
Sejak melakukan kesepakatan mereka saat itu. Sumi dan Hendrik sering jalan berdua. Layaknya sepasang kekasih, Hendrik sering mengajak Sumi bepergian. Makan malam bersama ataupun pergi ke tempat-tempat yang biasanya di kunjungi sepasang kekasih. Hendrik juga memberikan berbagai macam hadiah. Walaupun Sumi sudah sering mengatakan tidak perlu membelikan apapun, tapi Hendrik tetap saja membelikannya.
Malam ini Sumi dan Hendrik makan malam di sebuah restoran bertema outdoor. Tempat yang terkesan romantis dengan hidangan yang menggugah selera. Dengan dua kursi yang saling berhadapan. Karena memang meja itu hanya diatur untuk sepasang kekasih. Jadi, hanya ada dua kursi di meja itu. Keduanya nampak menikmati makan malam yang tentunya dengan menu yang berbeda dengan restoran Sumi.
"Tunggu di sini sebentar, ya! Aku mau ke toilet dulu,"pamit Hendrik setelah mereka selesai makan malam.
"Hum,"sahut Sumi.
"Kenanga?"ucap seseorang setelah Hendrik pergi, membuat Sumi menoleh.
"Astagaa.! Pengusaha batu bara? Kenapa bisa bertemu di sini, sih?!"gumam Sumi dalam hati setelah melihat siapa yang ada di depan matanya saat ini.
Sumi tahu, hal seperti ini akan sering dijumpainya setelah dirinya melakukan operasi plastik. Namun, bukankah semua itu ada sisi positif dan negatifnya? Seperti yang dialami Sumi saat ini. Sumi mendapatkan keuntungan dengan jaminan hidup yang lebih baik setelah melakukan operasi plastik. Tapi, tentunya dengan risiko akan bertemu dengan para pelanggannya seperti ini.
"Kamu kemana saja? Aku sudah lama mencari kamu. Aku sangat merindukanmu. Kapan kita bisa menghabiskan malam bersama seperti dulu lagi?"tanya pria itu terlihat senang.
"Maaf! Saya sudah berhenti Tuan. Saya tidak menggeluti profesi itu lagi,"sahut Sumi dengan suara datar pada mantan pelanggannya itu.
Seorang wanita yang baru kembali dari toilet melihat pengusaha batu bara itu duduk di depan Sumi. Wanita itu nampak geram.
"Lagi-lagi dia. Dia selalu saja menganggu aku. Aku benar-benar ingin merusak wajahnya yang dibangga-banggakannya itu,"gerutu wanita yang tidak lain adalah Resti. Teman satu profesi dengan Sumi waktu di klub malam milik Mami dulu. Wanita itu nampak berjalan mendekati Sumi dan pengusaha batu bara yang rencananya akan menghabiskan malam dengan dirinya setelah makan malam nanti.
"Sekarang, kamu sudah berubah, ya?"ujar pengusaha batu bara itu terdengar agak kecewa setelah mendengar suara datar dan penolakan Sumi.
"Saya ingin memperbaiki diri saya. Umur saya semakin bertambah, tidak mungkin selamanya saya menjalani profesi itu,"
"Kalau begitu, bagaimana jika kamu menjadi istri ku saja. Aku akan mencukupi semua kebutuhan kamu. Tapi, terus terang aku tidak bisa menjadikan kamu istri sah ku,"
"Maaf! Saya memang bukan wanita baik-baik. Tapi, saya tidak ingin menganggu rumah tangga orang lain. Saya tidak ingin jadi pelakor. Lebih baik saya hidup sendiri, dari pada menjadi perusak rumah tangga orang lain,"ucap Sumi menatap serius pada pria di depannya itu, lalu menunduk menatap gelas jus nya, seraya mengaduk-aduk jus nya itu dengan sedotan.
"Sayang sekali. Padahal aku sangat menyukai kamu,"ucap pengusaha batu bara itu menatap Sumi lekat.
Masih teringat jelas di benak pria itu, bagaimana wanita cantik di depannya ini membuatnya selalu tidak berdaya di atas ranjang. Bagaimana pintarnya wanita ini memberikan kepuasan kepada dirinya di atas ranjang. Sehingga tidak sayang bagi pria itu untuk menghabiskan uang puluhan juta hanya untuk tidur dengan Sumi, walaupun hanya beberapa jam saja.
__ADS_1
Mengingat bagaimana nikmatnya bercinta dengan wanita di depannya itu saja sudah membuat sesuatu di balik celananya bereaksi.
"Shiitt! Wanita ini benar-benar membuat aku bergairaah. Hanya dia satu-satunya wanita yang benar-benar mumpuni di atas ranjang untuk memuaskan aku,"gumam pengusaha batu bara itu dalam hati.
"Bermalam lah dengan aku malam ini! Aku akan memberikan lima puluh juta jika kamu mau melayani aku malam ini,"pinta pengusaha batu bara itu dengan mata yang menelisik menatap wajah dan tubuh Sumi.
Hendrik yang sudah kembali dari toilet pun merasa geram saat melihat ada seorang pria yang menduduki tempat duduknya. Apalagi saat melihat tatapan mesum pria itu pada Sumi. Hendrik pun bergegas menghampiri Sumi.
"Ayo kita pulang!"ucap Hendrik dengan suara yang terdengar datar, menarik tangan Sumi.
Sumi terkejut saat melihat Hendrik sudah ada di sampingnya dan menarik tangannya. Sedangkan Resti yang sudah dekat dengan pengusaha batu bara itu pun menghentikan langkahnya. Wanita itu merasa sesuatu akan terjadi saat melihat wajah Hendrik yang terlihat tidak suka pada pengusaha batu bara itu.
"Cih! Dia selalu saja diperebutkan oleh para pria,"gumam Resti terlihat kesal dan benci pada Sumi.
"Hei! Apa-apaan kamu! Aku sedang bicara dengan dia,"protes pengusaha batu bara itu nampak tidak suka melihat Hendrik yang ingin membawa Sumi dari tempat itu. Sedangkan dirinya baru saja mau memulai bernegosiasi dengan Sumi.
"Aku tidak suka dia bicara dengan laki-laki yang tidak aku kenal,"ucap Hendrik menatap tajam pada pengusaha batu bara itu.
"Cih! Memangnya berapa kamu bisa membayarnya? Aku akan membayar dia dua kali lipat dari kamu membayarnya,"ucap pengusaha batu bara itu dengan nada sombong.
Sumi yang melihat ekspresi Hendrik pun jadi ketar-ketir jika sampai terjadi perkelahian di tempat itu.
"Hen, ayo kita pulang!"ucap Sumi seraya menarik tangan Hendrik. Tapi Hendrik melepaskan tangan Sumi yang memegangnya.
"Apa kamu bilang?"tanya Hendrik pada pengusaha batu bara dengan suara berat menahan emosi.
"Aku bilang, aku bisa membayar dia lebih dari kamu membayar dia. Berapa kamu membayarnya? Aku akan membayar dia dua kali lipat, kalau perlu tiga kali li... "
"Bugh"
"Bugh"
"Bajingan! Brengseek!"umpat Hendrik memukul wajah dan perut pengusaha batu bara itu hingga terduduk.
__ADS_1
Atensi pengunjung restoran di sekitar tempat mereka pun jadi terpusat pada dua orang yang sedang berselisih itu.
Walaupun tidak se-ahli Nala, tapi Hendrik lumayan jago berkelahi. Karena dulu zaman Hendrik sekolah, Hendrik sering berkelahi dengan sesama pelajar.
"Hen, hentikan!"ucap Sumi langsung menghalangi Hendrik yang ingin kembali memukul pengusaha batu bara itu.
"Minggir!"ucap Hendrik dengan suara berat menahan emosi.
"Jangan membuat keributan! Ayo, kita pulang! Jika kamu tidak ingin pulang, aku akan pulang sendiri,"ucap Sumi langsung pergi meninggalkan tempat itu. Tidak ingin keributan itu berlanjut. Hendrik mengusap wajahnya kasar, lalu menyusul Sumi.
"Shiitt! Kuat juga pukulan pria itu,"umpat pengusaha batu bara yang mendapatkan dua pukulan dari Hendrik itu sambil berusaha berdiri.
Resti yang melihatnya pun bergegas menghampiri dan membantu pengusaha batu bara itu berdiri.
"Ini! Kamu pulang saja! Aku tidak jadi menghabiskan malam ini bersama kamu,"ucap pengusaha batu bara itu seraya memberikan dua lembar uang berwarna merah pada Resti, lalu melangkah pergi seraya menahan rasa sakit di bibirnya yang pecah dan di ulu hatinya yang di pukul Hendrik tadi.
"Sial! Aku gagal dapat duit banyak gara-gara si Kenanga itu,"umpat Resti merasa kesal, karena tidak jadi mendapatkan uang yang lumayan besar dari pengusaha batu bara itu karena Sumi.
"Sayang!"panggil Hendrik mengejar Sumi,"Ayo, kita ke mobil kita,"ucap Hendrik lembut, langsung memegang tangan Sumi yang ingin berjalan menuju jalan raya.
"Lepaskan! Aku mau pulang!"ucap Sumi seraya menghentakkan tangannya yang dipegang Hendrik dengan nada kesal.
"Kita pulang bersama dengan mobilku. Jika kamu tidak mau, aku akan menggendong kamu ke mobil,"ancam Hendrik dengan nada suara yang berubah menjadi berat.
Sumi membuang napas kasar, lalu berjalan menuju mobil Hendrik. Setelah Sumi masuk ke dalam mobil, Hendrik pun melajukan mobilnya.
"Sayang.."
"Aku tidak ingin bicara apapun,"ucap Sumi memotong kata-kata Hendrik, membuang napas kasar,"Tolong antar aku pulang!"lanjut Sumi.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued