
Kanaya menghela napas berusaha bersabar menghadapi Andi yang kata majikannya sedang galau karena terserang virus cinta itu.
"Jas ini tidak akan berguna jika berada di tempat saya. Lagi pula, harga jas ini pasti mahal. Sayang jika tidak dipakai. Banyak di luar sana orang yang tidak bisa memakai pakaian yang layak. Tuan harus bersyukur bisa memiliki pakaian sebagus ini. Jika Tuan sudah tidak menyukainya lagi, Tuan bisa memberikannya pada orang lain yang lebih membutuhkan. Saya akan meninggalkan jas ini di sini. Saya permisi!"ucap Kanaya meletakkan paper bag berisi jas yang di bawanya itu di atas meja Andi.
"Tunggu! Nanti sore sepulang kerja, aku akan mengantarmu ke dokter,"ucap Andi tiba-tiba.
"Tapi, jadwal cek up saya masih besok, Tuan,"sahut Kanaya yang benar adanya.
"Jika kamu tidak mau aku antar ke dokter nanti sore, aku tidak mau lagi melanjutkan menanggung biasa berobat kamu,"ancam Andi seraya melipat kedua tangannya di depan dada membuat Kanaya menahan kesal.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi,"ucap Kanaya kemudian keluar dari ruangan Andi,"Huff.. Sabar.. Sabar.. Orang galau gitu amat, ya?!"gumam Kanaya menghela napas berkali-kali.
Sedangkan Andi yang berada di dalam ruangannya nampak tersenyum smirk.
"Kamu baru sekali mengajak Kanaya berangkat kerja bareng, aku mengantar Kanaya pulang dua kali. Kamu gagal ngajak Kanaya nge-date, aku berhasil ngajak dia nge-date. Skor tiga - satu,"gumam Andi kemudian tertawa.
Ya, begitulah! Terkadang orang yang sedang terkena virus cinta itu memang suka bertingkah aneh. Bahkan bisa mirip orang gila.
Siang harinya, Kanaya memutuskan untuk menemui Randy di ruangannya sebelum waktu makan siang. Kanaya masuk ke dalam ruangan Randy setelah mengetuk pintu dan di izinkan masuk.
"Kanaya? Ada apa?"tanya Randy setelah melihat yang masuk ke dalam ruangannya adalah Kanaya.
"Emm.. Kak, nanti sore kita tidak bisa pulang bareng,"ucap Kanaya tidak enak hati.
"Loh, kenapa?"tanya Randy dengan kening yang mengerut.
"Emm.. Saya lupa kalau sore ini ada jadwal cek up luka saya,"sahut Kanaya yang tidak mau mengatakan jika Andi memajukan jadwal cek up nya.
"Ohh.. Begitu, ya? Kalau begitu, aku antar ke dokter nya, ya?"tawar Randy.
"Tidak usah, kak! Tidak perlu repot-repot,"tolak Kanaya secara halus.
"Tidak apa-apa. Aku nggak merasa di repot kan, kok. Nanti sore aku tunggu di parkiran,"sahut Randy tersenyum tipis.
"Terimakasih, kak. Kalau begitu, aku pergi dulu,"pamit Kanaya.
"Hum,"sahut Randy tersenyum manis.
Kanaya keluar dari ruangan Randy dengan hati senang. Randy memiliki wajah yang tampan, mulut yang manis dan kendaraanya pun mobil. Tentu saja mudah meluluhkan hati wanita. Salah satunya adalah Kanaya.
Randy menghela napas panjang setelah Kanaya keluar dari ruangannya.
"Semoga saja Kanaya bukan gadis yang memandang pria sebagai ATM berjalan seperti gadis-gadis yang sudah pernah aku pacari. Aku akan pacaran dulu sama dia untuk memastikan bagaimana sifatnya,"gumam Randy, kemudian membereskan meja kerjanya karena sebentar lagi akan pergi untuk makan siang.
Sore menjelang dan Andi pun bergegas ke ruangan Rayyan.
__ADS_1
"Tuan, setelah pulang kerja, saya akan mengantar Kanaya ke dokter untuk cek up,"pamit Andi.
