
Wajah Andi tiba-tiba terlihat tegang. Pemuda itu berjalan mendekati Pak Hamdan yang terbaring di atas brankar dengan jantung yang berdetak kencang. Saat akan dimasukkan ke dalam helikopter, Sepintas Andi tidak sengaja melihat seperti ada tanda berwarna merah di antara ibu jari dan jari telunjuk Pak Hamdan.
Andi melihat tanda di tangan Pak Hamdan menggunakan senter di handphonenya. Agar bisa melihat dengan jelas tanda itu. Andi menatap nanar tanda merah di tangan ayah dari istri majikannya itu. Napas Andi terasa tercekat setelah memastikan apa yang dilihatnya sepintas tadi ternyata adalah benar.
Orang yang bernama Pak Hamdan ini memiliki tanda lahir berwarna merah di antara jari telunjuknya dan jari jempolnya. Rambut pria paruh baya itu keriting, namun Andi belum bisa melihat mata pria itu sayu atau tidak karena pria itu belum sadar.
"Tuan! Kami harus membawanya masuk atau tidak?"tanya salah seorang petugas medis yang mendorong brankar Pak Hamdan.
"Ah, iya. Bawa masuk dia!"ujar Andi yang sempat tertegun.
"Apakah Pak Hamdan.... Pak Hamdan adalah orang yang selama ini kami cari? Orang yang telah membunuh papa Tuan Rayyan?"gumam Andi dalam hati dengan ekspresi wajah yang sulit di deskripsikan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit yang ada di kota, Andi terdiam tanpa kata. Pikiran pemuda itu kalut. Andi tahu betapa dendamnya Rayyan pada orang yang telah membunuh papanya. Andi juga tahu, semenjak hidup bersama Aurora, insomnia yang dialami Rayyan sembuh dengan sendirinya. Insomnia yang di derita Rayyan sejak meninggalnya papanya.
Namun sekarang Andi malah menemukan fakta bahwa orang yang mereka cari selama ini, kemungkinan besar adalah ayah Aurora. Orang yang membunuh papa Rayyan. Karena ciri-ciri pembunuh papa Rayyan yang disebutkan Fina sama persis dengan ciri-ciri Pak Hamdan.
Lalu bagaimana jika Rayyan tahu, bahwa yang membunuh papanya adalah ayah mertuanya? Apa Rayyan akan membalas dendam? Lalu bagaimana dengan Aurora? Apa Rayyan akan membenci Aurora?
Semua pertanyaan itu benar-benar membuat pikiran Andi kalut. Apalagi saat ini Aurora sedang hamil besar. Mengandung anak majikannya sendiri.
"Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini? Bagaimana hubungan Tuan dan nyonya setelah mereka tahu jika Pak Hamdan adalah orang yang telah melenyapkan papa Tuan? Bagaimana nasib anak mereka nanti?"gumam Andi dalam hati.
Pemuda itu memijit pelipisnya sendiri. Tidak bisa memprediksikan apa yang akan terjadi setelah kebenaran ini terungkap. Hubungan antara Rayyan dan Aurora dan nasib anak majikannya lah yang membuat pikiran Andi jadi kusut.
"Apakah Tuan akan membenci nyonya dan anak mereka, jika Tuan tahu Pak Hamdan adalah orang yang telah melenyapkan papa Tuan? Aku harus menyadarkan Tuan agar tidak melanjutkan dendam ini. Jangan sampai dendam di masa lalu menghancurkan masa depan anak yang tidak bersalah dan tidak berdosa,"gumam Andi dalam hati.
Andi tidak ingin anak majikannya yang tidak berdosa menjadi korban dalam konflik yang terjadi di antara kedua orang tuanya.
Rayyan memeluk Aurora dari belakang. Mengusap lembut perut Aurora yang baru terlelap beberapa satu jam yang lalu. Sulit menenangkan Aurora, karena Aurora khawatir pada kedua orang tuanya. Aurora baru bisa terlelap setelah mendengar kedua orang tuanya akan di bawa Andi ke kota ini.
__ADS_1
"Mengapa perasaan ku jadi tidak enak begini, ya? Aku merasa ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi,"gumam Rayyan dalam hati.
Entah mengapa malam ini Rayyan merasa sangat gelisah. Pria itu begitu sulit untuk terlelap. Merasakan ada firasat yang tidak enak, tapi tidak tahu firasat apa itu.
Rayyan segera meraih handphonenya saat terdengar suara getar dari handphonenya yang ada di atas nakas. Tidak ingin Aurora yang susah payah terlelap terbangun.
"Sebentar!"ucap Rayyan pelan setelah menerima panggilan itu.
Rayyan meletakkan handphonenya dan menggantikan lengannya yang dijadikan Aurora sebagai bantal dengan bantal yang ada di dekatnya. Kemudian Rayyan beringsut duduk di tepi ranjang dan kembali menempelkan benda pipih berbentuk persegi panjang itu di telinganya.
"Katakan!"ucap Rayyan pada si penelpon yang tidak lain adalah Andi.
"Tuan, saya telah membawa Pak Hamdan dan Bu Ella ke rumah sakit terbaik di kota ini dan..."
"Bagaimana keadaan mereka menurut dokter di rumah sakit itu?"tanya Rayyan memotong kata-kata Andi.
"Sama dengan prediksi dokter di rumah sakit sebelumnya, Tuan. Bu Ella harus melakukan terapi agar bisa berbicara kembali dan Pak Hamdan, kemungkinan tidak lama lagi akan sadar. Tapi.."
"Sebaiknya Tuan datang ke sini untuk melihat sesuatu. Saya tidak bisa menjelaskan masalah ini lewat sambungan telepon,"ucap Andi dengan suara yang terdengar gusar.
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang juga,"ujar Rayyan kemudian menutup teleponnya.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa suara Andi terdengar gusar?"gumam Rayyan yang semakin merasa tidak tenang.
Rayyan bergegas mengganti pakaiannya. Setelah selesai mengganti pakaiannya, Rayyan mendekati Aurora dan mengecup lembut kening dan perut Aurora. Untuk beberapa saat, Rayyan mengelus perut Aurora, lalu pergi meninggalkan kamar itu. Rayyan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dengan perasaan tidak tenang.
"Ada apa ini? Kenapa hatiku semakin terasa tidak tenang? Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini selama hidupku, terkecuali saat papa akan meninggal dan saat ini. Tapi, saat ini rasanya lebih parah dari saat aku kehilangan papa waktu itu. Ya Tuhan, semoga ini bukan firasat yang tidak baik,"gumam Rayyan dalam hati.
Karena hatinya merasa tidak tenang dan gelisah, Rayyan tidak menyadari ada sebuah motor yang sedang mengikuti mobilnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Rayyan melihat Andi sudah berdiri di lobi rumah sakit dengan wajah yang terlihat tidak baik-baik saja.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat kusut seperti itu?"tanya Rayyan tidak sabar.
"Tuan, kemungkinan besar, Pak Hamdan, mertua anda adalah orang yang selama ini kita cari,"ucap Andi dengan ekspresi yang sulit untuk dideskripsikan.
"Maksud kamu?"tanya Rayyan dengan suara yang terdengar gusar dan bibir yang terlihat bergetar.
"Pak Hamdan, mertua anda memiliki tanda dan ciri-ciri seperti orang yang sudah melenyapkan papa anda. Orang yang telah menyuntikkan racun ke tubuh papa anda,"
"Apa?!"Rayyan nampak sangat terkejut mendengar penuturan Andi.
Rayyan nampak syok setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Andi. Andi bahkan tidak bisa mendeskripsikan raut wajah Rayyan saat ini.
"Pak Hamdan adalah ayah Aurora? Ini pasti tidak benar, 'kan? Tidak mungkin Aurora adalah anak dari orang yang telah melenyapkan nyawa papa ku. Ini tidak mungkin,"gumam Rayyan dalam hati.
Ada perasaan campur aduk di dalam hati pria itu. Terkejut, tidak percaya, tidak terima, bingung, berharap Pak Hamdan bukan orang yang melenyapkan nyawa papanya. Bagaimana dirinya akan menyikapi semua ini, jika Pak Hamdan adalah pembunuh papanya? Dirinya telah menikah dengan putri orang yang telah melenyapkan papanya. Dan bahkan saat ini istrinya sedang mengandung darah dagingnya. Pikirkan Rayyan saat ini benar-benar kalut.
"Untuk memastikan semuanya, saya sudah memanggil dokter Fina untuk melihat Pak Hamdan. Sebentar lagi dia pasti sudah datang,"sahut Andi menghela napas yang terasa sesak.
Bagi Andi, kebahagiaan Rayyan juga merupakan kebahagiaannya. Jadi, Andi juga merasakan perasaan yang campur aduk, sama seperti Rayyan. Andi tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika benar-benar Pak Hamdan adalah orang yang melenyapkan papa Rayyan.
Fina bergegas pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari Andi. Mendengar Andi menemukan orang yang ciri-cirinya seperti orang yang melenyapkan nyawa papa Rayyan membuat Fina merasa sangat penasaran. Pasalnya sudah lama sekali Rayyan mencari orang yang memiliki ciri-ciri seperti yang dilihatnya dulu.
Fina melihat Rayyan dan Andi yang berdiri di lobi rumah sakit. Wanita itu pun bergegas menghampiri kedua orang itu.
"Dimana? Dimana orang itu?"tanya Fina membuat Rayyan dan Andi langsung menoleh ke arah Fina.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued