
Dua orang yang menodongkan pisau pada Kanaya dan Randy itu jadi ketakutan melihat Andi yang menghajar empat orang teman mereka hingga babak belur dan tumbang di atas aspal itu.
"Tuan.."ucap Randy dengan wajah memelas karena pemuda itu merasa kulit lehernya sudah sedikit tergores oleh pisau.
"Jangan mendekat!"sergah pria yang menodongkan pisau pada Kanaya saat Andi mendekati pria itu yang berdiri berdampingan dengan pria yang menyandera Randy. Kedua orang pria yang sedang memegang pisau itu nampak ketakutan. Leher Kanaya nampak berdarah karena tergores oleh pisau pria itu, karena tangan pria itu gemetar.
Andi tersenyum dingin dengan aura membunuh yang sangat pekat, karena Andi melihat leher istrinya berdarah. Pemuda itu kemudian mengambil dua buah pena taktis dari saku jasnya.
"Srashh.."
"Srashh.."
"Akkhh.."
"Klang"
"Klang"
Andi melempar dua buah pena taktis secara bersamaan dengan cepat. Pena itu mengenai lengan kedua orang pria yang sedang memegang pisau itu, hingga pisau yang mereka pegang pun terjatuh. Randy dan Kanaya pun bergegas menjauh dari kedua orang pria itu.
"Tuan Andi ini benar-benar serba bisa. Dia melempar pena itu secara bersamaan dengan sasaran yang tepat,"gumam Kanaya dalam hati merasa kagum.
"Tuan Andi bahkan bisa melempar pena itu dalam waktu bersamaan dengan sasaran yang tepat. Aku takut Kanaya akan menyukai Tuan Andi setelah kejadian ini,"gumam Randy yang merasa kagum pada Andi, sekaligus merasa takut Kanaya menyukai Andi.
Dua orang pria yang lengannya terluka oleh pena Andi itu pun bergegas berlari berniat menyelamatkan diri.
"Ingin kabur? Jangan harap!"geram Andi dengan cepat mengejar dua orang pria itu.
Hanya dengan waktu singkat, Andi sudah berhasil mengejar dua orang pria itu. Dengan cepat Andi memukul dan menendang ke dua orang pria itu dari belakang. Sempat terkejut, dua orang pria itu mau tak mau melawan Andi.
Walaupun sudah dengan sekuat tenaga, namun kedua orang pria itu tetap tidak bisa membuat Andi kewalahan, apalagi tumbang. Yang ada, dua orang pria itulah yang babak belur dan terkapar di aspal seperti kawan-kawannya.
Andi berjongkok di depan pria yang tadi telah menodongkan pisau pada Kanaya dan membuat leher Kanaya terluka. Senyuman dingin kembali terlihat di bibir pemuda itu.
"Tangan ini, 'kan, yang telah menyentuh dan melukai istri ku?"tanya Andi dengan suara berat seraya memegang tangan pria itu.
"Krak"
__ADS_1
"Akhh!"
"Krak"
"Akhh!"
Andi mematahkan kedua tangan pria itu dengan ekspresi dingin. Kanaya dan Randy yang mendengar suara tulang patah itu hanya bergidik ngeri melihat aksi Andi itu. Tapi keduanya tidak mendengar apa yang di katakan Andi pada orang itu.
Andi berdiri, kemudian pemuda itu mengambil dua buah pena taktis miliknya. Andi kemudian menghampiri Kanaya dan Randy.
"Kalian sudah menghubungi polisi, 'kan?"tanya Andi dengan suara datar.
"Su.. Sudah, Tuan,"sahut Randy gugup.
"Tunggu di sini sampai polisi datang. Jangan menyentuh apapun yang akan merusak barang bukti di tempat ini!"ujar Andi pada Randy seraya mengeluarkan saputangan dari sakunya, kemudian membalut luka di leher Kanaya.
"Orang ini! Aku benar-benar tidak bisa menebak pikirannya dan bagaimana sifat aslinya. Tapi, aku kagum dengan kebaikan hatinya. Walaupun mulutnya seperti sambal setan,"gumam Kanaya dalam hati.
"Baik, Tuan,"sahut Randy yang merasa tidak suka saat melihat Andi membalut luka Kanaya,"Sial! Kenapa aku tidak memperhatikan jika Kanaya terluka? Seharusnya aku yang membalut luka Kanaya. Aku takut Kanaya semakin kagum pada Tuan Andi. Sedangkan sampai sekarang Kanaya belum juga menjawab pernyataan cintaku,"gerutu Randy dalam hati menatap Kanaya yang nampak mengagumi Andi .
"Tuan..."Randy nampak tidak terima jika Kanaya di antar pulang oleh Andi.
"Jangan membawa anak orang jika menjaga diri mu sendiri saja tidak mampu!"ucap Andi memotong kata-kata Randy dengan suara dingin dan tatapan tajam pada Randy.
Randy pun akhirnya hanya bisa menunduk tanpa bisa berkata apa-apa setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Andy. Karena apa yang dikatakan oleh Andi adalah benar adanya. Walaupun hati Randy tidak rela melihat Kanaya di bawa oleh Andi, namun sebagai bawahan Andi dan sebagai orang yang membawa Kanaya, tapi tidak bisa melindungi Kanaya, Randy tidak bisa mencegah Andi membawa pergi Kanaya. Karena nyatanya, mereka selamat dari enam orang pria itu karena pertolongan dari Andi.