"Pasti modus untuk menggagalkan Kanaya pulang bareng si Randy, 'kan?"tebak Rayyan yang lagi-lagi benar.
"Haish.. Lama-lama Tuan lebih cocok jadi cenayang daripada jadi CEO,"ujar Andi yang percuma kalau mau ngeles. Karena apa yang dikatakan Rayyan selalu benar.
"Awas, Ndi! Saingan kamu berat. Dia jago dalam merayu wanita. Sudah profesional. Sedangkan kamu, aku rasa, kemampuan merayu mu tidak akan jauh lebih baik dari aku. Di tambah lagi dengan mulut kamu yang ceplas-ceplos itu. Bicara mu juga suka menohok. Bisa kabur, tuh, cewek karena mulut kamu itu. Selama ini, cuma aku yang betah dengan mulut kamu yang ceplas-ceplos itu,"
"Aku takut nggak ada cewek yang betah pacaran sama kamu. Kalau beneran sudah suka, sudah yakin memilih dia, mending langsung di lamar aja. Dari pada keduluan sama orang. Kalau kamu patah hati, nanti aku juga yang bakal repot. Pindah ke ibukota yang baru aja butuh proses lama, apalagi kalau harus pindah ke lain hati. Kalau baru pacaran, akan rawan putus. Tapi kalau sudah menjadi suami istri, nggak akan mudah untuk mengambil keputusan untuk bercerai. Apalagi kalau sudah ada anak,"ujar Rayyan yang ingin Andi bergerak dengan cepat.
"Haish.. Tuan benar-benar sudah berpengalaman,"sahut Andi.
"Makanya, karena aku sudah berpengalaman, makanya aku mengajari kamu. Kamu, 'kan, cuma masak teori, sedangkan dalam hal praktek, kamu masih mentah,"cibir Rayyan.
"Iya, iya. Sekarang Tuan adalah suhunya,"sahut Andi yang tidak ingin berkilah lagi dengan Rayyan. Karena hasilnya akan nihil jika berdebat dengan yang sudah suhu.
*
Jam kerja sudah usai. Andi melihat Kanaya saat akan keluar dari pintu utama gedung itu.
"Ayo, kita pergi!"ajak Andi saat sudah berada dekat dengan Kanaya.
"Tuan duluan saja,"ujar Kanaya sambil melirik ke arah lift.
Melihat Kanaya yang melirik ke arah lift, Andi bisa menduga jika Kanaya pasti sedang menunggu Randy. Dan tentu saja hal itu membuat Andi merasa tidak suka.
"Tuan!"panggil Kanaya yang tidak beranjak dari tempatnya berdiri membuat Andi yang menarik tangan Kanaya pun berhenti melangkah.
"Ada apa lagi? Mau cek up tidak?"tanya Andi terlihat kesal.
"Saya ke rumah sakitnya bareng Pak Randy saja, Tuan,"ujar Kanaya membuat Andi melepaskan tangan Kanaya.
"Kenapa harus merepotkan dia?"tanya Andi dengan tangan terkepal.
"Saya takut kalau di bonceng sama Tuan. Kalau Tuan naik motornya kayak Valentino Rossi, saya nggak apa-apa. Tapi, Tuan naik motor udah kayak Marc Marquez, ugal-ugalan. Saya takut,"jelas Kanaya dalam hati berkata,"Takut di modusi sama Tuan. Jelas-jelas, Tuan sengaja ngegas motor secara mendadak agar aku bisa memeluk Tuan. Ya, walaupun Tuan Andi dan Marc Marquez sama-sama punya alasan kenapa bawa motor ugal-ugalan. Tapi, aku tidak suka dengan alasan Tuan Andi yang sudah pasti sedang melancarkan modus ingin aku peluk,"gerutu Kanaya dalam hati.
"Oh, begitu?"ucap Andi kemudian mengambil handphonenya dari saku jas nya. Andi menatap layar handphonenya seperti sedang membaca pesan,"Cek up nya besok saja. Aku mendadak ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan,"ucap Andi seraya memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku jas nya.
Tanpa menunggu jawaban dari Kanaya, Andi pergi berlalu begitu saja.
"Sial! Kenapa dia terus saja bersama Randy? Nganterin dia cek up, tapi dia satu mobil dengan Randy? Kalau begitu ceritanya, aku akan terlihat seperti orang ke tiga. Saat berobat nanti, aku akan menjadi obat nyamuk mereka berdua. Shiitt! Aku kalah kali ini. Bagaimana caranya agar dia tidak bersama dengan Randy lagi? Apa aku harus nembak dia? Huff.. malasnya aku harus mengungkapkan cinta,"gerutu Andi yang gengsi menyatakan cinta seraya berjalan menuju parkiran motor dengan wajah kesal.
"Sabar, Ndi!"ucap Rayyan tiba-tiba.
"Astagaa..! Tuan benar-benar sudah seperti jailangkung,"ucap Andi yang terkejut karena tiba-tiba Rayyan sudah ada di sampingnya.
__ADS_1
"Tidak usah galau! Walaupun PDKT, alias Pas Demen Kena Tikung. Mendung belum tentu hujan. PDKT belum tentu jadian. Mending refreshing sana dulu! Aku pulang duluan,"ujar Rayyan terkekeh kecil.
Andi hanya menghela napas mendengar perkataan Rayyan.
Sedangkan Kanaya, gadis itu nampak mengernyitkan keningnya menatap Andi yang semakin menjauh.
"Nggak jadi? Huff.. Dasar! Perilaku orang itu memang susah sekali di tebak,"gumam Kanaya lirih.
"Aya!"panggil Randy membuyarkan lamunan Kanaya.
"Eh, Pak Randy,"sahut Kanaya yang sedikit terkejut.
"Ayo, berangkat!"ajak Randy.
"Saya nggak jadi cek up, Pak. Tuan Andi ada urusan mendadak. Jadi, cek up nya dibatalkan,"
"Oh, ya sudah, kebetulan. Ayo, pergi!"ajak Randy.
Randy melajukan mobilnya seraya berbincang hangat dengan Kanaya. Namun Kanaya mengernyitkan keningnya saat melihat jalan yang mereka lalui bukan jalan ke arah kontrakan nya.
"Kak, ini bukan jalan yang kita lalui tadi pagi. Kenapa kita melewati jalan ini?"tanya Kanaya yang tidak lagi memanggil 'pak' karena mereka sudah tidak berada di kantor lagi.
"Iya. Ini memang bukan jalan ke kontrakan kamu, tapi jalan ke hati kamu,"ucap Randy tersenyum manis seraya menoleh ke arah Kanaya sekilas, lalu kembali fokus menatap jalan raya.
"Iiihh.. Kakak malah bercanda,"ucap Kanaya dengan suara manja.
"Ishh.. Kamu menggemaskan sekali!"ucap Randy tertawa kecil,"Kita kemarin nggak jadi nonton, karena kamu mendadak lembur. Jadi, sekarang aku ingin mengajak kamu ke taman,"jelas Randy dan Kanaya pun tersenyum senang.
Tak lama kemudian mereka pun tiba di taman. Randy mencari tempat yang nyaman untuk berduaan.
"Aya, kamu duduk di sini dulu, ya? Aku akan membeli minuman sebentar,"pamit Randy.
"Ah, iya,"sahut Kanaya kemudian duduk di bangku di tepi danau kecil yang ada di tempat itu.
"Lepaskan aku!"pekik seorang gadis yang tangannya di pegang oleh seorang pemuda. Membuat pandangan Kanaya yang tadinya ke arah danau beralih ke dua orang itu.
"Aku tidak akan melepaskan kamu. Beraninya kamu memutuskan aku dan menghilang selama tiga bulan!"ucap pemuda itu penuh amarah.
"Lepaskan dia!"ucap seseorang yang tiba-tiba muncul.
"Tuan Andi?"gumam Kanaya saat melihat orang yang baru saja muncul itu adalah Andi.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued