Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
207. Mendukung


__ADS_3

Aurora duduk bersandar di headboard ranjang meluruskan kakinya dengan Rayyan yang membaringkan kepalanya di atas pangkuan Aurora. Pria itu memejamkan matanya dengan wajah yang menempel di perut Aurora yang sudah lumayan membuncit. Tangan Rayyan mengusap lembut perut istrinya itu.


"Ray!"panggil Aurora seraya membelai rambut Rayyan.


"Hum,"sahut Rayyan.


"Apa kakak benar-benar ingin pergi ke luar negeri dan menetap di sana?"


"Hum. Kenapa?"


"Nggak apa-apa,"sahut Aurora menghela napas panjang dengan jemari yang masih membelai rambut Rayyan.


"Nggak apa-apa, kok, menghela napas panjang kayak gitu,"ujar Rayyan membuka matanya, lalu menatap Aurora.


"Aku cuma menyayangkan sikap Sumi. Kenapa Sumi harus melepas kakak, jika dia sendiri juga mencintai kakak? Sumi berharap kakak mendapatkan pasangan yang lebih baik dari dirinya dan hidup bahagia tanpanya. Apa Sumi tidak berpikir? Bagaimana jika kakak hanya bisa merasa bahagia jika bersama dengan dia saja? Menurut kamu, Sumi naif atau munafik, sih?"


"Dua-duanya. Naif karena pemikirannya tidak masuk akal. Menolak orang yang jelas-jelas dicintai dan mencintai dia. Munafik karena mengatakan lebih baik kakak bersama orang lain dan mengatakan tidak mencintai kakak, padahal dia mencintai kakak. Jika memang saling mencintai, kenapa harus merasa rendah diri dan mengkhawatirkan segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan? Bukankah jika saling mencintai, semuanya bisa dihadapi bersama-sama? Suatu hari, dia akan menyesal karena melepaskan kakak,"


"Kamu benar. Aku sudah menasehati dia berulangkali untuk menerima kakak. Tapi dia tetap keras kepala dan tidak mau merubah pendiriannya,"


"Sudahlah! Tidak usah memikirkan mereka. Biarkan takdir yang menentukan jalan cerita cinta mereka. Kita semua sudah membantu semampu kita agar mereka bisa bersatu, tapi kalau mereka tidak ditakdirkan bersama, kita juga tidak bisa apa-apa,"


"Iya, juga, sih,"


Aurora sudah berulang kali membujuk Sumi agar Sumi menerima Hendrik, tapi Sumi tetap kukuh dengan pendiriannya. Melepaskan Hendrik dengan alasan agar Hendrik bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dan lebih pantas dari dirinya.


Rayyan juga sudah membujuk Naima agar mau menerima Sumi menjadi menantunya. Bahkan Andi juga memberikan kesempatan untuk Hendrik agar bisa meluluhkan hati Sumi dengan menolong Sumi dari para preman kemarin. Tapi sampai saat ini hubungan keduanya tetap jalan di tempat, alias tidak ada kemajuan sama sekali.


"Tapi, kemungkinan kemarin malam mereka sempat tidur bersama,"ujar Rayyan membuat Aurora terkejut.


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Karena kemarin malam kakak menolong teman kamu itu. Sumi diculik preman dan diminumkan obat yang di campur dengan alkohol. Aku rasa mereka tidur bersama, karena anak buah Andi melihat kakak membawa Sumi ke tempat kerjanya. Di tempat kerja kakak ada ruang pribadi kakak yang biasa kakak gunakan untuk menginap,"


"Serius? Berani sekali preman itu menculik Sumi untuk ditiduri. Bahkan meminumkan obat pada Sumi,"ujar Aurora merasa kesal.


"Pasti kemarin kakak dapat full servis dari teman kamu itu,"ujar Rayyan kemudian terkekeh.


"Issh.. dasar mesum!"ucap Aurora seraya mencubit pinggang Rayyan.

__ADS_1


"Auwh! Aku tidak mesum, sayang. Hanya bicara menurut logika saja. Dari awal kakak memang sudah mencintai Sumi, dan Sumi diminumkan obat. Wanita yang meminum obat seperti itu akan menjadi sangat agresif, sayang. Apa kamu kira kakak bakal tahan jika di goda oleh wanita yang dicintainya?"


Aurora terdiam setelah mendengar kata-kata Rayyan. Yang dikatakan Rayyan memang masuk akal. Wanita yang mengkonsumsi obat seperti itu pasti akan menjadi sangat agresif. Aurora jadi bergidik karena teringat bagaimana ganasnya Sumi di atas ranjang. Hingga membuat para pelanggan mereka terkapar tidak berdaya. Lalu bagaimana kabar kakak iparnya jika Sumi mengkonsumsi obat seperti itu.


"Kamu tahu? Yang menyuruh para preman itu untuk menculik Sumi adalah teman satu profesi kalian di klub malam Mami dulu. Namanya Resti. Dia adalah orang yang membuat mata Sumi cacat, menyuruh orang untuk mencelakai kamu di hotel tempat kita bertemu dulu. Dan juga mencelakai beberapa wanita penghibur lainnya,"ujar Rayyan membuat Aurora tersadar dari lamunannya.


