
Eh, bukannya kamu gadis yang di villa itu, ya? Tangan kamu kenapa?"tanya Aurora saat tanpa senagaja melihat Kanaya.
"Sayang, kamu di sini?"tanya Rayyan yang tiba-tiba muncul bersama seorang pria yang merupakan kliennya.
"Papa!"panggil Zayn tersenyum lebar melihat Rayyan seraya mengulurkan tangannya.
"Jagoan papa,"ujar Rayyan tersenyum cerah mengambil Zayn dari Andi.
Rayyan mengecup pipi Zayn. Dan seperti biasa, Zayn yang hanya mau di cium oleh orang yang di kenalnya itu selalu membalas ciuman orang-orang terdekatnya.
"Ini anak dan istri anda? Istri anda cantik sekali!"puji klien Rayyan itu menatap Aurora dari bawah sampai atas tanpa berkedip, membuat aura Rayyan berubah menjadi suram.
"Iya. Ini istri saya,"sahut Rayyan datar bahkan terkesan dingin, sambil merangkul pundak istrinya.
"Aihh.. Ternyata apa yang di katakan Andi memang benar. Rayyan tidak akan suka jika aku bertemu dengan kliennya. Pria ini tatapannya mesum sekali. Jika aku terus berada di tempat ini, aku takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,"gumam Aurora dalam hati, melirik wajah suaminya yang terlihat suram,"Sayang, aku ada urusan sebentar dengan office girl ini,"ujar Aurora langsung memegang tangan Kanaya. Dan terang saja Kanaya terkejut karena merasa tidak memiliki urusan apapun dengan istri CEO tempatnya bekerja itu.
"Ada urusan apa wanita ini dengan ku?"gumam Kanaya dalam hati bingung sendiri. Karena selain waktu di villa, baru hari ini dirinya berjumpa dengan Aurora.
"Baiklah. Aku tunggu di ruangan ku bersama Zayn,"ucap Rayyan yang wajahnya ekspresinya langsung berubah tersenyum lembut saat menatap Aurora. Pria itu mengecup bibir Aurora di hadapan semua orang tanpa ragu, apalagi malu. Seolah ingin menunjukkan bahwa wanita itu adalah miliknya.
"Okey,"sahut Aurora tersenyum manis, kemudian mengecup pipi Rayyan lembut untuk menyenangkan hati pria yang mulai tersulut api cemburu itu,"Andi, ikut aku!"titah Aurora, kemudian menarik tangan Kanaya menjauh dari tempat itu.
Tanpa berkata apapun, Andi pun menuruti perintah nyonyanya. Sedangkan Kanaya, walaupun bingung ada urusan apa Aurora dengan dirinya, gadis itu tetap mengikuti langkah kaki Aurora.
"Apa masih ada yang ingin anda bicarakan?"tanya Rayyan yang nampak tidak suka melihat istrinya di tatap oleh orang di depannya itu.
"Ah, tidak ada lagi, Tuan. Kalau begitu, saya permisi,"ucap pria itu yang bergidik ngeri melihat aura suram Rayyan,"Aku hanya melihat istrinya saja Tuan Rayyan auranya sudah seram sekali,"gumam pria itu dalam hati seraya melangkah pergi.
Para karyawan yang melihat semua yang terjadi pun mulai ber bisik-bisik.
"Tuan Rayyan so sweet sekali,"
"Tuan Rayyan terlihat tidak suka istrinya di tatap pria lain,"
"Wajarlah. Istrinya cantik begitu. Mana anaknya ganteng dan menggemaskan lagi,"
__ADS_1
"Ekspresi Tuan Rayyan saat menatap pria tadi seperti mau menelan orang itu hidup-hidup. Mengerikan sekali,"
"Iya. Tapi ekspresi wajahnya langsung berubah lembut saat menatap istrinya,"
"Cinta memang luar biasa ajaib. Sedingin dan sedatar apapun seseorang, kalau di depan orang yang dicintai pasti akan berubah menjadi hangat,"
Bisik-bisik para karyawan yang baru melihat sisi lain dari majikan mereka itu tidak berlangsung lama. Mereka kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing karena tidak ingin mendapatkan teguran dari atasan mereka.
Sedangkan Aurora menarik tangan Kanaya tanpa arah yang jelas. Karena Aurora hanya berniat pergi menjauh dari klien Rayyan yang tatapannya mesum tadi. Tidak ingin Rayyan tersulut emosi di kantor karena dirinya. Mencari alasan asal untuk menjauh.
Setelah merasa tidak terlihat lagi oleh klien Rayyan tadi, Aurora pun berhenti sambil menghela napas lega.
"Nyonya kenapa? Kenapa membawa kami ke sini?"tanya Andi mengernyitkan keningnya tidak mengerti kenapa di suruh ikut bersama Aurora.
"Ah, maaf. Aku hanya menghindari pria tadi saja. Kamu lihat tadi? Tatapannya mesum sekali. Aura suamiku sudah terlihat suram, jika aku tidak segera pergi, aku takut Tuan mu itu akan berbuat di luar Nurul, eh, nalar,"sahut Aurora menyengir bodoh pada Andi.
"Karena itu saya tadi mengajak nyonya pergi ke ruangan saya dulu. Saya sudah hafal dengan sifat Tuan Rayyan,"sahut Andi apa adanya.
"Kalau begitu saya permisi melanjutkan pekerjaan saya, nyonya,"pamit Kanaya yang tangannya masih di pegang Aurora.
"Iya, Nyonya. Tiga hari setelah keluarga nyonya kembali ke kota, saya nekat mengundurkan diri dari villa dan pergi ke kota ini. Kebetulan ada lowongan pekerjaan di perusahaan ini. Saya buru-buru mengajukan lamaran dan saya bersyukur bisa di terima bekerja di sini. Saya tidak tahu jika ini adalah perusahaan keluarga anda,"jawab Kanaya jujur.
Oh, jadi kamu melamar kerja di sini saat suami ku dan Andi ke luar negeri,"sahut Aurora,"Lalu, apa yang terjadi dengan tanganmu?"tanya Aurora yang melihat luka di tangan Kanaya.
"Ini terkena kopi panas, Nyonya,"jawab Kanaya jujur.
"Terkena kopi panas? Jangan-jangan, kamu adalah gadis yang di tabrak Andi, ya?"tanya Aurora yang mendengar tentang kejadian Andi menabrak seorang gadis hingga kakinya terluka dan tangan, kakinya melepuh.
"Iya, nyonya,"sahut Kanaya jujur.
"Wahh.. Lukamu sampai seperti ini,"ujar Aurora mengamati tangan Kanaya, Namun sesaat kemudian Aurora beralih menatap Andi.
"Andi! Tanggung jawab, dong! Kamu telah membuat anak gadis orang jadi memiliki bekas luka seperti ini,"tuntut Aurora.
"Nyonya, saya sudah memberikan pengobatan yang terbaik untuk gadis ini. Saat ini lukanya memang masih meninggalkan bekas. Tapi, kata dokter bekasnya akan berangsur hilang. Saya akan menanggung biaya berobatnya sampai sembuh total tanpa meninggalkan bekas,"jelas Andi.
__ADS_1
"Bagus lah. Kamu memang harus bertanggung jawab. Seorang wanita akan minder dan jauh dari jodoh kalau memiliki bekas luka. Apalagi selebar ini, di tangan pula. Tubuh dan wajah adalah aset bagi wanita. Pria yang blangsat sekalipun akan mencari gadis cantik dan berakhlak baik. Apalagi pria baik-baik. Kalau laki-laki, asal dompet tebal, pasti banyak yang suka, nggak peduli wajahnya tampan atau jelek. Yang penting kaya,"sahut Aurora.
"Hanya cewek matre yang suka menilai pria dari dompetnya, Nyonya,"kilah Andi.
"Nggak ada yang gratis di dunia ini, Ndi. Kecuali kamu hidup di hutan jadi Tarzan. Cewek itu nggak materialistis, tapi realistis. Walaupun antara realistis dan materialistis itu benda tipis,"cetus Aurora tanpa dosa.
"Iya.. Iya.. Nyonya memang benar,"sahut Andi,"Wanita, 'kan, memang selalu benar. Walaupun salah juga tetap benar,"gerutu Andi dalam hati.
Aurora kemudian beralih menatap Kanaya,"Kalau bekas luka kamu tidak hilang, kamu boleh mengadu pada suamiku. Aku pastikan perjaka tua, jomblo sejati, kebanyakan teori yang selalu membanggakan diri ini akan bertanggung jawab pada kamu,"ujar Aurora tanpa dosa mengatai Andi.
"Iya, Nyonya ,"sahut Kanaya sedikit memalingkan wajahnya menahan tawa mendengar kata-kata Aurora.
"Haish.. Nyonya sadis sekali. Umur saya belum sampai kepala tiga nyonya, belum bisa di bilang perjaka tua. Jika umur saya sudah tiga puluh lima tahun ke atas, baru, Nyonya boleh memanggil saya perjaka tua. Lagipula, lebih baik jadi jomblo, tapi berkelas dan berkualitas daripada pacaran tapi galau nggak jelas,"sanggah Andi dengan bangga.
"Aku heran, kenapa kamu bangga sekali dengan status jomblo mu itu. Kamu mau menikah di umur tiga puluh lima tahun? Jika kamu menikah di usia itu, saat usia anak pertama mu belum sampai tiga puluh lima tahun, mungkin kamu sudah bertemu dengan malaikat pencabut nyawa. Itu pun kalau kamu bisa langsung punya anak dan umur mu bisa mencapai tujuh puluh tahun,"ujar Aurora yang memang benar adanya.
"Haish.. Kata-kata Nyonya memang benar, tapi sadis,"sahut Andi.
"Hidup ini memang sadis, Ndi. Sudah, aku mau makan siang,"ujar Aurora kemudian menepuk pundak Kanaya, lalu melangkah pergi di ikuti oleh Andi.
Kanaya menghela napas panjang setelah kepergian dua orang itu.
"Semoga saja Tuan Andi benar-benar menanggung biaya berobat ku sampai sembuh. Benar kata nyonya itu, tubuh bagi wanita adalah aset. Tapi, kalau melihat yang sudah-sudah, sih, Tuan Andi itu memang orang yang bertanggung jawab. Selama dua minggu aku dirawat di rumah sakit, orang itu benar-benar memberikan uang yang di janjikan nya padaku. Tapi, sikapnya yang sok cool itu yang bikin aku ilfil. Sok jadi idola di kantor ini mentang-mentang tangan kanan si bos,"gumam Kanaya yang menilai dari sudut pandangnya sendiri.
"Ndi, kenapa nggak kamu nikahi saja gadis itu? Aslinya dia itu cantik, loh. Di poles sedikit saja, pasti tambah cantik. Sepertinya dia itu juga gadis baik-baik,"ujar Aurora saat dirinya dan Andi sedang berada di dalam lift.
"Dia itu memang gadis yang baik, nyonya. Dia bekerja siang dan malam untuk membayar angsuran rumah kedua orang tuanya,"sahut Andi yang langsung menutup mulutnya karena merasa keceplosan,"Aduh, kenapa aku bicara seperti tadi? Kata-kataku tadi bisa membuat Nyonya berpikir bahwa aku..."
"Kamu sudah menyelidiki gadis itu?"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
__ADS_1