Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
390. Ngerumpi


__ADS_3

Hari beranjak pagi. Kanaya terbangun lebih dulu dari Andi. Kanaya menatap suaminya yang masih terlelap setalah semalam meminta jatah dua ronde dan membuat dirinya terkapar kelelahan. Rambut pria yang berhasil membuatnya meracau tidak jelas semalam itu terlihat acak-acakan karena ulahnya semalam. Namun, di mata Kanaya suaminya itu masih tetap terlihat tampan.


"Dia tidur dengan damai setelah membuat tubuh ku remuk redam. Apakah selamanya dia akan seperti ini? Aku harus segera turun dari ranjang ini sebelum dia bangun. Aku tidak mau di terkamnya lagi," gumam Kanaya dalam hati.


Dengan perlahan Kanaya melepaskan tangan Andi yang melingkar di perutnya. Dengan sangat hati-hati Kanaya turun dari ranjang. Kanaya benar-benar takut suaminya itu terbangun dan kembali menerkam dirinya.


Kanaya merasa lega setelah berhasil turun dari ranjang. Wanita itu melilitkan handuk di tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang. Handuk itu semalam di letakkan Andi di atas nakas sebelum mereka tidur.


"Aihh, aku gemas sekali melihat dada bidangnya yang berotot dan perutnya yang sixpack itu. Walaupun semalam aku sudah merabanya sesuka hati ku, tapi tetap saja aku masih ingin meraba nya," gumam Kanaya lirih yang entah mengapa kecanduan meraba dada dan perut suaminya.


"Aku harus bergegas membersihkan diri dan keluar dari kamar ini sebelum dia bangun," gumam Kanaya lirih bergegas membersihkan diri.


Beberapa menit kemudian, Kanaya pun selesai membersihkan diri, wanita itu lalu bergegas keluar dari kamar itu dan dengan sangat hati-hati membuka dan menutup pintu kamar itu agar tidak terlalu menimbulkan suara yang bisa membuat suaminya terbangun.


"Selamat! Selamat! Akhirnya aku bisa keluar dari kamar sebelum dia bangun,"gumam Kanaya yang berdiri di depan pintu dengan suara lirih.


Kanaya berjalan ke arah dapur dan melihat ibunya sudah ada di dapur sedang mengupas bawang.


"Kamu sudah bangun? Seharusnya, kamu temani saja dulu suamimu. Saat dia bangun, dia pasti akan mencari kamu," ujar ibu Kanaya yang melihat Kanaya masuk ke dapur dan sudah terlihat segar.


"Aku ingin ke pasar untuk membeli jajanan tradisional, Bu," sahut Kanaya seraya mengambil air minum.


"Kalau begitu, tolong sekalian belikan ibu bahan memasak. Kamu beli apa saja yang di sukai suamimu. Kamu sudah tahu apa saja yang di sukai suamimu, 'kan?"tanya ibu Kanaya seraya mengulurkan uang pada Kanaya.


"Tidak perlu, Bu. Aku punya uang sendiri yang diberikan oleh suamiku. Suamiku makannya tidak pemilih, kok, Bu. Dia memakan apa saja yang aku masak untuknya. Tapi yang pasti, dia suka makan buah-buahan. Kira-kira, hari ini enaknya masak apa, ya, Bu?"tanya Kanaya yang belum memiliki referensi untuk memasak. Wanita itu tidak mau menerima uang yang di berikan oleh ibunya.


"Kalau begitu, beli saja apa yang kamu suka. Beli yang masih segar, biar penampilannya setelah di masak semakin menggugah selera. Oh ya, sekalian tolong belikan juga bahan-bahan untuk membuat gado-gado, ya! Ini uangnya" pinta ibu Kanaya kembali menyodorkan uangnya pada Kanaya.


"Ibu masih jualan gado-gado?" tanya Kanaya masih tidak mau menerima uang dari ibunya.


"Masih. Ibu bosan kalau nggak ada kegiatan apapun,"


"Ya sudah, pakai uang aku saja, bu. Kalau begitu, aku pergi dulu, Bu. Biar dapat bahan masakan yang masih segar-segar,"pamit Kanaya.


"Iya, hati-hati!"ucap ibu Kanaya.

__ADS_1


"Iya,"sahut Kanaya.


Kanaya berjalan kaki ke arah pasar tradisional yang tidak terlalu jauh dari rumah yang disewa suaminya itu. Wanita itu terlihat sangat senang melihat semua yang di jual di pasar itu terlihat masih segar-segar.


Kanaya mampir ke salah satu lapak pedagang yang menjual berbagai macam sayuran segar. Pengantin baru itu mulai memilih sayuran yang ingin di belinya.


"Eh, Kanaya, ya? Bener, 'kan, ini Kanaya? Anak penjual gado-gado langganan saya? "tanya seorang ibu-ibu yang bisa di pastikan memiliki berat badan diatas rata-rata berat badan ideal, alias mengalami obesitas.


Obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure) dalam waktu lama. Atau lebih simpelnya, karena kalori yang masuk lebih banyak daripada yang dibakar melalui olahraga dan kegiatan normal sehari-hari.


