
Mobil Rayyan terus melaju. Sedangkan Rayyan kembali fokus pada handphonenya untuk mengalihkan pikiran mesumnya pada Aurora. Tidak ingin lagi lepas kendali. Sedangkan Aurora memilih melihat ke arah luar kaca mobil. Walaupun sesekali melirik ke arah Rayyan.Tidak ada pembicaraan apapun diantara sepasang suami-isteri itu.
"Tuan Andi, kita mau ke restoran mana?"tanya sang supir yang belum tahu kemana arah tujuan mereka.
Andi menoleh ke belakang yang masih tertutup sekat. Kemudian terlihat berpikir sebentar.
"Kita ke restoran dekat stadion aja. Aku rasa, di sana tempat yang cocok,"ujar Andi yang enggan bertanya pada majikannya. Karena takut menganggu.
"Baik, Tuan,"sahut sang supir.
Beberapa menit kemudian, mobil Rayyan pun sudah berhenti di sebuah restoran. Andi dan supir pribadi Rayyan pun membukakan pintu mobil untuk majikan mereka.
"Tuan, saya telah me-reservasi tempat untuk Tuan dan nyonya makan malam. Mari!"ucap Andi mengarahkan kedua majikannya ke restoran.
Andi me-reservasi tempat makan malam istimewa untuk majikannya di sebuah restoran. Rayyan memeluk pinggang Aurora dengan mesra, membuat beberapa pengunjung restoran memperhatikan keduanya. Aurora bersikap biasa, walaupun sebenarnya agak merasa risih dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Sedangkan Rayyan nampak datar-datar saja.
Tak lama kemudian mereka pun tiba di tempat yang sudah di reservasi oleh Andi.
Tempat makan malam yang menyuguhkan pemandangan kota dari dinding kacanya. Semua tertata rapi dan terlihat romantis. Aurora yang baru seumur hidupnya pergi ke tempat seperti ini pun merasa sangat takjub.
"𝘼𝙠𝙪 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧, 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙝𝙖𝙡 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙘𝙖𝙢 𝙞𝙣𝙞 𝙙𝙞 𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙩𝙚𝙡𝙚𝙫𝙞𝙨𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙙𝙧𝙖𝙢𝙖-𝙙𝙧𝙖𝙢𝙖 𝙧𝙤𝙢𝙖𝙣𝙩𝙞𝙨 𝙨𝙖𝙟𝙖. 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖, 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙥𝙤𝙨𝙞𝙨𝙞 𝙞𝙣𝙞. 𝙈𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙧𝙤𝙢𝙖𝙣𝙩𝙞𝙨 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙠𝙪,"gumam Aurora dalam hati. Menatap takjub tempat mereka makan malam.
"Duduklah!"pinta Rayyan seraya menarik kursi untuk Aurora duduk.
"Terimakasih!"ucap Aurora menatap Rayyan dengan seulas senyum tipis tapi menawan.
"Deg"
Rayyan sempat tertegun beberapa saat ketika melihat Aurora yang tersenyum untuk pertama kalinya pada dirinya. Senyuman yang terlihat tulus dan baru kali ini di lihat Rayyan. Pria itu pun tersenyum tipis pada Aurora.
"𝘼𝙥𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢?"gumam Rayyan dalam hati.
"Apa kamu menyukainya?"tanya Rayyan yang melihat Aurora nampak senang menatap pemandangan di luar dinding kaca.
"Aku suka,"sahut Aurora menatap Rayyan dengan senyuman.
Tanpa sadar, Rayyan pun ikut tersenyum saat Aurora menatapnya dengan seulas senyum di bibirnya. Keduanya saling menatap dalam diam. Tanpa sadar saling mengagumi.
__ADS_1
"𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙩𝙖𝙝𝙪, 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙢𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢. 𝘽𝙚𝙩𝙖𝙥𝙖 𝙗𝙤𝙙𝙤𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙞𝙣𝙞,"gumam Rayyan dalam hati.
"𝘽𝙖𝙧𝙪 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙙𝙞𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢. 𝘿𝙞𝙖 𝙨𝙖𝙣𝙜𝙖𝙩 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙩𝙚𝙧𝙨𝙚𝙣𝙮𝙪𝙢,"gumam Aurora dalam hati.
"Makanlah! Katakan saja jika ada yang lain yang ingin kamu makan!"ucap Rayyan membuat Aurora terkesiap dan langsung menundukkan kepalanya. Pipinya terlihat memerah karena malu.
"I.. iya,"sahut Aurora gelagapan.
"𝘼𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖𝙖..! 𝘼𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 𝙗𝙖𝙨𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙜𝙪𝙢𝙞 𝙬𝙖𝙟𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣. 𝙈𝙚𝙢𝙖𝙡𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙡𝙞!"gerutu Aurora dalam hati.
"𝘿𝙞𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩 𝙞𝙢𝙪𝙩 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙢𝙖𝙡𝙪,"gumam Rayyan tersenyum tipis menatap Aurora.
Akhirnya mereka pun menikmati makan malam mereka dengan tenang. Pemandangan di luar dinding kaca itu benar-benar menarik perhatian Aurora. Malam itu, Aurora merasa Rayyan sangat berbeda. Ada senyuman di wajah kaku, dingin dan datar pria itu. Dan hal itu membuat suasana di antara mereka terasa hangat.
Tanpa terasa, makan malam itu pun selesai. Rayyan memeluk pinggang Aurora keluar dari restoran itu dengan mesra. Tak ayal, hal itu pun kembali menjadi perhatian para pengunjung restoran.
