
"Lepaskan wanita yang kalian bawa!"titah Hendrik dengan wajah penuh amarah, tapi para preman itu malah tertawa.
"Enak saja. Kami susah payah menculiknya dan kamu ingin kami melepaskan dia? Tidak akan! Kami ingin bersenang-senang dengan dia. Ingin menikmati tubuhnya yang bohay dan wajahnya yang cantik itu,"sahut salah seorang preman itu.
"Dasar brengseek!"umpat Hendrik tersulut emosi.
Hendrik langsung menyerang preman itu. Sedangkan Andi malah terlihat diam saja melihat Hendrik berkelahi dengan dua orang preman itu. Hingga akhirnya dua orang preman itu terlihat kewalahan. Melihat teman mereka kewalahan tiga orang preman lainnya pun ikut turun menyerang Hendrik.
"Andi sialan! Kenapa kamu tidak membantu aku?"umpat Hendrik yang melihat Andi malah berjalan menuju mobil para preman itu.
Mau tidak mau, Hendrik melawan lima orang preman yang mengeroyoknya itu sendirian. Andi memeriksa mobil para preman itu dan melihat Sumi tidak sadarkan diri. Setelah memeriksa mobil para preman itu, Andi pun menghampiri Hendrik yang sudah kewalahan melawan lima preman itu. Andi membuang napas kasar menatap celana panjang piyamanya. Lalu membantu Hendrik melumpuhkan para preman itu.
"Krak"
Suara kain yang sobek pun terdengar.
"Sudah ku duga,"gumam Andi yang melihat celana piyama nya sobek. Andi langsung melumpuhkan tiga orang preman berturut-turut. Sedangkan Hendrik melumpuhkan dua orang preman. Kelima preman itu akhirnya jatuh terkapar di trotoar.
"Kenapa kamu tidak dari tadi membantu aku mengatasi mereka? Giliran wajah ku sudah memar di sana sini begini, kamu baru membantu aku,"protes Hendrik.
"Tidak masalah wajah Tuan memar. Saya memang sengaja, biar Tuan kena beberapa pukulan dulu, baru saya tolong. Karena bekas pukulan itu, nanti bisa jadi bukti kalau Tuan benar-benar menjadi pahlawan untuk nona Sumi,"sahut Andi santai.
"Astagaa.! Kamu membiarkan mereka memukul aku hingga wajahku memar di sana sini seperti ini hanya karena alasan itu?"tanya Hendrik dengan tatapan tidak percaya.
"Yap. Benar sekali,"sahut Andi seraya menunjukkan dua jempolnya pada Hendrik dengan senyuman manis tanpa dosa.
"Ya, tapi, tidak begini juga, Ndi? Terlalu banyak memar di wajahku,"protes Hendrik.
"Tuan jangan cerewet! Lihatlah! Celana saya jadi sobek karena menolong Tuan. Tapi, Tuan masih protes juga,"sambar Andi seraya menunjukkan celananya yang sobek.
Hendrik mengulum senyum menahan tawa melihat celana Andi yang sobek dari bagian depan sampai ke bokong. Hingga warna kain segitiga Andi sedikit mengintip.
"Makanya, beli barang itu yang berkualitas! Yang original. Jangan beli yang KW! Buat nendang aja sobek,"cibir Hendrik.
__ADS_1
"Walaupun yang original, kalau dipakai buat berantem gini, ya, pasti sobek, Tuan. Sudah! Tuan urus Nona Sumi sana! Biar mereka saya yang urus. Atau Tuan saja yang mengurus mereka dan saya yang mengurus nona Sumi? Sepertinya para preman brengseek ini memberi nona Sumi obat yang dicampur dengan alkohol,"ujar Andi santai.
"Apa?! Dasar sialan! Sudah kalian apakan wanita ku?"bentak Hendrik menginjak tangan salah seorang preman.
"Akkhh! Sakit! Kami belum melakukan apapun padanya, Tuan. Kami hanya meminumkan obat yang dicampur minuman beralkohol padanya. Bahkan menciumnya pun belum kami lakukan,"sahut preman itu dengan wajah yang meringis menahan sakit karena tangannya diinjak Hendrik.
'Kalau tahu begini, sudah aku cium dari tadi perempuan itu,"celetuk preman yang lain.
"Apa kamu bilang?!"bentak Hendrik seraya menginjak kaki preman yang barusan bicara.
"Akhh! Ampun, Tuan! Sakit!"pekik preman itu.
"Tuan! Jadi, yang ngurus para preman ini, Tuan, ya? Saya mau mengurus nona Sumi saja,"ujar Andi seraya berjalan ke mobil para preman tadi.
"Eh, mana boleh begitu!"protes Hendrik.
"Akkhh"pekik preman yang kakinya diinjak Hendrik tadi. Karena sebelum melangkah menyusul Andi, Hendrik kembali menginjak, bahkan melangkahi preman itu.
"Tuan pakai saja mobil itu! Saya akan mengurus para preman kacangan ini,"ujar Andi.
Hendrik melajukan mobil para preman itu menuju rumah Sumi, setelah dua puluh menit Hendrik melajukan mobil itu, Sumi pun sadar.
"Ughhh.. panas sekali,"gumam Sumi.
Hendrik menelan salivanya kasar saat melihat Sumi terlihat gelisah dan kepanasan. Gerakan tubuh wanita itu membuat Hendrik tergoda.
"Shiitt! Kenapa dia begitu menggoda?"umpat Hendrik yang mati-matian menahan diri agar tidak melihat Sumi dari kaca spion dalam mobil. Takut semakin tergoda melihat tubuh Sumi.
"Hendrik! Kamu Hendrik, 'kan? Pria pemaksa, pencemburu, posesif,"ucap Sumi dengan suara khas orang mabuk.
Sumi meracau tidak karuan. Sepertinya wanita itu benar-benar mabuk. Walaupun menjadi kupu-kupu malam, Sumi tidak pernah mau minum minuman beralkohol. Jadi, dicekoki minuman beralkohol sedikit saja sudah mabuk.
"Uhh..panas sekali. Hendrik, kenapa kamu mematikan AC mobilnya?"protes Sumi seraya mulai melepaskan kancing kemejanya.
__ADS_1
"Hei! Apa yang kamu lakukan, sayang? Jangan melepaskannya! Kamu bisa membuat aku khilaf,"ujar Hendrik yang berusaha fokus mengemudi.
"Hendrik, tolong aku! Panas sekali!"ucap Sumi tiba-tiba memeluk leher Hendrik dari samping, dengan kaki yang masih berada di belakang kursi kemudi Hendrik. Tubuh Sumi berada di perantaraan kursi kemudi dan kursi penumpang yang ada di sebelah kursi kemudi.
"Lepaskan, sayang!"pinta Hendrik.
Seluruh tubuh Hendrik terasa meremang karena tangan Sumi yang merayap di dadanya. Hendrik berusaha menyingkirkan tangan Sumi, tapi Sumi kembali meraba tubuhnya. Hendrik benar-benar sulit untuk fokus mengemudi karena ulah Sumi yang terus saja menggerayangii tubuhnya. Walaupun Hendrik terus berusaha menyingkirkan tangan Sumi, tapi wanita itu terus saja mengulangi aksinya.
"Shiitt! Kamu benar-benar membuat aku on, sayang! Maafkan aku! Aku benar-benar tidak tahan karena kamu terus menggoda ku,"ucap Hendrik langsung membelokkan mobilnya yang kebetulan akan melewati kantornya.
Hendrik memakaikan jas nya pada Sumi untuk menutupi tubuh bagian depan Sumi yang semua kancingnya sudah terbuka. Dengan tidak sabar, Hendrik menggendong Sumi menuju ruangan pribadinya. Sepanjang berada di lift menuju ruangan Hendrik, Sumi terus saja menggerayangii tubuh Hendrik. Hingga akhirnya mereka tiba di ruangan pribadi Hendrik.
Hendrik langsung mengunci pintu ruangan pribadinya itu dan merebahkan Sumi di atas ranjangnya. Pria itu langsung mencium bibir Sumi dan tentunya langsung mendapatkan sambutan agresif dari Sumi. Keduanya benar-benar seperti orang yang kehausan dan kelaparan. Saling memagut ,saling menyesap, dan saling berbelit lidah.
Helai demi helai kain yang menempel ditubuh keduanya pun teronggok begitu saja. Mereka saling menikmati tubuh pasangannya.
"Ughhh,"lenguuh Hendrik saat berhasil menyatukan tubuh mereka.
Pria itu kali ini benar-benar menikmati percintaannya dengan Sumi. Tidak seperti percintaannya dengan Sumi waktu di ruangan Sumi waktu itu.
Rasa rindu berbalut nafsu menjadi satu. Semenjak tiga minggu yang lalu setelah Sumi menolak Hendrik, baru malam ini Hendrik bertemu dengan Sumi lagi. Walaupun rindu, Hendrik menahan diri untuk tidak bertemu dengan Sumi. Mengalihkan pikirannya dari Sumi dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.
Hendrik terus bergerak mencari kenikmatan dari tubuh Sumi. Sumi pun tidak tinggal diam. Tangan wanita itu terus merayap di tubuh Hendrik, membuat hasraat Hendrik semakin menggebu-gebu.
Sumi yang terkena pengaruh obat dan mabuk itu benar-benar membuat Hendrik kehilangan kewarasan nya. Sumi bahkan memimpin permainan setelah Hendrik mendapatkan pelepasan yang pertama.
"Ahh. ahh.. Aku ingin memiliki mu! Aku.. aku mencintai!"racau Hendrik saat Sumi berada di atas tubuhnya memimpin permainan.
Hendrik benar-benar ingin memiliki Sumi. Ingin hidup bersama Sumi. Memiliki keluarga kecil yang bahagia bersama Sumi.
Setelah bergulat panas di atas ranjang dan mendapatkan pelepasan beberapa kali, akhirnya mereka tertidur. Berpelukan dengan tubuh yang saling menempel. Tubuh polos tanpa sehelai benang pun.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued