Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
325. Pembicaraan Absurd


__ADS_3

Andi membuka matanya saat Lana bertanya soal orang yang bernama Neil. Pemuda itu menatap Lana seraya mengernyitkan keningnya.


"Neil? Neil yang mana maksud kamu? Neil Armstrong?"tanya Andi santai tapi tetap dengan gayanya yang datar.


"Tuan jangan bercanda! Untuk apa saya bertanya tentang Neil Armstrong? Semua orang juga tahu kalau Neil Armstrong itu orang yang pertama kali berjalan di bulan. Dan juga sudah meninggal pada tahun 2012 lalu,"sahut Lana dengan senyuman yang di paksakan karena kesal pada Andi.


"Karena itu aku bertanya padamu, Neil mana yang kamu maksud? Banyak orang yang bernama Neil,"ujar Andi dengan suara dan ekspresi datarnya.


"Saya hanya tahu namanya Neil dan orangnya tampan. Dia mengatakan, jika saya datang ke kota ini dan memerlukan bantuannya, maka saya bisa mencari dia,"jawab Lana serius.


Andi menghela napas panjang mendengar jawaban Lana. Pria itu kembali memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


Walaupun ada wajah seseorang yang muncul di ingatan Andi saat Lana menyebutkan nama Neil. Tapi seperti kata Andi tadi, banyak orang yang bernama Neil. Jadi, Andi belum mau mengatakan tentang orang yang bernama Neil yang di kenalnya dan diketahuinya juga berada di kota ini.


"Jawaban kamu itu kurang spesifik. Mencari orang hanya dengan bermodalkan informasi seperti itu tidak akan mudah. Lagi pula, jika dia mengatakan kamu bisa mencarinya di kota ini, seharusnya kamu memiliki cara untuk menemui dia bukan? Pasti dia memberikan alamat atau nomor handphone nya, pada kamu, 'kan?"tanya Andi yang masih enggan membuka matanya.


Pemuda itu nampak menutup mulutnya karena menguap. Andi memang sudah sangat lelah, hingga menyebabkan matanya jadi mengantuk.


"Saya kehilangan nomor handphonenya dan tidak tahu alamat rumahnya,"sahut Lana dengan ekspresi tidak berdayanya.


"Kalau seperti itu ceritanya, itu adalah salahmu. Tidak mudah mencari orang di kota sebesar ini dengan hanya bermodalkan nama saja,"sahut Andi kembali menutup mulutnya karena lagi-lagi pemuda itu menguap.


Lana menghela napas panjang mendengar kata-kata Andi. Semua yang dikatakan oleh Andi memang benar adanya. Namun harapan Lana saat ini hanyalah Neil. Karena Andi sudah terang-terangan mengatakan, jika Andi tidak mau terlibat dengan ayah sambungnya karena menolong dirinya.


Lana mengerti kenapa Andi seperti itu. Hal itu pasti karena ayah sambungnya yang bekerja sama dengan mafia. Tidak ada orang yang mau berurusan dengan mafia.


"Lagi pula, ayah sambung kamu itu bukan orang baik-baik, apa tidak sebaiknya kamu pulang saja? Mungkin ibumu akan di siksa pria tua itu jika kamu melarikan diri,"sambung Andi yang lagi-lagi menguap itu. Sepertinya pemuda itu benar-benar sudah mengantuk.

__ADS_1


"Pria itu tidak akan bisa menyakiti ibu saya lagi. Sebab ibu saya baru saja meninggal seminggu yang lalu karena terjatuh dari tangga,"sahut Lana dengan suara pelan dan kepala tertunduk. Gadis itu menggenggam erat kemasan susu di tangannya yang isinya sudah dihabiskan nya itu.


Andi membuka matanya mendengar perkataan Lana, menatap gadis itu yang terlihat sedih.


"Haiss.. Rumit sekali hidup kamu. Sudahlah! Sebaiknya kamu tidur! Jangan mengajak aku bicara lagi! Aku sudah sangat lelah dan mengantuk. Ingat! Tidurlah di sofa ini! Jangan coba-coba tidur di atas ranjang, atau aku akan melempar mu keluar dari kamar ini!"ujar Andi memperingati sekaligus mengancam Lana.


Andi kembali memejamkan matanya karena benar-benar sudah merasa lelah. Sedangkan Lana mulai berbaring di sofa panjang itu dan menutup tubuhnya dengan selimut yang ada di sofa itu. Andi memang sengaja menyiapkan selimut itu untuk Lana.


Keesokan harinya, Andi dan Lana terbangun karena mendengar suara ketukan di pintu kamar itu. Andi pun bergegas bangun dan membuka pintu kamar itu. Dan ternyata yang mengetuk pintu kamar itu adalah Rayyan. Pria beranak satu itu mengernyitkan keningnya saat melangkah masuk ke dalam kamarnya dan melihat Lana yang masih ada di kamar hotelnya itu.


"Kamu menginap dengan gadis itu?"tanya Rayyan menatap Andi.


"Dia meminta izin untuk bersembunyi di kamar ini sampai pagi ini. Saya mengizinkan dia tinggal di kamar ini karena semalam ada beberapa orang pria yang mencarinya,"sahut Andi jujur adanya.


"Kalian tidak berbuat macam-macam, 'kan, di kamar ku?"tanya Rayyan menatap ranjangnya, namun terlihat masih rapi dan sepertinya tidak ada yang tidur di atasnya.


Tatapan Rayyan kemudian beralih menatap Lana yang masih duduk di sofa memakai selimut, lalu menatap Andi,"Hei! Kenapa kamu memakai kemejaku? Kemeja ini di belikan oleh istri ku,"Rayyan nampak tidak terima saat melihat Andi memakai kemeja yang dibelikan oleh istrinya.


"Issh.. Tuan jangan pelit! Tuan bisa minta nyonya membelikannya lagi,"sahut Andi enteng.


"Aku akan memotong gajimu karena berani memakai kemeja yang dibelikan oleh istriku,"ujar Rayyan terlihat kesal.


"Tuan, Tuan tidak berhak memotong gaji saya. Seharusnya Tuan membayar uang kompensasi pada saya. Tuan telah menempatkan saya dalam posisi yang berbahaya. Tuan menyuruh saya ke kamar Tuan dan mengurus dia,"ucap Andi seraya menunjuk ke arah Lana.


"Saya hampir kehilangan keperjakaan saya karena gadis itu. Begitu saya masuk, dia langsung menyerang saya. Bahkan melepaskan pakaiannya di depan saya. Tuan sengaja, ya, menjebak saya dengan menyuruh saya masuk ke kamar tuan yang di dalamnya ada gadis yang sedang dalam pengaruh obat,"protes Andi yang merasa kesal jika mengingat kejadian semalam.


Sedangkan Lana hanya tertunduk malu mendengar perkataan Andi yang mengatakan dirinya membuka pakaiannya di depan Andi. Lana benar-benar tidak sadar saat melakukannya semalam, karena dalam pengaruh obat.

__ADS_1


"Benarkah? Mana ku tahu jika dia dalam pengaruh obat? Saat dia memaksa masuk ke dalam kamar ku dia terlihat baik-baik saja. Lagi pula, apa kamu bilang tadi? Dia melepaskan pakaiannya di depanmu? Berarti kamu melihat pemandangan indah secara live dan gratis, 'kan? Keindahan mana yang kamu dustakan? Seharusnya kamu berterima kasih pada ku. Jika aku tidak menyuruh mu ke kamar ku, kamu tidak akan melihat pemandangan itu secara live di depan matamu,"ujar Rayyan santai dengan ekspresi wajah tanpa dosanya.


Dalam hati Rayyan sangat bersyukur karena semalam langsung keluar dari kamar itu meninggalkan Lana dan memilih tidur di kamar hotel Andi. Jika tidak, Rayyan pasti akan mengalami apa yang di alami oleh Andi semalam.


"Haiss.. Tuan benar-benar tidak berperi pertemanan. Indah sih indah, dan jujur keindahannya tidak dapat saya dustakan. Tapi mata saya, 'kan jadi ternoda karenanya. Dan semua itu terjadi karena Tuan,"sahut Andi bersungut-sungut.


"Cih, bilang saja kamu menikmati pemandangan gratis itu,"cibir Rayyan.


Sedangkan Lana tertunduk malu mendengar pembicaraan dua orang pria dewasa yang menurutnya terlalu blak-blakan di depannya itu.


"Terimakasih, karena Tuan-tuan sudah mau menolong saya. Jika saya memiliki kesempatan, saya pasti akan membalas kebaikan tuan-tuan. Saya permisi,"ucap Lana dengan wajah tertunduk.


Lana merasa sangat malu mendengar pembicaraan majikan dan bawahan yang menurutnya absurd itu. Seolah tidak menganggap kehadiran dirinya di tempat itu. Gadis itu memilih untuk pergi dari tempat itu walaupun tidak punya arah dan tujuan hendak kemana.


"Tunggu! Jadi semalam kamu memang datang ke kamar ku untuk menjebak aku? Apalagi yang diinginkan oleh ayah sambung mu itu? Bukankah sudah aku katakan, bahwa aku hanyalah pria miskin?"tanya Rayyan menatap tajam pada Lana.


"Tidak. Semalam saya di paksa ayah sambung saya untuk melayani pimpinan mafia yang bekerja sama dengan dia. Saya melarikan diri dari kamar pimpinan mafia itu. Saya hanya kebetulan melintas saat anda membuka pintu kamar hotel anda dan terpikirkan untuk meminta tolong pada anda. Karena hati kecil saya merasa yakin jika anda adalah orang baik,"jawab Lana jujur adanya.


Rayyan hanya bisa menghela napas panjang mendengar pengakuan Lana.


"Hei, bukankah semalam kamu bertanya tentang orang yang bernama Neil?"tanya Andi membuat Lana yang baru saja mengayunkan kakinya beberapa langkah itu menghentikan langkah kakinya, lalu menatap Andi.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2