Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
264. Cemburu


__ADS_3

Aurora menghampiri Rayyan yang sudah lebih dulu berbaring di atas ranjang. Pria itu masih memegang handphone nya. Aurora naik ke atas ranjang, kemudian menjadikan lengan kanan Rayyan sebagai bantalnya. Sedangkan tangan kiri Rayyan masih memegang handphone. Mata pria itu pun masih fokus pada handphonenya.


"Ray!"panggil Aurora karena Rayyan nampak mengacuhkan dirinya semenjak Bima dan bapaknya datang tadi.


"Hemm,"sahut Rayyan tanpa mengalihkan pandangannya pada layar handphonenya.


"Kenapa kamu diam saja dari tadi? Kamu marah karena Bima ke sini?"tanya Aurora menatap Rayyan. Namun pria itu tidak menjawab dan masih tetap fokus pada handphonenya.


"Kamu marah padaku?"tanya Aurora lagi, tapi Rayyan malah diam.


Aurora menghela napas panjang, kemudian beringsut sedikit menjauh dari Rayyan dan berbaring membelakangi Rayyan. Sedangkan Rayyan nampak membuang napas kasar.


"Apa kamu masih mencintai dia?"tanya Rayyan tiba-tiba, kemudian meletakkan handphonenya di atas nakas.


Pria itu melipat kedua tangannya dan menjadikannya sebagai bantal. Tidur dengan posisi terlentang menatap langit-langit kamar itu. Wajah pria itu terlihat datar.


"Sudah berapa kali aku katakan, jika aku sudah tidak lagi menyimpan rasa padanya. Aku tidak lagi mencintai dia. Kenapa kamu masih saja cemburu jika melihat dia?"Aurora malah balik bertanya. Masih dengan posisi yang sama, yaitu membelakangi Rayyan.


"Bukankah wajar jika aku cemburu? Kalian berpisah bukan karena kalian sudah tidak saling mencintai. Tapi karena terhalang restu orang tua. Bukankah mungkin saja kamu masih mencintai dia? Karena kamu tidak pernah membenci dia. Apalagi kamu menikah dengan ku bukan berdasarkan cinta,"


"Apa kamu tahu bagaimana perasaan ku saat mengetahui kamu lebih percaya pada mantan pacar kamu dari pada aku, suamimu? Harga diriku benar-benar terluka,"


"Kamu memilih kabur dengan bantuan mantan pacar kamu tanpa bertanya padaku lebih dulu duduk perkaranya. Aku jadi bertanya-tanya, di mana letak kekurangan ku sebagai seorang suami? Hingga istri ku lebih percaya pada mantan pacarnya dari pada aku suaminya,"


Aurora membuang napas kasar mendengar kata-kata Rayyan.


"Ray.! Cukup, Ray!"ucap Aurora, kemudian membalikkan tubuhnya menatap suaminya.


"Bukankah aku sudah menjelaskan semua nya padamu. Aku memang sempat tidak percaya padamu, tapi bukan berarti aku tidak mencintai kamu. Aku minta maaf karena sempat mengambil keputusan tanpa memikirkan perasaan mu. Tapi, jika kamu tidak percaya padaku, bagaimana hubungan kita ke depannya nanti? Apa akan terus seperti ini? Aku lelah, Ray. Aku ingin hidup tenang tanpa perdebatan,"ucap Aurora yang benar-benar tidak ingin berdebat dengan Rayyan. Wanita itu kembali berbaring membelakanginya suaminya.


Rayyan membuang napas kasar. Entah mengapa, Rayyan merasa sangat cemburu saat melihat Bima. Dan perasaan itu tidak bisa di cegahnya. Perasaan yang muncul saat melihat Bima adalah perasaan tersaingi dan cemburu. Apalagi jika mengingat pria itulah yang telah membantu istrinya kabur dan menyembunyikan istrinya. Pria yang merupakan mantan pacar istrinya.


Rayyan menoleh pada Aurora yang tidur membelakanginya. Rayyan menyadari dirinya telah membuat mereka berdebat lagi.


"Maaf! Aku menjadi sangat cemburu jika mengingat semuanya,"ucap Rayyan seraya memeluk Aurora dari belakang.


"Bagaimana caranya agar kamu percaya bahwa aku hanya mencintaimu dan tidak memiliki rasa lagi padanya?"ujar Aurora lirih.

__ADS_1


"Aku percaya padamu. Aku hanya cemburu. Maaf!"ucap Rayyan penuh sesal.


Aurora menghela napas panjang, kemudian membalikkan tubuhnya. Wanita itu memeluk Rayyan dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Aurora sama sekali tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka. Lebih memilih menikmati kebersamaan mereka dan membuang egonya. Tidak lagi suka berdebat dengan Rayyan seperti dulu.


"Aku hanya ingin bersamamu. Menikmati waktu kebersamaan kita tanpa ada perdebatan. Bisakah mulai sekarang kita saling mempercayai? Bisakah kita tidak memperdebatkan hal-hal yang tidak penting?"tanya Aurora tanpa menatap Rayyan. Masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Aku hanya cemburu, sayang. Apa aku salah, jika aku cemburu saat melihat mantan pacar istriku?"


"Astaga, Ray.. Rasa cemburu itu merupakan hal yang wajar dimiliki oleh setiap orang. Namun, jika rasa cemburu kamu terlalu, berlebihan, maka akan menimbulkan rasa tidak nyaman pada ku, Ray,"ujar Aurora seraya mendongak menatap Rayyan.


"Sayang, aku tidak akan cemburu seperti ini, jika dia bukan mantan pacarmu dan kamu tidak pernah mengecewakan aku,"


"Iya . Iya.. Aku salah. Aku minta maaf. Lalu, aku harus bagaimana agar kamu tidak cemburu lagi?"tanya Aurora pasrah.


"Aku akan memikirkannya besok,"bisik Rayyan di telinga Aurora, tersenyum smirk.


Aurora memicingkan sebelah matanya mendengar perkataan Rayyan. Namun, akhirnya wanita itu memilih memejamkan matanya dan tidur dalam dekapan suaminya. Tidak ingin memikirkan apa yang diinginkan suaminya besok.


Di sisi lain, di kamar Hendrik. Mantan Casanova yang sudah taubat itu sudah terlelap memeluk istrinya yang perutnya sudah besar.


Berangkat kerja diantar dan pulang kerja pun di sambut oleh istri tercinta. Saat dirumah memilih menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bersenda gurau bersama istrinya. Memeluk tubuh wanita itu sampai pagi hingga membuat tidurnya terasa nyaman.


Hendrik membenarkan perkataan adiknya dulu. Ternyata memang nyaman jika memiliki seorang istri. Semuanya berjalan teratur, terasa menyenangkan dan pikiran pun tenang.


Semenjak menikah dengan Hendrik, Sumi sudah merubah penampilannya. Tidak lagi berpenampilan seperti Kenanga. Rambutnya yang dulu di cat dengan warna pirang, kini di cat berwarna hitam dengan model potongan rambut pendek, tapi terlihat cantik dan modis.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Sumi terbangun karena merasakan sakit di perutnya.


"Perutku sakit sekali, tapi setelah itu hilang dan datang lagi. Dokter memprediksikan kalau aku akan segera melahirkan. Apa.. Apa aku akan melahirkan sekarang?"gumam Sumi seraya menahan sakit di perutnya. Masih enggan untuk membangunkan suaminya.


Hari ini Hendrik pulang agak larut malam. Dan sepertinya pria itu terlihat kecapekan. Hingga Sumi merasa tidak tega untuk membangunkan suaminya itu. Namun perutnya terasa semakin sakit.


"Hen! Hen! Bangun, Hen!"panggil Sumi seraya menepuk-nepuk pelan lengan pria yang masih memeluknya itu.


"Sayang, aku masih mengantuk. Biarkan aku tidur,"gumam Hendrik tanpa mau membuka matanya. Bahkan pria itu malah mengeratkan pelukannya pada Sumi.


"Perutku sakit, Hen,"ucap Sumi seraya menahan rasa sakit yang kembali terasa di perutnya.

__ADS_1


Hendrik yang masih mengantuk itupun masih setia memejamkan matanya. Sumi berusaha beranjak dari tempat tidurnya.


"Sayang, kamu mau kemana?"tanya Hendrik yang masih enggan untuk membuka matanya.


"Hen, perutku sakit sekali. Mungkin aku akan melahirkan,"ucap Sumi seraya menahan rasa sakit. Tanpa sengaja wanita itu mencengkram lengan suaminya untuk menahan rasa sakit di perutnya.


Hendrik yang merasa kesakitan karena tangannya di cengkraman Sumi pun akhirnya terbangun.


"Sayang, kamu kenapa?"tanya Hendrik yang nampak terkejut sekaligus panik melihat Sumi yang terlihat kesakitan.


"Hen, sepertinya aku mau melahirkan,"ucap Sumi sambil meringis kesakitan.


"Me.. Melahirkan?"tanya Hendrik bertambah panik,"Tunggu di sini dulu! Aku akan membangunkan mama dulu,"ujar Hendrik bergegas keluar dari kamarnya menuju kamar mamanya.


Pria itu bahkan bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek saja. Beberapa tanda cinta dari istrinya bahkan masih terlihat jelas di leher dada dan perutnya.


"Tok! Tok! Tok!"


"Ma! Miti akan melahirkan, ma. Ma!"panggil Hendrik sambil terus mengetuk pintu Naima.


Naima yang mendengar suara ketukan pintu dan juga panggilan dari putranya pun terbangun. Wanita paruh baya itu bergegas membuka pintu.


"Istrimu akan melahirkan?"tanya Naima dengan rambut yang acak-acakan.


"Iya, ma. Katanya perutnya sakit,"


"Ya sudah, cepat bawa istrimu ke rumah sakit. Tunggu apa lagi?"ujar Naima bergegas pergi ke kamar Hendrik.


Malam itu, akhirnya Naima dan Hendrik membawa Sumi ke rumah sakit. Karena sepertinya Sumi memang sudah mau melahirkan.


...🌟Aku cemburu, bukan berarti aku tak mempercayaimu. Namun, karena aku takut kehilangan dirimu.🌟...


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2