"Astagaa.! Aku tidak menyangka jika wanita itu sampai melakukan hal seperti itu,"


"Oh, ya, aku besok libur. Apa kamu ingin pergi jalan-jalan ke suatu tempat?"tanya Rayyan mengalihkan pembicaraan.


"Kamu libur?"tanya Aurora terlihat antusias.


"Hum,"


"Ray, aku ingin melihat sunrise di pantai,"


"Sunrise di pantai? Pantai mana?"


"Terserah kamu, yang penting aku bisa melihat sunrise di pantai,"


"Kita harus segera pergi jika kamu ingin melihat sunrise. Bersiap-siaplah! Kita akan berangkat sekarang agar bisa melihat sunrise esok hari,"ujar Rayyan beranjak bangun dari pangkuan Aurora.



"Indah sekali!"gumam Aurora melihat warna kuning keemasan di langit saat mentari pagi mulai bersinar. Duduk bersandar di bahu Rayyan yang memeluknya.


"Kamu akan selalu menjadi mentari pagi yang terlihat indah dan bersinar terang dalam hatiku. Dan selamanya tidak akan tergantikan oleh siapapun,"ucap Rayyan seraya mengelus lengan Aurora. Menoleh pada Aurora.


"Apapun yang terjadi?"tanya Aurora menatap Rayyan lekat.


"Apapun yang terjadi, aku berjanji akan tetap mencintai kamu dan tidak akan pernah melepaskan kamu. Hingga napas terakhir ku, kamu akan tetap menjadi milikku dan satu-satunya wanita dalam hati dan hidup ku. Aku akan selalu berusaha membuat kamu dan anak-anak kita kelak bahagia,"sahut Rayyan menatap lekat Aurora, perlahan mendekatkan wajahnya pada Aurora dan mencium bibir Aurora dengan lembut.


***


Roni masuk ke dalam ruangan Aiden membawa sebuah map. Setelah menyelidiki gadis yang nampaknya menarik hati majikannya, akhirnya hari ini Roni berhasil mengumpulkan semua informasi tentang gadis itu.


"Tu.. tu.."


"Brak"

__ADS_1


"Tuan saya sudah mendapatkan informasi tentang gadis yang anda inginkan,"ucap Roni cepat setelah Aiden menggebrak mejanya.


Aiden meraih map yang disodorkan Roni, kemudian membaca isi map itu. Aiden nampak mengernyitkan keningnya saat membaca isi map itu.


"Dia adalah adik dari Sumi, sahabat Aurora? Anak dari orang tua angkat Sumi?"


"Be.. be.. benar Tu.. tu..tuan. Di..di.. di..."


'Brakk"


"Dia tidak banyak tingkah tidak dekat dengan seorang pria ataupun mahasiswa manapun hanya fokus pada kuliahnya dan sangat menurut pada ibunya dan nona Sumi,"sahut Roni tanpa titik dan koma setelah Aiden menggebrak meja.


"Ternyata dunia ini sempit sekali. Aku malah bertemu dengan adik Sumi. Sepertinya Sumi dan ibunya mendidik gadis ini dengan sangat baik. Menarik,"gumam Aiden yang masih bisa di dengar oleh Roni. Pria itu mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan jari telunjuknya dengan senyuman penuh arti di wajahnya yang rupawan. Menatap foto Yuniar di tangannya yang terlihat polos dan cantik alami.


"Ji..ji.."


"Brakk "


"Jika Tuan ingin menjadikan gadis itu istri Tuan saya mendukung Tuan,"ucap Roni setelah Aiden menggebrak meja kerjanya.


"Kenapa?"tanya Aiden yang merasa aneh dengan pernyataan Roni. Karena sebelumnya Roni tidak pernah mendukung dirinya untuk mendekati, apalagi menjadikan seorang wanita sebagai istrinya.


"Sa.. sa.. sa.."


"Brakk"


"Saya merasa dia gadis yang baik cantik alami tidak banyak tingkah masih polos dan cocok untuk Tuan,"sahut Roni tanpa titik dan koma.


"Jadi, menurut kamu, dia gadis yang baik dan cocok untuk dijadikan istri?"tanya Aiden kembali menatap foto Yuniar.


"I..i.. iya Tuan,"sahut Roni terlihat yakin.


"Tuan harus punya pendamping hidup agar tidak kesepian lagi. Agar tidak terus-menerus memikirkan nona Aira. Entah kapan nona Aira akan di temukan. Jika mencari istri menunggu sampai menemukan nona Aira, aku takut Tuan Aiden akan menjadi bujang lapuk,"gumam Roni dalam hati.


Roni tidak sadar diri jika umurnya juga sama dengan Aiden. Yang berarti, jika Aiden bujang lapuk, dirinya juga sama. Karena sampai saat ini, Roni juga belum memiliki kekasih apalagi pasangan hidup.


...🌸❤️🌸...


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2