Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
137. Perkara Baju


__ADS_3

Sumi pergi ke mall. Namun sebelum pergi ke mall, Sumi mampir ke ahli gigi, kemudian ke toko optik. Sumi memakai celana kulot dan kemeja longgar agar bentuk tubuhnya yang tergolong bahenol tidak terlalu terlihat. Gigi tonggos palsu dan kaca mata besar pun di pakainya. Melepaskan masker yang membuat napasnya terasa engap. Walaupun gigi palsu yang dipakainya tidak terlalu membuat Sumi tonggos, tapi sudah cukup menyamarkan wajah Sumi yang cantik menjadi tidak cantik. Apalagi di tambah kacamata besar yang dipakainya.


Sumi langsung membeli peralatan mandi yang di sukainya. Setelah selesai membeli peralatan mandi, tanpa sengaja wanita itu melewati sebuah toko tas. Sumi melihat deretan tas di etalase toko yang membuat jiwa pengoleksi tas branded nya meronta-ronta.


"Ya, ampunnn.. cantik-cantik sekali tas itu. Lihat-lihat aja nggak apa-apa, 'kan?"gumam Sumi dengan senyum lebar seraya masuk ke dalam toko tas itu. Mata wanita itu nampak berbinar-binar melihat tas-tas dengan model baru.


"Wahh.. Sling bag ini cantik sekali. Yang ini juga cantik,"gumam Sumi terlihat senang melihat-lihat tas dengan berbagai model dan ukuran.


Namun atensi Sumi teralihkan saat handphone di sling bag nya berdering. Wanita itu mengernyitkan keningnya saat melihat yang menghubungi dirinya adalah Andi. Karena sangat jarang pemuda itu menghubungi dirinya jika tidak ada hal yang penting.


"Tuan Andi? Kenapa Tuan Andi menghubungi aku? Bukannya tadi baru saja bertemu? Apa ada yang lupa dia sampaikan padaku?"gumam Sumi yang merasa heran mendapatkan telepon dari Andi. Namun wanita itu tetap menerima panggilan itu.


"Halo, Tuan!"ucap Sumi setelah menerima penggilan dari Andi.


"Saya lupa mengatakan, bahwa pelayan di rumah anda ada sepuluh orang dan semuanya harus anda gaji sendiri. Jika anda mengurangi satu orang pelayan saja untuk menghemat pengeluaran, maka anda harus menggantikan posisinya untuk merawat rumah. Karena semua pelayan itu sudah punya pekerjaan masing-masing. Dan ingat! Mungkin saja deretan tas di depan anda itu akan menjadi awal rusaknya wajah anda,"ucap Andi terdengar tegas dan mengintimidasi.


"Glek"


Sumi yang mendengar apa yang dikatakan Andi pun menelan salivanya kasar. Wajah wanita itu langsung pucat pasi. Dengan panik, wanita itu menoleh ke segala arah untuk mencari dimana keberadaan Andi.


"Sa.. saya hanya melihat-lihat saja, Tuan. Tidak berniat membeli,"ucap Sumi yang memang awalnya hanya ingin melihat-lihat Tapi, Sumi jadi tertarik untuk membeli setelah melihat betapa cantik-cantik nya tas itu.


"Orang tertarik membeli karena melihatnya. Jadi, untuk apa anda masuk ke toko tas itu jika tidak ingin membeli tas? Ingin membeli kue? Ingat kata-kata saya! Jika anda tidak bisa mengatur keuangan anda dengan baik, dan usaha anda bangkrut hingga anda tidak bisa membiayai hidup anda dan keluarga anda lagi, saya akan menuntut Anda karena melakukan operasi plastik menyerupai wajah nyonya Aurora tanpa ijin Nyonya Aurora. Atau kalau tidak... saya akan menghancurkan wajah oplas nona itu,"


Tut..Tut..Tut...

__ADS_1


Setelah mengancam Sumi, Andi langsung memutuskan sambungan telepon. Tanpa menunggu respon dari Sumi. Sedangkan Sumi sendiri, wajah wanita itu semakin pucat karena mendengar ancaman dari Andi.


"Di.. dia mengawasi aku? Di.. dia tahu kalau aku sedang berada di toko tas. Di..dimana dia? Astagaa! Dia benar-benar mengawasi aku. Sebaiknya aku pergi dari sini. Sebelum dia mengeluarkan kata-kata sadisnya lagi,"gumam Sumi kemudian bergegas keluar dari toko tas itu.


Saat melewati sebuah butik, Sumi nampak berhenti dan melihat ke dalam butik itu.


"Aku ingin membeli baju tidur, boleh, 'kan? Selama di negeri ginseng, aku tidak bisa kemana-mana karena harus menjalani operasi. Tuan Andi tidak akan marah, 'kan, jika aku membeli pakaian? Lagian, aku nggak membeli pakaian yang harganya selangit, kok. Cuma pakaian sehari-hari saja,"gumam Sumi, kemudian wanita itu masuk ke butik yang menjual pakaian tidur yang ada di depannya itu.


Sumi memilih-milih baju tidur model kimono, hingga matanya tertuju pada baju tidur kimono dengan warna soft dengan bahan yang terasa adem saat di pakai di kulit.


"Bahannya lembut dan adem,"gumam Sumi seraya menyentuh baju itu,"Aku ambil ini saja, lah,"gumam Sumi memegang hanger baju itu hendak mengambilnya. Namun baru saja Sumi memegang hanger baju itu..


"Plak"


"Auwh"


"Nona, saya yang lebih dulu menegangnya. Jadi, ini milik saya,"ucap Sumi berusaha sabar menghadapi wanita di depannya itu. Dengan cepat Sumi mengambil baju itu dari wanita di depannya itu.


"Hei! Itu milikku! Wanita jelek seperti kamu tidak pantas pakai barang bagus seperti itu. Cari yang lain sana! Itu milikku,"bentak wanita yang wajahnya memang tergolong cantik itu berusaha mengambil baju yang di pegang Sumi. Namun dengan cepat, Sumi langsung menyembunyikan baju itu di balik punggungnya.


Sumi menatap kesal pada wanita di depannya ini. Jika di bandingkan dengan wajahnya saat ini, tanpa memakai kacamata dan gigi palsu, tentu saja wajah wanita di depannya ini tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan wajahnya saat ini.


"Kenapa memangnya jika wajah kamu lebih cantik dari aku. Apa pakaian di butik ini d beli dengan kecantikan? Bukan dengan uang? Jangan mentang-mentang kamu cantik, kamu semena-mena pada orang yang tidak cantik. Jika Tuhan berkehendak, dalam sekejap wajah cantik kamu itu akan rusak. Aku mengambil baju ini lebih dulu, dan aku sanggup membayarnya. Kenapa aku harus memberikan baju ini padamu?"ketus Sumi yang tidak lagi berbahasa formal pada wanita di depannya itu.


"Halahh..udah jelek kebanyakan bacot, lu! Kembalikan! Baju itu milikku!"ketus wanita itu kembali berusaha mengambil baju yang di pegang Sumi.

__ADS_1


"Ya sudah! Nih, ambil saja buat kamu!"ucap Sumi yang tidak ingin berdebat lagi. Apalagi saat melihat mereka berdua jadi pusat perhatian semua orang. Walaupun sebenarnya Sumi sangat menyukai baju itu.


"Nggak dari tadi. Orang jelek itu harus sadar diri! Nyadar nggak sih, kalau wajah kamu itu merusak pemandangan?"cibir wanita itu memandang rendah pada Sumi.


Sumi menghela napas panjang mendengar hinaan wanita itu,"Aku mengalah dari kamu bukan karena aku jelek. Tapi aku yang waras ini harus sabar dan mengalah pada orang yang tidak tahu adab, tata krama dan gila seperti kamu! Agar aku tidak tertular gila seperti kamu!"ucap Sumi yang merasa kesal.


"Kau!"


"Plak"


"Auwh"


Wanita di depan Sumi itu hendak menampar Sumi, namun tiba-tiba tangan seseorang menangkap tangan wanita itu hingga tidak sampai ke pipi Sumi. Lalu menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar, hingga wanita itu memekik karena sakit. Semua orang pun menatap orang yang menahan tangan wanita yang hendak menampar Sumi.


"Ya Tuhan.. ini manusia apa dewa? Tampan sekali,"gumam Sumi dalam hati.


Sumi menatap orang yang telah menolongnya itu dengan mata yang tidak berkedip. Seorang pria rupawan dengan tubuh tinggi tegap, proporsional dengan wajah rupawan. Bahkan semua orang pun menatap pada pria itu.


"Jangan suka menghina orang sembarangan! Kecantikan kamu itu memang lumayan. Tapi mulut kamu itu lebih busuk dari tong sampah. Memangnya kenapa jika dia jelek? Kamu pikir dia mau dilahirkan jelek? Jika dia bisa meminta, dia akan meminta pada Tuhan agar dilahirkan lebih cantik dari kamu! Aku paling tidak suka melihat seseorang ditindas hanya karena dia jelek. Berikan baju itu padanya! Aku melihatnya sendiri, dia yang lebih dulu memegang dan mengambil baju itu,"


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2