
Kanaya memakai kembali celananya dan membenahi pakaiannya. Bagian inti tubuhnya masih sedikit terasa sakit karena ulah suaminya yang memaksa masuk tadi.
Gadis itu menatap ke arah pintu kamar mandi beberapa kali. Sudah setengah jam lebih suaminya masuk ke dalam kamar mandi itu, tapi tidak kunjung keluar juga.
"Apa yang sedang di lakukannya di dalam kamar mandi sana, hingga begitu lama tidak keluar juga? Tapi, aku harus bersikap bagaimana jika dia sudah kembali dari kamar mandi nanti? Kejadian barusan... Aaahh... Aku malu sekali! Aku berpikir tadi hanyalah mimpi. Aku tidak menyangka jika .. Semuanya nyata. Aku tidak sengaja menggigit bibirnya dan mencakar lehernya. Nanti aku harus bagaimana bersikap padanya? Apa aku pura-pura tidur saja, ya? Ah, iya. Pura-pura tidur saja, agar aku tidak merasa canggung padanya,"gumam Kanaya bergegas berbaring.
Kanaya berbaring dengan posisi membelakangi tempat Andi tidur, lalu menutup tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya. Namun, sesaat kemudian gadis itu kembali membuka matanya.
"Aku tidak boleh berbaring membelakangi dia. Kata ibu, tidak sopan jika tidur membelakangi suami,"gumam Kanaya kemudian berbaring terlentang.
Beberapa saat kemudian, Kanaya merasa tidak nyaman berbaring dengan posisi terlentang, akhirnya gadis itu berbaring miring menghadap ke arah tempat Andi berbaring. Lalu kembali memejamkan matanya.
Namun, Kanaya merasa tidak nyaman saat berbaring dengan posisi terlentang. Akhirnya gadis itupun mengubah posisinya dan berbaring menghadap ke arah tempat Andi berbaring. Tak berapa lama kemudian Kanaya kembali membuka matanya.
"Haish.. Jika aku pura-pura tidur, masalah yang terjadi tadi tidak akan ada penyelesaian nya. Bagaimana, jika dia marah karena aku tidak mau melanjutkan aktivitas kami tadi?" Huff.. Baiklah, aku akan bicara dengan dia sebelum kami tidur. Tapi, aku harus mencari alasan apa, ya? Dan bagaimana aku memulai pembicaraan dengan dia?"gumam Kanaya nampak berpikir sambil sesekali menatap ke arah pintu kamar mandi. Akhirnya gadis itu duduk bersandar di headboard ranjang sambil menunggu Andi keluar dari kamar mandi.
"Ceklek"
Entah mengapa suara pintu kamar mandi yang terbuka itu membuat Kanaya menjadi deg-degan. Beberapa kali gadis itu menarik napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya.
Andi keluar dari kamar mandi dengan rambut yang terlihat basah. Wajah pemuda itu terlihat ruwet bagaikan benang kusut. Pemuda yang hanya mengenakan celana boxer itu berjalan ke arah sisi ranjang tempatnya berbaring tanpa menatap Kanaya.
Kanaya menggigit ujung bibirnya sendiri dengan kedua tangan yang memegang selimut dengan erat setelah melihat ekspresi wajah suaminya.
"B.. Bee.."panggil Kanaya, tapi Andi diam saja dan malah berbaring membelakangi Kanaya.
Kanaya tersenyum kecut melihat suaminya yang sepertinya marah padanya itu.
"Mampus lah aku! Dia marah. Bagaimana, jika dia sampai mengadu pada ibu? Bisa doble kill aku,"gumam Kanaya dalam hati.
Gadis itu nampak menarik napas berkali-kali, lalu mencoba memberanikan diri untuk kembali bicara dengan Andi.
