
Mastuti bergegas pergi ke dapur untuk membuat minuman. Senyuman licik tersungging di bibir wanita paruh baya itu. Tak lama kemudian, Mastuti pun sudah selesai membuat minuman dan bergegas ke ruang tamu.
"Minumannya, Tuan. Ini minuman favorit nyonya, loh,"ucap Mastuti ramah, penuh senyuman.
Aurora memicingkan sebelah matanya melirik ekspresi Mastuti.
"Eh, kenapa Bik Mastuti ramah sekali pada pria ini. Lagipula, sejak kapan aku punya minuman favorit? Aku selalu minum apa saja yang Bik Mastuti buatkan. Dan tidak pernah mengatakan apa minuman favorit ku. Aku jadi curiga,"gumam Aurora dalam hati.
Semenjak menikah dengan Rayyan, yang mengatur makanan dan minuman Aurora adalah Mastuti. Dan tentu saja, semua makanan dan minuman yang dibuatkan Mastuti adalah makanan dan minuman sehat.
Lukas menatap minum yang dibuatkan Mastuti, lalu mengambil dan meminumnya.
"Emm.. Selera wanita cantik memang berbeda. Minuman ini sangat enak dan menyegarkan,"puji Lucas yang ternyata menyukai minuman yang dibuatkan Mastuti. Entah minuman apa yang di buatkan oleh wanita paruh baya itu.
"Tentu saja, Tuan,"sahut Mastuti masih penuh senyuman.
"Jika kamu mau menjadi istri ku, kamu tidak perlu bekerja keras seperti sekarang. Kamu hanya bertugas melayani aku saja,"ujar Lukas masih belum menyerah untuk membujuk Aurora.
"Saya bekerja bukan karena saya kekurangan uang. Tapi karena saya tidak biasa berdiam diri di rumah. Lalu, mengelola toko kue dan kafe adalah hobi saya. Jika saya mau, saya bisa ongkang-ongkang kaki, jalan-jalan, dan shopping semau saya menggunakan uang suami saya. Tapi sayangnya, saya bukan tipikal wanita seperti itu,"tanggap Aurora tersenyum sinis. Sudah muak rasanya berhadapan dengan pria di depannya itu.
"Jangan berbohong! Jika suami kamu orang kaya, mana mungkin kamu tinggal di rumah minimalis yang biasa saja seperti ini,"ujar Lucas meremehkan.
"Terserah anda mau percaya atau tidak. Tapi sebaiknya anda menjauhi saya. Karena suaminya saya tidak suka jika ada pria yang mendekati saya. Apalagi suami saya orangnya pencemburu. Jika anda nekat mendekati saya, saya takut terjadi apa-apa pada anda,"
"Ha.. Ha.. Ha.. Kamu bisa saja bercandanya. Aku adalah orang terkaya di kota ini, di pulau ini. Tidak ada yang bisa menandingi kekayaan ku. Dan tidak ada orang yang berani menyinggung aku,"ujar Lucas percaya diri, menganggap Aurora bercanda.
"Jika Rayyan tahu kamu mendekati aku, aku tidak tahu bagaimana nanti nasibmu,"gumam Aurora dalam hati, hanya bisa menghela napas panjang melihat pria di depannya itu.
"Saya ingatkan sekali lagi. Putri saya sudah mempunyai suami. Jadi tolong, Tuan jangan ke sini lagi. Dan tolong bawa kembali hadiah-hadiah yang anda bawa itu! Kami tidak membutuhkan semua barang-barang yang anda bawa itu,"ujar Pak Hamdan yang semakin jengah dengan Lucas.
"Aduh, kenapa perutku jadi mulas, ya?"gumam Lucas di dalam hati, tidak sempat menanggapi perkataan Pak Hamdan.
"Aku ingin numpang ke toilet,"ucap Lucas.
"Maaf, Tuan. Semua toilet di rumah ini sedang dalam perbaikan, karena air kran nya macet,"sahut Mastuti sambil menyengir yang membuat Pak Hamdan dan Aurora mengernyitkan keningnya.
"Sudah ku duga. Bik Mastuti pasti menambahkan sesuatu ke dalam minuman Lucas,"gumam Aurora dalam hati.
"Maaf, Bik. Uang untuk membeli peralatan memperbaiki kran nya mana, ya?"tanya seorang pelayan pria yang ada di rumah itu.
"Oh, iya, saya lupa. Ayo, saya ambilkan,"ujar Mastuti seraya meletakkan kulit pisang di lantai.
"Mau membeli peralatan untuk memperbaiki kran? Mana ada toko bangunan yang buka malam-malam begini?"gumam Aurora dalam hati.
__ADS_1
"Aku pamit pulang dulu,"ucap Lucas beranjak dari duduknya. Namun baru tiga langkah berjalan...
"Syuutt"
"Brakk"
"Akkhh"
Lukas jatuh terlentang di lantai karena terpeleset kulit pisang yang di letakkan Mastuti. Kepala pria itu terbentuk lantai cukup keras.
"Ya, ampun, Tuan! Kok bisa jatuh, sih?"ujar Mastuti dengan ekspresi terkejut dan khawatir.
Wanita paruh baya itu bergegas menghampiri Lucas dan segera mengambil kulit pisang yang diletakkan nya tadi. Memasukkan kulit pisang itu ke dalam saku celananya.
"Aku seperti menginjak sesuatu,"ucap Lucas yang berusaha bangun di tolong Mastuti. Pria itu menatap lantai di sekitarnya.
Aurora dan Pak Hamdan yang melihat Mastuti memungut kulit pisang tadi pun hanya bisa menahan tawa melihat kelakuan Mastuti.
"Tidak ada apa-apa di lantai ini, Tuan,"sahut Mastuti berlagak bodoh.
"Aku mau pulang,"ucap Lucas bergegas pergi seraya memegangi pinggang dan perutnya.
Lucas bergegas keluar dari rumah itu tanpa menunggu jawaban dari Aurora. Tak lama kemudian mobil pria itu melaju dengan kencang meninggalkan rumah Aurora.
"Rasain! Melilit tinggal melilit, itu perut. Encok tinggal encok, itu pinggang,"gumam Mastuti seraya menatap kepergian Lucas dari jendela, menahan tawa.
Sedangkan Bu Ella juga terlihat senang. Bu Ella yakin, Mastuti sengaja mengerjai Lucas.
"Bagus Mastuti! Kamu memang bisa diandalkan,"ucap Bu Ella yang tidak bisa diucapkannya.
Sedangkan di dalam mobil yang melaju kencang, Lucas nampak meringis menahan sakit di pinggang dan perutnya.
"Sial! Sepertinya aku di kerjai oleh pelayan itu. Aku yakin dia memasukkan sesuatu ke dalam minuman ku. Dan aku yakin, aku tadi rasanya terpeleset sesuatu. Tunggu saja! Akan aku beri pelajaran pelayan itu. Dan juga ayah Aurora yang sombong itu. Aurora ini benar-benar wanita yang susah di bujuk dan dirayu. Dia tidak tergoda dengan apapun. Tapi, aku adalah orang terkaya di pulau ini. Aku harus mendapatkan apapun yang aku inginkan di pulau ini. Tunggu saja! Aku akan membuatmu menjadi milikku. Jika kamu tidak ingin menjadi istri ku, aku akan membuatmu menjadi mainan ranjang ku,"gumam Lucas penuh amarah. Manahan rasa sakit di perut dan pinggangnya.
Di sisi lain.
Andi masuk ke ruangan Rayyan seraya membawa beberapa berkas.
"Tuan, saya mendapatkan informasi.."
"Apa kamu sudah menemukan keberadaan istri ku?"tanya Rayyan memotong kata-kata Andi.
"Belum, Tuan. Saya mau melaporkan soal Tuan Jony,"
__ADS_1
"Kenapa? Apa dia berbuat ulah lagi?"tanya Rayyan yang masih sibuk menandatangani beberapa dokumen.
"Tidak, Tuan. Tuan ingat, 'kan? Setelah kembali ke negara ini, Jony membuka usaha kecil-kecilan?"
"Hum. Toko material itu, 'kan?"tanya Rayyan masih fokus pada dokumen di depannya.
"Iya, Tuan. Tadi malam tokonya terbakar. Kebakaran itu, diduga karena korsleting listrik. Sekarang dia sudah tidak punya apa-apa lagi,"
"Padahal kita tidak melakukan apapun setelah menghancurkan perusahaannya. Tapi dia sudah mendapatkan karma dari Tuhan,"
"Anda benar, Tuan. Kita tidak perlu mengotori tangan kita untuk membalas semua yang dia lakukan pada kita. Bahkan saya dengar, sekarang Natalie jadi simpanan seorang pengusaha,"
"Dia memang wanita jalangg,"sahut Rayyan.
Sedangkan di apartemen Aiden, pria itu nampak bersiap-siap untuk pergi. Sebuah koper pun sudah ada di samping pria tampan bertubuh proporsional itu.
"Aku harus berangkat lebih dulu, Ron. Besok setelah pekerjaan kamu selesai, kamu harus segera menyusul aku,"
"Ba.. Ba..baik, Tuan. Emm.. Tu .tu..."
"Plak"
"Tuan harus hati-hati dengan pria yang bernama Lucas,"ujar Roni setelah di tepuk pundaknya oleh Aiden.
"Oohh.. Lucas si pria licik yang berkuasa di pulau itu, ya?"
"I..i. Iya, Tuan,"
"Kamu tidak perlu khawatir. Jika dia berani macam-macam dengan kita, kita akan membuat dia menjadi gelandangan secara mendadak. Proyek kali ini lumayan besar, aku tidak akan melepaskan proyek ini begitu saja,"
"Ha.. Ha . "
"Plak"
"Hati-hati, Tuan,"
"Hum. Aku berangkat! Dan cepat selesaikan tugas kamu di sini, lalu susul aku,"
"Ba.. Ba.. Baik, Tuan,"
...πΈβ€οΈπΈ...
Aku kasih spoiler ( bocoran) untuk bab besok pagi. Besok Aurora bakal ketemu Aiden. Gimana dan dalam situasi apa Aurora bertemu Aiden? Tunggu besok pagi, ya! πππππ
__ADS_1
.
To be continued