Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
139. Tak Seindah Dirimu


__ADS_3

Pagi menjelang, Aurora nampak menggeliat dan dekapan Rayyan. Walaupun sudah terbangun, namun Aurora merasa enggan untuk membuka matanya. Terlalu nyaman rasanya berada di dalam dekapan suaminya.


Rayyan ikut terbangun karena pergerakan Aurora. Namun pria itu malah mengeratkan dekapannya pada Aurora. Hingga sesuatu di bawah sana ikut terbangun.


"Shitt! Kenapa dia bangun lagi?"umpat Rayyan yang merasakan benda pusakanya mulai terbangun. Dan benda pusakanya itu tidak akan mau tidur jika belum masuk ke dalam sarungnya.


Mau tidak mau, Rayyan harus kembali memasukkan benda pusakanya itu ke dalam sarungnya.


Jemari tangan Rayyan mulai bergerak nakal di tubuh Aurora. Wajah pria itu pun sudah berada di ceruk leher Aurora.


"Rayy.. "gumam Aurora perlahan membuka matanya.


"Sekali lagi, ya? Dia bangun,"pinta Rayyan seraya menusuk-nusuk paha Aurora dengan miliknya.


Mengingat sebentar lagi istrinya akan datang bulan, Rayyan meminta haknya tanpa menahan diri. Anggap saja bekal sebelum nanti harus puasa beberapa hari.


Aurora hanya bisa pasrah melayani Rayyan. Walaupun sebenarnya merasa lelah setelah Rayyan tidak membiarkan dirinya tidur dengan tenang semalaman.


Pagi itu Rayyan kembali menikmati dan mengguncang tubuh Aurora. Hingga istrinya itu kembali meracau dan memanggil namanya berkali-kali karena merasa nikmat dan gelisah yang bersamaan. Menjambak rambut Rayyan yang sedang menikmati dua bukit kembar miliknya. Terkadang meremas sprei, mencengkram lengan Rayyan ataupun menggigit dada Rayyan untuk meluapkan rasa nikmat yang membuatnya semakin gelisah.


Rayyan terus bergerak liar di atas tubuh Aurora hingga akhirnya merasakan sesuatu yang akan meledak dari dalam dirinya. Sepasang suami-isteri itu melenguuh panjang saat cairan hangat dari dalam tubuh mereka menyembur secara bersamaan. Menikmati rasa hangat dan denyutan di tubuh mereka yang terasa nikmat.


Rayyan merebahkan tubuhnya di samping Aurora, kemudian mendekapnya erat. Merasa puas setelah hassratnya bisa tersalurkan. Mendapatkan pelepasan yang memuaskan setelah bekerja keras di atas tubuh istrinya. Bermandi peluh menikmati segalanya yang terasa bagai candu.


Aurora kembali terlelap karena merasa lelah. Suaminya ini benar-benar ganas. Saat setiap hari bekerja, berangkat pagi pulang malam saja tidak pernah absen untuk meminta haknya. Apalagi sekarang yang benar-benar libur tanpa mengerjakan apapun. Hingga akhirnya Aurora lah yang dikerjakan oleh Rayyan.


Rayyan yang ikut terlelap akhirnya terbangun saat merasakan perutnya lapar.


"Ra, sudah siang. Kita mandi,, yuk! Kamu pasti sudah lapar, 'kan?"Rayyan berusaha membangunkan Aurora karena hari semakin beranjak siang.


"Aku lelah sekali, Rayy,"gumam Aurora yang merasa tubuhnya benar-benar lelah.


"Aku mandiin, ya?"tawar Rayyan.


"Aku tidak mau... "sahut Aurora pelan.


"Aku benar-benar hanya akan memandikan kamu. Tidak akan macam-macam,"sahut Rayyan yang tahu jika Aurora pasti takut jika dirinya akan kembali meniduri Aurora.

__ADS_1


Aurora tidak merespon. Wanita itu masih memejamkan matanya. Tubuhnya benar-benar terasa lelah. Aurora hanya pasrah saat Rayyan menggendongnya menuju kamar mandi dan mendudukkan dirinya di dalam bathtub. Kali ini Rayyan benar-benar hanya memandikan Aurora. Beberapa menit kemudian, mereka pun selesai mandi dan tak lama kemudian makanan yang di pesan Rayyan pun sudah di antar.


Rayyan menatap wajah istrinya yang terlihat pucat dan nampak tidak berselera untuk makan.


"Apa makanannya tidak enak? Ingin aku pesankan makanan lain?"tanya Rayyan seraya menyelipkan anak rambut Aurora di telinga Aurora.


"Aku tidak selera makan, Ray. Aku ingin makan buah-buahan saja,"sahut Aurora yang makanan di piringnya baru dimakan tiga sendok.


"Okey, kamu ingin makan buah apa?"


"Apa aja,"sahut Aurora tidak melanjutkan makannya.


Rayyan segera memesan buah-buahan untuk Aurora. Pria itu menghela napas melihat istrinya yang hanya mengacak-acak makannya.


