
Setelah mobil berhenti, Rayyan bergegas menuju kamarnya. Pria itu benar-benar merasa khawatir pada istrinya.
Saat Rayyan akan masuk ke dalam kamarnya, Andi yang sedari tadi mengekor di belakang Rayyan pun nampak berdiri tidak jauh dari pintu kamar majikannya itu dengan wajah yang terlihat khawatir.
"Semoga nyonya baik-baik saja. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Tuan jika sampai terjadi sesuatu pada nyonya,"gumam Andi yang merasa tidak tenang.
Bagi Andi, Rayyan adalah teman, sahabat, atasan, sekaligus keluarganya. Andi tidak akan menjadi seperti saat ini jika bukan karena Rayyan. Andi sangat tahu betapa berartinya Aurora dalam hidup Rayyan. Semenjak papanya meninggal, Rayyan mengalami insomnia. Walaupun sudah berobat ke dokter dan menjalani pola hidup sehat, penyakit insomnia Rayyan tidak sembuh juga. Dan penyakit itu baru bisa sembuh saat Rayyan menikah dengan Aurora.
Sebab itulah, Andi sangat menjaga Aurora dan tidak ingin terjadi hal buruk apapun pada majikannya itu. Karena jika terjadi suatu yang buruk pada Aurora, hal itu akan sangat mempengaruhi Rayyan.
Dengan perasaan khawatir, Rayyan tidak sabar untuk membuka pintu kamarnya.
"Ceklek"
"Sayang!"panggil Rayyan begitu membuka pintu kamarnya. Pria itu melihat istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah yang terlihat kesal.
"Syukurlah! Dia baik-baik saja. Marah padaku pun tidak apa-apa. Yang penting tidak terjadi hal yang buruk padanya,"gumam Rayyan dalam hati setelah melihat keadaan Aurora baik-baik saja. Pria itu kemudian menutup pintu kamarnya dan berjalan menghampiri istrinya.
"Sayang, maaf, aku tidak tahu kalau kamu menelpon aku,"ucap Rayyan duduk berjongkok di depan istrinya. Memegang jemari tangan istrinya itu dengan lembut.
"Kamu pergi ke klub malam? Kamu ingin mencari wanita di luar sana untuk menghabiskan malam dengan mu? Kamu sedang bersenang-senang dengan wanita di luar sana. Karena itu, 'kan, kamu tidak mengangkat telepon ku?"tanya Aurora dengan nada ketus, yang lebih terdengar seperti tuduhan pada Rayyan.
"Mana mungkin aku seperti itu sayang. Aku hanya mengobrol dengan Aiden di sana. Aku tidak mendengar dering ponsel ku karena di sana suara musiknya keras sekali. Sebab itu aku tidak tahu kalau kamu menghubungi aku,"sahut Rayyan lembut.
"Omong kosong! Jika hanya mengobrol dengan Aiden, kenapa kamu harus pergi ke klub malam?"
"Kami memang biasa mengobrol di klub malam, sayang. Aku tidak melakukan apapun selain ngobrol dan minum mocktail bersama Aiden,"sahut Rayyan jujur adanya.
"Aku tidak percaya!"ketus Aurora.
"Jika kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya langsung pada Aiden, Roni dan Andi,"
__ADS_1
"Mereka adalah teman kamu dan bawahan kamu, pasti mereka akan bersekongkol dengan kamu untuk membohongi aku,"
Rayyan hanya bisa menghela napas panjang menghadapi istrinya ini. Bersabar, itulah yang harus dilakukannya saat ini.
"Lalu aku harus bagaimana agar kamu bisa percaya padaku?"tanya Rayyan tidak tahu harus bagaimana membuktikan bahwa dirinya hanya ngobrol dan minum bersama Aiden.
"Pikirkan saja sendiri!"
"Apapun yang aku lakukan dan apapun yang aku katakan, jika kamu tidak percaya padaku, semua itu tidak akan berguna. Terserah bagaimana kamu menilai aku. Yang penting, aku sudah mengatakan yang sejujurnya,"ucap Rayyan melepaskan tangan Aurora, beranjak dari posisi berjongkok nya.
"Kamu mau kemana?"tanya Aurora saat melihat Rayyan melangkah menuju pintu.
"Aku akan tidur di kamar tamu,"sahut Rayyan yang tidak ingin lagi berdebat dengan Aurora.
"Kamu tahu jika aku tidak bisa tidur tanpa kamu. Tapi kamu malah pergi ke klub malam sampai larut malam. Dan sekarang kamu ingin tidur di kamar lain. Kamu ingin pisah ranjang dariku?"ujar Aurora dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Rayyan yang mendengar kata-kata Aurora pun menghentikan langkahnya yang tinggal dua langkah lagi sampai di pintu.
"Astagaa.. Sabar.. Sabar.. Aku lebih baik menghadapi pekerjaan yang menumpuk dari pada menghadapi Aurora yang lagi merajuk seperti ini,"gumam Rayyan dalam hati. Menghela napas berkali-kali untuk mengontrol emosinya. Pria itu kemudian berbalik menghadap istrinya yang memalingkan wajahnya.
"Pergi sana! Pergi! Pergi! Pergi!"teriak Aurora seraya melempari Rayyan dengan bantal. Air mata sudah menetas dari sudut mata wanita itu.
"Ya.. Tuhan.. sabar kan hati hamba dalam menghadapi ibu hamil ini,"gumam Rayyan dalam hati seraya menangkap beberapa bantal yang dilemparkan Aurora padanya.
Setelah semua bantal habis dilemparkan ke Rayyan, Aurora naik ke atas ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Wanita itu menangis di dalam selimut.
Rayyan kembali menghela napas menghadapi mood swing istrinya itu. Pria itu membawa semua bantal yang dilemparkan Aurora padanya ke arah ranjang. Rayyan meletakkan bantal-bantal itu di atas ranjang. Rayyan melepaskan pakaiannya seraya berjalan menuju kamar mandi.
Rayyan mencuci wajahnya agar terasa lebih segar. Pria itu menatap cermin di depannya. Wajahnya terlihat kusut dan tidak bersemangat.
"Begini amat, ya, kalau punya istri yang sedang hamil? Begini salah, begitu salah, semua yang aku lakukan selalu salah,"gumam Rayyan kemudian keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada.
__ADS_1
Rayyan menatap Aurora yang berbaring di atas ranjang. Pria itu perlahan naik ke atas ranjang dan memeluk Aurora yang masih menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut.
"Maaf! Aku salah. Aku tidak bisa menahan diri dan tidak bisa mengendalikan nafsu ku. Aku tidak akan meminta apalagi memaksa kamu untuk melayani ku lagi. Tidurlah! Dan jangan marah lagi! Aku tidak mau terjadi hal buruk pada mu dan bayi kita karena kamu tidur larut malam dan marah-marah seperti tadi,"ucap Rayyan lembut.
"Lebih baik aku bersolo karir di dalam kamar mandi, dari pada membuat dia uring-uringan seperti ini,"gumam Rayyan dalam hati.
"Tidak akan meminta apalagi memaksa aku untuk melayani dia lagi? Apa maksudnya? Dia tidak mau menyentuh aku lagi?"gumam Aurora dalam hati.
Untuk beberapa menit, keduanya terdiam. Aurora masih menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut. Sedangkan Rayyan hanya diam memeluk tubuh Aurora dari luar selimut.
Sedangkan Andi yang masih menunggu di luar kamar Rayyan, akhirnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu setelah hampir satu jam tidak ada yang keluar dari dalam kamar itu. Yang berarti semuanya baik-baik saja.
"Sepertinya mereka baik-baik saja. Aku akan kembali ke kamarku dan tidur. Rasanya aku lelah sekali,"gumam Andi seraya berjalan menuju kamarnya.
Perlahan Aurora membuka selimut yang menutupi wajahnya. Menatap suaminya yang ternyata sudah terlelap. Terlihat jelas dari wajahnya jika suaminya itu kelelahan.
"Kenapa aku jadi uring-uringan nggak jelas seperti ini? Rayyan bekerja dari pagi sampai malam. Saat dia pulang, aku malah marah-marah tidak jelas. Tapi dia begitu sabar menghadapi aku. Aku egois sekali. Kenapa aku jadi seperti ini? Aku merasa sangat bersalah padanya,"gumam Aurora, kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rayyan dan memeluk pria yang akan menjadi ayah dari jamin yang dikandungnya itu erat.
...πππ...
...Rahmat sering datang kepada kita dalam bentuk kesakitan, kehilangan dan kekecewaan. Bersabarlah! Karena setelah melewati rasa sakit, kehilangan, dan kekecewaan, kita akan merasakan rahmat yang sesungguhnya....
...Yang sabar dan tekun akan mekar seperti bunga, akan indah seperti purnama dan menakjubkan seperti kupu-kupu....
...Kesabaran itu pahit, tetapi buahnya manis. -Aristoteles....
...Jangan sepelekan marahnya orang sabar dan kecewanya orang yang menjaga, menyayangi, serta mencintai kita setulus hati. Karena rasa kecewa sulit diobati....
...Sabar itu ilmu tingkat tinggi. Belajarnya setiap hari, latihannya setiap saat, ujiannya sering mendadak, sekolahnya seumur hidup....
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued