
Andi masuk ke dalam ruangan itu dan tentu saja membuat Kanaya terkejut. Gadis itu buru-buru memalingkan wajahnya dan membersihkan sisa air matanya.
"Ini, aku bawakan makanan untuk kamu,"ucap Andi yang kali ini tidak datar seperti sebelumnya.
"Terimakasih!"ucap Kanaya tertunduk.
"Kamu fokus saja pada pengobatan kamu. Jika sudah sembuh, baru masuk kerja lagi. Aku sudah mengurus surat izin kamu. Perusahaan tidak akan memotong gaji kamu. Sekali lagi aku minta maaf! Walaupun kita sama-sama salah dalam kejadian ini, tapi kamu lah yang menjadi korban. Aku akan memberikan kompensasi uang kerugian selama kamu di rawat di sini senilai dua ratus ribu perhari sampai kamu bisa bekerja lagi. Aku pergi,"ucap Andi setelah meletakkan makanan yang di belinya dalam perjalanan ke rumah sakit tadi.
"Terimakasih!"ucap Kanaya yang sempat terkejut saat Andi mengatakan akan memberi dirinya uang sebesar dua ratus ribu perhari selama dirinya belum bisa kembali bekerja,"Semoga dia benar-benar memberikan uang itu padaku. Jika benar dia memberiku uang sejumlah dua ratus ribu per hari, maka aku bisa membayar angsuran di bank. Semoga saja kata-katanya bisa di pegang. Jika aku benar-benar di pecat dari restoran itu, aku harus kembali mencari lowongan pekerjaan di malam hari,"gumam Kanaya dalam hati. Kanaya berharap Andi benar-benar memberinya uang itu.
Kanaya memang bekerja di dua tempat agar bisa mendapatkan uang lebih banyak. Di perusahaan Rayyan dari pagi sampai sore. Setelah pulang langsung bekerja di restoran hingga pukul dua belas malam.
Andi keluar dari ruangan itu seraya menghela napas panjang,"Semoga uang yang aku berikan nanti bisa membantu keuangannya. Ini sebagai rasa tanggung jawab ku karena dia jadi tidak bisa berkerja di malam hari karena kecelakaan tadi,"gumam Andi dalam hati.
***
Tidak terasa tiga minggu sudah berlalu sejak terjadinya tragedi tabrakan maut. Eh, tabrakan antara Andi dan Kanaya yang membuat Kanaya harus menginap di rumah sakit.
Hari itu Aurora ingin berbelanja ke mall. Setelah selesai berbelanja, Aurora memutuskan datang ke kantor suaminya seraya membawa makanan agar mereka bisa makan siang bersama. Biasanya Aurora memang janjian makan siang di luar bersama Rayyan. Namun karena tadi Aurora ke mall, jadi Aurora tidak berani berjanji pada Rayyan untuk makan siang bersama.
Sudah tahu, 'kan, bagaimana jika seorang wanita sudah berbelanja? Jika wanita sudah berbelanja, biasanya akan lupa waktu. Karena menyadari hal itulah Aurora tidak membuat janji makan siang bersama suaminya. Namun, karena sebelum waktu makan siang Aurora sudah selesai berbelanja, Aurora pun berinisiatif untuk makan siang bersama suaminya di kantor.
"Kamu tidak perlu ikut aku masuk. Kamu dan pak supir dan Nala pergi makan siang saja. Ini, uang untuk makan siang kalian,"ujar Aurora pada baby sister Zayn seraya menyodorkan uang tiga ratus ribu.
"Tapi, nyonya, Tuan Muda tambah berat. Nyonya akan kesulitan jika harus menggendong Tuan Muda sambil membawa makanan ini,"ujar baby sister Zayn.
"Aku juga cuma menggendong Zayn sebentar, kok. Nggak akan capek. Lagian, di dalam sana banyak orang. Siapa yang bisa menolak jika aku meminta mereka menggendong putraku yang tampan dan menggemaskan ini,"ujar Aurora, kemudian mencium pipi Zayn. Zayn yang mendapatkan ciuman dari mamanya pun malah balas mencium Aurora dengan senyuman di bibirnya.
"Anak mama menggemaskan sekali, sih,"ujar Aurora seraya mencubit dagu Zayn gemas, dan bayi tampan itu malah tertawa.
"Ah, iya juga, ya. Tidak akan ada yang akan menolak untuk menggendong Tuan muda,"sahut baby sister Zayn seraya tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu.
"Sudah, ini, ambil uangnya!"pinta Aurora kembali menyodorkan uang pada baby sister Zayn.
"Terimakasih, Nyonya!"ucap baby sister Zayn dan supir pribadi Aurora bersamaan.
"Hum,"sahut Aurora tersenyum tipis kemudian bersiap keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Saya akan tetap ikut nyonya,"ucap Nala yang duduk di samping kursi kemudi.
"Kamu makan siang saja bersama mereka Nala,"sahut Aurora.
"Tapi, nyonya, nyonya belum pernah ke tempat ini sendirian. Dan lagi, saya akan di marahi Tuan Rayyan dan Tuan Andi jika saya tidak menjaga Nyonya dan Tuan muda Zayn,"Nala memang tidak ingin di marahi Rayyan dan Andi karena tidak menjaga Aurora.
"Ini di kantor suamiku sendiri. Tidak akan ada yang berani berbuat macam-macam padaku. Sudah, kalian makan siang saja sama!"titah Aurora.
"Tapi, nyonya.."
"Tidak ada tapi-tapian,"ucap Aurora memotong kata-kata Nala, kemudian keluar dari dalam mobil. Nala pun tidak bisa berkata apapun lagi.
"Kalau begitu, izinkan saya mengantar Nyonya sampai di depan pintu utama gedung itu"ucap Nala yang enggan meninggalkan Aurora.
"Baiklah. Hanya sampai di depan pintu utama, ya!"ucap Aurora memperingati Nala.
"Baik, nyonya,"sahut Nala yang sedikit lega karena di izinkan mengantar Aurora sampai di pintu utama.
Aurora dan Nala pun keluar dari dalam mobil itu. Aurora menggendong putranya seraya menatap gedung di depannya. Sedangkan Nala menenteng kantong berisi makanan. Sejujurnya belum pernah sekalipun Aurora masuk ke tempat Rayyan bekerja setiap hari ini. Karena mereka selalu bertemu di restoran yang sudah mereka sepakati saat waktu makan siang tiba.
"Kita beruntung sekali memiliki majikan seperti nyonya. Orangnya tidak pelit, tidak sombong dan juga tidak pemarah. Tidak seperti majikan ku dulu. Anaknya jarang di sentuh. Aku jadi seperti ibunya dari pada baby sister nya, karena aku menjaga anaknya selama dua puluh empat jam. Sampai-sampai anaknya lebih dekat dengan aku dari pada pada majikanku,"
"Kamu benar. Nyonya itu memang baik. Walaupun aku hanya supir, tapi nyonya tetap menghargai aku,"sahut Pak supir.
Setelah memastikan Aurora masuk ke dalam gedung itu, Nala pun kembali ke dalam mobil.
"Ingin bertemu dengan siapa nyonya?"tanya salah seorang resepsionis pada Aurora yang menghampiri meja resepsionis. Mata kedua resepsionis itu menatap Aurora kemudian menatap Zayn yang menggemaskan.
"Saya ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini. Bisa tunjukkan di mana ruangan nya"sahut Aurora tersenyum manis.
"Maaf, apa sudah ada janji?"tanya resepsionis itu sopan.
"Belum, sih. Saya ingin membuat kejutan,"sahut Aurora masih dengan senyumannya.
"Maaf, Nyonya. Tapi kami tidak bisa mengizinkan siapapun bertemu dengan Tuan jika belum ada janji,"ucap resepsionis itu sesuai aturan yang berlaku.
"Ah, begitu, ya? Sebentar, ya! Kamu duduk di sini dulu, sayang. Tubuh kamu tambah berat saja,"ujar Aurora seraya meletakkan kantong yang berisi makanan di tangannya ke atas meja resepsionis dan juga mendudukkan Zayn di atas meja itu.
__ADS_1
Aurora mengambil handphonenya dari sling bag nya, lalu menghubungi nomor Rayyan. Namun sudah beberapa kali di hubungi tidak kunjung diangkat juga. Akhirnya Aurora memutuskan untuk menghubungi Andi. Sedangkan dua resepsionis itu nampak gemas pada Zayn dan saling berebut ingin mencium Zayn.
"Idak au (tidak mau),"ucap bayi yang menggemaskan itu seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat kedua resepsionis itu ingin mencium dirinya.
"Menggemaskan sekali!"gumam Kanaya yang sedang bersih-bersih di sekitar tempat itu. Gadi itu tersenyum tipis saat melihat tingkah Zayn. Hari ini Kanaya baru saja kembali masuk kerja.
"Andi, aku ada di lobby. Kamu jemput aku di lobby, ya! Ndi.. Andi.."Aurora mengernyitkan keningnya saat tidak mendengar jawaban dari Andi,"Yahh.. lowbat,"gumam Aurora membuang napas kasar saat menyadari handphone-nya mati karena lowbat.
"Aman! Aman!"teriak Zayn penuh senyuman menatap ke satu arah seraya mengulurkan kedua tangannya mengisyaratkan ingin di gendong.
Semua orang pun menatap ke arah Zayn menatap. Termasuk Kanaya. Mereka semua nampak terkejut melihat orang yang tidak lain adalah Andi itu tersenyum hangat. Selama mengenal Andi, mereka tidak pernah melihat Andi tersenyum hangat seperti itu. Terkecuali Aurora tentunya. Begitu pula dengan Kanaya yang sudah pernah melihat interaksi Andi dan Zayn di villa dulu.
Kebetulan Andi tadi memang masih berada di lobby karena baru saja berbicara dengan salah seorang bawahannya. Sehingga saat handphone Aurora mati sebelum selesai menelpon, Andi langsung memeriksa lokasi Aurora dari chips yang di tanam di handphone Aurora. Setelah tahu di mana posisi Aurora, Andi pun bergegas menghampiri Aurora.
Andi menggendong Zayn, lalu mencium pipi bayi tampan itu. Dan Zayn pun balas mencium pipi Andi. Dua resepsionis yang tadi ditolak saat ingin mencium Zayn pun semakin membulatkan matanya.
"Nyonya, mari ke ruangan saya dulu. Tuan masih ada tamu di ruangannya,"ajak Andi.
"Tamu? Laki-laki atau perempuan?"tanya Aurora nampak curiga.
"Laki-laki, Nyonya. Tapi, pria itu terkenal hidung belang. Tuan tidak akan suka jika nyonya di lihat pria itu,"jelas Andi jujur adanya.
"Baiklah,"sahut Aurora seraya mengambil makanan yang di bawanya dari atas meja resepsionis.
"Kalian ingat! Beliau ini adalah Nyonya Aurora, istri Tuan Rayyan. Jangan pernah menghalangi nyonya untuk bertemu dengan Tuan,"ucap Andi yang kembali dengan ekspresi datarnya saat berbicara dengan dua orang resepsionis itu.
"I.. Iya, Tuan,"sahut kedua resepsionis itu menunduk hormat pada Andi, kemudian menatap Aurora,"Maafkan kami, Nyonya. Kamu tidak mengenali anda,"ucap kedua resepsionis itu menunduk hormat.
Hanya melihat Aurora sekali saat resepsi pernikahan Aurora yang di gelar sekitar dua tahun yang lalu, tentu saja mereka semua sudah lupa pada Aurora.
"Tidak apa-apa,"sahut Aurora tersenyum tipis, lalu berjalan di sebelah Andi,"Eh, bukannya kamu gadis yang di villa itu, ya? Tangan kamu kenapa?"tanya Aurora saat tanpa senagaja melihat Kanaya.
"Sayang, kamu di sini?"
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued