Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
231. Kemana Saja?


__ADS_3

Berulang kali Fina menghela napas yang terasa berat. Fina sudah berteman dengan Rayyan sejak kecil dan menjadi sahabat Rayyan. Dan sebagai sahabat, Fina sangat prihatin saat mengetahui sahabatnya itu di timpa banyak masalah seperti saat ini.


"Kasihan sekali Rayyan. Baru juga penyakit insomnia Rayyan yang sudah bertahun-tahun itu sembuh semenjak bersama Aurora. Sekarang Aurora malah menghilang di saat Rayyan di timpa masalah seperti sekarang. Saat ini adalah saat dimana Rayyan benar-benar memerlukan orang terdekatnya untuk memberikan dukungan. Jika Aurora tidak segera ditemukan, aku takut penyakit insomnia Rayyan kambuh lagi,"gumam Fina menghela napas berat.


Di rumah Rayyan, pria itu meninggalkan para penjaga yang baru saja ditanyainya itu. Pria itu melangkahkan kakinya menuju kamarnya seraya menghubungi anak buah Andi untuk mencari keberadaan Aurora dan Mastuti.


"Kalian cari istri ku dan Bik Mastuti sampai ketemu. Dan selidiki semuanya secara detail. Aku ingin kalian menangkap orang yang menjadi dalang dari semua kejadian ini!"titah Rayyan kemudian mengakhiri panggilannya.


"Tuan!"panggil Nala membuat Rayyan menghentikan langkah.


"Tuan, maaf! Ini semua keteledoran saya. Awalnya saya berpikir nyonya bangun siang karena tidak ada Tuan di rumah. Karena akhir-akhir ini, sudah beberapa kali nyonya tidur lagi setelah mengantar Tuan berangkat bekerja. Dan biasanya juga sampai jam delapan baru bangun. Jadi, tadi saya mengira nyonya masih malas untuk bangun. Apalagi Bik Mastuti juga belum mengantarkan sarapan untuk nyonya,"


"Biasanya nyonya mengatakan pada Bik Mastuti, kapan Bik Mastuti harus mengantarkan sarapan. Sebab itu, saya tidak terlalu khawatir pada Nyonya. Saat sudah jam setengah sembilan, dan nyonya belum bangun, saya mulai khawatir karena nyonya belum sarapan. Tapi, saya malah tidak menemukan Bik Mastuti dan nomor nyonya dan Bik Mastuti malah tidak aktif,"jelas Nala dengan wajah yang tertunduk, merasa bersalah..


"Aku tahu. Aku tidak menyalahkan, kamu,. Karena istri ku sudah menghilang sebelum kamu datang,"sahut Rayyan, karena Aurora menghilang sebelum jam kerja Nala dimulai.


Rayyan juga tahu kebiasaan Aurora dari Aurora sendiri. Rayyan menganggap wajar, jika Nala tidak terlalu khawatir saat Aurora bangun siang. Dan baru menyadari ada yang tidak beres setelah tidak menemukan Mastuti dan tidak bisa menghubungi Mastuti dan Aurora. Karena akhir-akhir ini, Aurora memang beberapa kali bangun siang karena malamnya terlalu bersemangat saat melakukan aktivitas bercinta dengan dirinya.


"Maafkan saya, Tuan!"ucap Nala sekali lagi dengan wajah tertunduk dalam, penuh rasa bersalah.


Saat ini pikiran Rayyan benar-benar kalut dan kusut. Semua masalah benar-benar menumpuk. Masalah mertuanya yang kemungkinan besar adalah orang yang melenyapkan papanya. Masalah pembakaran gudang miliknya dan penembakan dirinya. Hingga menghilangnya kedua mertuanya, istri dan juga pelayan setianya.


Dan jangan tanyakan bagaimana khawatirnya Rayyan pada Aurora serta bayi dalam kandungan istrinya itu. Rayyan tidak ingin membayangkan hal buruk apapun terjadi pada anak dan istrinya. Membayangkan hal buruk terjadi pada anak dan istrinya membuat Rayyan stres dan ketakutan. Tidak sanggup rasanya jika nanti sampai harus menerima kabar buruk tentang anak dan istrinya.


Semua masalah yang datang bertubi-tubi ini benar-benar membuat otak Rayyan serasa ingin meledak.

__ADS_1


Rayyan menatap setiap sudut kamarnya dengan tatapan hampa. Kamar itu adalah tempat dirinya dan Aurora menghabiskan waktu bersama. Terbayang di ingatan Rayyan saat-saat mereka tidur bersama dan juga saat bersenda gurau bersama.


Saat dirinya merebahkan kepalanya di pangkuan Aurora seraya mengelus perut Aurora yang sudah membuncit. Mengecup perut Aurora dengan penuh kasih sayang. Merasakan pergerakan darah dagingnya dalam perut Aurora yang sedang tumbuh dan berkembang.Sedangkan Aurora membelai rambutnya dengan lembut. Momen manis yang tak terlupakan bagi Rayyan.


Mengingat lelahnya setelah bekerja seharian menjadi hilang karena mendapatkan perlakuan dan senyuman manis dari wanita yang dicintainya. Menatap wajah cantik istrinya yang sedang melepaskan dasi serta kancing kemejanya. Dan memeluk wanita yang di cintai nya itu membuat Rayyan merasa tenang.Semua hal kecil dan sederhana itu sudah bisa membuat Rayyan sangat bahagia.


Rayyan duduk bersandar di headboard ranjangnya. Memejamkan matanya mengingat senyuman manis Aurora yang menyambut dirinya pulang. Mengingat saat wanita yang dicintainya itu duduk di pangkuannya sambil mengalungkan kedua tangannya di lehernya seraya menggoda dirinya.


Ada yang kosong dalam hati Rayyan. Kekosongan yang tidak bisa diisi oleh siapapun. Kekosongan yang hanya bisa diisi oleh Aurora.


Setelah begitu lama berjuang, akhirnya Rayyan bisa mendapatkan cinta Aurora. Kebahagiaan mereka pun semakin lengkap saat Rayyan mengetahui jika Aurora sedang mengandung darah dagingnya.


Namun memang benar, di dunia ini tidak ada yang abadi. Baik suka dan duka, sedih ataupun tawa, semuanya datang dan pergi silih berganti.


"Kamu, dimana, sayang? Bagaimana keadaan kamu dan anak kita? Apa kalian baik-baik saja? Aku benar-benar suami dan ayah yang tidak berguna bagi anak dan istri ku"gumam Rayyan dengan dada yang terasa sesak, mengusap wajahnya kasar.


Tidak akan lama lagi Aurora akan melahirkan. Dan Rayyan tidak tahu, apakah dirinya bisa mendampingi Aurora melahirkan atau tidak. Mengingat saat ini Aurora menghilang dan sepertinya tidak akan mudah untuk mencari keberadaan Aurora.


Walaupun masih ada tanda tanya besar dalam hati Rayyan. Kenapa Aurora mengganti password kamar mereka.


Rayyan keluar dari kamarnya. Entah akan kemana dirinya sekarang. Rayyan benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Ray! Ada apa dengan lengan kamu? Dan kenapa wajah kamu kusut seperti itu?"tanya Naima yang tiba-tiba muncul bersama Hendrik dan Sumi. Sumi nampak memegangi lengan Naima.


"Mama dan kakak kemana saja?"tanya Rayyan membuang napas kasar, tanpa menjawab pertanyaan mamanya.

__ADS_1


Ada rasa kesal di hatinya karena kakak dan mamanya malah tidak ada di rumah saat kejadian tadi malam. Padahal semalam mereka berkumpul bersama untuk merayakan pernikahan Hendrik.


"Semalam mama jatuh pingsan. Karena kamu sedang dalam masalah, aku dan Miti membawa mama ke rumah sakit tanpa memberitahu kamu. Kami juga melarang pelayan memberitahu kamu tentang keadaan mama, karena tidak ingin kamu khawatir. Bahkan aku tidak mengantarkan keluarga Miti pulang. Kata dokter, mama kecapean. Darahnya rendah, dan hemoglobin nya juga rendah. Aku bilang pada mama agar di rawat sehari lagi di rumah sakit, tapi mama ngotot ingin pulang. Kata mama, mama kepikiran pada Aurora,"jelas Hendrik membuat Rayyan terkejut.


Rayyan yang sempat merasa kesal pada mama dan kakaknya pun, jadi merasa bersalah karena telah berprasangka buruk pada mama dan kakaknya. Apalagi saat melihat wajah Naima yang terlihat pucat.


Ya, Naima memang dari semalam tidak mau di rawat di rumah sakit. Tapi Hendrik tidak mengizinkan Naima pulang, karena keadaan Naima memang masih lemah. Siang ini pun Naima masih merasakan pusing. Tapi Naima tetap kukuh dengan pendiriannya, ingin pulang karena merasa khawatir pada Aurora yang semalam terlihat sangat sedih setelah mengetahui kedua orang tuanya masuk rumah sakit. Sehingga mau tidak mau Hendrik menuruti keinginan Naima untuk pulang.


Tapi, semalam Naima di rawat di rumah sakit yang tidak jauh dari rumah mereka. Bukan di rawat di rumah sakit tempat Fina bekerja.


"Aurora dan Bik Mastuti menghilang, ma,"ucap Rayyan menatap mamanya yang menatapnya dengan tatapan sayu karena kepalanya masih terasa pusing.


"Menghilang? Apa maksud kamu, Ray?"tanya Naima nampak terkejut sekaligus khawatir.


"Menghilang bagaimana?"tanya Hendrik yang juga terkejut.


Sedangkan Sumi juga tidak kalah terkejutnya dengan Naima dan Hendrik. Ada rasa khawatir yang tergurat jelas di wajah Sumi saat mendengar sahabatnya yang sekarang menjadi adik iparnya itu menghilang. Apalagi sahabatnya itu sedang hamil besar.


...🌸❤️🌸...


Notebook :


Hemoglobin adalah metaloprotein di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh, pada mamalia dan hewan lainnya. Hemoglobin juga pengusung karbon dioksida kembali menuju paru-paru untuk dihembuskan keluar tubuh. Wikipedia


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2