"Makanlah walau sedikit! Kamu tidak akan kenyang jika cuma makan sedikit. Ayo, makan dulu sebelum buah-buahannya datang,"ucap Rayyan seraya menyodorkan sesendok makanan pada Aurora.


Aurora membuka mulutnya namun terlihat malas-malasan. Mengunyah pelan makanya. Lagi-lagi Rayyan hanya bisa menghela napas melihat istrinya yang nampak sangat malas makan itu.


"Kita periksa ke dokter, ya! Wajah kamu pucat sekali,"


"Tapi wajah kamu benar-benar pucat, Ra,"


"Aku pucat karena kelelahan. Dan itu semua karena kamu. Kamu nggak udah-udah minta,"sahut Aurora dengan wajah cemberut.


"Iya, ini salahku. Aku minta maaf!"


Rayyan hanya bisa menghela napas. Memang benar, Aurora kelelahan karena dirinya. Karena itu Rayyan tidak bisa berkilah lagi selain mengaku bersalah.


"Memang kamu yang salah,"


"Iya.. iya.. aku yang salah. Tapi kamu harus makan, biar nggak lemas. Apa kau tidak ingin jalan-jalan? Jika kamu lemas, bagaimana kamu bisa pergi jalan-jalan? Ayo, makan! Walaupun sedikit kamu harus makan,"bujuk Rayyan mencoba bersabar menghadapi istrinya yang jadi uring-uringan, manja, bahkan sedikit kekanak-kanakan itu.


Setelah makan sedikit dan makan buah-buahan, mereka pun pergi jalan-jalan. Kemudian mengunjungi danau yang tidak jauh dari tempat mereka menginap. Danau yang memiliki tiga warna, merah, biru dan putih. Danau unik yang warnanya bisa berubah-ubah.


Danau yang berada di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.


Warna air danau berasal dari fitoplankton dan materi dasar danau serta jumlah dan intensitas sinar matahari yang memantul ke sana. Fitoplankton, tumbuhan renik yang mengambang dalam air, menjadi sumber warna danau karena jumlahnya banyak.

__ADS_1



"Indah sekali!"gumam Aurora nampak takjub dengan pemandangan yang terhampar di depan matanya itu.


"Kamu suka?"tanya Rayyan yang memeluk Aurora dari belakang. Mereka berdiri menatap danau yang terlihat unik dengan tiga warna itu. Danau yang indah dan memanjakan mata.


"Hum, aku suka,"sahut Aurora tanpa mengalihkan pandangannya pada danau di depannya. Memegang lengan kekar suaminya yang sedang memeluk perutnya.


"Apa kamu ingin melihat sunset di danau ini?"


"Aku mau,"sahut Aurora antusias.


Rayyan tersenyum melihat Aurora yang nampak antusias dan bahagia. Ingin rasanya Rayyan sering-sering mengajak Aurora jalan-jalan. Namun pekerjaan yang tidak ada habisnya, membuat Rayyan tidak memiliki banyak waktu untuk mengajak Aurora jalan-jalan.


Keduanya pun berjalan-jalan di sekitar danau itu, menikmati pemandangan alam yang indah dan udara yang sejuk dan segar. Dan semua itu tidak akan mereka temui di kota. Karena yang terlihat di kota hanyalah gedung-gedung pencakar langit, jalan yang macet, panasnya cuaca, bisingnya suara kendaraan, dan juga polusi udara.


"Ray, aku ingin membeli kain tenun,"ucap Aurora antusias saat melihat kain tenun khas dari daerah itu. Wanita itu menarik tangan Rayyan menuju tempat kain-kain tenun itu berada.


"Belilah apa saja yang kamu inginkan,"ucap Rayyan tersenyum lembut melihat keceriaan Aurora.


Mereka menikmati makanan siang di daerah itu dan mencoba berbagai macam makanan dan minuman khas daerah itu. Rayyan merasa lega karena akhirnya Aurora berselera makan.


Aurora nampak bersemangat dan bahagia, senyuman manis selalu menghiasi bibirnya. Membuat Rayyan ikut bahagia melihatnya.


Sore harinya, mereka duduk di dekat danau itu seraya melihat sunset. Aurora mengambil beberapa gambar sunset dan juga meminta seseorang untuk memotret mereka saat mereka melihat sunset di danau tiga warna itu.



"Indahnya!"ucap Aurora yang melihat mentari senja yang berwarna kuning keemasan dengan background langit yang berwarna biru. Wanita itu menatap sunset seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Rayyan yang duduk di belakangnya. Memegang lengan kekar suaminya yang memeluk perutnya.


"Ini memang indah. Tapi tidak seindah dirimu yang bisa aku miliki dan aku nikmati sendiri. Karena kamu hanya milikku, dan selamanya akan tetap menjadi milikku,"sahut Rayyan seraya menempelkan pipinya di pipi Aurora, ikut menatap langit senja.


...🌸❤️🌸...


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2