
Dua jam yang lalu, Andi sudah tiba di rumah. Pemuda itu memakai baju tidur model piyama dan mulai membuka laptopnya. Memeriksa file-file dan juga proposal kerjasama yang diajukan oleh beberapa perusahaan pada perusahaan Rayyan. Namun atensi pemuda itu teralihkan saat mendengar suara getar dari handphone nya yang menandakan ada panggilan masuk.
Andi mengernyitkan keningnya saat melihat yang menghubungi dirinya adalah anak buahnya yang ditugaskan untuk mengawasi Sumi.
"Ada apa?"tanya Andi to the point setelah mengangkat panggilan masuk itu.
"Ada pergerakan lima orang yang mencurigakan di depan restoran nona Sumi, Tuan. Sepertinya mereka akan melakukan sesuatu ,yang tidak baik,"sahut anak buah Andi.
"Okey, aku on the way ke sana,"ucap Andi langsung menutup laptopnya, mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar dari kamarnya.
Kebetulan Andi melihat Hendrik yang baru saja hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Dengan cepat Andi menghampiri Hendrik.
"Ikut saya, Tuan!"ucap Andi seraya menarik tangan Hendrik.
"Hei! Lepaskan! Kamu mau membawa aku ke mana? Aku mau istirahat,"bentak Hendrik yang tiba-tiba ditarik Andi.
"Ini urgent, Tuan. Mungkin anda punya kesempatan untuk jadi pahlawan malam ini,"ujar Andi terus menarik Hendrik ke luar rumah menuju mobilnya.
"Jadi pahlawan apaan? Pahlawan tak dikenal? Atau pahlawan tak dikenang?"celetuk Hendrik, tapi terus mengikuti langkah kaki Andi yang masih terus menarik tangannya.
"Pahlawan kesiangan,"sahut Andi asal.
"Sebenarnya kita mau kemana tanya Hendrik pada akhirnya setelah mereka masuk ke dalam mobil Andi.
"Ke restoran Nona Sumi,"sahut Andi seraya melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
"Apa?! Ke restoran Miti? Aku tidak mau! Turunkan aku! Aku tidak mau ke sana. Aku tidak mau menjilat ludahku sendiri. Aku sudah berjanji untuk tidak menemui dia lagi,"ujar Hendrik yang tidak mau melanggar janjinya sendiri.
"Anda punya prinsip juga. Good! ( Bagus!) Saya sangat menghargainya. Itu namanya baru pria sejati,"ucap Andi yang langsung menginjak pedal gas nya setelah keluar dari kediaman majikannya.
"Woi! Pelan-pelan! Aku belum menikah. Jangan bawa mobil kayak Valentino Rossi! Aku tidak mau menginap di rumah sakit karena kamu,"ujar Hendrik yang terkejut saat tiba-tiba Andi menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Tenang saja, Tuan. Saya tidak akan seperti Valentino Rossi saat bawa mobil rally. Saya akan berkendara seperti Lewis Hamilton,"ujar Andi yang terlihat santai mengendarai mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Aku sudah bilang, aku tidak mau ke restoran Miti. Aku tidak mau melanggar janji ku sendiri!"ketus Hendrik.
"Ckiiitt"
__ADS_1
"Woi! Apa kamu ingin membuat aku celaka?! Jika seperti ini, kamu akan melukai wajah tampan ku ini!"protes Hendrik saat tiba-tiba Andi mengerem mobilnya.
"Tuan cerewet sekali. Turun sekarang juga! Biar saya saja yang jadi pahlawan nona Sumi. Cepat turun!"ketus Andi.
"Apa maksud kamu? Memangnya ada apa dengan Miti?"tanya Hendrik terlihat khawatir.
"Sudah saya bilang, ini urgent. Tapi Tuan cerewet sekali. Ada lima orang pria yang terlihat mencurigakan mengawasi restoran nona Sumi,"jelas Andi.
"Apa?! Cepat jalan! Kita ke sana. Ayo cepat jalan!"bentak Hendrik yang jadi tambah khawatir mendengar ada yang tidak beres di tempat wanita yang dicintainya.
"Makanya kalau orang ngomong itu di dengarkan! Jangan protes mulu!"ketus Andi kembali melajukan mobilnya.
Andi melirik handphone nya yang berdering. Pemuda itu mengangkat panggilan masuk dari anak buahnya dan mengaktifkan mode loud speaker.
"Katakan!"ucap Andi terdengar datar.
"Salah seorang pria itu menyandera pengunjung restoran nona Sumi, Tuan. Apa kami harus bertindak?"tanya anak buah Andi yang bertugas mengawasi Sumi.
"Asal tidak ada yang terluka, biarkan saja dulu. Aku ingin tahu, lima orang itu bergerak sendiri atau ada orang di belakang mereka,"sahut Andi yang tetap fokus pada jalan raya. Sedangkan Hendrik diam sambil mendengarkan percakapan Andi dengan anak buahnya.
"Baik, tuan,"sahut anak buah Andi.
"Bagaimana?"tanya Andi masih fokus mengemudi.
"Tuan, mereka memukul sandera hingga pingsan, lalu meninggalkannya. Tapi mereka juga memukul nona Sumi sampai pingsan dan membawa nona Sumi ke dalam mobil mereka,"lapor anak buah Andi.
"Awasi terus! Jangan melakukan apapun tanpa izin dariku!"titah Andi langsung menutup panggilan, membuat Hendrik membulatkan matanya.
"Hei! Kenapa kamu tidak menyuruh anak buah kamu menolong Miti! Bagaimana jika mereka melakukan sesuatu pada Miti?"protes Hendrik.
"Mereka di dalam mobil berenam. Tidak mungkin mau melakukan sesuatu pada nona Sumi di dalam mobil, Tuan,"sahut Andi santai.
"Tapi bisa saja mereka menyentuh dan mencium Miti,"bentak Hendrik terlihat geram pada Andi.
"Apa Tuan tidak mau mencari orang yang menjadi dalang penculikan nona Sumi? Jika anak buah saya menolong nona Sumi sekarang, kita tidak akan tahu siapa dalang di balik penculikan ini. Saya yakin, ke lima orang itu hanya orang-orang suruhan. Jika kita tidak menangkap dalang dibalik penculikan ini, bisa saja lain kali orang ini kembali mencoba mencelakai nona Sumi,"ujar Andi serius.
Hendrik terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Andi. Benar kata Andi, mereka harus mencari dalang di balik penculikan ini. Karena, jika misi penculikan kali ini gagal, bukan tidak mungkin orang itu akan kembali menyusun rencana untuk mencelakai Sumi.
__ADS_1
Akhirnya Hendrik tidak lagi protes dan mengikuti pengaturan dari Andi. Namun, sepanjang perjalanan, Hendrik terlihat tidak tenang dan khawatir. Hingga akhirnya anak buah Andi kembali menelpon.
"Tuan, anda benar. Ada orang yang menyuruh mereka. Dia seorang wanita, tapi kami tidak bisa melihat wajahnya karena dia memakai masker,"lapor anak buah Andi.
"Tangkap dia! Aku akan mengejar lima orang brengseek itu,"sahut Andi.
"Baik, Tuan,"sahut anak buah Andi.
Andi terus melajukan mobilnya dengan kencang untuk menyusul mobil yang membawa Sumi sesuai informasi dari anak buahnya. Sedangkan Hendrik terlihat semakin tidak tenang.
"Kenapa Tuan khawatir seperti itu? Nona Sumi, 'kan, sudah menolak Anda. Jadi, anda tidak perlu khawatir seperti itu,"ujar Andi santai, melirik Hendrik sekilas.
"Walaupun dia menolak aku, tetap saja aku tidak rela jika dia di sentuh sembarang orang,"sahut Hendrik jujur adanya.
"Cinta memang ajaib. Padahal sudah ditolak, diacuhkan dan di abaikan, tapi masih saja tetap cinta. Tetap peduli, sayang dan perhatian,"gumam Andi menghela napas panjang. Namun sesaat kemudian terbit senyuman miring di bibir pemuda itu.
"Cekiiit"
Andi tiba-tiba memotong jalan mobil yang baru saja di dahului nya. Mobil yang tidak lain adalah mobil para preman yang membawa Sumi.
"Brengseek!"umpat para preman itu saat tiba-tiba ada mobil yang memotong jalan di depan mereka.
Andi dan Hendrik turun dari mobil mereka. Hendrik terlihat emosi, sedangkan Andi terlihat santai. Dari mobil para preman itu, cuma dua orang saja yang keluar dari dalam mobil.
"Lepaskan wanita yang kalian bawa!"titah Hendrik dengan wajah penuh amarah, tapi para preman itu malah tertawa.
...🌸❤️🌸...
Notebook :
•Di MotoGP, Valentino Rossi terkenal sebagai pembalap yang punya gaya berkendara halus.
Namun saat bawa mobil rally, aksi Rossi sangar dan ugal-ugalan meskipun penuh perhitungan.
Rally adalah olahraga otomotif yang menggunakan mobil khusus yang telah dimodifikasi agar bisa melalui jalanan tanah (dirt) atau jalanan dengan medan cukup berat.
Sir Lewis Carl Davidson Hamilton MBE, atau lebih dikenal dengan nama Lewis Hamilton adalah seorang pembalap profesional dari Britania Raya, yang saat ini membalap untuk Mercedes di Formula Satu. Sekarang, ia memiliki gelar dunia terbanyak, yakni 7, dan juga kemenangan, pole position, dan finis podium terbanyak. Wikipedia
__ADS_1
.
To be continued