
Andi dan Aiden mengangkat tubuh Rayyan ke arah lift dan sempat menjadi perhatian para karyawan yang melihatnya. Sesampainya di dalam mobil, Rayyan masih terlihat kesakitan. Bahkan tubuh pria itu basah oleh keringat dingin. Tidak sedikitpun Rayyan mengeluarkan suara, apalagi merintih kesakitan. Namun ekspresi wajah pria itu menggambarkan kalau Rayyan sangat kesakitan.
Andi dan Aiden melepaskan jas dan dasi Rayyan. Dan juga tiga kancing kemeja Rayyan bagian atas. Kedua pria itu nampak sangat mengkhawatirkan Rayyan. Pasalnya, sebelumnya Rayyan sehat-sehat saja. Tidak pernah punya riwayat penyakit apapun selain insomnia. Tapi tiba-tiba saat ini mengalami sakit perut yang terlihat sangat mengkhawatirkan. Kedua pria itu bergantian mengusap keringat dingin di wajah dan leher Rayyan.
"Kamu hubungi Fina kalau kita membawa Rayyan ke rumah sakit,"pinta Aiden pada Andi.
"Baik, Tuan,"sahut Andi bergegas menghubungi Fina .
"Halo, dok! Kami membawa Tuan Rayyan ke rumah sakit. Sekarang kami dalam perjalanan menuju rumah sakit,"ujar Andi.
"Okey, aku tunggu di sana,"sahut Fina dan panggilan pun diakhiri.
"Apa segawat itu?"gumam Fina yang juga jadi semakin khawatir setelah Andi menghubungi dirinya bahwa Andi dan Aiden akan membawa Rayyan ke rumah sakit. Sehingga Fina terpaksa putar balik kembali ke rumah sakit untuk menunggu Rayyan di sana.
Sementara Andi dan Aiden masih dilanda panik. Walaupun Rayyan tetap tidak merintih, tapi ekspresi wajah pria itu benar-benar menunjukkan rasa sakit yang di tahan.
"Apa sebenarnya yang dimakan Rayyan tadi?"tanya Aiden masih dengan ekspresi khawatir.
"Sama seperti yang saya makan, Tuan. Dan saya baik-baik saja. Makanan itu saya beli di tempat langganan kami,"sahut Andi yang sama khawatirnya.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah sakit dengan Fina yang sudah siap dengan brankar dan perawat.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?"tanya Fina seraya berjalan cepat di sebelah brankar Rayyan yang di dorong perawat menuju UGD.
"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba Rayyan memegangi perutnya dan mengatakan perutnya sakit. Kata Andi, mereka juga makan makanan yang sama dari tempat langganan mereka,"sahut Aiden yang ikut mendorong brankar.
Sementara itu di tempat lain, di pulau yang berbeda dengan pulau yang ditinggali Rayyan. Mastuti nampak mondar-mandir di depan pintu ruangan bersalin bersama Pak Hamdan yang terlihat tegang.
"Tarik napas dalam-dalam, hembuskan! Tarik napas, hembuskan! Nah, pembukaannya sudah lengkap, Bu. Ambil napas dalam-dalam ketika kontraksi datang, lalu tahan. Kencangkan otot perut dan mulai mengejan sampai hitungan ke-10. Ambil napas cepat dan mengejan kembali sampai hitungan 10, lalu ulangi satu kali lagi,"ujar seorang dokter memberikan instruksi.
Aurora mengikuti instruksi dari dokter, mengejan saat kontraksi datang. Hingga setelah satu jam mengalami kontraksi dan pembukaan lengkap akhirnya Aurora bisa melahirkan seorang bayi. Suara tangisan yang begitu nyaring pun terdengar.
__ADS_1
Pak Hamdan dan Mastuti yang menunggu di depan ruangan bersalin pun merasa lega dan bahagia setelah mendengar tangisan bayi yang begitu nyaring dari dalam ruangan bersalin. Menandakan jika Aurora sudah melahirkan. Mastuti bahkan sampai menitikkan air mata karena tidak bisa membendung rasa bahagianya.
"Selamat, ya, Bu! Bayinya laki-laki, sehat dan sempurna,"ucap dokter penuh senyuman menunjukkan bayi yang baru saja dilahirkan Aurora, pada Aurora, kemudian menyerahkan bayi itu pada perawat untuk dibersihkan.
"La.. Laki-laki, dok?"tanya Aurora nampak terkejut.
"Iya. Kanapa? Apa ibu tidak senang memiliki seorang putra?"tanya dokter seraya mengernyitkan keningnya saat melihat Aurora nampak terkejut, mengira Aurora tidak senang karena bayinya laki-laki.
"Bukan, dok. Laki-laki atau perempuan sama saja. Yang penting sehat. Saya terkejut karena menurut hasil USG bayi saya perempuan,"jelas Aurora.
