Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
59. Pelukan Ketakutan


__ADS_3

"Tuan harus pergi sekarang juga ke klub malam xx untuk mengikuti pelelangan. Nyonya akan di lelang malam ini,"ujar Andi membuat Aiden semakin terkejut.


"Ceritakan apa yang terjadi! Aku sekarang menuju klub malam xx,"ucap Aiden langsung beranjak dari duduknya keluar dari private room sebuah restoran.


Roni yang sudah tahu situasi majikannya pun bergegas mengambil mobil ke parkiran. Aiden terus berjalan keluar dari restoran itu sambil mendengarkan cerita Andi melalui sambungan telepon. Setelah keluar dari dalam restoran, Aiden bergegas masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan Roni. Dan setelah beberapa saat berada di dalam mobil, Andi akhirnya selesai bercerita.


"Baiklah, aku mengerti dengan apa yang harus aku lakukan. Keputusan kamu untuk tidak memberitahu Rayyan sudah benar. Setelah aku berhasil nanti, aku akan membawa Aurora ke hotel xx, kamar nomor 375. Kamu bisa membawa Rayyan ke sana,"ujar Aiden.


"Baik, Tuan. Terimakasih banyak!"ucap Andi tulus.


"Tidak perlu berterima kasih. Aku senang bisa membantu,"ucap Aiden kemudian mengakhiri sambungan telepon dan mengembalikan handphone Roni yang saat ini sedang fokus berkendara ke arah klub malam milik Mami.


Sesampainya di klub malam milik Mami, Aiden mengikuti penawaran harga dari Mami yang lebih mirip seperti melelang Aurora. Aiden menawarkan harga paling tinggi dari yang lainnya sehingga dapat kesempatan untuk bertemu Aurora di hotel saat ini dan sedang berkelahi dengan Aurora. Aiden menjegal kaki Aurora. Wanita itu terjatuh di atas ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Dan Aiden langsung meletakkan tangan kiri dan kanannya di kanan dan kiri tubuh Aurora.


Beberapa menit sebelumnya..


Rayyan terus berjalan mengikuti arahan dari Andi. Setelah menaiki lift, Andi membimbing Rayyan ke dalam sebuah kamar hotel suite room. Ada seorang anak buah Andi didepan pintu kamar yang sebelumnya di jaga oleh Roni. Ya, saat Aurora masuk tadi, yang membukakan pintu kamar adalah Roni bersama dua orang bodyguard Mami yang bertugas menjaga dan membawa Aurora kembali ke klub malam.


Namun setelah Aurora masuk ke dalam kamar, anak buah Andi yang sudah menunggu anak buah Mami pun langsung meringkus kedua bodyguard Mami itu. Setelah itu, Roni memilih menunggu di lobby hotel dan pintu kamar yang sebelumnya di jaga Roni, kini di jaga anak buah Andi.


"Silahkan masuk, Tuan!"ucap Andi seraya membukakan pintu kamar hotel suite room itu.


Setelah masuk ke dalam kamar hotel itu, Rayyan sangat terkejut saat melihat Aiden menjegal kaki Aurora. Wanita itu terjatuh di atas ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Dan Aiden langsung meletakkan tangan kiri dan kanannya di kanan dan kiri tubuh Aurora.


"Apa yang kalian lakukan?"suara bariton Rayyan membuat Aurora dan Aiden menoleh ke arah pintu. Pria itu tampak menatap Aurora dan Aiden dengan tatapan tajam yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Ray!"pekik Aurora yang terkejut sekaligus senang saat melihat Rayyan.


"Dugh"


"Arghhh"


Melihat Aiden yang lengah karena kemunculan Rayyan, Aurora pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan kuat Aurora menendang pangkal paha Aiden hingga Aiden menyingkir dari atas tubuhnya. Aiden membungkuk memegang keris pusaka nya dengan wajah yang terlihat menahan sakit.


"Akkh, shitt! Sakit sekali! Aku memberi air susu, tapi malah di balas air tuba,"umpat Aiden seraya menahan rasa sakit di keris pusaka nya.


"Ray!"pekik Aurora lagi, wajah wanita itu terlihat sangat senang, namun matanya berkaca-kaca. Aurora langsung menghambur memeluk Rayyan,"Akhirnya kamu datang, Ray. Mami menculik aku dari kafe dan menjual aku pada pria itu Ray,"ucap Aurora menunjuk pada Aiden dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya yang putih bersih mulus,"Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku adalah istri mu, bukan wanita penghibur. Tapi dia terus mendekati aku dan ingin menyentuh aku Ray,"adu Aurora seraya mencengkram kemeja putih yang dipakai Rayyan dengan wajah yang basah oleh air mata.


Rayyan memeluk Aurora, menatap tajam pada Aiden yang masih meringis menahan sakit di benda pusaka miliknya.


