
Naima men-scroll layar handphonenya melihat postingan para teman-teman sosialita nya. Mereka nampak bahagia dan tanpa beban. Tidak seperti dirinya yang di kurung putranya sendiri di dalam rumah. Tidak di ijinkan bertemu dengan siapapun. Bagi Naima, hari-hari di dalam rumah seperti di dalam penjara.
Menghubungi teman-teman sosialitanya pun, malah membuat teman-teman nya banyak bertanya ini dan itu. Terutama masalah Naima yang akhir-akhir ini tidak suka ikut bepergian dan jarang membeli barang-barang branded.
Naima benar-benar merasa sangat bosan berada di rumah sendirian. Tanpa ada kegiatan apapun. Meminta Rayyan menyudahi hukuman juga percuma. Putranya itu, jika sudah membuat keputusan sangat sulit untuk di rubah.
Naima keluar dari kamarnya dan melihat Hendrik yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Hendrik!"seru Naima, membuat Hendrik menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Naima.
"Halo, mamaku yang cantik!"sahut Hendrik dengan senyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. Pria itu berjalan menghampiri Naima.
"Dari mana saja, kamu? Pergi begitu saja meninggalkan mama. Apa kamu tidak kasihan sama mama? Mama seperti burung dalam sangkar di rumah ini. Mama kesepian,"ujar Naima menampilkan wajah lesunya.
"Uluh..uluh.. kasihan sekali mama ku tersayang ini,"ujar Hendrik menuntun Naima untuk duduk di sofa.
"Kamu benar-benar kasihan pada mama atau meledek mama?"tanya Naima dengan wajah yang bersungut-sungut.
"Tentu saja aku merasa kasihan. Mama ku tersayang yang biasanya bebas terbang kemana-mana harus terkurung dalam sangkar emas,"ujar Hendrik seraya menggenggam tangan wanita yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya itu.
"Hen, jika kamu menikah dengan Natalie, mama pasti tidak akan kesepian seperti ini,"ujar Naima menatap wajah Hendrik lekat.
__ADS_1
Hendrik menghela napas panjang mendengar kata-kata mamanya itu. Pria itu melepaskan genggaman tangannya pada tangan Naima.
"Kenapa tiba-tiba mama ingin menikahkan aku dengan Natalie? Bukankah mama akan menikahkan Natalie dengan Rayyan?"tanya Hendrik seraya menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Rayyan benar-benar sudah tergila-gila pada perempuan yang bernama Aurora itu. Dia sama sekali tidak mau melirik Natalie. Mama sudah melakukan berbagai macam cara agar Rayyan mau menikahi Natalie. Tapi tidak satupun dari usaha mama yang berhasil. Bahkan yang terakhir kali memakai ide kamu pun tidak berhasil,"ujar Naima menghela napas panjang.
"Jika Rayyan tergila-gila pada Aurora, itu wajar saja, ma. Aku juga tergila-gila pada dia. Lelaki mana, sih, yang tidak tergila-gila pada wanita secantik, seseksi dan se- bohai Aurora? Jika ada lelaki yang tidak tertarik dengan Aurora, mungkin matanya sudah rabun. Dan otaknya sudah tidak normal lagi. Mungkin juga tidak perkasa lagi,"sahut Hendrik panjang lebar.
"Tapi mama tidak menyukai dia. Dia itu berpendidikan rendah, dari keluarga menengah ke bawah. Tidak seperti Natalie yang berpendidikan tinggi dan berasal dari keluarga kaya. Sangat memalukan jika teman-teman sosialita mama mengetahuinya. Mau di taruh di mana muka mama?"sahut Naima dengan wajah kesal.
"Ya nggak di mana-mana, ma. Tetap di tempatnya. Memangnya muka bisa di pindahkan ke punggung atau perut,"sahut Hendrik tanpa dosa.
"Mama serius! Tidak sedang bercanda!"ketus Naima yang merasa kesal mendengar tanggapan dari Hendrik.
"Haiss.. terserah kamu lah!"ketus Naima.
"Lagian, mama tahu sendiri, Natalie itu tidak lebih cantik dari Aurora. Bahkan bisa di bilang, jauh lebih cantik Aurora dari pada Natalie. Wajar saja Rayyan memilih menikah dengan Aurora.Jika aku menjadi Rayyan, aku juga akan melakukannya hal yang sama seperti Rayyan,"sahut Hendrik masih setia menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Kalau begitu, kamu saja yang menikah dengan Natalie,"ucap Naima tiba-tiba.
"Aku tidak mau! Aku ini masih mau bebas, ma! Aku belum ingin menikah, apalagi memiliki anak. Itu terlalu merepotkan. Dan menikah dengan Natalie? Lebih baik aku hidup membujang dari pada menikah dengan dia. Dia itu gadis yang manja dan tidak terlalu pintar. Pekerjaan nya hanya menghambur-hamburkan uang saja. Jika aku menikah dengan dia, aku tidak akan bertambah kaya, tapi aku bakal cepat bangkrut dan jatuh miskin. Karena kami sama-sama tidak pintar mengurus perusahaan. Kami hanya bisa menghabiskan uang tanpa bisa mencari uang,"ujar Hendrik membuang napas kasar.
__ADS_1
Hendrik menyadari jika dirinya tidak memiliki kemampuan untuk mengurus perusahaan. Dirinya tidak pernah memiliki nilai yang bagus dalam mata pelajaran apapun. Nilainya mentok standar. Hanya bisa menghasilkan uang dari menjalani hobinya sebagai fotografer. Yang bahkan penghasilan nya tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan nya sendiri.
"Natalie tidak seburuk itu, Hen,"sahut Naima.
"Aku memang pria brengsek, ma. Otakku juga pas-pasan. Tapi bukan berarti aku tidak bisa menilai wanita. Aurora itu jauh lebih cantik, lebih bohai, dan lebih mandiri dari pada Natalie. Pokoknya lebih segalanya dari Natalie. Walaupun hanya kecil-kecilan, dia memiliki usaha sendiri, dan tidak tergantung pada orang lain. Sungguh dia itu wanita idaman para pria. Tidak bisa di bandingkan dengan Natalie,"ujar Hendrik panjang lebar.
"Tapi hanya Natalie yang mengerti mama, Hen. Dia yang selalu punya waktu untuk mama. Dia yang selalu mau mendengarkan keluh kesah mama,"ujar Naima dengan wajah lesu.
Naima tidak tahu bahwa sebenarnya Natalie hanya pura-pura perhatian pada Naima. Natalie terpaksa melakukan semua itu karena ingin mendapatkan hati Naima. Menjadikan Naima jalan untuk mendekati Rayyan. Namun sayangnya tidak berhasil.
"Jika mama menyukainya, bukan berarti kami harus menyukainya juga. Cinta itu tidak bisa di paksakan, ma. Lagian, ini bukan lagi jamannya Siti Nurbaya. Main di jodoh- jodohkan segala,"gerutu Hendrik.
"Lalu, mau sampai kapan kamu akan seperti ini Hen? Apa kamu mau selamanya hidup membujang? Tidak ingin berkeluarga?"ujar Naima seraya memijit pelipisnya sendiri.
"Kalau Rayyan mau menceraikan Aurora, aku akan menikahi dia. Aku akan berhenti menjadi seorang Casanova dan akan menekuni hobi ku menjadi fotografer hingga aku bisa sukses dan bisa menghidupi keluarga kecil ku bersama Aurora nanti,"ujar Hendrik dengan senyum di bibirnya. Mata pria itu menerawang membayangkan bagaimana jika dirinya bisa menikah dan hidup bersama Aurora.
Sebenarnya, Hendrik adalah seorang fotografer yang hasil jepretan nya banyak yang menyukai. Namun karena tidak serius menjalani hobinya itu, Hendrik tidak mendapatkan banyak uang dari hobinya itu. Padahal banyak yang menawarkan pekerjaan padanya. Tapi karena Hendrik tidak suka bekerja di atur orang, Hendrik tidak menerima tawaran pekerjaan yang datang padanya. Namun jika Aurora mau menjadi istrinya, Hendrik berjanji pada dirinya sendiri akan berubah dan menjadikan hobinya sebagai sumbernya pendapatan utamanya.
...🌸❤️🌸...
.
__ADS_1
To be continued