Kupu-kupu Malam Tapi Perawan

Kupu-kupu Malam Tapi Perawan
223. Membawa Ke Kota


__ADS_3

"Halo, Bu!"sapa Aurora tersenyum tipis.


"Ra, ini Pak RT. Bapak cuma mau memberitahu padamu. Bapak kamu mengalami kecelakaan dan ibu kamu jatuh di kamar mandi. Sekarang mereka ada di rumah sakit, Ra,"ujar suara yang ternyata bukan ibu Aurora, melainkan Pak RT yang ada di kampung Aurora.


"A.. apa?!"Aurora nampak sangat terkejut mendengar kabar dari Pak RT itu.


Tangan Aurora menjadi tremor dan hampir saja handphone Aurora terjatuh di lantai jika Rayyan tidak cepat menangkap handphone istrinya itu. Namun tanpa sengaja Rayyan menekan ikon berwarna merah yang berfungsi untuk mengakhiri panggilan.


"Ada apa?"Rayyan yang melihat wajah Aurora menjadi cemas dan khawatir.


"Ray, bapak kecelakaan, dan ibu jatuh di kamar mandi. Aku.. aku ingin pulang untuk melihat keadaan ibu dan bapak, Ray,"ucap Aurora dengan airmata yang sudah berderai.


"Kamu sedang hamil besar. Tidak mungkin melakukan perjalanan jauh, sayang. Jika kamu memaksa untuk pergi, itu bisa membahayakan bayi kita,"


"Tapi, Ray..."


"Kamu tenanglah! Aku akan mengurus semuanya,"ujar Rayyan memotong kata-kata Aurora.


Rayyan memeluk Aurora seraya menghubungi nomor yang terakhir kali menghubungi Aurora. Aurora menangis dalam pelukan suaminya.


"Halo, Ra!"sahut suara di seberang telpon.


"Halo, saya suami Aurora. Ini siapa, ya?"tanya Rayyan.


"Oh, suaminya Aurora? Saya Pak RT, nak,"


"Apa yang sebenarnya terjadi, Pak? Dan bagaimana keadaan kedua mertua saya?"


"Pak Hamdan mengendarai motor dalam perjalanan pulang dari kota dan terlibat kecelakaan dengan sebuah mobil pribadi serta beberapa pengendara motor yang lain. Kami belum tahu keadaan Pak Hamdan saat ini. Sedangkan Bu Ella yang mendengar Pak Hamdan kecelakaan menjadi panik. Bu Ella jatuh di kamar dan tidak sadarkan diri. Saat ini keduanya sedang di tangani di UGD. Saya dan beberapa orang warga sedang menunggui mereka,"jelas Pak RT yang memang sedang duduk di depan UGD menunggu Pak Hamdan dan Bu Ella bersama beberapa orang warga yang biasanya bekerja di sawah dan kebun Pak Hamdan.


"Maaf, Pak. Saat ini Aurora sedang hamil besar. Jadi, Aurora tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Saya juga tidak tega meninggalkan Aurora di sini. Karena itu, saya minta tolong pada bapak dan yang lainnya untuk mengurus kedua mertua saya untuk sementara waktu sebelum orang saya sampai di sana,"


"Tidak masalah, Nak. Kami akan mengurus mertua kamu, sampai orang suruhan kamu datang kemari,"


"Terimakasih banyak, Pak. Tolong bapak kirimkan alamat rumah sakitnya, ya!"pinta Rayyan sopan.


"Sama-sama, Nak. Setelah ini akan bapak kirimkan alamat rumah sakitnya,"


"Terimakasih, Pak,"ucap Rayyan kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.

__ADS_1


"Ada apa, Ray?"tanya Naima yang mendekati suami istri itu karena melihat Aurora menangis.


"Orang tua Aurora mengalami kecelakaan, ma. Tolong mama temani Aurora dulu, ya? Aku ingin mengurus masalah ini dulu,"ujar Rayyan seraya menatap Naima.


"Iya. Kamu tidak perlu khawatir. Mama akan menemani Aurora,"sahut Naima menatap prihatin pada Aurora.


"Terimakasih, ma,"ucap Rayyan, kemudian merenggangkan pelukannya pada Aurora dan menatap Aurora,"Sayang, kamu sama mama dulu, ya! Jangan menangis! Kasihan anak kita. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk bapak dan ibu,"ujar Rayyan lembut seraya menghapus air mata Aurora dengan kedua ibu jarinya. Rayyan mengecup kening Aurora kemudian perut Aurora dan beranjak pergi.


"Tenanglah, Ra! Jika kamu tidak tenang, itu akan berpengaruh buruk pada janin mu,"ujar Naima mengingatkan Aurora. Wanita paruh baya itu duduk di samping kanan Aurora, tempat Rayyan duduk tadi seraya menggenggam tangan Aurora dengan hangat.


"Iya, ma,"sahut Aurora lirih.


"Ada apa, ma?"tanya Hendrik yang tidak sengaja melihat Rayyan menghapus air mata Aurora, lalu pergi meninggalkan Aurora bersama mamanya.


Sedangkan Sumi yang datang bersama Hendrik pun langsung duduk di sebelah kiri Aurora dan mengelus punggung Aurora yang nampak berusaha menenangkan diri.


"Orang tua Aurora mengalami kecelakaan. Rayyan sedang mengurusnya,"sahut Naima seraya menghela napas panjang.


"Sabar, ya, Ra! Pasti suamimu akan melakukan yang terbaik untuk kedua orang tua kamu,"ucap Sumi.


Aurora tidak menjawab. Wanita itu hanya mengangguk kecil sambil menghapus sisa air matanya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Berusaha berpikir positif dan berdoa agar kedua orang tuanya baik-baik saja.


Rayyan menghampiri Andi yang sedang asyik makan ayam dan ikan panggang bersama Roni.


"Baik, Tuan,"sahut Andi, tanpa banyak bicara bergegas bangkit dari duduknya.


"Aku akan mengirimkan alamat rumah sakitnya padamu,"


"Baik, Tuan,"sahut Andi bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


"Ada apa, Ray?"tanya Aiden yang tiba-tiba muncul.


"Orang tua Aurora masuk rumah sakit. Bapak mengalami kecelakaan lalu lintas dan dan ibu jatuh di kamar mandi,"sahut Rayyan menghela napas panjang.


"Sebaiknya kamu bawa Aurora ke kamar. Temani dan menangkan dia,"ujar Aiden yang merasa prihatin dengan ujian yang kembali datang dalam kehidupan sahabatnya itu.


"Hum,"sahut Rayyan bergegas kembali menghampiri Aurora.


Rayyan membawa Aurora ke kamar mereka. untuk menenangkan Aurora. Sepasang suami-isteri itu meninggalkan acara keluarga yang masih berlangsung.

__ADS_1


Sedangkan Andi langsung berangkat ke rumah sakit tempat kedua orang tua Aurora di rawat. Menggunakan helikopter ambulans bersama petugas medis di dalamnya.


Sesampai di rumah sakit tempat kedua orang tua Aurora di rawat, ternyata kedua orang tua Aurora telah keluar dari UGD. Bu Ella sudah dipindahkan ke ruang rawat. Sedangkan Pak Hamdan masih di rawat di ICU.


Sebagai tanda terimakasih, Andi memberikan sejumlah uang pada Pak RT dan beberapa warga. Karena merekalah yang telah membawa Bu Ella ke rumah sakit dan menunggu Bu Ella dan Pak Hamdan sampai Andi datang.


"Bagaimana keadaan Bu Ella, dok?"tanya Andi yang menemui dokter yang menangani Bu Ella.


"Beliau mengalami stroke karena stress dan mengidap Disartria,"


"Disartria? Apa itu, dok?"


"Disartria adalah gangguan bicara akibat kelemahan pada fungsi otot yang digunakan untuk berbicara. Disartria umumnya dipicu oleh gangguan pada sistem saraf yang memengaruhi gerak bibir, lidah, pita suara, dan diafragma sehingga organ-organ tersebut tidak berfungsi normal,"


"Pengidap disartria akan mengalami kesulitan dalam mengontrol otot-otot bicaranya, karena bagian otak serta saraf yang mengontrol pergerakan otot tersebut tidak berfungsi secara normal,"


"Apa bisa disembuhkan, dok?"


"Bu Ella mengalami benturan di kepala yang mengganggu fungsi otak, sehingga beliau mengidap disartria. Saya sarankan untuk menjalankan terapi bicara. Karena disartria yang disebabkan karena kondisi otak ini akan menjadi sulit untuk disembuhkan, sehingga terapi berbicara adalah satu-satunya cara,"


"Terimakasih, atas penjelasannya, Dok,"ucap Andi kemudian menemui dokter yang merawat Pak Hamdan.


"Bagaimana keadaan Pak Hamdan, dok?"tanya Andi pada dokter yang menangani Pak Hamdan.


Pak Hamdan mengalami koma. Koma ini terjadi karena kerusakan salah satu bagian otak akibat cedera di kepala,"


"Berapa lama kira-kira Pak Hamdan bisa sadar, dok?"


"Kami belum bisa memastikan. Tapi, melihat cidera yang di alami Pak Hamdan, kemungkinan tidak akan terlalu lama,"


Penjelasan dokter itu membuat Andi sedikit merasa lega. Andi segera menghubungi Rayyan dan mengabarkan tentang keadaan Pak Hamdan dan Bu Ella. Setelah mendengar penjelasan dari Andi, Rayyan memutuskan untuk membawa kedua mertuanya ke kota agar bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik.


Andi pun segera mengurus administrasi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Pak Hamdan dan Bu Ella untuk membawa Pak Hamdan dan Bu Ella ke kota. Andi menggunakan helikopter yang dibawanya untuk membawa kedua mertua majikannya itu. Pak Hamdan dan Bu Ella pun bergantian di naikkan ke helikopter.


"Tunggu!"ucap Andi saat petugas medis ingin membawa masuk Pak Hamdan ke helikopter.


...🌸❀️🌸...


Maaf, aku cuma bisa update satu bab, karena lagi kumpul bareng keluarga.πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2