
Sekitar pukul sepuluh pagi, Aurora pulang dari toko kuenya. Hari ini Aurora berniat untuk mengantar makan siang ke kantor Rayyan. Sekalian makan siang bersama dengan suaminya itu. Dan hal ini adalah pertama kalinya bagi Aurora.
Aurora menyiapkan makanan kesukaan Rayyan di bantu oleh Mastuti. Mastuti nampak senang melihat Aurora yang nampak bersemangat menyiapkan makanan yang akan dibawa ke kantor Rayyan itu.
"Aku senang karena hubungan nyonya dan Tuan semakin membaik. Aku harap, mereka akan selalu bahagia dan tidak akan berpisah lagi,"gumam Mastuti dalam hati.
Mastuti tidak punya keluarga lagi selain Rayyan sekeluarga. Beruntung Rayyan dan keluarganya memperlakukan dirinya dengan baik, walaupun dirinya hanya seorang pelayan di rumah itu. Demikian pula dengan semua pelayan yang ada di rumah itu. Keluarga Rayyan menghormati mereka semua walaupun mereka hanya pelayan di rumah itu. Terutama semenjak Naima dan Hendrik kembali ke jalan yang benar. Jadi, Mastuti dan semua pelayan di rumah itu memperlakukan Rayyan dan keluarganya sebaik yang mereka mampu.
"Sudah selesai,"gumam Aurora. Bik, tolong rapikan, ya! Aku akan bersiap-siap dulu,"pinta Aurora.
"Baik nyonya,"sahut Mastuti dengan senyuman di bibirnya.
Aurora pun bergegas meninggalkan dapur dan bersiap-siap untuk pergi. Aurora memilih membersihkan diri sebelum pergi mengantarkan makanan untuk suaminya. Tidak ingin tubuhnya bau masakan, dan juga keringat. Aurora ingin selalu tampil cantik, harum dan menawan di hadapan suaminya.
Setelah selesai, Aurora pun berpamitan pada Naima yang sedang mengasuh kedua cucunya di temani baby sister. Naima nampak senang mengetahui Aurora berniat mengantarkan makanan untuk Rayyan di kantor.
Akhir-akhir ini wanita paruh baya itu terlihat selalu bahagia dan lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersama anak, menantu dan cucu-cucunya.
Aurora pergi bersama Nala dengan mobil yang dikemudikan oleh supir pribadinya. Aurora merasa deg-degan, karena baru kali ini Aurora datang ke kantor Rayyan dan membawakan makanan untuk suaminya itu.
Namun saat mobil yang ditumpangi Aurora hampir mendekati gedung tempat Rayyan bekerja, Aurora meminta supirnya untuk menepi, karena Aurora melihat Rayyan dan Andi masuk ke dalam mobil.
"Apa mereka akan makan siang di luar? Makan siang bersama klien? Aku salah karena tidak mencari informasi terlebih dahulu. Seharusnya aku bertanya pada Andi dulu tentang schedule Rayyan, dan meminta Andi merahasiakan kedatangan ku agar menjadi surprise untuk Rayyan. Kalau begini, 'kan, sia-sia aku datang kemari. Karena sepertinya Rayyan akan pergi makan siang,"gumam Aurora dalam hati.
Namun sesaat kemudian Aurora memicingkan matanya saat melihat seorang wanita berlari ke arah mobil Rayyan.
"Itu.. Bukankah itu Dila?"gumam Aurora dalam hati.
Aurora terus mengamati Dila hingga wanita itu menghadang mobil Rayyan. Sedangkan Nala dan supir pribadi Aurora hanya diam dan ikut melihat Dila yang menghadang mobil Rayyan.
Aurora melihat Rayyan dan Andi keluar dari mobil. Rayyan nampak tidak mau di dekati Dila. Aurora juga melihat beberapa orang asing mendekati Dila dan nampak berbicara dengan Rayyan. Setelah itu Rayyan dan Andi nampak masuk ke dalam mobil meninggalkan Dila yang sepertinya memanggil dan mengejar Rayyan. Aurora melihat Dila di bawa para pria asing itu.
"Tuan, itu mobil nyonya,"ucap Andi saat mobil yang mereka tumpangi baru saja melaju.
"Kenapa dia kemari?"gumam Rayyan,"Pak, aku ingin menghampiri istri ku,"ucap Rayyan.
Di dalam mobil Aurora.
"Nyonya, sepertinya tuan kemari,"ujar Nala.
"Cepat sembunyikannya makanan ini!"pinta Aurora seraya memberikan makanan yang di bawanya dari rumah tadi pada Nala.
Tidak lama kemudian Rayyan pun menghampiri mobil Aurora dan masuk ke dalam mobil Aurora.
__ADS_1
"Sayang, apa kamu mencari aku?"tanya Rayyan yang merasa heran melihat Aurora ada di dekat kantornya. Rayyan mendekatkan bibirnya di telinga Aurora, lalu berbisik,"Apa kamu merindukan aku, lalu mencari ku ke sini?"tanya Rayyan kemudian mengecup bibir Aurora.
"Ray!"Aurora mendorong dada Rayyan pelan, sedangkan Rayyan malah tersenyum.
"Kamu merindukan aku?"tanya Rayyan kembali berbisik di telinga Aurora.
"Enggak. Aku lagi gabut aja, jadi muter-muter, dan nggak sengaja lihat mantan kamu nyamperin kamu,"sahut Aurora berbohong, malu rasanya mengatakan jika dirinya datang karena ingin mengantarkan makan siang untuk Rayyan.
"Jalan, Pak!"ucap Rayyan.
"Eh, mau kemana? Apa kamu sudah mau pulang?"tanya Aurora yang bingung karena Rayyan malah tidak kembali ke mobilnya.
"Aku ada janji makan siang bersama klien,"ucap Rayyan seraya memegang tangan Aurora.
"Lalu, kenapa kamu tidak kembali ke mobil kamu?"
"Karena kamu sudah ada bersamaku dan sedang gabut, jadi lebih baik kamu menemani aku makan siang bersama klien,"ujar Rayyan tersenyum tipis.
Akhirnya siang itu Aurora menemani Rayyan makan siang bersama klien dan membahas tentang kerjasama mereka. Setelah selesai makan siang, Rayyan kembali ke kantor dan Aurora memutuskan untuk pergi ke kafe nya. Sedangkan makanan yang di bawa Aurora dari rumah tadi di berikan pada supir pribadi Aurora.
Jujur, Aurora merasa tersanjung sekaligus malu saat makan siang bersama Rayyan dan klien Rayyan tadi. Karena Rayyan menunjukkan perhatiannya pada Aurora seperti biasa. Perhatian yang terlihat mesra di mata orang lain.
*
"Andi!"
"Iya, Tuan,"sahut Andi seraya menoleh ke arah Rayyan.
"Kosongkan jadwal ku. Aku ingin kita semua berlibur. Pasti seru jika berlibur bersama. Beri tahu kakakku untuk mengosongkan jadwalnya,"ucap Rayyan membayangkan berlibur bersama seluruh keluarganya.
"Baik, Tuan. Tuan tenang saja, saya akan mencarikan tempat yang asyik untuk berlibur. Tapi tidak untuk waktu dekat ini, Tuan. Kita akan lembur dulu untuk menyelesaikan tugas-tugas kita, agar saat berlibur nanti kita bisa berlibur dengan tenang,"sahut Andi penuh senyuman.
"Okey. Atur saja oleh mu. Kalau bisa, aku ingin kita berlibur agak lama. Sejak aku membawa kembali anak dan istri ku, aku belum pernah mengajak mereka berlibur,"ujar Rayyan yang juga penat dengan urusan pekerjaan.
Setelah delapan bulan berpisah dengan anak istrinya, Rayyan memang selalu berusaha untuk menyisihkan waktu agar bisa bersama anak dan istrinya lebih lama. Namun Rayyan merasa kurang puas jika tidak mengajak keluarganya berlibur.
Saat Rayyan sudah sampai di rumah, pria itu melihat Naima yang sedang bermain dengan Zayn. Sumi pun juga ada di sana sedang memangku putrinya. Rayyan menghampiri Zayn yang sedang duduk di karpet bulu asik bermain itu.
"Pa.. Pa.. Pa.."teriak Zayn saat tanpa sengaja melihat papanya. Dengan cepat bayi itu merangkak menghampiri papanya.
"Jagoan papa,"ucap Rayyan langsung mengangkat tubuh Zayn dan menciuminya. Zayn terkekeh saat Rayyan mengusalkan kepalanya di perut Zayn.
"Apa Aurora sudah pulang, ma?"tanya Rayyan seraya mengelus kepala Zayn yang ada dalam gendongannya.
__ADS_1
"Sudah dari tadi. Aurora baru saja masuk ke dalam kamar,"sahut Naima.
"Zayn main sama nenek dulu, ya,"ucap Rayyan mengecup pipi Zayn, lalu memberikannya pada Naima. Pria itu bergegas berjalan menuju kamarnya.
"Apa Aurora sedang mandi?"gumam Rayyan dalam hati, berharap istrinya masih mandi.
"Ceklek"
Rayyan membuka pintu kamarnya dan tidak melihat Aurora di dalam kamar itu. Pria itu pun bergegas menuju kamar mandi.
"Ceklek"
Saat Rayyan tinggal beberapa langkah lagi sampai di depan pintu kamar mandi, pintu itu sudah terbuka lebih dulu dan Aurora pun muncul dari balik pintu itu.
"Kamu sudah pulang?"tanya Aurora yang hanya memakai handuk yang menutupi dada hingga pahanya. Rambut Aurora di ikat tinggi hingga leher jenjang putih mulusnya terekspos sempurna. Rayyan menelan salivanya kasar melihat penampilan Aurora yang terlihat sangat menggoda di matanya itu.
"Hum,"sahut Rayyan langsung memeluk pinggang Aurora dan mencium bibir Aurora. Rayyan merapikan anak rambut Aurora yang terlihat basah,"Aroma tubuh mu segar sekali,"ucap Rayyan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aurora, menghirup aroma segar di tubuh istrinya dan menggosokkan hidungnya di leher istri itu.
"Ray, hentikan!"ucap Aurora seraya mendorong pelan dada Rayyan agar pria itu menghentikan aksinya yang membuat tubuh Aurora terasa meremang.
"Aku ingin menerkam mu sekarang juga,"ucap Rayyan dengan suara berat.
Entah mengapa kali ini Rayyan tidak bisa menahan diri lagi saat melihat Aurora yang baru saja selesai mandi dan hanya berbalut handuk itu. Aroma terlihat segar dan menggairahkan di mata Rayyan.
"Ray! Turunkan aku! Ini masih sore, Ray!"pekik Aurora saat tiba-tiba Rayyan mengangkat tubuhnya dan membawa Aurora ke arah sofa Tantra.
"Sayang, aku ingin mencoba bagaimana rasanya jika melakukannya sore-sore begini,"ucap Rayyan tetap menggendong Aurora ke arah sofa Tantra.
"Astaga, Ray! Tidak bisakah kamu menunggu sampai nanti malam?"tanya Aurora yang benar-benar tidak mengerti dengan suaminya itu. Seolah tidak pernah puas kalau sudah mengenai urusan bercinta.
"Tidak bisa. Aku pengennya sekarang,"sahut Rayyan seraya merebahkan tubuh Aurora di atas sofa Tantra.
Rayyan melepaskan jas yang dipakainya dan melemparkannya dengan asal. Pria itu langsung menindih tubuh Aurora dan menyerang bibir Aurora yang tidak pernah membuat dirinya bosan . Bibir yang selalu membuatnya menjadi candu.
Aurora hanya bisa pasrah melayani keinginan suaminya itu.
...πΈβ€οΈπΈ...
Kalau ada typo spill aja, biar nanti aku revisi. Aku lagi repot pindahan.π
.
To be continued
__ADS_1