"Aku hanya menguji ilmu beladiri nya saja. Tidak bermaksud untuk menyentuhnya. Aku menolong mengeluarkan dia dari tempat Mami, tapi dia malah memberiku hadiah tendangan maut di keris pusaka ku,"gerutu Aiden kemudian beranjak meninggalkan kamar itu dengan menahan rasa sakit yang berdenyut di keris pusakanya,"Sial sekali aku. Begini kah caranya berterima kasih"gerutu Aiden seraya menutup pintu kamar itu.


Berusaha tegar dan tidak takut. Itulah yang di lakukan oleh Aurora selama diculik Mami. Hingga akhirnya bisa berhenti berpura-pura tegar saat berada dalam pelukan Rayyan. Menumpahkan tangisan yang sudah lama di tahannya.


"Sudah! Jangan menangis lagi!"ucap Rayyan mendekap erat tubuh Aurora. Mencoba menenangkannya Aurora.


"A.. Aku.. aku takut, Ray! Mereka menyiksa para wanita yang ingin melarikan diri. Mereka.. mereka tidak akan menangkap aku lagi, 'kan?"tanya Aurora menatap Rayyan dengan air mata yang terus menetes dari pelupuk matanya.


"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh mu lagi. Aku janji!"ucap Rayyan seraya menghapus air mata Aurora dengan kedua jari jempolnya.


Pria itu menggendong Aurora ke arah ranjang, merebahkan tubuh Aurora, kemudian mengecup kening, hidung, pipi, kemudian mencium bibir Aurora dengan lembut. Mencoba mengalihkan rasa takut Aurora. Rayyan melepaskan pagutannya pada bibir Aurora saat wanita itu mulai kesulitan bernapas. Menciumi, menjilat, dan menyesap leher Aurora, memberikan banyak tanda di sana. Memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat tubuh Aurora gelisah.

__ADS_1


Tanpa disadari Aurora, Rayyan telah menanggalkan helai demi helai kain yang menempel di tubuh mereka hingga tubuh mereka sama-sama polos. Rayyan menyatukan tubuh mereka, mulai menggerakkan pinggulnya untuk mencari kenikmatan dunia dari tubuh istrinya.


"Ughh.. Ray.."


Lenguh Aurora menikmati penyatuan yang mereka lakukan. Semua sentuhan yang diberikan Rayyan membuat tubuh Aurora merasa gelisah sekaligus merasa nikmat.


"Ahh.. Terus lah mendesah, Ra! Panggil namaku!"pinta Rayyan dengan suara berat penuh hasraat. Terus mengguncang tubuh Aurora yang ada dalam kuasanya.


"Ray.. ahhh.."


Desah Aurora membuat Rayyan semakin merasa nikmat dan bergerak semakin cepat di atas tubuh Aurora. Membuat Aurora semakin meracau. Rayyan mengakhiri pergulatan panas mereka setelah beberapa kali mendapatkan pelepasan dan melihat Aurora nampak sudah kelelahan. Pria itu membaringkan tubuhnya di samping Aurora, kemudian merengkuh Aurora dalam dekapannya.


"Jangan tinggalkan aku!"pinta Aurora dengan suara pelan. memeluk erat tubuh Rayyan dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.


"Tidak akan,"ucap Rayyan mendekap erat tubuh Aurora, mengecup puncak kepala Aurora dengan lembut,"Jangan takut! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh mu apalagi menyakiti kamu..Aku tidak akan lalai lagi dalam menjagamu,"ujar Rayyan memeluk hangat tubuh Aurora.


"𝙀𝙣𝙩𝙖𝙝 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙚𝙧𝙢𝙤𝙤 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙧𝙖𝙩 𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙘𝙖𝙢 𝙗𝙚𝙩𝙞𝙣𝙖𝙠𝙪 𝙞𝙣𝙞. 𝘿𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙞𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙚𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙞𝙣𝙞,"gumam Rayhan dalam hati.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Aurora pun terlelap. Tangan wanita itu masih memeluk erat tubuh Rayyan. Rayyan membelai lembut rambut Aurora. Selama menikah dengan dirinya, belum pernah Aurora memeluknya seperti ini. Hari ini adalah pertama kalinya Aurora memeluk Rayyan. Namun Rayyan malah sedih, Aurora memeluknya karena rasa takut.


"Aku tidak akan mengampuni mereka semua yang telah membuat kamu ketakutan seperti ini,"gumam Rayyan dengan tatapan tajam penuh amarah.


Sejak insomnia yang dideritanya sembuh setiap kali tidur bersama Aurora, sejak saat itu juga Rayyan bertekad untuk tidak melepaskan Aurora, apapun yang terjadi. Melihat Aurora menangis dan ketakutan seperti tadi membuat hati Rayyan terasa teriris. Merasa gagal dalam menjaga Aurora.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2