
"Em.. Ada Tuan Bima mencari anda, nyonya,"ucap pelayan itu.
"Buatkan minuman untuknya, aku akan menemuinya,"ucap Aurora seraya menutup pintu kamarnya. Aurora nampak tidak suka dengan pelayan itu yang mencuri-curi pandang, melihat ke dalam kamarnya itu.
"Baik, nyonya,"sahut pelayan itu.
"Kenapa semenjak ada Tuan, nyonya terlihat tidak suka padaku, ya? Apa dia takut, suaminya naksir sama aku?"gumam pelayan itu dalam hati dengan percaya dirinya. Padahal tidak memiliki kelebihan apapun dibandingkan Aurora.
"Aku jadi tidak suka dengan pelayan itu. Dia seperti mencari kesempatan untuk melihat suamiku. Tapi, nanggung juga mau mencari pelayan yang baru untuk menggantikan dia. Karena aku yakin, sebentar lagi Rayyan pasti akan membawa kami pulang,"gumam Aurora dalam hati, seraya berjalan menuju ke arah ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, Aurora melihat Bima yang sudah duduk di sofa.
"Ra, ada apa kamu menelpon aku berkali-kali? Apa ada masalah?"tanya Bima yang terlihat khawatir. Namun Bima melihat penampilan Aurora hari ini nampak berbeda. Hari ini Aurora terlihat lebih cantik dari biasanya.
"Iya, tadi siang memang sempat ada masalah. Tapi sudah selesai, kok,"sahut Aurora tersenyum tipis.
"Maaf, handphone ku tadi tertinggal. Jadi, aku tidak tahu jika kamu menghubungi aku,"ucap Bima penuh sesal.
"Sayang!"
Suara bariton itu mengalihkan atensi Bima dan Aurora yang sedang berbincang itu.
"Aku di ruang tamu, Ray,"sahut Aurora bersamaan dengan pelayan muda yang mengantarkan minuman.
"Apa akan ada pertunjukan laga secara live lagi?"gumam pelayan itu di dalam hati.
"Tugasmu sudah selesai, 'kan? Kembalilah ke dapur!"ucap Aurora datar pada pelayan itu. Karena pelayan itu masih berdiam di ruangan tamu itu setelah selesai menyuguhkan minuman untuk Bima.
"Iya, nyonya,"sahut pelayan itu seraya tersenyum. Senyuman yang sejatinya dipaksakan,"Nyonya Aurora jadi menyebalkan sekali semenjak ada Tuan Rayyan,"gerutu pelayan itu dalam hati seraya beranjak pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Bima mengernyitkan keningnya mendengar Aurora seperti menyahuti panggilan sayang dari seorang pria itu. Tak lama kemudian, Bima melihat seorang pria dengan postur tubuh tinggi, tegap, proposional, dengan wajah tampan yang mirip orang Turki masuk ke ruangan tamu itu.
"Suami Aurora ada di sini? Jadi ini alasannya kenapa hari ini Aurora terlihat lebih cantik dari biasanya?"gumam Bima dalam hati yang agak terkejut melihat Rayyan.
Bima merasakan aura yang mendominasi dari pria yang merupakan suami dari mantan pacarnya itu. Mantan yang sampai saat ini belum bisa dilupakannya dan belum bisa di keluarkan Bima dari dalam hatinya.
"Ray, ini temanku. Namanya Bima. Bim, ini suamiku, Rayyan,"Aurora memperkenalkan Bima dengan suaminya. Senyuman tipis terlihat di bibir Aurora, wanita terlihat bangga pada suaminya.
"Ohh . Teman tentara kamu yang membantumu kamu melarikan diri dan bersembunyi itu, ya?"sahut Rayyan duduk di sebelah Aurora seraya memicingkan sebelah matanya menatap Bima.
Wajah yang cukup tampan dan tentunya postur tubuh yang tegap dan kekar karena menjalani pelatihan militer. Belum lagi setiap pagi sebelum melaksanakan aktivitas rutin, anggota militer diwajibkan melaksanakan olahraga minimal satu jam.
Hal itu bertujuan untuk membuat keteraturan dan keseimbangan berat badan anggota militer. Agar terpelihara kesehatan tubuh serta menjadikan badan lebih bugar, sehingga dengan badan yang bugar serta fisik yang baik akan sangat membantu dalam menjalankan tugas sehari-hari.
"Ray, sebelumnya kita sudah membahas masalah ini. Bima tidak bersalah dalam hal ini. Dia melakukan itu atas permintaan ku,"sahut Aurora yang terlihat merajuk.
"Okey.. Okey.! Aku tidak akan membahas masalah itu lagi,"sahut Rayyan seraya merangkul pundak istrinya mesra. Menunjukkan pada Bima, bahwa Aurora adalah miliknya. Jujur, Rayyan dapat melihat dan merasakan, jika Bima menyimpan rasa pada istrinya.
Dada bima terasa sesak, menyadari bahwa wanita yang di cintainya ternyata mencintai Rayyan. Bahkan Aurora sepertinya mencintai pria itu lebih dari mencintai dirinya dulu.
"Apa ada hal penting, hingga malam-malam begini anda datang kemari?"tanya Rayyan penuh karisma dan wibawa.
"Tadi siang Aurora menelpon saya berkali-kali. Tapi saya tidak tahu karena handphone saya tertinggal di rumah. Saya baru tahu setelah pulang kerja. Saya hubungi balik, tapi nomor Aurora malah tidak aktif. Jadi saya khawatir terjadi sesuatu pada Aurora dan memutuskan untuk kesini melihat keadaan Aurora,"jelas Bima terlihat tenang, tegas dan jujur adanya.
Rayyan menatap Aurora setelah mendengar penjelasan dari Bima. Seolah sedang bertanya dan menginginkan jawaban dari Aurora.
"Aku tadi siang menghubungi Bima karena ingin minta tolong pada Bima. Tapi, kamu sudah datang dan menangani semuanya. Jadi, sekarang tidak ada masalah lagi. Handphone ku, mungkin baterainya habis. Aku lupa, dimana aku menaruh nya,"sahut Aurora yang mengerti dengan arti tatapan mata suaminya itu.
"Syukurlah jika tidak ada masalah lagi,"sahut Bima,"Em.. Maaf, Tuan Rayyan, sewaktu saya akan masuk ke rumah ini, saya merasa ada beberapa orang yang sedang mengawasi rumah ini,"ujar Bima yang merasa khawatir dengan keselamatan Aurora.
__ADS_1
"Anda benar-benar seorang prajurit yang teliti. Mereka adalah orang-orang saya,"puji Rayyan tersenyum tipis.
"Anda terlalu memuji. Syukurlah kalau mereka adalah orang-orang anda,"ujar Bima bernapas lega,"Karena semuanya baik-baik saja, saya permisi pulang,"pamit Bima.
"Silahkan! Dan terimakasih karena selama ini sudah menjaga istri saya. Bahkan sampai datang ke sini malam-malam begini dengan masih menggunakan seragam seperti itu hanya untuk memastikan keadaan istri saya,"ucap Rayyan dengan senyuman yang misterius, menekan nada bicaranya setiap kali menyebut kata 'istri saya'.
"Apa maksud Rayyan berbicara seperti itu?"gumam Aurora dalam hati seraya melirik suaminya yang tersenyum misterius.
"Aurora adalah teman saya. Jadi, saya berusaha melakukan yang terbaik untuk Aurora. Bukan cuma pada Aurora saja. Pada teman saya yang lain juga sama. Baik itu laki-laki ataupun perempuan,"ujar Bima yang tidak ingin Rayyan berpikir macam-macam pada dirinya dan Aurora.
Bima merasa Rayyan menatapnya penuh arti dan bicaranya juga penuh arti. Apalagi saat pria itu mengatakan kata 'istri saya'. Bima merasa, secara tidak langsung Rayyan seperti menegaskan bahwa Aurora adalah istrinya dan mengatakan jika perhatian Bima pada Aurora agak berlebihan.
Walaupun kenyataannya memang demikian. Namun Bima berusaha menutupinya dan tidak ingin Rayyan mengetahuinya. Karena Aurora sepertinya juga tidak menceritakan tentang hubungan mereka di masa lalu. Bima juga tidak ingin menyinggung pria yang sudah menjadi suami Aurora itu.
Bima sudah banyak mendengar bagaimana sifat orang yang menjadi suami mantan pacarnya itu. Bima sudah sangat beruntung karena Rayyan tidak mempermasalahkan tentang dirinya yang membantu Aurora kabur dan menyembunyikan Aurora.
"Syukurlah jika anda akan melakukan hal yang sama seperti itu pada semua teman anda. Bukan pada istri saya saja,"ucap Rayyan masih dengan senyuman penuh arti, membuat Bima tersenyum kecut.
"Kalau begitu, saya, pamit,"ucap Bima lagi, kemudian meninggalkan rumah itu.
"Kenapa aku merasa Rayyan curiga pada Bima, ya?"gumam Aurora dalam hati seraya melirik suaminya.
"Aku sudah tahu, jika kita tidak mungkin lagi bisa bersama. Aku sudah tahu, jika kamu tidak lagi mencintai aku. Tapi, entah mengapa hatiku sulit untuk melupakanmu. Entah mengapa, aku masih tetap mencintai kamu. Dadaku terasa sesak saat melihat kamu bahagia bersama pria lain,"gumam Bima dalam hati.
Bima tidak menyadari jika ada sebuah taksi online yang baru saja berhenti. Dan orang didalam taksi itu nampak memperhatikan Bima.
"Kamu pasti merasa sangat senang selama tinggal di sini. Karena sepertinya di sini kamu memiliki banyak pengagum,"ujar Rayyan terdengar datar.
"Jangan bilang kalau kamu cemburu pada Bima,"tebak Aurora seraya memicingkan sebelah matanya.
__ADS_1
...🌸❤️🌸...
To be continued