"B.. Bee.. A.. Aku minta maaf! A.. Aku tidak bermaksud menggigit dan mencakar kamu, bee. Tadi itu sakit sekali. La.. Lagi pula.. Tidak seharusnya kita melakukannya. Karena kita belum menikah secara agama,"ujar Kanaya dengan suara pelan, takut Andi marah.
Kanaya sudah sering mendengar, jika Andi pasti akan memarahi, bahkan menghukum bawahannya yang kerjanya tidak benar, ataupun lambat. Di kantor, pemuda itu terkenal tegas dan disiplin. Jika seorang karyawan di anggap tidak kompeten atau melakukan kesalahan fatal, maka Andi tidak akan segan untuk mengajukan pemecatan karyawan yang bersangkutan pada Rayyan, dan tentu saja langsung di ACC oleh Rayyan.
Dan tadi dirinya telah membuat kesalahan karena telah menggigit dan mencakar pemuda itu. Entah apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu padanya.
__ADS_1
Andi membuang napas kasar mendengar perkataan Kanaya. Tadi Andi benar-benar khilaf, hingga dirinya melakukan penyatuan yang ujung-ujungnya malah berakhir gagal. Dan hasilnya, sekarang Andi merasakan sakit kepala atas dan bawah.
"Tidurlah! Besok kita harus bekerja,"ucap Andi terdengar datar tanpa mengubah posisinya yang tidur membelakangi Kanaya.
"A.. Aku benar-benar minta maaf! A.. Aku akan mengobati leher mu, bee,"ucap Kanaya hendak turun dari ranjang.
"Tidak perlu! Tidurlah! Jika tidak, aku akan mengikatmu di atas ranjang dan akan aku buat kamu berteriak lebih kencang dari pada tadi,"ancam Andi dengan suara berat masih dengan posisinya tadi.
Kanaya bergegas berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Andi.
"Aku tidak mau dia melakukan apa yang baru saja dikatakan nya,"gumam Kanaya dalam hati yang masih trauma dengan rasa sakit di inti tubuhnya tadi.
Akhirnya sepasang suami istri itu pun tidur dengan pemikiran masing-masing. Tidak lagi melanjutkan aktivitas panas mereka tadi.
Pagi menjelang. Seperti kemarin pagi, Kanaya bangun pagi dan membuat sarapan untuk suaminya. Hati gadis itu masih merasa tidak tenang karena merasa Andi marah padanya.
Andi yang biasanya cerewet, pagi ini makan tanpa bicara sepatah kata pun. Wajah pemuda yang itu masih terlihat seperti baju kotor yang belum di cuci.
"Cepatlah bersiap! Kita akan segera berangkat,"ujar Andi yang sedari tadi hanya diam itu, setelah mereka selesai sarapan.
Saat Andi dan Kanaya sudah berada di lobby apartemen, seorang pria bertubuh kekar menyerahkan kunci motor pada Andi.
Semalam Andi meninggalkan motornya di rumah Rayyan dan pergi ke klub malam menumpang di mobil Rayyan. Namun, di tengah perjalanan Andi memutuskan untuk turun dari mobil Rayyan dan memesan taksi online karena takut kehujanan saat dalam perjalanan pulang. Karena waktu itu Andi melihat cuaca yang seperti akan turun hujan.
Kanaya semakin merasa bersalah saat Andi yang biasanya memasangkan helm untuk dirinya, pagi ini tidak memasangkan helm untuk dirinya.
Tanpa di suruh, kali ini Kanaya segera memeluk perut Andi setelah dirinya naik ke boncengan motor Andi.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang mereka bicarakan. Dan Andi menurunkan Kanaya di tempat kemarin Kanaya turun. Tanpa mengatakan apapun, Andi kembali melajukan motornya setelah Kanaya memberikan helm nya pada Andi.
"Huff.. Dia benar-benar marah karena masalah semalam,"gumam Kanaya dalam hati.
Andi berjalan masuk ke dalam gedung tempatnya bekerja. Beberapa orang karyawan nampak memperhatikan pemuda itu.
