
Dengan tangan yang semakin tremor dan keringat dingin yang membasahi tubuhnya, Sumi melihat tanda garis di testpack itu. Seketika Sumi terhuyung dan hampir terjatuh jika tidak berpegangan di dinding. Terlihat jelas kekecewaan di wajah Sumi saat melihat satu garis di testpack yang di pegangnya.
"Tidak hamil? Tidak! Tidak! Pasti testpack nya tidak akurat,"gumam Sumi dengan bibir yang bergetar, membuang testpack itu ke tempat sampah.
Sumi kembali mengambil salah satu testpack masih dengan tangan yang tremor. Berharap kali ini melihat garis dua di testpack itu.
Namun kekecewaan kembali terlihat di wajahnya saat lagi-lagi hanya melihat satu garis di testpack yang dipegangnya. Testpack yang ke tiga, keempat, ke lima dan ke enam pun masih menunjukkan satu garis yang artinya Sumi tidak mengandung.
"Akkhh!"pekik Sumi dengan airmata yang membasahi pipinya. Tidak mau lagi melihat testpack yang tersisa dan melempar sisa testpack yang belum di lihatnya ke dalam tempat sampah.
Sumi bersandar di dinding kamar mandi. Wajah wanita itu basah oleh air mata. Rasa kecewa dan sesal tergurat jelas di wajahnya. Namun beberapa menit kemudian Sumi menghapus air matanya.
"Tidak! Ini baru telat satu hari. Besok aku akan melakukan tes lagi. Iya, aku harus optimis. Bukankah biasanya memang belum terlihat jelas jika baru telat satu hari atau dua hari saja. Jika besok aku belum datang bulan juga, aku akan melakukan tes lagi. Iya. Aku harus optimis,"gumam Sumi mencoba optimis dan menyemangati dirinya sendiri.
Sumi bergegas beranjak untuk membersihkan diri. Menanggalkan satu persatu kain yang menempel di tubuhnya. Hingga kain terakhir berbentuk segitiga pun ditanggalkan Sumi. Namun Sumi tertegun saat melihat ada bercak merah di kain yang belum terlepas sempurna dari tubuhnya itu.
Seketika tubuh Sumi terasa lemas tak bertulang. Tubuhnya terhuyung membentur dinding. Air mata yang baru dihapusnya beberapa saat yang lalu kembali membasahi wajahnya. Wanita itu kembali terisak dalam tangisnya. Tubuhnya yang menempel di dinding kembali merosot, terduduk di lantai.
"Seandainya aku tidak terlalu rendah diri karena latar belakang dan masa laluku, aku tidak akan seperti ini. Aku terlalu takut dan rendah diri untuk mengharapkan kamu. Aku merasa tidak pantas untuk kamu. Tapi, pada akhirnya aku menyesal.. menyesali keputusan ku yang terlalu banyak mempertimbangkan segalanya hingga pada akhirnya mengambil keputusan yang malah menyakiti diriku sendiri,"gumam Sumi dalam isak tangisnya.
Sumi duduk dengan kedua lutut yang ditekuk. Menyembunyikan wajahnya di antara kedua pahanya dengan suara Isak tangis yang memilukan. Tangisan penyesalan dan kekecewaan karena dirinya sendiri.
Begitulah hidup. Terkadang kita mengambil keputusan yang nyatanya salah. Walaupun saat mengambil keputusan itu kita sudah sangat berhati-hati, penuh pertimbangan dan dipikirkan matang-matang. Tapi, nyatanya masih saja kita mengambil keputusan yang salah dan akhirnya kita sesali.
Namun, tiada guna menyesali apa yang telah terjadi bukan? Karena, walaupun penyesalan kita setinggi gunung Jaya Wijaya yang ada di Papua yang termasuk dalam tujuh gunung tertinggi di dunia, apa yang sudah terjadi tidak akan bisa kita ulang lagi.
Hanya bisa menjadikan penyesalan sebagai pengalaman, agar di masa depan bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan. Menjadikannya pengalaman layaknya kaca spion. Bukan untuk di lihat terus menerus, tapi hanya dilihat sesekali saat kita akan belok atau mendahului kendaraan lain. Agar kita tetap aman dan selamat untuk terus melaju ke depan.
__ADS_1
Sumi mengguyur tubuhnya di bawah shower. Mencoba menyadarkan dirinya sendiri agar tetap tegar menjalani kehidupan. Mengingat orang-orang yang disayangi nya bergantung hidup pada dirinya. Jadi, dirinya harus tetap tegar walau apapun yang terjadi. Mencoba untuk ikhlas dan menerima apa yang sudah terjadi. Mengambil hikmah atas apa yang sudah dialami.
Setelah bisa menenangkan dirinya sendiri, Sumi mengakhiri ritual mandinya. Keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat sedikit sembab. Tidak menyadari jika ada dua buah testpack di tempat sampah yang menampakkan dua garis yang terlihat samar.
Sumi duduk di tepi ranjang, membuka laci nakas dan mengambil kartu nama yang diberikan Hendrik dua minggu yang lalu. Sumi kembali meletakkan kartu nama itu.
