
Rayyan yang merasa bahwa Andi ingin menyampaikan hal yang penting pun menepi bersama Andi.
"Ada apa?"tanya Rayyan to the point.
"Tuan, wanita itu tidak bisa hadir di sini,"ujar Andi merasa khawatir jika majikannya marah.
"Kenapa?"tanya Rayyan nampak menangkap ada sesuatu yang tidak beres.
"Waktu dia keluar dari bandara, dia tidak sengaja ditabrak oleh pencopet yang sedang di kejar banyak orang di luar bandara. Dan akhirnya dia di jadikan sandera oleh pencopet itu. Pencopet itu nekat menyandera dia karena merasa terpojok dan hampir tertangkap. Tapi sekarang dia sudah bebas setelah orang-orang kita membantu polisi untuk membebaskan dia. Namun, saat ini dia terpaksa harus ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Kejadian itu sempat membuat heboh di bandara, Tuan.Bahkan saat ini sedang beredar vidio tentang penyanderaan itu,"ucap Andi tertunduk, takut majikannya marah karena kali ini rencana mereka tidak bisa dijalankan sesuai rencana awal mereka.
"Hadehh.. semoga aku tidak dihukum lembur karena masalah ini. Semua ini di luar perkiraan, ini musibah. Siapa yang tahu kalau akan terjadi musibah seperti ini,"gumam Andi dalam hati.
"Jadi ada video tentang penyanderaan itu?"tanya Rayyan memastikan.
"Iya, Tuan. Judul videonya adalah wanita cantik di sandera di area bandara,"sahut Andi masih menundukkan kepalanya.
Rayyan tersenyum tipis setelah mendengar jawaban dari Andi.
"Ini memang musibah, tapi sekaligus berkah. Aku merasa jika vidio penyanderaan yang beredar di media malah akan menguntungkan kita. Kejadian itu terkesan lebih natural untuk menepis kecurigaan semua orang pada Aurora. Dari pada kita mendatangkan dia ke sini dan membuat sandiwara. Video penyanderaan itu lebih efektif untuk menepis kecurigaan semua orang. Bantu dia agar bisa secepatnya pulang! Dan sebarkan vidio penyanderaan itu ke berbagai media!"titah Rayyan.
"Baik, Tuan,"sahut Andi dan Rayyan pun kembali menghampiri Aurora.
"Selamat... Selamat...aku nggak jadi lembur,"gumam Andi merasa lega,"Tapi benar juga kata Tuan, kejadian ini adalah musibah sekaligus berkah. Kejadian ini bisa menepis semua keraguan dan kecurigaan orang lain tanpa harus membuat sandiwara. Dan pastinya natural karena memang kejadiannya seperti itu,"gumam Andi tersenyum cerah kemudian menghubungi anak buahnya.
"Halo, Tuan!"sahut anak buah Andi dari sambungan telepon.
"Bagaimana keadaan di sana?"tanya Andi to the point.
"Masih memberikan keterangan, Tuan,"
"Suruh pengacara kita untuk mengurusnya dengan cepat, agar nona bisa segera beristirahat! Antar nona ke rumah yang sudah dipersiapkan Tuan untuk nona!"
"Tidak jadi di antar ke tempat resepsi pernikahan Tuan Rayyan, Tuan?"
"Tidak perlu! Usahakan secepatnya mengurus masalah itu, agar nona bisa segera pulang dan beristirahat!"ucap Andi tegas.
"Iya, Tuan,"
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa segera hubungi aku!"ucap Andi, kemudian menutup teleponnya tanpa terlebih dahulu mendengarkan jawaban dari lawan bicaranya
"Baik, Tu.. Haish.. Tuan ini! Belum selesai ngomong sudah di tutup,"gerutu anak buah Andi.
"Apa kata Tuan Andi,"tanya anak buah Andi yang satunya yang baru saja dari toilet.
"Kita tidak jadi disuruh mengantar nona ke acara resepsi. Setelah masalah ini selesai, kita disuruh mengantar nona ke rumah yang sudah disiapkan Tuan untuk nona"sahut pria yang baru saja bicara dengan Andi melalui sambungan telepon.
"Yahh.. nggak bisa makan makanan resepsi, dong!"
"Kenapa nggak bisa? Setelah mengatakan nona pulang. Kita bisa langsung meluncur ke acara resepsi. Kita bisa menikmati hidangan prasmanan,"
"Benar juga,"
Seorang polisi duduk berhadapan dengan seorang wanita yang tadi di sandera pencopet. Polisi itu menatap wanita di depannya, lalu,"Nama anda Sumi Sumarti?"tanyanya menatap lekat wajah wanita di depannya.
"Iya, Pak. Di singkat Miti. Di ambil dari belakang ke dua suku kata, Pak,"sahut wanita yang tidak lain adalah Sumi.
Sumi baru saja pulang dari negeri ginseng untuk menjalani operasi plastik setelah melakukan kesepakatan dengan Rayyan. Sumi bersedia melakukan operasi plastik sesuai keinginan Rayyan dengan imbalan uang lima ratus juta dan sebuah restoran besar di kota itu.
Rayyan melakukan itu untuk menepis semua kecurigaan orang-orang yang pernah mengetahui bahwa Aurora pernah bekerja sebagai kupu-kupu malam.
