seperti protes.


"Aku malu, Bu. Namanya pacaran, 'kan, belum tentu sampai ke pelaminan. Karena itu, aku nggak ngasih tahu ibu. Aku takut, kami sudah putus duluan sebelum kami menikah,"sahut Aurora beralasan. Oh, iya, Bu, bapak mana? Kok, dari tadi aku nggak melihat bapak?"tanya Aurora mengalihkan pembicaraan.


"Ah, iya. Ibu sampai lupa. Bapak pergi dua jam yang lalu untuk membeli bibit coklat yang akan di tanam di kebun kita. Karena di sini belum ada yang menanam coklat, jadi bapak harus mencari bibit ke daerah lain. Mungkin bapak akan pulang agak malam. Kalian akan menginap di sini untuk beberapa hari, 'kan?"tanya Bu Ella penuh harap.


"Maaf, Bu. Kami tidak bisa. Kami akan kembali subuh nanti. Ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan,"sahut Rayyan.


"Sayang sekali"wanita paruh baya itu merasa sedikit kecewa karena anak dan menantunya tidak bisa tinggal lama di rumahnya.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Kalau begitu, kalian istirahat saja dulu. Ibu akan memasak untuk makan malam kita,"ujar Bu Ella yang kembali ceria.


"Aku akan membantu ibu,"sahut Aurora cepat.


"Kamu akan memasak dengan kaki yang bengkak seperti itu?"tanya Rayyan yang sebenarnya tidak rela jika Aurora meninggalkannya.


"Andi, cari tahu, apa ada yang menjual makanan yang sudah masak di kampung ini. Agar ibu tidak repot-repot memasak untuk makan malam kita,"titah Rayyan.


"Nanti sore ada banyak jualan makanan di lapangan. Ada sate, ayam bakar, soto, mie ayam, bakso, dan masih banyak lagi,"sahut Aurora yang tidak ingin ibunya kelelahan karena harus memasak banyak makanan .sendirian. Karena Rayyan membawa beberapa orang yang juga harus diberi makan.


"Baik, Tuan. Saya akan membelinya nanti,"sahut Andi.


"Beli lauknya saja. Ibu akan masakkan nasi di rumah. Kalian istirahat saja dulu! Akan ibu buatkan minuman dingin untuk kalian,"sahut Bu Ella, kemudian bergegas menuju dapur.


"Nyonya, mau diletakkan di mana barang-barang yang kita bawa?"tanya Andi pada Aurora.


"Tanyakan saja pada ibuku,"sahut Aurora.


"Taruh saja di pojok ruangan sana. Biar nanti ibu bereskan,"sahut Bu Ella yang hampir meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Baik, Nyonya,"sahut Andi bergegas keluar dari ruangan itu untuk menyuruh orang-orang nya membawa masuk barang-barang yang mereka bawa.


"Dari penampilannya dan penampilan Aurora, terus juga dari mobil serta orang-orang yang dibawanya, sepertinya suami Aurora adalah orang kaya. Apa selama ini Aurora mendapatkan banyak uang dari pria itu?"gumam Bu Ella seraya berjalan menuju dapur.


"Dimana kamar kamu?"tanya Rayyan.


"Di sana!"ucap Aurora menunjuk ke sebuah pintu.


"Apa di dalamnya ada kamar mandinya?"tanya Rayyan.


"Ada,"sahut Aurora.


"Ray!"pekik Aurora yang terkejut saat tiba-tiba Rayyan mengangkat tubuhnya dan menggendongnya menuju kamar yang di tunjukkan oleh Aurora tadi.


Rayyan mengunci pintu kamar itu, kemudian mengedarkan pandangannya mencari letak kamar mandi dalam ruangan itu.


"Ray, kalau mau membawa aku ke mana? Turunkan aku!"ujar Aurora saat menyadari Rayyan menggendong dirinya ke arah kamar mandi.


"Mandi bersama,"sahut Rayyan tersenyum smirk.


"Aku belum ingin mandi. Turunkan aku, Ray!"pinta Aurora yang ingin menghindar dari kemungkinan Rayyan mengajak dirinya bercinta di dalam kamar mandi.


"Kamu harus mandi, karena tadi berada di dalam kerumunan orang banyak"sahut Rayyan tidak ingin di bantah.


"Ray, kakiku sedang sakit,"ucap Aurora yang semakin curiga dengan gelagat Rayyan.


"Aku tahu. Aku hanya ingin mencoba kamar mandinya,"sahut Rayyan tetap membawa Aurora ke dalam kamar mandi.


Aurora hanya pasrah, tidak bisa lagi membujuk Rayyan untuk menurunkan dirinya. Membiarkan suaminya itu melucuti pakaian mereka satu persatu. Dan seperti yang sudah di duga oleh Aurora, pria itu kembali meminta jatahnya. Aurora sampai heran dengan suaminya itu. Rayyan seperti selalu memiliki energi lebih untuk bercinta.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2