"Eh, aku tidak salah lihat, 'kan? Ada bekas cakaran di leher Tuan Andi. Padahal kemarin tidak ada,"
"Iya. Dan apa kamu lihat bibir Tuan Andi? Bibirnya terlihat bengkak. Apa dari kena gigitan, ya?"
__ADS_1
"Siapa, ya, gadis itu? Aku sangat penasaran,"
"Ganas juga, ya?"
"Kita nggak pernah denger Tuan Andi pacaran, tahu-tahu sudah kena cakaran,"
"Aduh, patah hati ku, kalau Tuan Andi beneran sudah punya gebetan,"
Itulah kasak kusuk para karyawan yang tanpa sengaja melihat Andi dengan bekas cakaran di leher Andi dan bibir Andi yang bengkak dan terluka.
Andi pergi ke ruangan Rayyan saat majikannya itu memanggil dirinya melalui sambungan interkom.
"Ada apa, Tuan?"tanya Andi setelah masuk ke dalam ruangan Rayyan.
"Tolong kamu periksa berkas-berkas ini! Setelah selesai, kamu serahkan padaku!"titah Rayyan seraya mengambil beberapa berkas, lalu memberikannya pada Andi. Namun Rayyan mengernyitkan keningnya saat menatap Andi.
"Eh, ada apa dengan bibir mu? Eh, itu, leher kamu kenapa?"tanya Rayyan kemudian memperhatikan Andi dari atas hingga bawah,"Pufff.. Ha..Ha.. Ha.. Ha.. Semalam kamu mau mencuri start, ya? Di jidatmu itu sudah tertulis, kalau kamu semalam gagal buka segel. Ha.. Ha.. Ha.. Makanya, sah kan dulu secara agama agar tidak Gatot, alias gagal total. Lihat, tuh! Burung kamu masih marah karena belum bisa masuk sarang,"ujar Rayyan tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah celana Andi yang mengembung.
Melihat bekas cakaran di leher Andi, bibir Andi yang bengkak, celana Andi yang mengembung dan wajah Andi yang bak benang kusut itu sudah membuat Rayyan tahu, kalau asisten sekaligus sahabatnya itu gagal melakukan malam pertama.
"CK. Tuan SMS sekali. Senang Melihat orang lain Susah,"gerutu Andi membuang napas kasar karena di tertawakan Rayyan.
"Salah sendiri, belum sah secara agama sudah main seruduk aja. Makanya, kalau mau olahraga itu lakukan pemanasan dulu secara maksimal. Jangan berolahraga sebelum melakukan pemanasan! Apalagi langsung melakukan kegiatan inti. Buat dia benar-benar terlena, gelisah dan menginginkan kamu. Buat dia memohon agar kamu melakukannya. Aku yakin, semalam kamu cuma melakukan pemanasan sebentar dan tidak sabar melakukan kegiatan intinya. Terang saja kamu gagal buka segel kalau begitu caranya,"
"By the way, kalau nggak sempat pulang ke rumah mertua mu untuk menikahi Kanaya secara agama, 'kan, kamu bisa menyuruh orang membawa orang tua Kanaya ke sini,"ujar Rayyan sambil bersandar di sandaran kursinya.
"Tuan terlambat memberi saran. Tadi pagi saya sudah menyuruh orang untuk menjemput mertua saya. Tuan nanti harus menjadi saksi pernikahan kami,"ujar yang memang sebelum berangkat tadi sudah menyuruh orang untuk menjemput mertuanya.
"Dasar! Baru juga tidur bersama selama dua malam, sudah tidak sabar merasakan surga dunia,"ujar Rayyan tersenyum tipis menggelengkan kepalanya pelan.
"Ada makanan enak, mubazir kalau tidak di makan, Tuan,"sahut Andi enteng, membuat Rayyan membuang napas kasar.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1