Andi memasangkan helm pada Kanaya, lalu memakai helmnya sendiri. Tak lama kemudian Andi pun melajukan motornya dengan Kanaya yang di boncengnya.
"Aku telah salah mengambil keputusan dengan memberikan kompensasi pada Randy, membiarkan dia mengantar Kanaya pulang sekali ini. Hampir saja istri ku di gilir orang-orang brengseek itu. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan kesalahan ku pada ibu mertua ku yang telah mempercayakan putrinya padaku, jika sampai hal itu terjadi pada istri ku? Dasar Randy pecundang! Bahkan melindungi dirinya sendiri pun tidak mampu. Mulai hari ini, aku akan menjaga Kanaya lebih baik lagi,"gerutu Andy dalam hati yang menyesal telah membiarkan Kanaya di antar oleh Randy.
"Sekali lagi Tuan Andi menolongku. Aku sudah banyak berhutang budi padanya,"gumam Kanaya dalam hati.
Randy membuang napas kasar melihat Kanaya dan Andi yang semakin menjauh.
"Arghhh! Gagal semua rencana ku. Jangankan bisa menghabiskan waktu bersama dan memberikan kesan yang baik pada Kanaya, aku malah terlihat tidak berguna di depan Kanaya. Sial! Sial! Sial!"teriak Randy menendang udara dengan perasaan kesal.
Randy menatap enam orang pria yang sudah terkapar karena di hajar oleh Andi tadi dengan tatapan penuh dendam.
__ADS_1
"Semua rencana ku menjadi gagal gara-gara kalian semua! Dasar brengseek!"umpat Randy menendang para pria yang bahkan sudah tidak bisa bangun lagi itu, apalagi melawan Randy. Para pria itu hanya bisa meringis menahan sakit karena di tendang Randy secara brutal.
Di sisi lain, sepanjang perjalanan menuju kontrakkan Kanaya, Andi dan Kanaya hanya diam tanpa bicara apapun. Beberapa menit kemudian, Andi dan Kanaya pun sudah tiba di kontrakan Kanaya.
"Biar aku bantu mengobati lukamu,"ujar Andi seraya turun dari motor.
Andi merasa bersalah karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik, hingga istrinya itu terluka. Andi meyakinkan ibu Kanaya bahwa dirinya akan menjaga, mencintai, menyayangi dan melindungi Kanaya dengan baik. Namun nyatanya, belum juga satu kali dua puluh empat jam dirinya menjadi suami Kanaya, tapi Kanaya sudah terluka.
"Terimakasih, Tuan. Tapi, saya rasa itu tidak perlu. Ini hanya luka kecil. Saya bisa mengobatinya sendiri,"tolak Kanaya secara halus.
"Jangan membantah! Cepat, buka pintunya!"ucap Andi yang menjadi kesal karena Kanaya menolak untuk diobati.
"Nah, 'kan? Berubah lagi nih, sikapnya. Dasar roller coaster!"gumam Kanaya dalam hati. Mau tak mau gadis itu membuka pintu kontrakan nya itu.
Kanaya masuk ke dalam kontrakannya yang kecil itu diikuti oleh Andi. Andi menghela napas berat melihat kamar Kanaya yang begitu kecil. Kamar yang di dalamnya hanya terdapat kasur lantai tipis sebagai tempat tidur, jam weker, dan lemari plastik dua susun. Andi tidak menyangka jika keadaan di dalam kamar Kanaya lebih memprihatinkan dari dugaannya.
"Tuan, tolong pintunya jangan di tutup! Saya tidak ingin ada yang melihat kita masuk ke dalam kamar dan berpikir macam-macam tentang kita,"ujar Kanaya yang tidak ingin mengambil risiko apapun.
Andi tidak menjawab. Lagi-lagi pemuda itu hanya bisa menghela napas berat dan membiarkan pintu kamar itu terbuka.
"Memangnya kenapa jika ada yang melihat kami masuk dan berduaan di dalam kamar? Walaupun kami belum sah di mata agama, tapi kami sudah sah di mata hukum. Tidak akan ada yang berani mengusik kami kalau kami berduaan di dalam kamar,"gumam Andi dalam hati.
"Maaf, saya tidak punya apapun yang bisa saya suguhkan untuk, Tuan,"ucap Kanaya tidak enak hati.
"Mana kotak obatnya?"tanya Andi tanpa menanggapi perkataan Kanaya.
Kanaya mengambil obat merah dan plester untuk luka pada Andi. Karena hanya itulah yang di miliki oleh Kanaya. Dan lagi-lagi hal itu membuat Andi menghela napas berat.
"Dia hidup seadanya seperti ini hanya untuk membayar angsuran rumah. Di kampung pun rumahnya kosong melompong. Hanya ada kasur lantai untuk tidur dan peralatan masak yang tidak begitu banyak. Bahkan ibu juga harus berjualan untuk biaya hidupnya dan membantu Kanaya membayar angsuran rumah,"gumam Andi seraya membersihkan luka Kanaya.
...🌸❤️🌸...
Pena taktis adalah pena yang berfungsi ganda sebagai senjata untuk pertahanan diri. Biasanya terbuat dari logam atau plastik kuat, merupakan barang tugas berat. Karena dirancang untuk tahan terhadap benturan keras, ujung runcingnya dapat digunakan sebagai pemecah kaca atau senjata tumpul pada saat dibutuhkan.
.
To be continued
__ADS_1