
Andi terbangun, namun pemuda itu masih enggan untuk membuka matanya. Pemuda itu meraba-raba sisi sebelah tempatnya berbaring. Andi sudah meraba di samping kanan dan kiri tubuhnya, tapi Andi tidak menemukan keberadaan istrinya. Pemuda itu terpaksa membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Namun, Andi juga tidak menemukan istrinya.
"Kemana, Kanaya? Yang di bawah ini ikut bangun, tapi Kanaya malah sudah tidak ada,"gumam Andi membuang napas kasar memegang sesuatu di bawah sana yang sudah mengeras, tapi bukan es balok.
Andi kemudian turun dari ranjang dan beranjak ke kamar mandi, berharap istrinya ada di dalam kamar mandi. Namun, di kamar mandi pun, Andi tidak menemukan Kanaya. Akhirnya pemuda itu memilih membersihkan diri terlebih dahulu, lalu baru mencari istrinya.
Beberapa menit kemudian, Andi pun sudah selesai membersihkan diri. Pemuda itu memakai celana jeans berwarna hitam yang di padukan dengan sweater berwarna putih. Andi berjalan ke arah dapur saat mendengar suara wajan yang beradu dengan spatula dari arah dapur. Namun, setelah masuk ke dalam dapur itu, Andi tidak melihat keberadaan istrinya.
"Bu, mana Kanaya?"tanya Andi yang melihat mertuanya sedang menyangrai kacang tanah.
"Oh, Kanaya ke pasar membeli sayuran,"sahut ibu Kanaya yang sedikit terkejut mendengar suara Andi.
"Pasarnya di sebelah mana, Bu?"
"Itu, loh, yang nggak jauh dari gerbang desa. Di situ adalah tempat pasar tradisional, hanya menjual bahan memasak seperti sayuran, ikan, daging dan bahan memasak lainya. Eh, ada juga jajanan tradisionalnya. Pasar itu ramainya cuma dari pukul empat subuh sampai pukul sembilan pagi,"jelas ibu Kanaya seraya menyangrai kacang.
"Kalau begitu, aku akan menyusul Kanaya, Bu. Sekalian jalan-jalan olahraga pagi,"ujar Andi yang penasaran dengan pasar tradisional yang diceritakan ibu mertuanya itu.
"Ya sudah, susul sana! Udara pagi rasanya segar. Apalagi semalam dari turun hujan. Jalan-jalan pagi bagus buat kesehatan,"ujar ibu Kanaya tersenyum tipis.
"Iya, Bu. Kalau begitu, aku menyusul Kanaya dulu," pamit Andi.
"Iya. Hati-hati!"sahut ibu Kanaya.
Beberapa menit kemudian, Andi sudah tiba di pasar tradisional yang terlihat ramai itu. Pemuda itu pun masuk ke dalam pasar dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan istrinya.
*
Di sisi lain, semua orang yang ada di tempat Kanaya berada saat ini nampak terkejut saat mantan calon mertua Kanaya itu tiba-tiba menarik tangan Kanaya dengan kasar, hingga mentimun yang di pegang Kanaya pun jatuh.
"Dasar tidak sopan! Aku bicara padamu, kenapa kamu mengabaikan ku? Memang, ya, orang miskin dan minim pendidikan itu nggak punya etika,"ujar wanita itu masih memegang erat tangan Kanaya.
__ADS_1
"Siapa yang tahu jika ibu sedang bicara dengan saya? Ibu tidak memanggil nama saya, bukan?"tanya Kanaya dengan nada yang terdengar datar.
"Benar itu. Saya saja sampai bingung, ibu ngomong sama siapa,"sahut ibu-ibu yang mengalami obesitas.
"Aku sudah memanggil kamu tadi. Dasar kamu nya saja yang sombong. Orang miskin saja sombong,"ketus wanita itu.
"Ibu memanggil saya dengan panggilan orang miskin? Simpan om-om?" tanya Kanaya tersenyum sinis.
"Nah, itu nyadar!"ujar wanita paruh baya itu tersenyum remeh pada Kanaya.
Ibu-ibu yang memakai kacamata pun membuang napas kasar mendengar perdebatan dua orang wanita beda usia itu, lalu berkata,"Jangan mentang-mentang pakai banyak emas ke pasar, terus bisa menghina orang lain sombong, Bu. Kalau seperti itu, bukankah ibu yang sombong, karena memamerkan semua emas ibu itu?"
"Iya, betul. Ke pasar saja pakai perhiasan emas yang begitu banyak. Sudah seperti toko emas berjalan saja. Apa mau ngedit emas?" cibir ibu-ibu yang memakai daster berwarna kuning.
"Sirik tanda tak mampu!"cibir ibu-ibu yang bak toko emas berjalan itu,"kalian malah membela simpanan om-om yang miskin ini,"sinis wanita itu.
"Saya tidak merasa menjadi simpanan om-om. Saya juga tidak merasa miskin. Jadi, wajar saja, jika saya berpikir bahwa ibu bukan bicara dengan saya,"ujar Kanaya penuh percaya diri.
"Akkhh..!
"Dasar perempuan jalangg! Beraninya kamu!" sergah wanita itu terlihat marah pada Kanaya, kemudian menatap ibu-ibu yang ada di tempat itu,"kalian lihat sendiri, 'kan? Perempuan ini kasar dan tidak punya tata krama. Perempuan seperti ini tidak pantas kalian bela!"ujar wanita itu memprovokasi ibu-ibu yang ada di tempat itu.
"Bukannya ibu yang kasar? Ibu lebih dulu menarik tangan saya dengan kasar. Bahkan memfitnah saya, dan mencemarkan nama baik saya dengan mengatai saya simpanan om-om, tidak sopan dan tidak punya tata krama. Kurang-kurang, ibu mengatai saya perempuan jalangg. Padahal, sedari tadi saya sedang berbelanja dan sama sekali tidak menyinggung, apalagi mencari gara-gara dengan ibu. Ibu lah yang sengaja mencari gara-gara dengan saya,"
"Atas dasar apa ibu mengatai saya perempuan jalangg? Dan mana buktinya jika saya menjadi simpanan om-om? Jangan asal bicara! Nanti ibu bisa menginap di penjara. Karena suami saya tidak akan terima, jika saya di hina," ujar Kanaya yang terlihat kesal.
"Iya, benar! Jangan menuduh tanpa bukti, itu jatuhnya fitnah,"sahut ibu-ibu yang memakai baju piyama dan yang lainnya pun ikut membenarkan .
"Dasar pintar bicara! Kamu merayu anak ku agar bisa kamu manfaatkan untuk membantu kamu menebus sertifikat rumah mu, 'kan?Mana ada perjaka yang mau menikah sama kamu dengan syarat menebus sertifikat rumah kamu dan membangun kembali rumah kamu? Apalagi kamu hanya lulusan SMU,"
"Hanya om-om yang ingin menjadikan kamu sebagai istri simpanan yang mau menikahi orang yang berpendidikan rendah seperti kamu,"cibir wanita itu.
__ADS_1
"Itu hanya asumsi ibu sendiri. Apa ibu punya bukti jika apa yang ibu tuduhkan pada saya itu benar?"sangkal Kanaya yang sebenarnya sangat malas untuk berdebat.
"Asumsi semata, tapi berani menuduh orang," sahut ibu-ibu yang memakai kacamata.
"Kalau kamu memang benar tidak menikahi om-om, tunjukkan mana suamimu dan mana surat nikah kamu!"tantang mantan calon mertua Kanaya itu.
Kanaya tersenyum ringkih mendengar perkataan wanita di depannya itu.
"Memangnya ibu siapa, hingga meminta saya untuk menunjukkan suami saya dan meminta bukti surat nikah saya? RT? RW? Kepala desa? Atau Sat Pol PP?" tanya Kanaya tersenyum sinis.
"Aku memang bukan RT, RW, kepala desa, ataupun Sat Pol PP. Tapi, semua orang di sini pasti ingin bukti kalau apa yang kamu katakan itu benar. Iya, 'kan? Kalian setuju dengan aku, 'kan?"tanya wanita itu pada semua ibu-ibu yang ada di tempat itu.
"Kami memang ingin melihat suami Kanaya, tapi kami tidak menuduh Kanaya yang bukan-bukan seperti kamu,"sahut ibu-ibu yang mengalami obesitas.
"Iya, itu benar,"sahut ibu-ibu berdaster kuning.
"Bu, apa yang ibu lakukan di sini? Jangan membuat keributan,"ucap seorang pemuda mendekati wanita itu. Pemuda itu nampak curi-curi pandang pada Kanaya,"sudah lama tidak bertemu, dia semakin terlihat cantik saja," gumam pemuda itu dalam hati.
Pemuda yang baru saja datang itu bernama Iwan. Pemuda yang merupakan mantan pacar Kanaya yang terpaksa harus memutuskan Kanaya karena tidak mendapatkan restu dari ibunya.
"Kenapa kamu datang ke sini? Ingin melihat perempuan jalangg ini? Hah?! Lihatlah dia! Lehernya penuh dengan tanda cinta. Mungkin dia tidak hanya menjadi simpanan om-om, tapi juga menjadi penjaja cinta satu malam. Menjual diri demi uang. Dia itu orang miskin yang tidak punya apa-apa, hanya bisa mengandalkan tubuhnya untuk melanjutkan hidup. Menjijikkan sekali!" tuduh ibu Iwan itu yang lagi dan lagi menuduh Kanaya tanpa bukti.
Iwan menatap Kanaya dengan tatapan yang sulit diartikan,"Apa benar kata ibu? Dia seperti yang ibu katakan? Padahal aku sangat mencintai Kanaya. Seandainya saja ibu tidak menentang hubungan kami, aku pasti sudah menikahi Kanaya,"gumam Iwan dalam hati dengan tatapan yang tertuju pada Kanaya.
"Saya akan melaporkan ibu pada pihak yang berwajib, karena telah memfitnah dan mencemarkan nama baik saya,"ancam Kanaya terdengar datar.
"Halahhh.. Sok-sokan mau melaporkan aku. Apa kamu pikir dengan melapor saja semuanya sudah beres? Kalau kamu tidak punya uang untuk membayar pengacara, kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa padaku. Mana sanggup kamu membayar pengacara," sahut ibu Iwan percaya diri.
"Kenapa tidak sanggup? "
...🌸❤️🌸...
__ADS_1
.
To be continued