
Bima baru saja selesai bertugas. Pria itu tidak langsung pulang ke rumahnya dan Nilam. Tapi pulang ke rumah orang tuanya.
Ya, kemarin Bima sudah tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Walaupun harus berdebat panjang dengan ibunya, akhirnya Bima dan Nilam pindah dari rumah kedua orang tua Bima. Bahkan ibu Bima sempat menyerang Nilam dengan kata-kata pedas andalan nya. Karena menganggap Nilam lah yang menghasut Bima untuk pindah rumah. Walaupun kenyataannya memang benar.
Bukankah lebih baik jika setelah menikah tinggal terpisah dari orang tua? Jika tinggal terpisah dari orang tua, pasangan suami-isteri akan memiliki ruang pribadi atau privasi, lebih sedikit konflik dalam rumah tangga, lebih mandiri, bisa lebih fokus pada kehidupan rumah tangga sendiri, dan bisa termotivasi untuk bekerja lebih keras.
Namun, bukan berarti bahwa tinggal bersama orang tua setelah menikah sepenuhnya adalah buruk. Karena semua hal dalam hidup pasti memiliki plus dan minusnya. Dan banyak juga orang di luar sana yang sudah menikah namun tetap bisa harmonis dengan orang tua, walaupun tinggal bersama. Semua itu tergantung bagaimana manusianya.
Karena ada barangnya yang tertinggal di rumah kedua orang tuanya, tadi pagi Bima ke rumah orang tuanya. Namun, tanpa di duga, handphone Bima malah tertinggal di rumah kedua orang tuanya. Karena itulah Bima pulang ke rumah kedua orang tuanya terlebih dahulu untuk mengambil handphonenya, sebelum pulang ke rumahnya dan Nilam.
"Kamu baru pulang, Bim?"tanya bapak Bima yang melihat Bima masih mengenakan seragam tentara.
"Iya, Pak. Tadi ada tugas,"sahut Bima,"Aku ke sini hanya untuk mengambil handphoneku, Pak. Tadi pagi tertinggal di kamar,"ujar Bima.
"Ya sudah, ambil saja! Dan segeralah pulang. Istri mu pasti sudah menunggu mu,"ujar bapak Bima.
"Iya, Pak,"sahut Bima.
"Walaupun sudah pindah rumah, kamu harus tetap sering-sering pulang ke sini. Jangan jadi anak durhaka yang melawan orang tua demi wanita,"cetus ibu Bima yang duduk di sebelah suaminya.
"Sudahlah, Bu. Jangan mulai lagi! Apa ibu tidak capek mengoceh terus? Kemarin ibu sudah mengoceh sampai berjam-jam lamanya karena Bima dan Nilam ingin pisah rumah dan hidup mandiri. Apa masih belum puas juga?"sahut bapak Bima menghela napas panjang.
"Mengoceh? Memangnya, bapak kira ibu ini burung, apa? Lagian, wajar saja ibu tidak setuju mereka pisah rumah sama kita. Bima itu anak kita satu-satunya, Pak. Masa setelah nikah malah pindah rumah? Buat apa kita jauh-jauh pindah ke pulau ini, jika setelah menikah Bima malah pisah rumah dengan kita? Kalau tahu Nilam seperti itu, nggak mau ibu menjadikan dia menantu,"ketus ibu Bima yang masih tidak setuju Bima keluar dari rumah mereka.
Bima hanya bisa menghela napas mendengar perkataan ibunya. Pria itu memilih meninggalkan kedua orang tuanya itu untuk mengambil handphonenya, di kamarnya. Namun Bima nampak terkejut saat melihat begitu banyak panggilan tidak terjawab dari Aurora.
"Ada apa Aurora menghubungi aku sebanyak ini? Apa terjadi sesuatu pada Aurora?"gumam Bima yang jadi mengkhawatirkan Aurora.
Bima menelpon balik Aurora. Tapi sudah dihubungi berkali-kali, nomor Aurora malah tidak aktif. Bima pun menjadi semakin khawatir.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Aurora. Kalau tidak, tidak mungkin Aurora menghubungi aku. Apalagi sampai berkali-kali seperti ini,"gumam Bima, lalu bergegas keluar dari kamarnya.
"Pak, Bu, aku pulang,"pamit Bima nampak terburu-buru.
Bapak Bima nampak mengernyitkan keningnya melihat Bima yang nampak terburu-buru. Sedangkan ibu Bima nampak tersenyum sinis.
__ADS_1
Bima melajukan motornya menuju rumah Aurora dengan kecepatan di atas rata-rata. Pria itu sangat mengkhawatirkan Aurora.
"Semoga kamu baik-baik saja, Ra,"gumam Bima dalam hati.
***
Di rumah Aurora setelah Lucas pergi.
Rayyan menghela napas panjang melihat istrinya yang tertunduk. Pria itu lalu menghampiri Pak Hamdan.
"Maaf, Pak! Aku telah membuat keributan dan menganggu waktu istirahat bapak,"ucap Rayyan pada Pak Hamdan.
"Tidak apa-apa. Bapak mengerti perasaan kamu. Jika bapak berada di posisi kamu, bapak pasti juga akan berbuat sama seperti kamu. Aurora sudah berkali-kali menolak orang yang bernama Lucas itu. Bapak juga sudah berkali-kali memperingati dia agar tidak mendekati Aurora, karena Aurora sudah bersuami. Tapi orang itu tetap keras kepala dan terus mendekati Aurora. Karena dia tidak percaya jika Aurora memiliki suami. Ray, kita harus melaporkan pria itu ke polisi karena telah menculik Zayn,"sahut Pak Hamdan.
"Aku masih punya rencana lain untuk orang itu, Pak. Setelah itu, aku akan melaporkan dia ke pihak yang berwajib,"sahut Rayyan.
"Ya, sudah. Bapak serahkan padamu saja, bagaimana baiknya menurut kamu,"sahut Pak Hamdan.
Pak Hamdan nampak sangat percaya pada Rayyan. Pak Hamdan merasa Rayyan adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Jadi, Pak Hamdan sangat yakin, jika Rayyan pasti bisa menjaga putrinya dengan baik.
"Iya,"sahut Pak Hamdan tersenyum tipis.
Sepasang suami-isteri itu akhirnya kembali ke dalam kamar mereka. Meninggalkan semua orang yang masih berada di ruang tamu.
"Wahh.. Tuan keren sekali. Sudah tampan, tubuhnya seksi, jago berkelahi pula,"gumam pelayan yang paling muda di rumah itu dalan hati, penuh kekaguman pada Rayyan.
"Jangan berpikir macam-macam tentang Tuan Rayyan. Atau kamu akan menyesal nanti. Cepat bereskan dan bersihkan ruangan ini!"titah Mastuti terdengar datar di telinga pelayan muda itu. Mastuti tidak suka dengan cara pelayan itu menatap Rayyan.
"Iya,"sahut pelayan muda itu dengan hati yang terasa dongkol pada Mastuti,"Perempuan tua ini bertingkah seperti majikan saja. Padahal dia juga pelayan seperti aku,"gerutu pelayan itu dalam hati.
"Awas saja kalau kamu berani macam-macam dengan Tuan Rayyan. Aku tidak akan tinggal diam,"gumam Mastuti yang juga jadi tidak suka pada pelayan itu, sama seperti Aurora.
Di kamar Aurora.
"Sayang, siapkan lagi pakaian ganti untuk ku. Aku ingin mandi lagi,"pinta Rayyan pada istrinya.
__ADS_1
Rayyan merasa tubuhnya kotor setelah menghajar Lucas tadi. Karena ada darah Lucas yang mengenai tubuhnya. Rayyan tidak ingin menyentuh istrinya saat tubuhnya tidak bersih.
"Hum,"sahut Aurora.
Rayyan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Aurora menyiapkan pakaian untuk suaminya.
"Ternyata hidup tanpa suami itu memang tidak enak. Aku beruntung Rayyan menemukan kami. Jika tidak, buaya darat itu akan menindas ku dan memperlakukan aku sesuka hatinya,"gumam Aurora yang sekarang menyadari betapa beratnya hidup tanpa suaminya.
***
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Bima tiba juga di rumah Aurora.
"Kenapa aku merasa ada orang-orang yang mengawasi rumah ini,"gumam Bima dalam hati.
Sebagai seorang prajurit, Bima tentu sangat peka dengan keadaan di sekitarnya. Namun pria yang masih memakai seragam dinas itu tetap bersikap biasa saja. Walaupun sebenarnya pria itu sedang dalam mode waspada.
Bima menekan bel rumah Aurora dan tak lama kemudian pelayan di rumah Aurora pun membukakan pintu.
"Apa Aurora ada?"tanya Bima setelah pintu itu di buka pelayan.
"Ada, Tuan. Silahkan masuk! Silahkan duduk! Saya akan memberitahu nyonya dulu,"ucap pelayan muda itu.
"Terimakasih,"ucap Bima.
"Tadi Tuan Lucas yang ke sini dan tau-tau sudah dihajar Tuan Rayyan. Apa tentara ini akan dihajar Tuan Rayyan juga, karena dia sering kesini menemui istrinya?"gumam pelayan itu sambil berjalan menuju kamar Aurora.
Aurora sudah selesai menyiapkan pakaian Rayyan. Setelah sepuluh menit Rayyan di kamar mandi, pintu kamarnya itu kembali di ketuk. Aurora pun bergegas membukakan pintu.
"Ada apa?"tanya Aurora pada pelayan yang paling muda di rumahnya. Pelayan itu sesekali nampak melirik ke dalam kamar Aurora.
"Em.. Ada Tuan Bima mencari anda, nyonya,"
...🌸❤️🌸...
To be continued
__ADS_1