
Di villa milik Neil. Lana dan Neil baru saja selesai sarapan bersama.
"Lan, bersiaplah! Kita akan membeli pakaian untuk mu. Aku lihat, kamu hanya memiliki tiga stel baju,"ucap Neil setelah mereka selesai sarapan.
"Kamu benar. Aku hanya membawa baju yang menempel di badan ku saja saat aku kabur waktu itu. Baju yang aku miliki sekarang adalah pemberian Tuan Andi,"
"Oh, ya? Dia perhatian sekali padamu,"sahut Neil dengan seulas senyum, tapi dengan tangan yang terkepal. Ada perasaan tidak suka di hatinya saat mendengar ada orang lain yang memperhatikan gadis pujaannya.
"Mungkin karena kasihan padaku. Tuan Rayyan dan Tuan Andi terlihat dingin dan datar jika berhadapan dengan orang lain. Tapi saat kedua orang pria itu berinteraksi, aku tidak bisa berkata-kata,"ujar Lana tersenyum tipis menggelengkan kepalanya pelan, mengingat betapa absurd nya kedua orang pria yang sudah menolong dirinya itu.
"Kenapa?"tanya Neil dengan dahi yang berkerut.
"Saat berinteraksi, mereka berdua itu sangat absurd. Sama sekali tidak terlihat sebagai atasan dan bawahan. Tapi terlihat seperti dua orang teman atau sahabat. Namun, yang pastinya mereka berdua adalah orang baik. Mereka mau menolong aku, walaupun penuh resiko. Karena, dengan menolong aku, kemungkinan berhadapan dengan ayah sambung ku dan para mafia itu sangat besar,"
"Mereka mau membantu aku bertemu dengan kamu. Bahkan, jika aku tidak bisa bertemu dengan kamu, mereka bersedia memberikan uang dan mengirim ku ke tempat yang jauh dari ayah sambung ku agar aku bisa memulai hidup yang baru,"jelas Lana.
"Apa orang yang bernama Andi itu menyukai kamu?"tanya Neil curiga.
"Menyukai aku? Aku rasa tidak. Saat aku kabur dari mafia itu, aku tidak tahu jika aku telah di beri obat perangsangg. Tuan Rayyan mengizinkan aku bersembunyi beberapa menit di kamarnya, tapi dia memilih keluar dari kamarnya meninggalkan aku. Beberapa menit kemudian, Tuan Andi datang dan meminta aku keluar dari kamar itu,"
"Tapi, karena aku sudah terpengaruh oleh obat itu, aku hampir saja melecehkan Tuan Andi. Namun, Tuan Andi sama sekali tidak memanfaatkan keadaan ku. Dia lebih memilih mengguyur aku di bawah shower, bahkan menenggelamkan aku di dalam bathtub agar aku tersadar dari pengaruh obat. Tuan Andi juga membelikan aku susu untuk menetralisir obat yang aku minum,"ujar Lana yang masih mengingat segalanya.
"Ternyata mereka memang orang baik,"sahut Neil lega setelah mendengar cerita Lana.
"Neil. Aku sudah memikirkan segalanya dan sudah mengambil keputusan,"ujar Lana menatap Neil dengan tatapan serius.
"Katakanlah!"pinta Neil tersenyum lembut. Dalam hati pria itu harap-harap cemas. Berharap Lana mau tinggal di sisinya walaupun tidak menerima lamarannya. Tapi, juga cemas jika Lana memilih pergi dari sisinya karena merasa canggung setelah menolak lamarannya.
"Jujur, aku memang tidak bisa melupakan almarhum tunangannya ku. Semua waktu yang kami habiskan terlalu indah dan berkesan bagiku. Tapi, aku sadar, bagaimana pun aku mencintai dia, dia telah tiada. Aku akan mencoba membuka hatiku untuk mu. Aku tidak bisa berjanji untuk mencintai mu. Tapi, aku akan berusaha untuk mencintai mu, memberi ruang di hatiku untuk mu,"ujar Lana yang telah memikirkan dan mempertimbangkan segalanya.
Lana sadar jika waktu terus berputar dan hidup terus berjalan. Tidak mungkin dirinya terus hidup dalam masa lalu dan mengabaikan masa depan. Sedangkan bersama Neil, ada kemungkinan untuk meraih kebahagiaan.
"Terimakasih. Terimakasih, karena mau menerima lamaran ku. Tapi, jujur aku masih mengurus surat perceraian dengan istri ku. Aku mohon, kamu mau bersabar menunggu kami resmi bercerai,"ucap Neil jujur. Neil merasa sangat bahagia karena Lana mau menerima lamarannya.
"Apa.. Kamu bercerai karena aku?"tanya Lana menjadi tidak enak hati karena merasa sudah menjadi orang ke tiga dalam rumah tangga Neil.
__ADS_1
Neil tersenyum getir mendengar pertanyaan Lana,"Jujur, aku menikahi dia karena dia mirip dengan kamu. Aku berharap bisa mencintai dia dan melupakan kamu. Memperlakukan dia sebaik yang aku mampu dan berusaha membuat dia bahagia. Tapi, ternyata dia tidak tulus padaku. Dia hanya mencintai hartaku, bukan aku. Bahkan dia sempat membawa kabur harta bendaku dan berniat mengejar Rayyan. Jadi, aku menceraikan dia bukan karena kamu. Tapi karena aku sudah benar-benar muak dengan dia,"jelas Neil jujur adanya.
Lana merasa lega mendengar penjelasan Neil. Karena bukan dirinya yang menjadi penyebab Neil bercerai dengan istrinya.
Lana bertekad untuk mencoba mencintai Neil. Memang Lana tidak bisa melupakan almarhum tunangannya. Tapi, Lana akan memberikan ruang di sisi hatinya yang lain untuk Neil. Bukan melupakan almarhum tunangannya. Tapi memberikan tempat yang lain untuk Neil. Karena ada dua hal yang sulit untuk di lupakan, yaitu kenangan manis nan indah dan kenangan buruk yang menyakitkan.
Dua kenangan itu akan sesulit untuk di lupakan. Karena sesuatu yang membekas memang sulit untuk dilupakan.
***
Rayyan merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah seharian penuh bekerja. Pria itu tersenyum lebar saat melihat ada video call dari istrinya. Dengan cepat pria itu menerima panggilan itu.
"Halo, sayang!"ucap Rayyan tersenyum lebar menatap wajah istrinya di layar handphonenya.
"Papa.."teriak Zayn begitu mendengar suara papanya.
"Eh, kamu hafal sekali suara papamu,"ujar Aurora tersenyum menoleh pada putranya.
Bayi tampan dan lucu yang baru bisa berjalan itu menghampiri Aurora dengan langkahnya yang belum terlalu seimbang. Aurora pun mendekati puteranya itu, lalu memangkunya di atas karpet bulu.
"Lihat, ini papa,"ucap Aurora menunjukkan layar handphonenya pada Zayn.
"Jagoan papa sudah kangen, ya, sama papa?"tanya Rayyan nampak senang melihat putranya yang nampak antusias melihat dirinya,"Cium papa, dong!"pinta Rayyan seraya menunjuk pipinya sendiri.
Tanpa menunggu lama, Zayn langsung memonyongkan bibirnya dan mencium layar handphone itu, seolah sedang mencium Rayyan. Dan tentu saja hal itu membuat Rayyan dan Aurora tertawa bahagia.
Setelah puas melihat papanya dan berceloteh tidak jelas, bayi lucu itu pun turun dari pangkuan Aurora dan kembali bermain sendiri dengan mainan yang di letakkan Aurora di atas karpet bulu.
"Kamu tambah cantik saja. Aku jadi semakin rindu padamu,"puji Rayyan sembari bersandar di headboard ranjang menatap wajah cantik istrinya di layar handphonenya.
"Gombal,"cetus Aurora mengulum senyum.
"Tapi suka, 'kan, di gombalin?"ledek Rayyan.
"Nggak juga, tuh,"sahut Aurora sok cuek.
__ADS_1
"Ishh.. Aku jadi semakin rindu sama kamu,"cetus Rayyan yang memang benar adanya,"Kalau aku pulang, jatahnya double, ya?"ucap Rayyan seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Ih, genit! Apa hanya itu saja yang kamu pikirkan?"tanya Aurora yang melihat tingkah genit suaminya.
"Genit sama istri sendiri sah sah saja, 'kan? Lagian, rindu ku nggak akan hilang kalau cuma peluk cium doang,"sahut Rayyan penuh senyuman.
"Kapan, kamu pulang?"tanya Aurora mengalihkan pembicaraan. Aurora tidak ingin suaminya membahas lebih lanjut soal ranjang.
"Kenapa? Kamu sudah sangat rindu ya, padaku?"tanya Rayyan masih dengan senyuman di bibirnya.
"Sayang, aku bertanya. Kamu malah bercanda,"sahut Aurora menghela napas dalam dengan wajah cemberut.
"Ishh, aku semakin gemas ingin mencium mu jika seperti itu,"celetuk Rayyan yang gemas melihat istrinya merajuk,"Aku usahakan untuk pulang lebih cepat. Kamu sudah mengunjungi kakak kamu?"tanya Rayyan mengalihkan pembicaraan.
"Sudah. Kakak sibuk dengan pekerjaannya. Aku hanya mampir sebentar di kantornya bersama Zayn. Semenjak berobat ke luar negeri, kaki kakak sudah berangsur pulih,"jelas Aurora yang memang sudah bertemu dengan Aiden setelah kembali dari kampung bapak dan ibu angkatnya.
"Syukurlah, kalau begitu. Semoga kaki kakak cepat sembuh,"sahut Rayyan.
Sepasang suami-istri istri itu terus berbincang, hingga akhirnya mengakhiri panggilan video itu saat Zayn merengek ingin tidur.
...πππ...
..."Untuk melanjutkan hidup, tidak selalu harus melupakan masa lalu, hanya perlu berpikir dan mencari cara untuk maju."...
..."Setiap hari adalah hari yang baru, kebahagiaan tidak akan datang, jika tidak mau beranjak dari masa lalu."...
..."Dalam situasi kehidupan apa pun, jangan diam, tetaplah bergerak maju, karena waktu tidak akan berhenti hingga kiamat nanti."...
..."Melanjutkan bukan berarti melupakan, tapi menerima apa yang terjadi dengan lapang dada dan ikhlas hati."...
..."Melanjutkan atau tetap terjebak di masa lalu, itu adalah pilihan. Hanya satu yang perlu di ingat, bahwa hidup terus berjalan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued