Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
280. Menuai Yang Ditanam


__ADS_3

Di rumah Pak Hamdan. Pria itu sedang menyiram bunga yang ada di depan rumahnya. Pria itu begitu rajin merawat tanamannya. Setiap pagi selalu merawat bunga-bunga yang di milikinya. Sehingga bunga-bunga itu tumbuh subur dan berbunga lebat.


Bu Ella nampak berjemur sambil melihat suaminya merawat bunga-bunga itu. Sudah beberapa kali Bu Ella menjalani terapi, dan kesehatan wanita paruh baya itu berangsur membaik. Karena Rayyan mencarikan dokter terbaik untuk Bu Ella. Walaupun Bu Ella belum bisa bicara dengan jelas, tapi sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Anggota tubuhnya sedikit demi sedikit juga sudah bisa digerakkan.


"Street"


"Akhh"


"Bugh"


Pak Hamdan tiba-tiba terpeleset dan terjatuh. Bu Ella pun reflek berteriak dan bergerak hingga jatuh dari kursi rodanya. Perawat yang selalu berada di samping Bu Ella pun terkejut melihat Pak Hamdan yang terjatuh dan Bu Ella yang juga ikut terjatuh.


"Tolong! Bapak terjatuh!"teriak perawat Bu Ella seraya berusaha membantu Bu Ella kembali duduk di kursi roda. Dua orang pelayan pria pun bergegas menghampiri Pak Hamdan yang tidak sadarkan diri. Keduanya mengangkat tubuh Pak Hamdan ke kamar Pak Hamdan.


Sedangkan Mastuti yang mendengar suara teriakan perawat Bu Ella pun bergegas keluar dari rumah. Karena sudah ada yang membantu Pak Hamdan, Mastuti membantu perawat Bu Ella yang berusaha menaikkan Bu Ella ke kursi roda.


"Bapak. Semoga bapak baik-baik saja,"gumam Bu Ella dalam hati. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah wanita paruh baya itu.


Bu Ella takut terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya. Dalam keadaan sehat saja Bu Ella tidak sanggup jika harus di tinggalkan Pak Hamdan. Apalagi dengan keadaan Bu Ella yang seperti sekarang.


Perawat yang merawat Bu Ella pun mengobati dahi Pak Hamdan yang berdarah karena terjatuh tadi. Untungnya luka Pak Hamdan tidak terlalu parah, hanya tergores pot yang berada di samping tempat Pak Hamdan jatuh tadi. Pak Hamdan hanya pingsan saja. Walaupun kepala bagian belakang Pak Hamdan benjol karena terbentur cukup keras. Setelah di beri minyak angin, akhirnya Pak Hamdan sadar juga. Bu Ella pun merasa lega.


"Bagaiman keadaan bapak?"tanya Mastuti.


Pak Hamdan tidak menjawab. Pria paruh baya itu memegangi kepalanya. Pak Hamdan terlihat menahan sakit. Bu Ella pun kembali merasa khawatir.


"Pak!"panggil Mastuti yang juga terlihat khawatir.


Pak Hamdan tetap tidak jawab. Namun, kali ini Pak Hamdan mengangkat sebelah tangannya dan memberi isyarat agar semua diam. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu diam. Pak Hamdan masih memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Biarkan aku istirahat,"ucap Pak Hamdan membuat semua orang yang ada di dalam kamar itu pun keluar, termasuk Bu Ella.


Hari beranjak siang saat Pak Hamdan keluar dari kamarnya. Pria itu menghampiri istrinya yang duduk di kursi rodanya di dekat jendela. Bu Ella merasa senang karena sepertinya suaminya baik-baik saja.


"Bu, bapak ingin bertemu dengan cucu kita. Apa ibu juga ingin?"tanya Pak Hamdan sambil duduk berjongkok di depan kursi roda Bu Ella.


Bu Ella menjawab pertanyaan Pak Hamdan dengan mengedipkan matanya serta ekspresi senang di wajahnya.


Akhirnya Pak Hamdan meminta Mastuti untuk menghantar mereka ke rumah Rayyan. Setelah tiba di rumah Rayyan, Mastuti bertanya pada seorang pelayan tentang keberadaan Aurora.


"Di mana nyonya Aurora?"tanya Mastuti pada seorang pelayan wanita.


"Tadi, saya lihat nyonya Aurora berada di kolam renang bersama dengan yang lainnya. Mungkin masih di sana, Bik,"


"Oh, begitu. Terimakasih, ya,"ucap Mastuti.


Setelah tahu dimana keberadaan Aurora, akhirnya Mastuti membawa Pak Hamdan dan Bu Ella ke kolam renang yang ada di dalam rumah itu.


Pak Hamdan terpaku di tempatnya saat mendengar kata-kata Rayyan yang mengungkap siapa Aurora sebenarnya.


Pak Hamdan terlihat terkejut begitu pula dengan Bu Ella dan Mastuti. Mereka bertiga juga ikut terharu melihat pertemuan Aurora dengan kakaknya.


Suara Zayn yang berceloteh menatap ke arah Pak Hamdan, Bu Ella dan Mastuti pun mengalihkan atensi semua orang. Kecuali Aurora yang masih berada dalam pelukan Aiden. Bayi lucu itu terlihat senang dan berteriak-teriak seolah memanggil kakek, neneknya dan juga Mastuti yang biasanya suka menggendongnya.


"Bapak, ibu,"ucap Rayyan membuat Aurora melepaskan pelukannya pada Aiden dan menatap ke arah Rayyan menatap.


Melihat kedua orang tuanya, Aurora pun berlari ke arah Pak Hamdan dan Bu Ella. Aurora mencium Bu Ella dengan derai airmata, lalu memeluk Pak Hamdan. Pak Hamdan pun membalas pelukan Aurora dengan hangat.


Ada perasaan syukur dan terimakasih yang tak terhingga dalam hati Aurora pada dua orang itu. Dua orang yang telah merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang hingga Aurora tidak pernah berpikir ataupun curiga jika dua orang itu hanyalah orang tua angkatnya.

__ADS_1


Rayyan, Aiden, Hendrik dan Sumi pun ikut menghampiri Pak Hamdan dan Bu Ella.


Aurora melepaskan pelukannya pada Pak Hamdan, lalu berlutut di depan kursi roda Bu Ella seraya memegang tangan Pak Hamdan dan Bu Ella.


"Terimakasih. Terimakasih karena bapak dan ibu sudah merawat, mendidik dan membesarkan aku dengan penuh kasih sayang. Selalu berusaha membuat aku bahagia dan memperlakukan aku layaknya putri kandung kalian sendiri. Aku tahu, walaupun dengan beribu kata terimakasih pun tidak akan bisa membalas budi baik bapak dan ibu padaku. Tapi aku tetap akan mengucapkan terimakasih pada bapak dan ibu. Aku akan tetap berbakti dan menjadi putri bapak dan ibu hingga akhir hayatku,"ucap Aurora tulus dengan air mata yang membasahi pipinya.


Airmata Bu Ella berjatuhan saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Aurora. Ingin rasanya Bu Ella memeluk putrinya itu. Memeluk gadis kecil yang telah di rawat dan dibesarkannya dengan penuh kasih sayang. Gadis kecil yang kini sudah dewasa dan tetap menganggap mereka sebagai orang tuanya setelah mengetahui jati dirinya.


Bu Ella tidak bisa lupa dengan semua pengorbanan yang Aurora berikan untuk mereka. Gadis yang bahkan hanya mampu mereka sekolahkan sampai sekolah menengah atas itu nekat bekerja di kota mencari uang untuk membayar semua hutang-hutang mereka.


Aurora bahkan nekat kabur membawa dirinya dan suaminya karena takut Rayyan menyakiti mereka. Rela menjadi tulang punggung keluarga bagi mereka saat dirinya lumpuh dan ingatan suaminya hilang. Tetap menyayangi dirinya dan suaminya walaupun keadaan nya yang lumpuh menjadi beban bagi Aurora.


Benar kata pepatah yang mengatakan bahwa apa yang kita tanam pasti akan kita tuai. Setulus hati Pak Hamdan dan Bu Ella merawat dan membesarkan Aurora dengan penuh cinta dan kasih sayang. Dan mereka mendapatkan cinta dan kasih sayang yang sama dari Aurora. Walaupun Aurora bukan darah daging mereka, nyatanya ikatan yang terjalin di antara mereka layaknya ikatan orang tua kandung dengan anak kandung.


"Brugh "


Pak Hamdan berlutut memeluk Aurora dengan berlinang airmata. Tidak menyangka jika anak yang mereka temukan, mereka rawat, mereka didik dan mereka besarkan akan menjadi sumber kebahagiaan bagi dirinya dan istrinya dari dulu hingga saat ini.


Tidak bisa mengungkapkan rasa syukur yang terlalu besar, hingga lidah Pak Hamdan terasa kelu untuk berkata-kata.


...🌸❀️🌸...


Maaf, aku hanya bisa update sekali. Aku lagi repot mau pindahan. Masih sibuk milih-milih rumah. Malum.. Rumahnya banyak, sampai bingung mau pindah ke rumah yang mana. Nyari yang cocok sama kantong yang cetek, karena rumahnya bukan punya kita, tapi punya orang. Alias ngontrak.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Aku mah apa atuh... Belum punya rumah sendiri. Walaupun dapat warisan, tapi di rebut orang.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Maaf, jadi curhat.πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2