"Iya, Bu,"sahut Kanaya tersenyum ramah.


"Waahh.. Sekarang kamu tambah cantik saja," puji wanita obesitas itu.


"Iya, benar. Sekarang Kanaya tambah cantik aja," sahut ibu-ibu yang memakai daster kuning.


"Dengar-dengar, kamu sudah menikah, ya? Kapan, nih, resepsi pernikahan nya? Nggak sabar saya pengen makan rendang,"ujar ibu-ibu yang mengalami obesitas itu tertawa renyah.


"Suami saya masih mendiskusikan hal ini pada ibu saya, Bu,"sahut Kanaya sambil terus memilih sayuran yang ingin di belinya.


"Pasti, Bu,"sahut Kanaya tersenyum tipis.


"Kata ibumu, sertifikat rumah kamu di tebus sama suami kamu, ya? Bahkan sekarang rumah kalian di bangun sama suami kamu. Suami kamu orang kaya, ya, Kanaya? "tanya ibu-ibu yang memakai kacamata. Wanita itu tersenyum saat tanpa sengaja melihat kalung dan cincin yang di pakai oleh Kanaya.


"Kaya atau tidaknya seseorang itu tergantung dari siapa yang menilai nya, Bu. Lagipula, untuk apa membanggakan kekayaan yang nyatanya hanya di titipkan Tuhan ke pada kita. Kapan pun, kekayaan yang hanya titipan ini bisa diambil-Nya,"sahut Kanaya yang sebenarnya tidak tahu seberapa kaya suaminya dan apa saja yang dimiliki suaminya.


"Ini, nih, yang saya suka dari Kanaya dan ibunya, nggak pernah sombong,"sahut ibu-ibu yang memakai daster berwarna kuning.


"Iya, ibu benar. Semenjak Kanaya menikah, sudah beberapa kali saya di beri oleh-oleh sama ibunya Kanaya. Tapi, sampai sekarang saya belum tahu, seperti apa wajah suaminya Kanaya,"sahut ibu-ibu yang memakai piyama.


"Begitulah kalau punya tetangga baik, kalau mereka sedang enak, kita juga kecipratan enaknya,"sahut ibu-ibu yang memakai kacamata kemudian terkekeh.


"Apa kamu pulang bersama suamimu, Kanaya?"tanya ibu-ibu yang mengalami obesitas.


"Iya, Bu,"sahut Kanaya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Wahh.. Kenalin, dong, suami kamu pada kami!"pinta ibu-ibu berkacamata.


"Iya, nih. kami penasaran banget seperti apa suami kamu,"ujar ibu-ibu yang memakai piyama.


"Jangan lupa mengundang kami, ya Kanaya, di resepsi pernikahan kalian?"pinta ibu-ibu yang memakai kacamata.


"Iya, Kanaya. Jangan lupa undang kami, ya!"sahut ibu-ibu yang memakai daster berwarna kuning.


"Iya, Bu,"sahut Kanaya tersenyum ramah.


Mereka pun kembali sibuk memilih sayuran. Sedangkan wanita tua pemilik lapak itu hanya mendengarkan ibu-ibu yang memilih sayur sambil ngerumpi itu.


"Eh, simpanan om-om lagi pulang kampung, ya? Jangan-jangan, om-om nya lagi menghabiskan waktu dengan istri sahnya, makanya simpanannya pulang,"


Kanaya menghela napas panjang mendengar suara yang sangat familiar di telinganya itu. Suara itu adalah suara ibu dari mantan pacarnya. Wanita yang tidak setuju dirinya menjadi pacar anaknya, apalagi pendamping hidup anaknya.


"Siapa yang simpanan om-om?" gumam wanita yang mengalami obesitas itu mantap ibu-ibu yang sedang memilih sayuran.


Namun ibu-ibu itu malah menghela napas panjang dan menggelengkan kepala mereka pelan. Karena mereka sudah mendengar tentang wanita yang bak toko emas berjalan itu pernah menghina Kanaya dan ibunya habis-habisan. Dan hal itu, karena wanita itu tidak suka putranya berpacaran dengan Kanaya. Mereka yakin, jika yang di maksud wanita itu adalah Kanaya.


Wanita tua yang memiliki lapak itu pun bingung menatap semua pembelinya yang terdiam dan tidak memedulikan wanita yang bab toko emas berjalan itu.


Kanaya yang sedang memilih mentimun pun mengacuhkan wanita paruh baya yang seperti toko emas berjalan itu. Seolah pengantin baru itu tidak mendengar apapun.


"Heh! Orang miskin! Aku bicara sama kamu! Beraninya mengabaikan aku! Dasar orang miskin tak punya tata krama! Tidak sopan!" sergah wanita paruh baya itu karena merasa kesal di cuekin Kanaya.


Kanaya masih memilih mentimun tanpa memedulikan wanita paruh baya itu. Kanaya merasa malas berdebat dengan siapapun. Apalagi berdebat dengan ibu dari mantan pacarnya itu.


"Akkh! Lepaskan!"pekik Kanaya saat tiba-tiba ibu dari mantan pacarnya itu menarik tangannya.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2