Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
245. Seperti Kenal


__ADS_3

Bima, bersama bapak dan ibunya serta istrinya sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Oh, iya, Nilam, kamu sudah mendapatkan pekerjaan belum?"tanya ibu Bima.


"Belum, Bu. Aku sudah mengajukan lamaran ke beberapa perusahaan, tapi belum juga mendapat panggilan,"sahut Nilam.


"Lama sekali mendapatkan pekerjaan. Kalau susah nyari kerja, coba kamu buka usaha sendiri. Bikin usaha apa gitu? Masa iya, sudah capek-capek kuliah jadi pengangguran. Buat apa kamu kuliah, kalau cuma mau jadi pengangguran,"cetus ibu Bima yang mulutnya bak cabai setan.


"Nyari pekerjaan itu tidak mudah, Bu. Buka usaha sendiri juga tidak mudah. Harus sabar, lah, Bu,"sahut Bima membela istrinya.


Walaupun Bima belum bisa mencintai Nilam, tapi Bima juga tidak membiarkan Nilam ditindas oleh ibunya.


"Bener kata Bima, Bu. Belum rezekinya kali. Nanti kalau sudah rezekinya juga dapat pekerjaan,"timpal bapak Bima.


"Buka usaha sendiri nggak punya ide. Cari pekerjaan juga nggak dapat-dapat. Sudah menikah berbulan-bulan belum hamil juga. Mau jadi apa hidup kamu? Mau selamanya bergantung pada orang tua dan suamimu. Menantu nggak guna. Percuma lulusan sarjana, kalau nggak bisa apa-apa,"gerutu ibu Bima dengan nada ketus.


Wanita paruh baya itu kemudian beranjak pergi dari ruangan itu dengan wajah yang terlihat kesal.


Bima dan bapaknya hanya bisa menghela napas mendengar kata-kata pedas ibu Bima.


"Jangan diambil hati, ya, Lam! Ibu kamu memang dari dulu seperti itu,"ujar bapak Bima merasa tidak enak hati pada Nilam.


"Iya, Pak,"sahut Nilam pelan.


Lama kelamaan Nilam merasa tertekan karena sikap ibu mertuanya itu. Dari tunangan sampai awal-awal Nilam menikah dengan Bima, ibu Bima sangat baik pada Nilam. Namun, semakin ke sini, sikap ibu Bima semakin berubah dan kata-katanya semakin pedas dan sering menusuk hati Nilam.


Ibu Bima dulu sangat memuji kecerdasan Nilam. Namun setelah berbulan-bulan mencari pekerjaan tak kunjung dapat juga, ibu Bima jadi kesal karena tidak ada yang bisa dibanggakan nya dari Nilam. Apalagi sampai sekarang Nilam belum hamil juga.


Ibu Bima merasa iri pada Aurora yang toko kuenya semakin besar dan kafenya juga tidak pernah sepi dari pengunjung. Ibu Bima ingin menantunya bisa melebihi Aurora. Namun hingga saat ini menantunya tidak memiliki kelebihan apapun di bandingkan dengan Aurora. Kecuali gelar sarjana. Dan hal itu membuat ibu Bima menjadi kecewa.


"Nilam sepertinya tertekan dengan sikap ibu Bima. Kalau begini caranya, bisa-bisa minta pindah rumah sama Bima. Atau yang lebih parahnya, Nilam bisa minta cerai dari Bima,"gumam bapak Bima dalam hati.


Entah mengapa semakin tua ibu Bima semakin cerewet dan kata-katanya semakin pedas seperti cabai setan.


Di kamar Bima.

__ADS_1


"Bim, bagaimana jika kita tinggal berdua saja?"tanya Nilam terlihat ragu. Pasalnya Nilam bisa menilai jika Bima belum bisa mencintai dirinya.


"Kamu merasa tertekan dengan sikap ibuku?"tanya Bima seraya menatap Nilam.


"Jujur, iya,"sahut Nilam yang tidak ingin menyembunyikan sesuatu.


"Baiklah. Kita bicarakan ini nanti dengan kedua orang tuaku,"sahut Bima menghela napas berat.


"Aurora yang dulu mencintai aku saja menyerah menjadi pendamping hidup ku. Gara-gara ibu yang bicaranya menyakitkan hati. Bagaimana dengan Nilam yang hanya di jodohkan dengan aku?"gumam Bima dalam hati.


Walaupun belum ada rasa cinta untuk Nilam, tapi Bima akan berusaha untuk mencintai Nilam. Karena bagaimanapun, Nilam adalah istri nya. Dan tidak sedikitpun terbersit di benak Bima untuk menceraikan Nilam.


Bima yakin, siapapun orangnya, pasti tidak akan tahan dengan ibunya yang bicaranya suka menusuk hati itu. Dan Bima sudah sangat bersyukur, Nilam sudah mau bertahan sampai saat ini.


***


Mastuti menghela napas panjang menatap Aurora yang baru saja menidurkan putranya. Sudah hampir delapan bulan Mastuti mengikuti Aurora tinggal di pulau itu. Tapi belum ada tanda-tanda Aurora ingin kembali pada majikannya.


