
Aurora mengancingkan kemeja Rayyan yang sedang menerima telepon. Wanita itu masih melilitkan handuk di kepalanya karena rambutnya yang masih basah setelah mandi bersama Rayyan tadi. Aurora belum sempat mengeringkan rambutnya karena Rayyan harus segera berangkat. Pria itu kesiangan gara-gara pagi ini meminta jatah tambahan.
"Sayang, aku malam ini akan pulang agak larut. Kamu jangan menunggu aku, ya! Tidurlah terlebih dahulu! Aku tidak ingin kamu sakit karena kurang istirahat,"ujar Rayyan saat Aurora beralih memasang dasinya.
"Iya. Memangnya kenapa kamu pulang malam?"tanya Aurora masih fokus pada dasi yang diikatkannya di leher Rayyan.
"Aku ada dinner dengan klien,"
"Perempuan?"tanya Aurora seraya memicingkan sebelah matanya, sudah selesai memasang dasi suaminya.
"Laki-laki, sayang! Lagian, walaupun perempuan, aku juga tidak akan tertarik. Aku sudah memiliki kamu. Kamu tidak bisa di bandingkan dengan wanita manapun di luar sana,"ucap Rayyan menundukkan kepalanya, kemudian mengecup bibir Aurora lembut, namun tidak terlalu lama.
"Mulut mu manis sekali,"cibir Aurora memegang dasi Rayyan, sehingga Rayyan terpaksa masih harus menunduk.
"Apa kamu tidak suka jika aku rayu? Kalau begi.."
"Cup"
Tiba-tiba Aurora mengecup bibir Rayyan. Rayyan tersenyum senang mendapatkan kecupan di bibir dari istrinya.
Aurora melepaskan pegangannya dari dasi Rayyan, lalu memakaikan jas suaminya, dan merapikannya. Wajah suaminya hari ini terlihat segar. Tidak seperti kemarin dan beberapa hari yang lalu.
"Kamu tidak usah mengantar ku ke depan! Aku berangkat!"ucap Rayyan mengecup kening Aurora, kemudian membungkuk mengecup perut Aurora dengan lembut. Pria itu keluar dari kamarnya dengan wajah cerah dan segar.
"Aiihh.. Hari ini wajah Tuan terlihat sangat berseri-seri dan energik. Sepertinya, Tuan dari dapat jatah dari nyonya,"gumam Andi tersenyum-senyum sendiri.
"Kamu bilang apa?"tanya Rayyan yang tidak terlalu jelas mendengar gumaman Andi.
"Tidak ada, Tuan,"sahut Andi tersenyum bodoh.
Sedangkan di kamar Aurora.
"Rayyan sudah pergi, aku juga akan bersiap untuk pergi. Aku ingin bertemu dengan Sumi. Kemarin aku hanya melihat dia dari belakang. Aku ingin sekali melihat wajahnya yang sekarang,"gumam Aurora dengan wajah cerah.
Beberapa menit kemudian, Aurora sudah cantik dengan dress selutut berlengan panjang berwarna cream. Memakai satu set perhiasan emas putih yang manambah kecantikannya.
__ADS_1
"La, kita ke restoran xx, ya!"ucap Aurora saat membuka pintu kamarnya dan melihat Nala di samping pintu.
"Baik, nyonya,"sahut Nala datar seperti biasanya.
Beberapa menit kemudian, Aurora sudah tiba di parkiran restoran Sumi. Aurora memakai masker untuk menutupi wajahnya, kemudian turun dari mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Nala. Begitu masuk ke dalam restoran Nala memesan private room dan meminta seorang waiter untuk mengatakan pada Sumi, bahwa Aurora menunggu Sumi di private room.
"Nona, ada seorang wanita yang bernama Aurora ingin bertemu dengan anda,"ucap seorang waiter menghampiri Sumi yang berada di tempat favoritnya di restoran itu, yaitu di dapur.
"Aurora? Dimana dia sekarang?"tanya Sumi terlihat antusias.
"Di private room, nona,"sahut waiter itu.
Sumi bergegas menuju private room yang dikatakan oleh waiter tadi. Sumi sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Aurora.
"Ceklek"
Dengan tidak sabar, Sumi membuka pintu private room itu.
"Aurora!"pekik Sumi langsung menghampiri Aurora dan memeluk Aurora dengan penuh suka cita.
"Wahh.. kamu benar-benar sangat mirip dengan aku seperti saat aku menjadi Kenanga,"ucap Aurora menatap kagum pada Sumi setelah mereka melerai pelukan mereka.
"Kamu tidak marah, 'kan, karena wajahku jadi mirip seperti kamu?"tanya Sumi yang sebenarnya takut jika Aurora marah padanya karena Sumi setuju wajahnya dioperasi mirip dengan Aurora tanpa meminta izin pada Aurora.
"Memangnya jika aku marah, kamu mau wajah kamu dioperasi lagi?"tanya Aurora menghela napas panjang, lalu duduk di salah satu kursi.
