
Bu Ella baru saja selesai menggoreng pisang dan membuat kopi untuk Pak Hamdan. Bu Ella membawa pisang goreng dan kopi yang masih mengepul asapnya itu ke teras rumahnya.
"Ini, kopi pesanan bapak dan ibu kasih temen nya, pisang tanduk goreng,"ujar Bu Ella meletakkan sepiring pisang goreng dan kopi hitam di atas meja teras di mana Pak Hamdan sedang duduk.
"Wahh.. mantap ini, Bu. Kok, cepet, ya, Bu, pisangnya masak,"ujar Pak Hamdan seraya mengambil pisang goreng.
"Pisangnya, 'kan, sudah tua, banget, Pak. Jadi cepat matang,"sahut Bu Ella seraya duduk di kursi di sebelah meja. Posisi meja itu diapit kursi yang di duduki Pak Hamdan dan Bu Ella.
..."Enak, ya, Bu, kalau punya kebun sendiri. Nggak terlalu banyak lagi yang harus di beli,"ujar Pak Hamdan seraya menikmati pisang goreng....
"Iya, Pak. Kebun yang di beli Aurora itu banyak tanaman nya. Ada pisang, sukun, mangga, rambutan, alpukat, singkong, ketela, bahkan tanaman untuk bumbu dapur pun ada. Orang yang punya dulu rajin banget berkebun,"sahut Bu Ella ikut mengambil pisang goreng.
Atensi Pak Hamdan dan Bu Ella teralihkan saat mendengar suara dering handphone dari dalam rumah.
"Ada yang menelpon, Bu,"ujar Pak Hamdan.
"Sebentar, Pak. Biar ibu lihat siapa yang menelpon,"ujar Bu Ella beranjak dari duduknya kemudian mengambil handphonenya di dalam rumah.
Setelah melihat siapa yang menelpon nya, Bu Ella pun segera menerima panggilan masuk itu.
"Halo, Ra!"sahut Bu Ella seraya berjalan keluar menuju teras di mana Pak Parman berada.
"Bu, tidak bisakah ibu dan bapak ke kota lebih awal? Aku ingin menghabiskan waktu bersama bapak dan ibu. Aku ingin mengajak ibu dan bapak jalan-jalan,"ucap Aurora dari sambungan telepon.
"Tidak bisa, Ra. Bapak dan ibu sedang panen kedelai,"sahut Bu kembali duduk di kursi yang ada di teras bersama Pak Hamdan.
"Kenapa nggak nyuruh orang aja, sih, Bu? Atau jual saja. Aku akan mengganti kerugian ibu dan bapak,"bujuk Aurora.
Bu Ella menghela napas menatap Pak Hamdan,"Ini bukan masalah uang, Ra! Orang di kampung ini pada panen semua. Jadi susah untuk mencari orang buat membantu bapak dan ibu panen. Kalau kedelainya tidak di panen juga, nanti malah nggak bisa di panen lagi. Sayang kalau terbuang sia-sia, Ra,"sahut Bu Ella beralasan.
"Padahal, aku ingin sekali kita bisa berkumpul lebih lama, Bu,"sahut Aurora terdengar sedih.
"Maaf, ya, Ra!"ucap Bu Ella tidak enak hati.
"Baiklah. Tidak apa-apa. Aku tunggu ibu dan bapak sebelum hari resepsi pernikahan ku,"ujar Aurora kemudian.
"Iya. Ibu dan bapak nanti datang,"sahut Bu Ella dan panggilan telepon pun diakhiri.
__ADS_1
"Apa Aurora meminta kita ke kota lebih awal lagi, Bu?"tanya Pak Hamdan setelah Bu Ella meletakkan handphonenya di atas meja.
"Iya, Pak,"sahut Bu Ella menghela napas panjang.
"Bapak sebenarnya malas mau pergi ke kota, Bu. Tapi Aurora pasti sangat kecewa jika kita tidak datang di acara resepsi pernikahannya. Suami Aurora itu orang kaya. Di acara resepsi pernikahan Aurora nanti, pasti akan banyak orang kaya juga, Bu. Bapak takut jika sampai bertemu dengan keluarga orang itu. Sepertinya, waktu itu yang memergoki Bapak adalah salah satu anggota keluarga mereka, Bu,"ujar Pak Hamdan membuang napas kasar.