"Ohh.. Begitu. Umumnya jenis kelamin tidak bisa berubah-ubah, ya, Bun. Namun bisa terjadi kekeliruan jika saat pemeriksaan sulit dideteksi dimana janin menutupi bagian kelaminn sehingga tidak terlihat jelas maka bisa jadi kekeliruan. Jadi tidak berubah ya, namun keliru bisa saja terjadi,"jelas dokter wanita itu dan Aurora mengangguk dengan senyuman.
"Bayi kita laki-laki, Ray. Kamu pasti senang,"gumam Aurora dalam hati.
Tanpa terasa Aurora menitikkan air mata karena merasa bahagia telah melahirkan seorang putra dengan selamat. Sekaligus merasa sedih karena tidak bisa berkumpul dengan Rayyan.
"Maaf! Aku tidak bermaksud memisahkan kamu dengan putra kita, Ray,"gumam Aurora dalam hati seraya mengusap air matanya.
"Sudah! Jangan periksa lagi! Saya sudah tidak apa-apa,"ujar Rayyan yang merasa sakit perutnya hilang.
Bahkan pria itu turun dari ranjang pasien dan berjalan dengan santai keluar dari ruangan UGD itu. Para dokter dan petugas medis yang ada di ruangan itu diam terpaku melihat Rayyan keluar dari ruangan itu.
"Sebenarnya, apa yang terjadi?"
"Dia tidak membohongi kita dengan berpura-pura sakit, 'kan?"
"Tapi dia tadi terlihat benar-benar kesakitan. Masa iya, dia bercanda sampai bisa mengeluarkan keringat dingin seperti tadi? Bahkan wajahnya tadi benar-benar pucat,"
Komentar para petugas medis itu setelah Rayyan keluar dari ruangan itu. Sedangkan Fina yang juga ikut menangani Rayyan pun bergegas menyusul Rayyan.
"Ray!"panggil Fina yang sudah berada di belakang Rayyan.
__ADS_1
Sedangkan Aiden dan Andi nampak terkejut melihat Rayyan keluar dari UGD dengan ekspresi wajah biasa saja.
"Apa kamu sedang bercanda dengan kami? Bercanda kamu tidak lucu, Ray! Aku, Aiden dan Andi sampai panik karena khawatir sama kamu. Tapi kamu malah membuat candaan seperti ini. Kamu pikir, para dokter dan petugas medis di rumah sakit ini tidak ada kerjaan apa? Banyak pasien yang harus kami tangani dan memerlukan penanganan segera. Tapi kamu sengaja berpura-pura sakit. Kalau kamu ingin menghilangkan stress, jangan bercanda dengan petugas medis,"ketus Fina yang merasa di kerjai oleh Rayyan.
Sedangkan Aiden dan Andi yang sedari tadi menunggu di luar ruangan UGD dan belum sempat bertanya pada Rayyan pun mengernyitkan kening mereka. Karena melihat Rayyan yang keluar dari UGD dengan keadaan yang sepertinya baik-baik saja. Apalagi saat mendengar ocehan Fina yang nampak kesal pada Rayyan.
"Siapa yang bercanda? Tadi aku benar-benar merasa perutku sangat sakit. Tapi, tiba-tiba hilang begitu saja,"
"Benarkah? Apa jangan-jangan kamu di santet orang?"tanya Fina terlihat serius seraya memicingkan sebelah matanya.
Andi dan Aiden yang mendengar pertanyaan Fina pun menepuk jidat mereka masing-masing. Sedangkan Rayyan membuang napas kasar.
"Kamu ini dokter apa dukun, sih? Di zaman modern seperti ini masih percaya pada hal-hal mistis seperti itu. Percuma kamu kuliah agar menjadi dokter, kalau pikiran kamu masih percaya takhayul seperti itu,"
"Aku memang seorang dokter. Tapi aku juga percaya hal-hal seperti itu. Aku percaya pada Tuhan, jadi aku juga percaya adanya jin dan setan. Karena kenyataannya mereka memang ada. Bukan sekali dua kali dokter di negeri ini yang mengoperasi pasien untuk mengeluarkan benda-benda asing yang nggak masuk akal dari dalam tubuh. Ada pula beberapa orang pasien yang sulit melahirkan, dan baru lancar melahirkan setelah meminta maaf pada ibu mereka. Jadi, mau nggak mau kita juga harus percaya pada hal-hal semacam itu,"ujar Fina yang memang percaya pada hal-hal ghaib seperti itu.
"Sebenarnya, apa yang kamu rasakan tadi, Ray?"tanya Aiden yang penasaran karena tadi terlalu panik dan tidak sempat bertanya apapun pada Rayyan.
...πππ...
...Jika jarak diukur dengan hati, kita tidak akan pernah terpisah lebih dari sattu senti....
...Ketidakhadiran membuat hati makin dekat sekaligus kesepian....
...Bagi cinta, jarak adalah ujian, sampai batas mana sebuah kesetiaan....
...πΈβ€οΈπΈ...
.
To be continued
__ADS_1