"Nyonya, apa tidak sebaiknya kita pulang? Tuan sangat mencintai nyonya, pasti Tuan sangat sedih berpisah dengan Nyonya selama ini. Tuan Muda juga semakin besar. Tapi Tuan Muda belum sekalipun bertemu dengan ayah kandungnya. Apa nyonya tidak kasihan pada Tuan muda? Belum lagi, pria yang bernama Lucas itu sangat getol mengejar nyonya. Bagaimana pun pria itu adalah orang yang berkuasa di kota ini. Dan dia nampak sangat tertarik pada nyonya. Saya takut dia akan melakukan sesuatu yang tidak kita duga,"


"Bik, aku akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatanku dan kesehatan bapak. Tolong jaga putraku, ya, Bik?"ucap Aurora tanpa menanggapi perkataan Mastuti.


"Iya, nyonya,"


Mastuti hanya bisa menghela napas panjang menatap anak majikannya yang sudah terlelap itu. Sesekali bayi yang sudah bisa duduk itu tersenyum dalam tidurnya. Entah apa yang dimimpikan bayi itu.


"Semoga Tuan Rayyan segera menemukan kami. Kasihan Tuan muda jika tumbuh tanpa seorang ayah,"gumam Mastuti dalam hati seraya mengelus kepala bayi lucu itu penuh kasih sayang.


Aurora mengambil sling bag nya dan berjalan keluar kamarnya. Selama ini, bukannya Aurora tidak memikirkan apa yang dikatakan oleh Mastuti. Putranya butuh sosok seorang ayah. Dan benar kata Mastuti, dirinya yang hidup tanpa didamping seorang suami memang mengundang para pria untuk mendekat. Walaupun Aurora tidak pernah menanggapi mereka.


Selain Bima dan Lucas yang datang ke rumah Aurora, ada beberapa pria juga yang sering datang ke toko kue ataupun kafe milik Aurora. Para pria yang beberapa kali menyatakan perasaan mereka pada Aurora. Namun Aurora tetap mengatakan bahwa dirinya sudah bersuami. Tapi sama seperti Lucas, mereka tidak percaya jika Aurora memiliki suami.


Jujur, Aurora sangat merindukan Rayyan. Bahkan sering menangis di tengah malam karena merindukan Rayyan. Tapi, rasa takut Rayyan akan balas dendam pada ayahnya sama besarnya dengan rasa rindunya pada Rayyan. Hingga akhirnya membuat Aurora benar-benar dalam dilema yang menyiksa.


***

__ADS_1


Aiden sudah tiba di pulau tempatnya akan mengikuti tender. Proyek pembuatan stadion sepak bola yang akan menjadi stadion terbesar di pulau itu. Pulau yang saat ini ditempati oleh Aurora.


Aiden memesan taksi online untuk menuju hotel yang dijadikannya untuk tempat menginap. Aiden melihat pemandangan di kanan kiri jalan, melihat kota yang baru kali ini di datanginya. Namun tiba-tiba...


"Tiiiinnn..."


"Brakk"


"Brakk"


"Brakk"


Mobil yang di tumpangi Aiden di tabrak sebuah truk hingga mobil itu berguling-guling. Walaupun banyak mengeluarkan darah, Aiden masih sadar. Dan untungnya tempat Aiden mengalami kecelakaan tidak jauh dari sebuah rumah sakit militer. Aiden pun langsung dilarikan ke rumah sakit.


Aurora hendak pulang setelah dirinya dan Pak Hamdan selesai memeriksakan kesehatan.. Namun Aurora terkejut saat melihat seseorang yang terbaring di atas brankar. Orang yang baru saja diturunkan dari mobil ambulans.


"Ra! Ayo pulang!"ajak Pak Hamdan yang melihat Aurora menghentikan langkah kakinya, tapi tidak direspon Aurora. Putrinya itu bahkan terlihat terkejut dan khawatir.


"Kamu kenapa, Ra?"tanya Pak Hamdan jadi ikut khawatir.


"Pak, sepertinya aku mengenal orang itu,"ujar Aurora bergegas berjalan mengikuti petugas medis yang mendorong brankar yang diatasnya ada Aiden.


Pak Hamdan pun tidak banyak bicara. Pria paruh baya itu bergegas menyusul putrinya.


"Sepertinya itu adalah sahabat Rayyan. Aiden. Dia pernah menolong aku waktu itu. Saat aku dijual mami,"gumam Aurora dalam hati.


Aurora sedikit berlari untuk mengejar brankar yang membawa Aiden. Hingga akhirnya Aurora berada dekat dengan brankar Aiden. Entah mengapa Aurora merasa sangat khawatir melihat keadaan Aiden yang seperti itu. Hingga tanpa memikirkan apapun terus mengikuti brankar Aiden.


"Aurora.."ucap Aiden yang matanya masih sedikit terbuka. Namun ucapan itu hanya tertelan di tenggorokan karena tubuh Aiden yang terasa tidak bertenaga, hingga akhirnya mata Aiden tertutup.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2