Apa yang akan dikatakannya jika dirinya menghubungi Hendrik? Menanyakan kabar? Terlalu basa-basi. Mengatakan dirinya tidak hamil? Untuk apa? Hanya akan membuat Hendrik semakin menjauhinya. Mengatakan mencintai Hendrik? Malu rasanya menjilat ludahnya sendiri. Apalagi jika sampai ditolak Hendrik.
Sumi merasa tidak yakin jika Hendrik akan kembali padanya jika dirinya menyatakan cinta pada Hendrik. Sumi takut di tolak. Bukan tanpa alasan Sumi menjadi tidak yakin jika Hendrik akan kembali padanya jika dirinya menyatakan cinta. Wajah kecewa dan suara datar Hendrik saat terakhir kali mereka bertemu. Perbincangan Hendrik dengan Andi dan juga perkataan Hendrik di bandara waktu itu membuat Sumi tidak yakin jika Hendrik akan kembali padanya jika dirinya menyatakan cinta pada Hendrik.
Masih jelas diingatan Sumi saat Hendrik mengatakan ingin menikah dengan orang yang mencintai dirinya. Dan juga kata-kata Hendrik di bandara yang mengatakan ingin melupakan seseorang dan tidak ingin mengingatnya lagi. Dan tentu saja orang yang dimaksud Hendrik adalah dirinya. Karena itulah Sumi enggan untuk menghubungi Hendrik. Takut jika Hendrik menolak dirinya yang tentunya akan membuat dirinya semakin kecewa dan malu.
Waktu kembali berjalan, Sumi melewati hari-harinya tanpa semangat. Meletakkan kepalanya di atas meja dengan wajah yang menempel di atas meja. Sumi memutar sebuah lagu dari aplikasi musik MP3 yang di download nya.
"Andaikan waktu bisa ku putar kembali
Kuingin dirimu tetap ada di sini
'Ku tak mampu bila dirimu pergi
Terdiam ku tenggelam meniti sepi malam
'Ku sendiri menanggung semua beban kau berikan
Mengalir air mata membasahi pipi
Ku tepiskan semua dengan ikhlas hati"
__ADS_1
Lagu yang berjudul "Terdiam Sepi" yang dilantunkan Nazia Marwiana, penyanyi asal Aceh yang sempat viral di tahun 2021 itu terdengar di ruangan kerja Sumi.
Seandainya waktu bisa di putar kembali, Sumi ingin merubah keputusannya. Ingin menerima Hendrik sebagai pendamping hidupnya. Karena Hendrik adalah satu-satunya pria yang tulus menyatakan cinta padanya dan berjuang untuk mendapatkan cintanya. Namun dengan bodohnya dirinya malah melepaskannya.
Malam sudah larut saat restoran Sumi di tutup. Sumi keluar paling terakhir dari dalam restorannya itu. Para karyawannya sudah pulang lebih dulu. Tinggal Sumi yang ada di depan restorannya. Wanita itu memesan taksi online untuk pulang, namun tak kunjung mendapatkan taksi online
"Ssstt.. kepalaku pusing sekali. Kenapa sejak datang bulan tiga hari ini kepalaku sering pusing dan perutku sering kram, ya? Padahal, bisanya saat datang bulan, aku tidak pernah merasakan pusing ataupun kram perut. Tapi, selam tiga hari ini datang bulan malah merasakan kram perut dan pusing. Darah yang keluar juga sedikit, tidak seperti biasanya. Apa karena aku stres, ya?"gumam Sumi dalam hati seraya memijit pelipisnya.
Semenjak mengetahui dirinya datang bulan, Sumi memang merasa stres. Nafsu makannya jadi hilang, tubuhnya cepat lelah, kepalanya sering pusing. Darah yang keluar saat datang bulan pun sedikit, bahkan disertai kram perut. Namun Sumi menganggap semua itu adalah akibat dirinya stres karena harapannya untuk hamil tidak terwujud alias kandas. Yang berarti harapannya agar Hendrik kembali padanya telah pupus.
Kepala Sumi semakin lama semakin terasa pusing, tubuhnya terasa lemas tanpa tenaga. Pandangan mata Sumi semakin lama semakin gelap hingga...
"Brugh"
Tubuh Sumi akhirnya ambruk. Namun saat tubuhnya mungkin tinggal beberapa senti lagi jatuh di lantai, tiba-tiba Sumi merasakan ada seorang yang menangkap tubuhnya. Namun Sumi tidak tahu siapa orang yang menangkap tubuhnya itu karena kesadaran Sumi sudah keburu hilang.
...πππ...
...Ikhlaskan semua yang telah pergi, karena penyesalan tidak bisa membawanya kembali....
...Tidak perduli seberapa besar penyesalanmu, kamu tidak akan pernah bisa memutar ataupun mengembalikan waktu....
...Lebih baik menyiapkan diri untuk menyongsong masa depan, daripada terus melihat ke belakang dan tenggelam dalam penyesalan....
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
__ADS_1
.
To be continued