Rayyan menundukkan kepalanya, kemudian berbisik pada Aurora,"Apa kamu ingin kita menginap di hotel?"tanya Rayyan membuat Aurora membulatkan matanya.
"Tidak! Aku ingin pulang!"sahut Aurora cepat.
Entah mengapa mendengar Rayyan mengajaknya menginap ke hotel membuat otaknya traveling. Padahal walau di rumah pun, Rayyan tetap meminta jatahnya.
Selama perjalanan pulang, Aurora menatap pemandangan malam dari dalam mobil. Sedangkan Rayyan, semenjak masuk ke dalam mobil tadi menerima telepon dari seseorang. Pria itu berbicara menggunakan bahasa asing yang tidak dimengerti oleh Aurora.
"Satu hari? Kalau dalam waktu dekat ini tidak bisa Tuan,"sahut Andi mengingat padatnya jadwal Rayyan.
"Cari cara supaya bisa!"ujar Rayyan datar. Sedangkan Aurora hanya diam.
"Baiklah, setengah hari. Besok dari siang, saya akan mengosongkan jadwal Tuan. Dan besoknya harus berangkat pagi seperti biasanya,"ujar Andi.
"Apa harus pagi-pagi sekali? Tidak bisakah jam sepuluh siang saja aku ke kantor?"tanya Rayyan.
"𝙈𝙚𝙢𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙠𝙚 𝙢𝙖𝙣𝙖, 𝙨𝙞𝙝?"gumam Aurora dalam hati merasa penasaran, tapi tidak berani bertanya pada Rayyan.
"Memangnya, Tuan mau kemana?"tanya Andi yang sama pula dengan pertanyaan Aurora.
"Aku akan mengatakannya padamu besok,"sahut Rayyan yang membuat Andi dan Aurora semakin penasaran.
Setelah tiba di rumah, Aurora bergegas membersihkan diri. Malam ini Aurora merasa senang karena Rayyan mengajaknya makan malam romantis.
__ADS_1
"Aku berharap, hubungan kami bisa lebih baik lagi. Dia tampan sekali saat tersenyum,"gumam Aurora di dalam kamar mandi, mengingat saat Rayyan tersenyum di restoran tadi. Senyuman hangat yang sebelumnya belum pernah di lihat Aurora.
Setelah selesai membersihkan diri, Aurora keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai bathrobe. Aurora melihat Rayyan sudah bertelanjang dada.
"Greb"
Tiba-tiba Rayyan memegang tangan Aurora yang hendak berjalan ke walk-in closet, lalu memeluk Aurora dari belakang.
"Ray, aku ingin memakai baju,"ucap Aurora mencoba melepaskan pelukan Rayyan, bahkan pria itu sudah menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aurora.
"Tetaplah seperti ini! Tunggu tunggu aku di sini"pinta Rayyan, kemudian melepaskan pelukannya pada Aurora dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Dia pasti ingin meminta jatahnya. Tidak bisakah dia libur barang sehari saja?"gumam Aurora menghela napas panjang menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
Tidak mau membuat Rayyan marah, Aurora pun menuruti keinginan Rayyan. Aurora duduk di tepi ranjang seraya memeriksa handphonenya.
"Huff.. kemarin ibu dan bapak menghubungi aku dan menanyakan soal pekerjaan ku lagi. Setiap kali mereka menelpon, pasti bertanya apa pekerjaan ku di kota dan dari mana aku mendapatkan uang yang banyak. Waktu itu, aku terlalu bersemangat untuk pulang karena telah mengumpulkan banyak uang. Aku membayar semua hutang bapak dan ibu. Membeli, sawah dan kebon tetangga yang mau pindah ke kota. Karena tergiur harganya yang agak miring, aku membelinya tanpa memikirkan jika hal itu mengundang banyak pertanyaan dari bapak, ibu dan para tetangga ku. Dan dengan bodohnya aku mengatakan mendapatkan uang dari judi online. Hingga para tetangga menggosipkan aku jadi wanita simpanan Om-om di kota. Melunasi hutang bapak dan ibu ke juragan Wirjawan saja sudah membuat orang bertanya-tanya dari mana aku mendapatkan banyak uang. Apalagi membeli sawah dan kebun dalam waktu bersamaan,"gumam Aurora yang merutuki kebodohannya.
"Ceklek "
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat lamunan Aurora buyar. Namun wanita itu pura-pura sibuk dengan handphone nya tanpa mau menoleh ke arah kamar mandi. Rayyan keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe, lalu menghampiri Aurora.
"Greb"
Rayyan duduk di sebelah Aurora dan langsung memeluk Aurora dari samping.
"Apa sudah siap, hemm?"tanya Rayyan berbisik di telinga Aurora.
"Ray! Jangan di sini!"pinta Aurora saat Rayyan mengangkat tubuhnya dan hendak membaringkan Aurora di atas ranjang, membuat Rayyan mengernyitkan keningnya.
"Kamu ingin kita bercinta di mana?"tanya Rayyan yang masih memeluk Aurora dalam gendongannya. Tersenyum miring.
"Di.. di .sofa saja,"ucap Aurora pelan seraya memalingkan wajahnya.
Rayyan tersenyum menatap wajah Aurora yang memerah karena malu.
"Baiklah!"sahut Rayyan mengecup pipi Aurora, lalu berjalan ke arah sofa Tantra.
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued