
Aurora dan Bu Ella memutuskan pulang setelah membeli beberapa barang yang di inginkan. Sesampainya di depan rumah, senyum Aurora langsung terkembang begitu melihat bapak nya sudah ada di rumah. Pria itu duduk di teras rumah dan mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahnya. Dan tak lama kemudian, pintu mobil itupun terbuka.
"Bapak!"teriak Aurora setelah keluar dari mobil. Wanita itu berlari menghampiri bapaknya dengan senyum yang terlihat cerah. Sedangkan Pak Hamdan nampak terkejut melihat putrinya keluar dari mobil mewah itu.
"Aku rindu sekali pada bapak,"ucap Aurora memeluk bapaknya penuh rasa bahagia.
"Bapak juga,"sahut Hamdan yang membalas pelukan putrinya. Pria paruh baya itu semakin mengernyitkan keningnya saat melihat istrinya dan dua orang yang tidak dikenalnya keluar dari dalam mobil yang sama dengan putrinya.
"Bapak sudah lama pulang? Ayo, masuk dulu!"ajak Bu Ella dengan wajah berseri-seri. Berkumpul dengan anak dan suaminya adalah hal yang paling membahagiakan bagi Bu Ella.
"Baru setengah jam yang lalu, Bu,"sahut Pak Hamdan.
Ketiga orang itu masuk ke dalam rumah, sedangkan Nala dan Dodi masih sibuk mengeluarkan barang belanjaan majikan mereka.
"Mobil itu, sepertinya bukan taksi online. Mobil siapa yang kalian naiki itu?"tanya Pak Hamdan yang dari tadi sudah penasaran melihat mobil mewah yang dinaiki oleh putri dan istrinya itu.
"Mobil menantu bapak,"sahut Bu Ella tersenyum tipis.
"Suami kamu orang kaya, Ra?"tanya Pak Hamdan menatap lekat wajah putri semata wayangnya yang duduk di sampingnya.
"Bisa di bilang begitu, Pak,"sahut Aurora tersenyum tipis.
Kemarin saat Bu Ella menelpon, wanita itu hanya mengatakan pada Pak Hamdan jika putri mereka pulang bersama suaminya yang sudah di pacari selama satu tahun. Pak Hamdan sempat terkejut mendengar kabar dari Bu Ella jika putri mereka menikah karena di gerebek warga. Namun merasa lega saat Bu Ella mengatakan jika menantu mereka terlihat mencintai dan perhatian pada putri mereka. Ibu Ella juga mengatakan jika menantu mereka ada pekerjaan mendesak yang harus dikerjakan, sehingga tidak bisa menunggu Pak Hamdan pulang. Pak Hamdan pun tidak keberatan dan memaklumi. Namun Bu Ella tidak mengatakan jika menantu mereka adalah orang kaya.
"Apa dia mencintai kamu?"tanya Pak Hamdan yang ingin mengetahui langsung dari putrinya.
"Iya, Pak. Tapi, dia itu over protective dan posesif,"sahut Aurora menghela napas panjang.
"Itu berarti, dia sangat mencintai kamu,"sahut Pak Hamdan tersenyum tipis seraya mengelus kepala Aurora lembut.
"Nyonya, barang belanjaan nya mau di letakkan di mana?"tanya Nala sambil menenteng barang belanjaan Aurora. Begitu pula dengan Dodi.
"Di sini saja, La,"sahut Aurora menunjuk ke atas meja.
__ADS_1
"Baik Nyonya,"sahut Nala, kemudian meletakkan barang belanjaan Aurora di atas meja ruang tamu itu. Begitu pula dengan Dodi.
"Wahh... sepertinya kalian dari bersenang-senang hari ini,"ujar Pak Hamdan melihat barang belanjaan putri dan istrinya.
"Aku tadi membelikan baju untuk bapak,"ucap Aurora dengan wajah yang kembali terlihat cerah.
"Eh, tangan bapak kenapa?"tanya Bu Ella yang baru menyadari jika tangan Pak Hamdan di balut perban. Tepat di tangan pak Hamdan yang ada tanda lahirnya. Sehingga tanda lahir Pak Hamdan tidak terlihat. Tertutup oleh perban.
"Oh ini. Kemarin, bapak jatuh dari ojek, Bu. Ada anak-anak yang mengejar layangan dan menyeberang tanpa memperhatikan jalan. Jadi tukang ojeknya reflek banting setir hingga kami jatuh. Entah terkena apa tangan bapak, tau-tau sudah berdarah. Bahkan lengan bapak juga terluka,"jelas Pak Hamdan seraya menggulung lengan kemejanya yang berlengan panjang, menunjukkan lengannya yang diperban.
"Apa lukanya parah, Pak?"tanya Aurora nampak khawatir, begitu pula dengan Bu Ella.
"Enggak, kok. Cuma ke gesrek aspal saja,"sahut Pak Hamdan tersenyum tipis, tidak ingin anak dan istrinya mengkhawatirkan dirinya.
"Syukurlah kalau tidak parah,"sahut Bu Ella merasa sedikit lega
Aurora membongkar semua barang belanjaannya dan menunjukkan beberapa baju yang di belinya untuk ayah dan ibunya. Wanita itu nampak bahagia. Pak Hamdan pun bahagia melihat wajah putrinya yang terlihat bahagia itu.
"Jadi, kamu memiliki banyak uang dari suami kamu? Kenapa harus berbohong dapat uang banyak dari menang judi online? Dasar!"ujar Pak Hamdan seraya mengacak-acak rambut Aurora.
"Iya, sih. Tapi, kamu membuat bapak dan ibu khawatir. Bapak dan ibu takut jika kamu melakukan sesuatu yang tidak kami inginkan untuk mendapatkan uang secara instan,"sahut Pak Hamdan mengungkapkan kekhawatirannya selama ini.
"Nggak, Pak. Aku nggak bakal berbuat yang macam-macam untuk mendapatkan banyak uang,"sahut Aurora tersenyum pada bapaknya.
Ada perasaan bersalah dalam hati Aurora karena telah membohongi kedua orang yang sangat menyayangi dirinya. Entah bagaimana reaksi kedua orang tuanya andai mereka mengetahui jika dirinya pernah menjalani profesi sebagai kupu-kupu malam untuk mencari uang.
***
Andi menyiapkan makan malamnya dan juga Rayyan di atas meja sofa. Makanan yang di beli Andi secara online dan baru saja sampai.
"Tuan, ayo makan malam dulu! Tuan harus makan, agar tetap sehat. Besok nyonya akan pulang. Rugi kalau Tuan sakit. Gimana nanti Tuan mau main kuda-kudaan dengan nyonya, kalau Tuan sakit? Ups!"Andi langsung menutup mulutnya yang suka keceplosan itu.
Semenjak pulang dari rumah mertuanya, Andi melihat Rayyan nampak tidak bersemangat. Dan Andi tahu betul jika hal itu pasti karena Nyonya nya yang tidak ikut pulang bersama Tuan nya.
__ADS_1
Rayyan terlihat kesal mendengar ucapan Andi yang ceplas-ceplos itu. Walaupun apa yang dikatakan oleh Andi itu untuk kebaikannya. Namun ucapan Andi yang ceplas-ceplos itu suka bikin Rayyan gregetan.
Rayyan menatap tajam pada Andi. Sedangkan Andi yang mendapatkan tatapan tajam dari majikannya itu malah menyengir bodoh sambi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"πΌπππ.. π’πͺπ‘πͺπ©π πͺ ππ£π π’ππ’ππ£π π¨πͺπ¨ππ ππ π§ππ’,"gumam Andi dalam hati.
"π½ππ§πͺ π©πππ π₯πππ π ππ’π πππ§π₯ππ¨ππ, π©ππ₯π ππ πͺ π¨πͺπππ π¨ππ£πππ© π’ππ§ππ£ππͺπ ππ£ πππ,"gumam Rayyan dalam hati, menghela napas panjang.
"Tuan harus makan makanan sehat. Tuan harus menjaga kesehatan agar bisa mengurus perusahaan. Kalau Tuan rindu pada nyonya, lebih baik Tuan telepon saja atau Tuan juga bisa melakukan video call dengan nyonya,"ujar Andi seraya mulai makan.
Rayyan hanya diam tanpa menanggapi perkataan Andi. Pria itu tetap makan dengan tenang.
"Apa ada kabar dari istri ku?"tanya Rayyan setelah mereka selesai makan.
"Tadi siang Nala menelpon. Dia menanyakan tentang mall yang ada di kota nyo..."
"Kenapa? Apa ada masalah?"tanya Rayyan memotong kata-kata Andi. Takut Aurora mendapatkan masalah.
"Kata Nala, sih, tidak ada, Taun. Nala hanya ingin tahu saja. Karena nyonya ingin pergi ke mall. Kalau ada masalah, Nala dan Dodi pasti akan memberi tahu kita, Tuan,"sahut Andi sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Nala tadi siang.
"Baguslah, kalau dia baik-baik saja,"sahut Rayyan merasa lega.
Usai makan malam, Rayyan dan Andi kembali bekerja. Akhir-akhir ini mereka memang semakin sibuk. Apalagi kemarin siang mereka pergi ke rumah Aurora. Jadi Andi mengundurkan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan kemarin. Dan mengerjakannya hari ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Rayyan dan Andi selesai bekerja. Keduanya pun akhirnya pulang.
Rayyan masuk ke dalam kamar nya. Pria itu menghela napas panjang saat melihat tempat tidurnya yang kosong dan masih rapi. Tidak ada Aurora yang berbaring di atasnya. Biasanya saat Rayyan pulang, Aurora sudah berada di atas ranjang. Tapi malam ini tidak ada Aurora di dalam kamar itu.
Rayyan memutuskan untuk membersihkan dir. Setelah selesai, Rayyan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Apakah dia sudah tidur?"gumam Rayyan seraya menatap jam digital di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam,"Aku rindu sekali padanya. Aku ingin melihat wajahnya,"gumam Rayyan seraya menatap handphone yang sedang di pegangnya.
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued