
Kanaya merasa bingung karena Andi malah berhenti di depan rumah yang di ketahui Kanaya adalah rumah salah seorang warga yang paling kaya di kampungnya.
"Karena ibu tinggal di sini, Ay. Aku menyewa rumah ini untuk di tempati ibu sampai rumah ibu selesai di bangun. Membangun rumah, 'kan, butuh waktu lama, Ay. Karena yang membangunnya adalah manusia biasa. Bukan seperti kisah cerita rakyat di mana Bandung Bondowoso bisa membuat sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi dalam waktu satu malam. Karena Bandung Bondowoso bersemedi dan meminta bantuan raksasa, lalu beserta pasukan jin miliknya membangun candi,"
"Mungkin, rumah ibu akan selesai sekitar empat atau lima bulan lagi. Karena aku membangun lebih luas dari sebelumnya dan detailnya lumayan rumit. Belum lagi aku berencana untuk memakai lantai marmer. Itu semua membuat proses pengerjaan rumah ibu menjadi lama walaupun aku sudah mengerahkan tenaga profesional,"
"Ibu mungkin akan merasa tidak nyaman, jika tinggal di rumah salah satu kerabat kalian terlalu lama. Karena itu, aku berinisiatif menyewa rumah ini sebagai tempat tinggal sementara bagi ibu,"ujar Andi seraya membuka helmnya dan helm Kanaya.
"Tidak aku sangka, dia sampai menyewa rumah untuk tempat tinggal ibu selama rumah kami di bangun. Dia bahkan memikirkan perasaan ibu yang pasti tidak akan merasa nyaman jika menumpang tinggal di rumah salah satu kerabat kami,"gumam Kanaya dalam hati yang kehabisan kata-kata karena semua yang dilakukan suaminya itu memandang dari berbagai sisi dengan detail.
Andi mengetuk pintu rumah itu beberapa kali. Ibu Kanaya pun terbangun saat mendengar suara ketukan pintu itu. Wanita paruh baya itu sangat terkejut saat membuka gorden jendela untuk mengintip siapa yang mengetuk pintu. Melihat anak dan menantunya berdiri di depan pintu, ibu Kanaya pun bergegas membuka pintu.
"Astagaa.. Kenapa kalian pulang larut malam seperti ini? Ayo, cepat masuk! Kalian tidak kehujanan di jalan, 'kan? Sepertinya hujan akan turun lagi. Apa kalian sudah makan? Apa perlu ibu masakkan sesuatu? Ah, kenapa kalian pulang tidak memberi kabar pada ibu terlebih dahulu?" ujar ibu Kanaya terlihat heboh.
"Kami sudah makan, Bu. Tadi kami mampir ke beberapa tempat. Jadi sampai di sini larut malam. Maaf, karena telah menganggu waktu istirahat ibu,"ujar Andi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa. Ayo, masuk!" ajak ibu Kanaya dengan senyuman lebar.
"Bee, mau kemana?"tanya Kanaya saat Andi malah keluar lagi.
"Masukin motor,"sahut Andi yang bergegas memasukkan motor nya karena langit mulai kembali menurunkan titik-titik air.
"Bee.. Keluarkan kue yang ada di bagasi motor, Bee,"pinta Kanaya setelah Andi memasukkan motornya.
"Iya,"sahut Andi kemudian membuka bagasi motornya.
"Cuaca dingin dan hujan seperti ini, enaknya.." gumam Andi dalam hati seraya melirik Kanaya yang sedang membantu dirinya mengeluarkan oleh-oleh yang mereka beli dari bagasi motornya.
"Astagaa.. Kalian bawa apa aja itu? Banyak banget,"tanya ibu Kanaya yang melihat begitu banyak oleh-oleh yang di bawa anak dan menantunya.
"Tadi mampir di pinggir jalan, Bu,"ujar Andi.
"Sudah! Biar nanti ibu saja yang membereskan semuanya. Kalian istirahat saja. Pasti kalian capek karena telah menempuh perjalanan jauh. Ibu akan membereskan kamar kalian dulu,"ujar ibu Kanaya.
"Biar aku bantu, Bu,"tawar Kanaya bergegas mengikuti ibunya masuk ke dalam salah satu kamar seraya membawa tas ransel yang berisi barang-barang nya dan Andi.
__ADS_1
"Kanaya, kamu layani suami kamu baik-baik! Senangkan hatinya! Jangan membantah apa katanya! Suami kamu sudah terlalu baik pada kita. Kamu mencari suami yang baik sampai ke ujung dunia pun belum tentu akan menemukan yang sebaik dia. Ibu tidak akan menganggap kamu anak ibu lagi, jika kamu mengecewakan Riandi,"ujar ibu Kanaya yang sedang memasang sarung bantal itu terlihat serius.
"Iya, Bu. Aku mengerti,"sahut Kanaya yang sedang memasang sprei.
Setelah selesai membereskan kamar, ibu Kanaya pun keluar dari kamar yang akan di tempati anak dan menantunya itu. Sedangkan Kanaya tetap tinggal di dalam kamar itu.
"Ndi, kamarnya sudah selesai di bereskan. Istirahat sana, gih!"ujar ibu Kanaya yang melihat Andi sedang menatap layar handphonenya.
"Iya, Bu,"sahut Andi kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah kamar tempat Kanaya berada.
"Cklek"
Andi membuka pintu dan melihat Kanaya sedang memasukkan pakaian mereka ke.dalam lemari.
"Bee, istirahatlah duluan. Aku masih menyelesaikan pekerjaan ku,"ujar Kanaya yang menoleh sebentar ke arah Andi.
Andi mengambil sebuah kotak kecil dari dalam tas ransel. Senyuman lembut pun terukir di bibirnya.
"Greb"
"Apa pekerjaan kamu itu lebih penting dari pada aku?" tanya Andi, lalu mengecup leher Kanaya.
"Astagaa.. Apa dia ingin melakukannya lagi? Tidakkah dia merasa lelah setelah berkendara begitu lama?" gumam Kanaya dalam hati yang benar-benar merasa heran dengan stamina tubuh suaminya itu.
"Aku punya sesuatu untuk mu. Aku harap kamu menyukainya,"ucap Andi seraya membuka kotak yang di pegang nya dengan posisi masih memeluk Kanaya dari belakang.
"Indahnya..,"gumam Kanaya melihat sepasang cincin di dalam kotak itu,"apa ini sogokan untuk meminta jatah?" gumam Kanaya dalam hati.
"Ini adalah cincin kawin kita. Maaf, karena agak terlambat, memberikannya padamu," ucap Andi seraya meraih jemari tangan Kanaya, lalu memakaikan cincin bertahtakan berlian putih yang berkilauan itu di jari manis Kanaya.
Kanaya mengambil cincin satunya lagi dari kotak itu, lalu memakainya di jari manis Andi untuk menyenangkan Andi. Dan memang benar, Andi merasa senang karena Kanaya berinisiatif untuk memakaikan cincin itu di jari manisnya.
"Cup"
Andi mengecup pipi Kanaya. Pemuda itu mengambil sesuatu dari kantong jaketnya. Sebuah kalung berliontin hati berwarna pink yang berkilauan di pakaikan Andi di leher Kanaya. Pemuda itu menyibak rambut Kanaya ke samping di depan dada agar lebih mudah mengaitkan pengait kalung itu.
__ADS_1
"Dia memberikan aku kalung? Ini indah sekali" gumam Kanaya dalam hati menatap kalung yang dipakaikan Andi. Sedangkan Andi baru selesai mengaitkan kalung itu.
"Apa kamu suka?" tanya Andi kembali memeluk Kanaya dan meletakkan dagunya di pundak Kanaya.
"Hum. Aku sangat menyukainya. Terimakasih," ucap Kanaya jujur dan tulus. Wanita itu nampak sangat senang dengan pemberian suaminya itu.
"Akhh! Bee..!"pekik Kanaya saat tiba-tiba Andi mengangkat tubuhnya.
"Astagaa..! Sepertinya dugaan ku benar, dia ingin melakukannya lagi. Dia memberikan hadiah padaku dengan imbalan menerkam aku?" gumam Kanaya dalam hati tanpa bisa menolak keinginan suaminya yang masih belum puas menikmati rasa yang baru beberapa kali dirasakannya itu.
Andi menggendong Kanaya ke arah ranjang, lalu membaringkan tubuh Kanaya di atas ranjang. Pemuda itu mengungkung tubuh istrinya itu dan langsung meraup bibir Kanaya dengan serakah. Dengan lincah bibir, lidah dan juga jemari Andi bergerak menelusuri dan menikmati tubuh Kanaya yang membuatnya merasa candu itu. Helai demi helai kain yang menempel di tubuh mereka pun satu persatu berserakan di lantai.
Kanaya pun hanya bisa merintih dan mendesahh menikmati sensasi geli dan nikmat, sekaligus merasakan tubuhnya meremang dan gelisah di saat yang bersamaan. Andi begitu pintar membuat dirinya terbuai dalam kenikmatan.
Hujan yang turun lumayan deras di luar sana membuat suara-suara laknat dari sepasang suami-isteri yang sedang bercinta itu tidak terdengar oleh ibu Kanaya. Udara di dingin malam itu tidak bisa mendinginkan tubuh sepasang suami-isteri yang memanas itu.
Andi terus bergerak cepat di atas tubuh Kanaya membuat keduanya meracau tidak jelas karena merasakan sensasi nikmat sekaligus gelisah yang bercampur menjadi satu dan semakin membuat candu. Pada akhirnya sepasang suami-isteri itu pun melengguhh bersamaan saat mereka sudah tiba di puncak kenikmatan yang tidak bisa mereka deskripsikan indah nya karena sangking nikmatnya.
"Bee.. Sudah, Bee!" pinta Kanaya seraya mendorong dada Andi yang hendak kembali mencium dan mencumbuii dirinya itu.
Padahal baru beberapa detik yang lalu mereka mendapatkan pelepasan. Bahkan saat ini tubuh mereka masih menyatu sempurna.
"Kenapa? Kamu tidak suka aku menyentuh dan menikmati tubuh mu?"tanya Andi yang terlihat kecewa dengan penolakan Kanaya.
"Bu.. Bukan! Aku hanya merasa lelah.saja, Bee. Besok aja ya, lagi?"tawar Kanaya berusaha bernegosiasi dengan Andi,"satu ronde saja durasinya begitu panjang dan membuat aku merasa kelelahan. Padahal aku hanya berada di bawah dan menikmati semua yang diberikannya. Eh, ini masih mau nambah,"gumam Kanaya dalam hati.
"Dia masih belum mau tidur, Ay. Aku akan tersiksa jika kamu tidak mau menidurkan dia," ucap Andi dengan wajah memelas.
Kanaya menghela napas panjang. Mengingat sudah begitu banyak yang dilakukan Andi untuknya, Kanaya pun mengelus dada Andi, mengisyaratkan dirinya bersedia melayani Andi lagi. Melihat hal itu, Andi pun tersenyum senang dan melanjutkan aktivitas nya.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1