Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
381. Bullying


__ADS_3

Setelah makan siang, Andi nampak menghampiri Kanaya yang sedang berada di pantry. Gadis itu terlihat baru saja selesai minum.


"Ay, ikut aku!"pinta Andi dengan suara datarnya.


"Baik,"sahut Kanaya bergegas mengikuti Andi,"Dia mau mengajak ku kemana? Apa dia masih marah padaku?"gumam Kanaya dalam hati yang mengekor di belakang Andi dengan perasaan was-was karena sejak kejadian semalam, aura suaminya itu terlihat suram di matanya.


Andi membawa Kanaya ke sebuah salon kecantikan. Kanaya hanya menurut saja saat dirinya di minta untuk mandi di kamar mandi pribadi pemilik salon kecantikan itu. Setelah mandi, Kanaya di arahkan untuk di rias. Kanaya tidak berani bertanya pada Andi untuk apa dirinya di rias.


Kanaya merasa sangat malu, saat MUA (Make-up Artist) yang merias dirinya melihat semua tanda yang di buat suaminya semalam. Tanda yang dapat di lihat MUA itu dari leher hingga dada. Karena semua make-up yang di pakai Kanaya telah bersih setelah mandi tadi. Termasuk make-up yang di pakai Kanaya untuk menutupi semua tanda yang di buat Andi semalam.


"Huff.. Aku malu sekali. Ini semua karena si roller coaster itu. Dia membuat begitu banyak tanda di tubuh ku,"gerutu Kanaya dalam hati menahan rasa malu.


Sedangkan MUA yang sedang merias Kanaya nampak mengulum senyum melihat semua tanda di leher Kanaya itu.


"Sepertinya, udah DP duluan, ya?"tanya MUA itu mengulum senyum.


Kanaya tidak menanggapi perkataan MUA itu. Malas meladeni orang yang kepo dengan urusan orang lain. Gadis itu hanya menampilkan wajah datarnya.


Melihat wajah Kanaya yang datar, MUA itupun tidak berani bicara apapun lagi selain yang berhubungan dengan pekerjaan nya. Seperti meminta Kanaya memejamkan mata untuk memoles kelopak mata Kanaya ataupun meminta Kanaya membuka bibirnya untuk memoleskan pewarna bibir.


Kanaya semakin merasa kagum saat melihat wajahnya usai di rias. Gadis itu terkejut saat dirinya di minta memakai gaun pengantin.


"A.. Apa dia akan menikahi aku secara agama karena aku semalam menolaknya karena alasan kami belum sah di mata agama? Mampus! Kalau benar dia ingin menikahi aku secara agama, bagaimana jika nanti malam dia meminta haknya sebagai seorang suami?"gumam Kanaya yang masih trauma dengan rasa sakit semalam saat Andi berusaha memasuki tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, Kanaya pun sudah terlihat cantik dengan gaun pengantin yang di kenakan nya. Andi nampak terpesona melihat betapa cantiknya Kanaya yang sudah selesai di rias dan memakai gaun pengantin yang berwarna senada dengan tuksedo yang di kenakan Andi. Kanaya pun nampak terpesona melihat Andi yang saat ini terlihat lebih tampan dari biasanya.


"Ehem.. Ayo, kita pergi!"ajak Andi seraya mengulurkan tangannya pada Kanaya.


Andi mengajak Kanaya menaiki sebuah mobil menunju tempat mereka akan mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan. Tidak ada pembicaraan apapun di antara sepasang suami-isteri itu saat mereka berada di dalam mobil dan duduk berdampingan.


Beberapa menit kemudian, sepasang suami-isteri yang baru sah di mata hukum itu sudah tiba di tempat tujuan. Ternyata ibu Kanaya sudah berada di tempat itu.


Tanpa membuang waktu, acara pernikahan itupun di mulai. Di saksikan oleh ibu Kanaya, Rayyan, Hendrik dan juga beberapa orang anak buah Andi dan Rayyan, Andi dan Kanaya melangsungkan pernikahan secara agama.

__ADS_1


Hari itu akhirnya Andi dan Kanaya menjadi pasangan yang sah di mata hukum dan agama. Semua yang hadir dalam pernikahan sederhana tapi terasa sakral itu mengucapkan selamat pada Andi dan Kanaya. Bahkan ibu Kanaya sampai menitikkan air mata karena sangking bahagianya.


Mereka mengabadikan momen itu dengan berfoto bersama. Dengan arahan dari Hendrik, Andi dan Kanaya berfoto bersama dengan berbagai macam pose yang terlihat begitu romantis. Bahkan ada pose berciuman yang membuat sepasang pengantin baru itu terlihat malu-malu.


Setelah sesi pengambilan gambar, akhirnya acara sederhana itu pun selesai. Ibu Kanaya terlihat menghampiri Andi dan Kanaya dengan penuh rasa syukur dan haru.


"Andi, tolong jaga Kanaya baik-baik, ya! Ibu percayakan putri ibu satu-satunya ini padamu,"ucap ibu Kanaya seraya menghapus air matanya menatap Andi.


"Aku berjanji, akan mencintai dan menyayangi Kanaya sepenuh hati ku, Bu. Aku akan berusaha semampu ku untuk menjaga, melindungi, dan membahagiakan Kanaya,"ucap Andi penuh keseriusan.


"Terimakasih. Ibu harap, kalian bisa hidup rukun dan bahagia,"ucap ibu Kanaya tulus, kemudian menatap Kanaya,"Sekarang, kamu adalah tanggung jawab Riandi. Kamu harus menurut pada suamimu dan jangan membantah apa katanya! Jadilah istri yang baik dan jangan membuat ibu malu!"ujar ibu yang tidak bosan menasehati Kanaya.


"Iya, Bu,"sahut Kanaya patuh.


"Malam ini, apa kamu masih punya alasan untuk menolak ku?"bisik Andi pada Kanaya membuat gadis itu bergidik ngeri.


"Mampus! Ah, ya Tuhan! Bagaimana ini? Semalam saja sakit banget. Bagaimana aku bisa menghindari dia malam ini? Sekarang saja tubuh ku masih mengenaskan karena ulahnya semalam. Bagaimana jika nanti malam dia benar-benar mengulang apa yang di lakukannya semalam?"gerutu Kanaya dalam hati dengan wajah yang terlihat pias.


Sedangkan Andi yang baru saja membuat istrinya takut itu malah berpamitan pergi pada mertuanya. Dengan santai pemuda itu menghampiri Hendrik dan Rayyan.


"Ibu, menantu ibu itu lebih menakutkan dari pada hantu,"sahut Kanaya yang ingin kabur rasanya jika mengingat kejadian semalam dan juga apa yang di katakan oleh Andi beberapa saat yang lalu.


"Sembarangan kalau ngomong! Menantu ibu yang tampan, mapan dan perhatian seperti itu malah di bilang lebih menakutkan dari hantu,"omel ibu Kanaya yang tidak terima menantunya di katai lebih menakutkan dari hantu.


"Ibu akan menginap di apartemen kami, kan? Menginap lah beberapa hari di apartemen kami, Bu! Aku masih rindu pada ibu,"pinta Kanaya beralasan agar bisa mencari cara untuk lolos dari suaminya malam ini, dan kalau bisa, untuk beberapa malam ke depan.


"Mana mungkin ibu menginap di apartemen kalian? Ibu tidak mau menantu ibu merasa tidak nyaman karena kehadiran ibu di tempat tinggal kalian,"ujar ibu Kanaya beralasan.


"Mana mungkin suamiku merasa terganggu dengan kehadiran ibu? Bukankah dia menantu kesayangan ibu? Dia pasti merasa senang kalau ibu menginap di apartemen kami. Apalagi, kata ibu kedua orang tuanya sudah lama meninggal,"ujar Kanaya masih berusaha untuk membujuk ibunya untuk menginap. Kanaya baru tahu jika Andi adalah yatim piatu saat pernikahan tadi.


"Tidak. Ibu tidak mau! Jangan-jangan, malam ini kamu tidak mau melayani suami kamu! Karena itu kamu bersikeras membujuk ibu untuk menginap di apartemen kalian. Ingat Kanaya! Menolak melayani suami itu berdosa. Kecuali kalau kamu sedang sakit dan benar-benar tidak mampu melayani suamimu,"


"Suamimu itu tampan dan mapan, pasti ada banyak wanita yang mau menjadi istrinya. Kalau kamu melepaskan suamimu, walaupun dia duda, pasti banyak yang mau. Beda dengan janda. Walaupun cantik, laki-laki masih berpikir ulang untuk menikahi nya,"

__ADS_1


"Kamu sangat beruntung karena dia memilih kamu yang tidak berpendidikan tinggi dan hanya memiliki warisan hutang ini. Jadi, seharusnya kamu bersyukur dengan cara menjadi istri yang baik bagi suami kamu,"


"Kalau pun Andi memiliki kekurangan, itu wajar saja. Karena yang maha sempurna hanya lah Tuhan penguasa langit bumi dan segala isinya. Semua manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Termasuk kamu dan ibu yang memiliki kelebihan banyak hutang. Ya, walaupun kita banyak hutang bukan untuk foya-foya, tapi untuk berobat. Intinya, kamu harus menjadi istri yang baik buat suami mu,"ujar ibu Kanaya panjang lebar.


Di sisi lain, tidak jauh dari tempat Kanaya dan ibunya berada, Andi sedang duduk bersama Rayyan dan Hendrik. Andi sengaja meninggalkan Kanaya bersama ibunya, agar ibu dan anak itu bisa melepas rindu.


"Wahh.. Bau-baunya, perjaka ting-ting mau melepaskan keperjakaan nya,"goda Hendrik terkekeh kecil.


"Dia sudah bukan perjaka ting-ting lagi, kak. Tapi, sayangnya baru masuk separuh,"sahut Rayyan kemudian tertawa.


"Kok, bisa? Jangan-jangan, kamu gagal bobol gawang, ya?"tanya Hendrik, kemudian ikut menertawakan Andi.


"Lihat saja itu, kak! Dari tadi pagi sampai sekarang, celananya masih mengembung, karena semalam gagal masuk sarang,"sahut Rayyan kemudian tertawa.


"Astagaa.. Andi! Kasihan sekali, kamu. Pasti sangat tersiksa, ya, sakit kepala atas dan bawah,"imbuh Hendrik ikut menertawakan Andi.


"Haiss.. Kenapa Tuan ini kakak beradik suka sekali membully?"keluh Andi dengan wajah masam.


"Percobaan ke dua kali ini kamu harus benar-benar melakukan pemanasan dengan maksimal, Ndi,"ujar Rayyan mengulum senyum.


"Kamu gagal bobol gawang karena kurang pemanasan, Ndi? CK.. CK..CK.. Kamu tidak sabaran sekali,"imbuh Hendrik kembali tertawa, membuat Andi merasa tidak betah berada di antara dua orang kakak beradik absurd itu.


"Hei! Mau kemana?"tanya Rayyan yang melihat Andi beranjak dari duduknya.


"Saya izin pulang. Mau lanjut menggarap ladang yang belum kelar,"sahut Andi dengan wajah yang terlihat kesal meninggalkan Rayyan dan Hendrik.


Rayyan dan Hendrik yang mendengar jawaban Andi pun tertawa terbahak-bahak.


"Garap sampai tuntas! Jangan nanggung lagi!"ledek Rayyan kembali tertawa.


"Pantang berhenti sebelum sampai ke puncak,"imbuh Hendrik kembali ikut tertawa.


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2