"Yaa.. gimana lagi, pak? Masa kita tidak datang di acara resepsi pernikahan putri kita sendiri?"sahut Bu Ella kembali menghela napas panjang.
"Bapak merasa berdosa karena telah membuat nyawa orang lain hilang, Bu,"sahut Pak Hamdan dengan wajah sendu.
"Sudahlah, Pak! Kenapa bapak masih saja memikirkan soal itu. Lupakan saja! Walaupun beribu kali bapak menyesalinya, tidak akan bisa merubah apa yang sudah terjadi, Pak,"ujar Bu Ella yang tidak ingin Pak Hamdan selalu dihantui oleh rasa bersalah.
"Bapak tidak bisa melupakan kejadian itu, Bu. Seorang pasien meninggal karena bapak,"ujar Pak Hamdan penuh sesal.
"Itu bukan karena bapak. Bapak hanya menjalankan tugas bapak sebagai perawat. Bapak tidak tahu kalau akan terjadi hal seperti itu,"sahut Bu Ella menenangkan.
Bu Ella merasa prihatin pada Pak Hamdan. Bertahun-tahun suaminya hidup dihantui rasa bersalah, namun tidak bisa berbuat apapun untuk memperbaiki kesalahannya.
"Tapi tetap saja, yang membuat pasien itu meninggal adalah bapak, Bu,"sahut Hamdan membuang napas kasar.
"Bapak tidak tahu, Bu. waktu itu, memang Heru yang seharusnya memberi obat pada pasien itu. Tapi tiba-tiba dia mengatakan sedang sakit perut dan meminta bapak untuk menggantikan dia melakukan pekerjaan nya. Bapak kasihan sama dia, lalu bapak tolong dia. Bapak menggantikan melakukan tugas dia, tapi malah terjadi hal yang tidak bapak duga. Padahal, baru hari itu bapak bekerja di rumah sakit itu,"sahut Pak Hamdan yang mengingat peristiwa yang membuatnya ketakutan dan akhirnya memilih meninggalkan kota tempatnya mengais rejeki. Pak Hamdan memilih tinggal di daerah pedesaan seperti saat ini.
"Apa mungkin, Heru yang melakukannya, Pak? Mungkin saja, Heru di bayar orang untuk melenyapkan orang itu dan sengaja meminta bapak untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya dia lakukan agar dia tidak di curigai orang. Ibu curiga pada dia, Pak. Soalnya waktu ibu mengantar Aurora ke kota dulu, ibu mampir ke sebuah apotik besar untuk membeli minyak angin. Tapi ibu terkejut saat melihat Heru datang ke apotik itu menggunakan mobil bagus. Apalagi saat mengetahui bahwa pemilik apotek itu adalah Heru. Sekarang bapak pikir dulu! Heru itu keadaan ekonominya tidak lebih baik dari kita. Karena dia harus menanggung dua orang tuanya, istri dan kedua orang anaknya. Tapi beberapa tahun kemudian, dia bisa memiliki apotik yang besar dan mobil yang bagus. Walaupun bukan mobil mewah, tapi itu mobil termasuk bagus, Pak,"ujar Bu Ella panjang lebar.
"Kita tidak bisa menuduh orang tanpa bukti,Bu. Fitnah itu namanya,"ujar Pak Hamdan.
"Ibu hanya curiga, Pak. Masa iya, seorang perawat yang perekonomiannya tidak lebih lebih baik dari kita bisa memiliki apotik besar dan juga mobil yang termasuk bagus haya dalam waktu beberapa tahun? Rasanya nggak mungkin banget, pak,"ujar Bu Ella mengemukakan pendapatnya.
"Kita tidak tahu rejeki orang, Bu. Ibu jangan berprasangka buruk pada orang lain,"
"Ibu tidak berprasangka buruk pada orang lain, Pak. Cuma, menurut ibu, perubahan Heru yang drastis itu nggak masuk akal, Pak! Di luar nalar. Nggak tahu kalau dia melakukan pesugihan, ibu bisa percaya dia bisa kaya mendadak kalau dia melakukan pesugihan,"
"Ibu ini ada-ada saja. Di jaman modern yang teknologi berkembang pesat seperti ini, ibu masih percaya sama yang begituan. Ibu berpikir kalau Heru jadi babii ngepet, terus istrinya di rumah nungguin lilin? Habis itu, kalau lilinnya nyalanya nggak stabil istri Heru harus segera meniupnya. Begitu? Ibu terlalu banyak nonton film jadul,"ujar Pak Hamdan tersenyum tipis menggelengkan kepalanya pelan.
"Bapak jangan menganggap hal semacam itu tidak ada! Walaupun ini jaman modern dan segalanya canggih, hal-hal di luar logika seperti itu masih ada, Pak. Percaya nggak percaya, hal mistis itu ada, Pak. Tidak hilang walaupun jaman semakin maju,"
"Iya, mungkin ada hal semacam itu, Bu. Tapi bapak nggak pernah menemukan hal semacam itu selama hidup bapak. Sampai saat ini, belum pernah sekalipun bapak bertemu dengan yang namanya setan, tuyul, genderuwo, kuntilanak, pocong atau yang semacamnya,"
__ADS_1
"Ihh.. amit-amit, Pak! Jangan sampai bertemu! Cukup ibu dengar dari cerita orang dan dari televisi saja,"sahut Bu Ella jadi bergidik ngeri. Wanita paruh baya itu jadi merinding setelah mengamati keadaan sekeliling rumahnya yang lumayan gelap dan sepi.Suara burung hantu dan beberapa suara bintang malam yang terdengar, membuat suasana bertambah menjadi seram.
"Ayo, masuk saja, Pak! Ibu jadi takut,"sahut Bu Ella beranjak dari duduknya, lalu menarik tangan Pak Hamdan untuk masuk ke dalam rumah.
"Eh, nanti dulu, Bu! Kopi bapak sama pisang goreng nya di bawa masuk dulu,"
"Iya. Ayo, cepat masuk, Pak!"sahut Bu Ella melepaskan tangan Pak Hamdan, kemudian mengambil cangkir kopi dan sepiring pisang goreng di atas meja teras itu, lalu bergegas masuk.
"Dasar ibu! Dia sendiri yang membicarakan hal mistis, dia sendiri pula yang ketakutan,"gumam Pak Hamdan menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya pelan, ikut masuk ke dalam rumah.
...πΈβ€οΈπΈ...
Sedikit curhat.
* Aku ucapkan terimakasih banyak pada semua reader yang menyempatkan waktu membaca karya author amatiran ini, dan memberikan dukungan berupa like, hadiah, vote, komentar positif dan juga ulasan positif untuk karya ini.
β’Bagi yang tidak menyukai karya recehan ini, mohon jangan meninggalkan ulasan buruk bagi karyaku ini.
Kenapa tidak semua orang bisa menulis? Karena menulis dan menuangkan ide lalu menjadikan nya sebuah karya itu tidak mudah. Maka jika tidak menyukai karya ku, tidak usah memberikan bintang 4, 3, 2, apalagi 1. Sungguh, rasanya hatiku sangat sakit tapi tidak berdarah πππ€§π€§π€§.
Aku meluangkan waktu untuk menulis di sela-sela sibuknya real life. Bahkan hampir setiap malam aku begadang buat menulis.
Tapi BACAAN GRATIS yang aku berikan dengan sepenuh hati ini malah tidak dihargai dan dihempaskan begitu keras dengan memberikan bintang yang bikin hati ku sakit tapi tidak berdarah dan mood nulis ku jadi ambyaaarrrr....πππ€§π€§π€§
Lebih baik tidak usah memberikan bintang, dari pada memberikan bintang , tapi cuma bintang 4, 3, 2, apalagi 1.
Maaf! Aku menyampaikan unek-unek dalam hati ku yang rasanya bikin sesak di dalam dada ini.
*Sekali lagi terimakasih banyak bagi semua yang sudah memberikan dukungan berupa like, hadiah, vote, komentar positif dan juga ulasan positif nya. πππππ
*Bagi yang sudah memberikan ulasan jelek, mohon hargailah karya orang lain, karena tidak akan ada yang suka dengan orang yang tidak mau menghargai orang lain.
πππππ
.
To be continued
__ADS_1