Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
317. Makhluk Hawa


__ADS_3

"Apa?!"Kanaya sangat terkejut mendengar perkataan Andi. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.


"Saya memang orang miskin. Tapi saya punya prinsip dalam menjalani hidup. Saya tidak suka menipu dan tidak suka mengambil keuntungan dari orang lain,"ujar Kanaya seraya membuka kunci handphonenya, lalu menyodorkan handphonenya pada Andi,"Silahkan di hapus!"ucap Kanaya tegas tanpa keraguan.


Andi mengambil handphone Kanaya dan langsung menghapus surat perjanjian yang pernah di buat dan dikirimkannya pada Kanaya. Andi memeriksa dengan teliti agar tidak ada kemungkinan gadis di depannya itu menyimpan surat perjanjian itu di beberapa aplikasi yang ada di dalam handphone itu. Setelah memastikan menghapus surat perjanjian itu dan tidak ada file duplikat, Andi pun memberikan handphone itu pada pemiliknya.


"Terimakasih atas kerjasamanya,"ucap Andi dengan suara dan wajah datarnya.


"Terimakasih, karena telah membantu saya dan juga rekan-rekan saya bebas dari perbudakan nafsuu pengurus villa,"Permisi!"ucap Kanaya meninggalkan Andi dengan wajah yang terlihat sama datarnya dengan Andi.


"Sebelumnya aku menyangka, jika dia orang yang baik, hingga aku sempat merasa simpati dan kagum padanya. Tapi ternyata, dia hanyalah orang kaya yang sombong seperti orang kaya yang lain. Menganggap kami orang miskin ini suka memanfaatkan orang kaya dan berusaha mengambil keuntungan dari mereka. Padahal tidak semua orang miskin berbuat seperti itu,"gumam Kanaya dalam hati.


Melihat wajah Andi yang datar bahkan terkesan dingin, Kanaya menjadi ilfil pada Andi. Apalagi kata-kata Andi mengenai surat perjanjian itu, dari kata-kata Andi, seolah-olah dirinya suka memanfaatkan dan menipu orang lain. Hal itu membuat Kanaya tersinggung sekaligus membuat rasa kagum dan simpati Kanaya pada Andi sebelumnya menjadi hilang.


Andi menghela napas panjang menatap Kanaya yang pergi dengan wajah yang terlihat datar.


"Dasar makhluk hawa! Dikit-dikit baper. Dikit-dikit tersinggung. Datang bulan atau tidak, tetap saja emosi mereka tidak stabil. Ah, sudahlah! Lebih baik aku mempersiapkan segala sesuatu untuk pulang besok,"gumam Andi kemudian kembali ke kamarnya.


Pagi menjelang. Aurora terbangun dalam dekapan Rayyan. Wanita itu menengadah menatap suaminya. Walaupun rambut pria itu acak-acakan karena ulahnya semalam saat mereka sedang bercinta, tapi dimata Aurora, Rayyan tetap terlihat tampan.


Perlahan tangan Aurora terangkat untuk memegang rahang kokoh suaminya. Ada kebahagiaan tersendiri di hati Aurora saat melihat Rayyan bahagia. Dan cara membuat Rayyan bahagia, bagi Aurora sangatlah simpel. Cukup menuruti apa katanya, bermanja-manja pada suaminya itu dan melayaninya di atas ranjang. Maka kebahagiaan akan selalu terlihat di wajah suaminya itu.


Karena bagi orang yang mencintai, melihat orang yang dicintai bahagia sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bahagia. Simpel bukan?


Aurora merasa sangat beruntung memiliki suami seperti Rayyan. Pria yang mau menerima dirinya apa adanya tanpa banyak menuntut darinya.


"Emhh.."gumam Rayyan yang merasakan sentuhan tangan halus istrinya. Perlahan pria itu membuka matanya,"Kamu sudah bangun?"tanya Rayyan dengan suara serak khas bangun tidur, kemudian memegang tangan Aurora yang memegang rahangnya, lalu mencium jemari tangan istrinya itu.


"Hmm.."sahut Aurora tersenyum lembut.


"Pagi ini kita akan pulang. Besok aku harus pergi bersama Andi,"ujar Rayyan seraya memeluk Aurora seakan enggan untuk meninggalkan istrinya itu.

__ADS_1


"Aku akan merindukanmu,"ucap Aurora membalas pelukan Rayyan.


"Aku akan berusaha untuk menyelesaikan masalah di sana secepatnya. Aku tidak tahan jika harus berpisah lama dengan kamu,"ucap Rayyan mengecup puncak kepala Aurora penuh cinta.


Setelah menikmati liburan beberapa hari, tanpa terasa waktu untuk pulang pun tiba. Merasakan quality time bersama orang tercinta dan keluarga. Jauh dari hiruk pikuk kendaraan dan polusi udara. Jauh dari keramaian, menghilangkan penat dan capeknya bergelut dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya.


Keluarga Rayyan akhirnya meninggalkan villa tempat mereka berlibur beberapa hari ini. Naima terlihat semakin bahagia menghabiskan waktu bersama kedua cucunya. Hanya jika ada arisan saja, Naima baru berkumpul dengan teman-teman sosialitanya.


Bahkan pernah sekali Naima membawa Zayn ke tempat dirinya menghadiri arisan bersama teman-teman sosialitanya di temani seorang baby sister yang biasa merawat Zayn. Walaupun nyatanya yang lebih banyak merawat Zayn adalah Aurora dan Naima. Baby sister itu hanya perlu mengambilkan, mempersiapkan atau membawa perlengkapan bayi milik Zayn. Bahkan menggendong Zayn pun jarang.


Teman-teman sosialita Naima pun menjadi gemas melihat Zayn. Bayi yang tampan dengan tubuh yang padat berisi dan murah senyum. Membuat para teman sosialita Naima berebut untuk menggendong Zayn.


Di dalam mobil yang melaju, Rayyan, Aurora dan Naima yang memangku Zayn nampak duduk di kursi penumpang di belakang kursi kemudi.


"Ma, biar aku yang memangku Zayn. Mama pasti lelah. Tubuh Zayn semakin berat. Tidak baik jika mama sampai kelelahan,"ujar Aurora yang duduk di tengah-tengah Rayyan dan Naima.


Aurora takut jika Naima kelelahan yang berujung pada sakit. Apalagi dulu hemoglobin Naima sempat turun. Hingga mengharuskan Naima untuk banyak istirahat dan mengkonsumsi obat penambah darah serta memakan makanan dan buah-buahan yang dapat membantu pembentukan sel darah merah.


"Mama nggak merasa lelah, kok. Liburan beberapa hari ini membuat tubuh mama menjadi segar,"ujar Naima yang memang terlihat semakin energik semenjak memiliki cucu.


"Ya, sudah. Kalau mama lelah, mama bilang padaku, ya!"ujar Aurora tersenyum lembut seraya mengelus kepala Zayn yang sedang memakan biskuit bayi.


"Hum,"sahut Naima seraya membersihkan mulut cucunya yang belepotan oleh biscuit,"Oh, ya, Ra, apa kabar bapak dan ibu kamu? Sudah lama mereka tidak datang ke rumah,"tanya Naima yang tiba-tiba teringat dengan kedua orang tua angkat Aurora.


Walaupun Naima tahu Pak Hamdan lah yang telah menyuntikkan racun ke tubuh suaminya hingga akhirnya suaminya meninggal, tapi Naima tidak membenci Pak Hamdan. Karena Pak Hamdan tidak punya niat untuk membunuh suaminya. Pak Hamdan juga tidak mendapatkan keuntungan apapun dengan meninggalnya suaminya.


Bahkan sebelum pulang ke kampung Pak Hamdan sempat berlutut di depan Naima dan berulang kali meminta maaf pada Naima karena benar-benar tidak tahu jika dirinya dimanfaatkan untuk membunuh suami Naima.


Mengetahui Pak Hamdan hidup dihantui rasa bersalah selama bertahun-tahun dan juga hidup menderita di kampung hanya karena takut dipenjara atas kesalahan yang tidak disengaja nya, Naima pun memaafkan Pak Hamdan.


Apalagi Pak Hamdan dan Bu Ella telah menyelamatkan, merawat dan membesarkan Aurora yang notabene adalah putri dari sahabatnya dan suaminya. Bahkan sekarang Aurora menjadi menantunya yang sudah memberikannya seorang cucu yang tampan, lucu dan sehat.

__ADS_1


"Bapak dan ibu mau siap-siap panen, ma. Setelah panen, mereka pasti akan sibuk untuk bercocok tanam lagi,"sahut Aurora.


"Apa ibumu sudah benar-benar sembuh?"tanya Naima.


"Sudah, ma. Ya, walaupun kadang bicaranya agak kurang jelas dan jalannya juga belum terlalu normal,"sahut Aurora.


"Sepertinya bapak dan ibumu kerasan sekali tinggal di kampung. Apa tinggal di kampung itu begitu menyenangkan?"tanya Naima yang memang seumur hidup tidak pernah tinggal di kampung.


"Kalau masalah itu, tergantung dari orangnya, ma. Yang pasti, kalau di kampung bapak dan ibu menanam banyak sayuran, buah, bumbu dapur dan apa saja yang dibutuhkan untuk memasak. Tentunya semua hanya akan di petik saat akan di masak saja. Jadi, semuanya masih segar. Apalagi semua tanaman itu menggunakan pupuk alami dan jarang menggunakan pestisida. Rasa sayurannya memang lebih segar dan enak, ma,"ujar Aurora menjelaskan.


"Ohhh.. Begitu ternyata. Kok, mama jadi kepengen liburan di kampung bapak dan ibu kamu, ya? Sepertinya seru,"ujar Naima nampak antusias.


"Mama yakin mau liburan di kampung bapak dan ibu?"tanya Rayyan yang sedari tadi mendengarkan percakapan istri dan mamanya.


"Mama ingin mencobanya,"sahut Naima nampak sangat tertarik berlibur di kampung Aurora. Aku dan Andi akan mengurus perusahaan kita yang ada di luar negeri. Jika mama dan Aurora ingin berlibur di kampung bapak dan ibu, aku akan mengaturnya,"ujar Rayyan yang memberikan waktu untuk istrinya berkumpul dengan kedua orang tua angkatnya selama dirinya pergi.


"Tuan yang mengaturnya? Mana ada? Pasti akulah yang harus mengatur semuanya,"gumam Andi dalam hati yang duduk di sebelah kursi kemudi.


"Beneran, sayang?"tanya Aurora nampak antusias.


"Tentu saja,"sahut Rayyan tersenyum lembut seraya mengelus kepala Aurora.


Waahh.. Mama jadi nggak sabar pergi ke sana,"sahut Naima antusias.


Rayyan menghela napas panjang. Setelah pulang nanti, Rayyan akan bersiap pergi keluar negeri. Meninggalkan anak dan istrinya dalam waktu yang belum bisa ditentukan. Entah apa yang akan terjadi dalam perjalanan kali ini. Mengingat perusahaan itu saat ini sedang dalam masalah.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2