"Ya nggak mau, Ra. Dioperasi itu sakit, Ra. Aku melalui proses panjang sampai aku bisa memiliki wajah seperti ini. Maaf, ya, Ra! Soalnya, waktu itu Tuan Andi mengatakan akan mencari orang lain jika aku tidak mau dioperasi mirip dengan kamu. Jadi, aku terpaksa setuju. Aku takut jika orang lain yang dioperasi mirip kamu, nanti orang itu akan memanfaatkan wajahnya yang mirip kamu untuk menjebak suami kamu,"ujar Sumi yang sebenarnya tidak enak hati pada Aurora. Ikut duduk di depan Aurora.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"tanya Aurora mengernyitkan keningnya.
"Karena suami kamu tajir melintir. Pasti banyak wanita yang ingin menjadi istrinya. Walaupun hanya menjadi istri kedua, ketiga atau ke sepuluh sekalipun, pasti mereka mau,"
"Memangnya, kamu tidak akan menggoda suamiku, dengan wajah mu yang sekarang mirip dengan aku ini? Tidak ingin menjadi istri kedua, ketiga atau ke sepuluh suamiku?"tanya Aurora seraya memicingkan sebelah matanya.
"Kamu pikir aku ini sahabat macam apa? Aku tidak akan mengkhianati sahabat ku sendiri. Kamu itu orang yang telah menyelamatkan aku dari bunuh diri. Jika kamu tidak mencegah aku bunuh diri waktu itu, sekarang aku sudah jadi hantu gentayang di jembatan. Ibu dan adik-adikku akan hidup kesusahan dan adik-adik ku tidak akan bisa melanjutkan pendidikan mereka. Aku tidak akan merasakan hidup tenang dan damai seperti saat ini. Dan semua ini berkat kamu. Kamu adalah Dewi keberuntungan ku. Sejak pertama kali bertemu dengan kamu, hidupku berubah menjadi lebih baik. Suamimu tidak akan suka dengan aku yang imitasi ini. Lagi pula, asistennya aja mukanya dingin, datar dan sadis kayak begitu. Gimana dengan suami kamu, yang kamu bilang mukanya seperti es balok, papan seterikaan. Yang kalau senyum malah bikin merinding karena ngeri. Membayangkannya aja udah bikin aku merinding disko,"sahut Sumi bergidik ngeri.
__ADS_1
"Si Andi sadis? Yang bener, kamu? Andi itu orang yang care, bijaksana, tapi juga ceplas-ceplos dan bikin tertawa,"sahut Aurora yang mengungkapkan seperti apa yang dilihatnya pada Andi selama ini.
Aurora tidak pernah tahu bagaimana dingin dan datarnya wajah Andi jika sudah berhadapan dengan orang lain. Apalagi sadisnya Andi jika berhadapan dengan orang yang berani menganggu majikannya. Selama ini Aurora hanya tahu jika Andi sangat peduli pada hubungannya dengan Rayyan. Pernah menasehati dirinya beberapa kali saat dirinya sedang perang dingin dengan Rayyan. Bahkan pernah berlutut di kakinya, memohon agar Aurora tidak meninggalkan Rayyan. Karena menurut Andi, dirinya adalah wanita yang paling istimewa di hati Rayyan. Selain sangat peduli pada hubungannya dengan Rayyan, Andi adalah orang yang ceplas-ceplos dan suka bikin tertawa. Itulah image Andi di mata Aurora. Bertolak belakang dengan apa yang diceritakan oleh Sumi.
"Jangan bercanda, Ra! Selama hidupku, aku nggak pernah takut pada siapapun. Tapi sama Tuan Andi, aku mati kutu,"sahut Sumi jujur adanya.
"Olehnya belum akrab aja kali. Selama aku kenal dengan dia, dia itu sangat baik, kok! Orangnya lucu malah,"sahut Aurora santai.
"Iya, kamu, 'kan, istri majikannya. Wajarlah kalau Tuan Andi baik sama kamu. Tapi lucu? Nggak percaya aku kalau tuan Andi lucu. Sadis, itu baru benar."sangkal Sumi.
"Terserah kamu menilainya, lah"sahut Aurora yang tidak ingin berdebat dengan Sumi karena Andi.
"Ra, aku mau tanya sama kamu. Suami kamu punya kakak laki-laki, nggak?"tanya Sumi serius, karena baru teringat pada Hendrik.
"Punya. Kenapa? Kamu ingin dijodohkan dengan dia? Tapi dia itu seorang Casanova,"
"Apa namanya Hendrik?"tanya Sumi penuh selidik.
"Kok, kamu tahu?"
"Dia bilang kalau aku mirip dengan adik iparnya. Tidak ada yang mirip dengan aku selain kamu. Jadi, aku menduga kalau dia adalah kakak ipar kamu,"sahut jujur adanya.
"Kamu ketemu dia di mana?"
"Pertama di butik. Lalu di restoran ku ini. Dia juga sempat mengantarkan aku ke rumah sakit saat ibuku di larikan ke UGD karena jatuh di kamar mandi. Bahkan semalam dia juga datang ke rumah ku,"
"Sepertinya dia mengejar-ngejar kamu. Apa kamu menyukai dia?"
...🌸❤️🌸...
Arti care dalam bahasa gaul adalah peduli satu sama lain satu individu dengan individu lainnya.
.
To be continued
__ADS_1