Mendengar kata-kata polisi itu, Sumi tidak menyahut. Wanita itu hanya menghela napas panjang dengan wajah masam.
"Kalau dia bukan polisi, sudah aku sambeliin itu mulut orang! menjengkelkan sekali,"gerutu Sumi dalam hati.
"Alamat rumah?"tanya polisi itu masih menatap Sumi.
"Rumah saya ada di kampung, Pak. Jalan Semanggi, desa Sukoharjo, kecamatan Cempaka,"sahut Sumi.
"Rumah kamu ada di kampung? Bukan di sini?"tanya polisi itu.
"Iya. Saya baru berencana tinggal di kota ini, Pak,"sahut Sumi.
"Lalu kenapa tidak mengatakan alamat Anda yang di sini?"
"Saya 'kan, bilang, saya baru berencana untuk tinggal di kota ini, Pak. Tapi belum memiliki tempat tinggal di kota ini. Jadi, kalau bapak bertanya dimana alamat saya, tentu saja saya akan mengatakan alamat saya di kampung. Karena saya belum menemukan tempat untuk saya tinggali di kota ini,"sahut Sumi merasa agak jengkel dengan polisi satu ini.
__ADS_1
"Ini polisi aneh banget, sih! Mau minta keterangan tentang kejadian tadi apa mau minta keterangan data pribadi ku? Pertanyaan nya berbelit-belit tidak sesuai dengan masalah yang terjadi,"gerutu Sumi dalam hati.
"Ohhh, begitu,"sahut polisi itu manggut-manggut dengan tatapan yang tidak beralih dari Sumi.
"Sebenarnya saya di sini diminta untuk memberikan keterangan tentang kejadian tadi atau ada masalah lain, ya, Pak?"tanya Sumi yang jadi merasa jengah dengan polisi satu itu.
"Baiklah. Tolong ceritakan kronologi kejadiannya!"pinta polisi itu.
"Saya baru pulang dari luar negeri, Pak. Saat saya keluar dari bandara, pencopet itu menabrak saya hingga saya terjatuh. Setelah itu, dia malah menodongkan pisau lipat pada saya,"jawab Sumi sesuai kenyataan.
"Cuma itu?"tanya polisi itu seraya mengernyitkan keningnya.
"Ya, memang cuma itu, Pak. Karena setelah itu, saya di tolong polisi dan warga sipil yang ada di tempat itu,"sahut Sumi.
"Bisa ceritakan kronologinya lebih detail lagi?"pinta polisi itu.
"Detail gimana lagi, Pak? Itu sudah detail. Apa saya harus menceritakan bagaimana saya turun dari pesawat?"tanya Sumi memasang senyuman di wajahnya yang cantik tapi dalam hati mengumpat,"Polisi sialan! Aku merasa dia tidak ingin aku pergi dari tempat ini. Dan tatapan matanya itu, seolah ingin menelanjangi aku. Kalau bukan polisi, sudah aku tonjok matanya yang kurang ajar itu,"gerutu Sumi dalam hati yang dari tadi melihat polisi di depannya itu tidak berhenti menatap dirinya.
"Sebaiknya anda pikirkan dulu saja! Susun kalimat anda lebih baik agar saya mengerti penjelasan Anda,"sahut polisi itu.
Mendengar perkataan polisi itu, Sumi merasa semakin geram pada polisi itu yang sepertinya sengaja mempersulit dirinya.
"Kenapa bapak mempersulit klien saya? Disini klien saya adalah korban. Bukan tersangka. Saya rasa, keterangan dari klien saya sudah jelas. Bapak ingin klien saya menggunakan bahasa apa agar bapak bisa mengerti?"tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul. Pria yang tidak lain adalah pengacara ternama di kota itu.
"A... Anda..."polisi itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena terkejut melihat seorang pengacara ternama di kota itu,"Sial! Aku tadi cuma ingin agar wanita itu bisa lebih lama berada di sini buat cuci mata. Nggak tahunya, dekengan nya nggak main-main,"gerutu polisi itu dalam hati, yang sebenarnya ingin melihat wajah cantik Sumi lebih lama. Karena itu, polisi itu mempersulit Sumi. Namun tidak menyangka jika dekengan Sumi adalah pengacara ternama di kota itu.
"Apa aku tidak salah lihat? Dia pengacara terkenal di kota ini? Dia jadi pengacara ku? Waahh.. suami Aurora memang is the best! Nggak nanggung-nanggung kalau mengerjakan sesuatu,"gumam Sumi dalam hati. Memandang kagum pada pengacara yang saat ini sudah duduk di sampingnya.
"Keterangan apa lagi yang ingin bapak dengar dari klien, saya?"tanya pengacara itu lagi dengan tatapan datar.
"Sudah, Pak. Tidak ada lagi,"sahut polisi itu mencoba tersenyum ramah,"Jika pengacara ini mengeluhkan tentang kinerja ku sebagai polisi, bisa terancam di pecat aku,"gumam polisi itu dalam hati.
Setelah memberikan keterangan yang dipersulit oleh polisi dan baru bisa mengatasinya setelah pengacara yang di suruh Andi datang, akhirnya Sumi pun bisa pulang.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued