
Andi terus melajukan motornya dengan Kanaya yang masih setia memeluk perut pemuda itu. Senang. Itulah yang dirasakan keduanya tanpa mereka sadari.
Namun, saat mereka tinggal beberapa meter lagi dari gedung tempat mereka bekerja, Kanaya nampak mengingat sesuatu.
"Bee! Berhenti, bee!"pinta Kanaya sedikit agak keras seraya menepuk perut Andi, agar Andi bisa mendengar panggilan nya.
Andi yang mendengar suara Kanaya dan merasakan tepukan di perutnya pun perlahan memperlambat laju motornya, kemudian menepi. Setelah berhenti, Andi membuka kaca helm full face nya.
"Ada apa?"tanya Andi yang melihat Kanaya turun dari motor.
"Aku turun di sini saja, bee. Akan banyak pertanyaan dari orang-orang yang ada di kantor, jika mereka melihat aku berangkat bareng sama kamu,"ujar Kanaya seraya melepaskan helmnya.
"Kemarin-kemarin kamu berangkat bareng Randy biasa saja. Nggak peduli omongan orang. Kenapa saat berangkat bareng suami kamu sendiri, kamu malah memikirkan apa kata orang lain?"cetus Andi terlihat kecewa.
"Bu.. bukan seperti itu, bee. Fans kak, eh, fans Randy hanya beberapa orang. Tapi fans kamu banyak banget. Aku takut di cecar banyak pertanyaan, jika aku pulang pergi ke kantor bereng kamu. Status sosial dan latar belakang kita jauh berbeda. Aku tidak mau suatu hari mendengar mereka bergosip tentang aku yang tidak sepadan dengan kamu. Itu akan membuat aku merasa tidak nyaman. Nanti setelah pulang kerja, aku tunggu di sini lagi. Maaf!"ujar Kanaya dengan wajah tertunduk, merasa serba salah.
Andi hanya bisa menghela napas berat mendengar alasan Kanaya. Pemuda itu mengambil helm yang di ulurkan Kanaya padanya.
"Baiklah. Aku duluan,"ujar Andi yang akhirnya kembali melajukan motornya meninggalkan Kanaya di pinggir jalan yang tidak jauh dari tempat mereka bekerja.
Walaupun merasa kecewa karena Kanaya memilih turun sebelum mereka sampai di gedung tempat mereka bekerja, tapi Andi berusaha untuk mengerti Kanaya.
Kanaya berjalan cepat menuju tempatnya mengais rezeki beberapa bulan ini. Sedangkan Andi sudah tidak terlihat lagi.
Tidak lama kemudian, Kanaya pun sampai di tempatnya bekerja. Gadis itu melihat Andi yang sedang berbicara dengan salah seorang staf. Lalu memeriksa sebuah map yang diberikan orang itu.
"Kanaya!"
"Deg"
"Mampus!"gumam Kanaya lirih saat mendengar suara seorang pria sedang memanggil dirinya.
Sudah bisa di pastikan kalau orang itu adalah Randy. Sepintas Kanaya melirik ke arah suaminya yang menampilkan wajah datar. Mau menghindari Randy dengan pura-pura tidak mendengar panggilan Randy juga tidak mungkin, karena pemuda itu tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
__ADS_1
"Awas saja jika berani selingkuh dariku! Akan aku adukan pada ibu,"gumam Andi dalam hati melirik tajam pada Kanaya.
"Maaf, pak, saya berganti pakaian dulu,"pamit Kanaya pada Randy, kemudian bergegas pergi.
"Eh, kenapa dia terlihat buru-buru sekali?"gumam Randy yang sebenarnya merasa kecewa karena Kanaya langsung pergi sebelum dirinya mengatakan apapun.
Andi mengembalikan map yang isinya sudah dibacanya itu pada staf itu dan memberikan sedikit pengarahan. Andi, sedikit melirik ke arah Randy yang terlihat kecewa. Setelah itu, Andi melangkah menuju ruangan Rayyan untuk mengambil beberapa berkas di ruangan majikannya itu. Andi memisahkan beberapa berkas untuk di bawa ke ruangannya.
"Kerja satu tempat, kok, berangkat sendiri-sendiri,"ujar Rayyan yang baru saja masuk ke dalam ruangannya itu, membuat Andi terkejut.
"Haish, Tuan ini senang sekali membuat saya terkejut. Kalau saya mati jantungan karena terkejut bagaimana? Masa baru menikah istri saya sudah harus menjadi janda. Saya bahkan belum merasakan bagaimana itu malam pertama,"ucap Andi yang langsung menutup mulutnya karena keceplosan,"Aihh.. Alamat di ledek Tuan Rayyan ini,"gumam Andi dalam hati. Dengan cepat pemuda itu mengambil berkas-berkas yang harus diperiksanya, Andi berniat untuk segera pergi dari ruangan majikannya itu sebelum Rayyan meledeknya.
"Ha.. Ha.. Ha..ha.. Kasihan sekali kamu. Sudah nikah, tapi belum malam pertama,"ledek Rayyan menertawakan Andi. Pria itu masih berdiri di depan pintu.
"Haish.. Tuan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meledek saya,"gerutu Andi yang ingin kabur, tapi Rayyan malah tidak mau pergi dari depan pintu.
"Bagaimana? Enak, 'kan memeluk guling yang bisa memeluk balik?"tanya Rayyan yang malah berdiri bersandar di pintu ruangannya itu seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"CK, kemarin saja sok bangga dengan status jomblo. Sekarang sudah tahu, 'kan, bagaimana rasanya memeluk guling hidup? Belum nanti, kalau sudah tahu rasanya ciuman. Bagaimana rasanya mengecup, menyesap dan melumatt benda kenyal nan lembut itu. Apalagi kalau sudah tahu bagaimana rasanya menunggang kuda yang bergerak di tempat, tapi membuat nikmat. Bergerak liar dengan perasaan gelisah, tapi merasakan kenikmatan yang benar-benar... Ughhh... "
"Rasanya tidak bisa dideskripsikan saking nikmatnya. Apalagi saat dia mengeluarkan suara indah yang membuat mu semakin gila untuk menikmati tubuhnya. Kamu akan ketagihan seperti orang yang kecanduan narkoba. Ingin lagi dan lagi,"ujar Rayyan dengan suara dan ekspresi yang membuat Andi menelan salivanya kasar.
"Tuan, saya harus bekerja. Jika Tuan terus bicara, sambil berdiri di pintu itu, bagaimana bisa saya pergi ke ruangan saya,"keluh Andi yang sebenarnya pikirannya jadi traveling karena kata-kata dan suara Rayyan.barusan.
"Iya.. iya.. Pengantin baru yang pengen cepat pulang agar bisa praktek setelah mematangkan teori. Tapi, ingat! Tidak semua praktek itu semudah teori. Tapi, yang pasti, praktek itu lebih nikmat dari pada teori,"ujar Rayyan terkekeh kecil.
Andi memilih pergi meninggalkan Rayyan, sebelum otaknya tambah traveling tidak karuan karena perkataan Rayyan.
"Haishh.. Tuan itu benar-benar membuatku berpikir mesum,"gerutu Andi seraya berjalan menuju ruangannya.
*
Tidak terasa waktu terus berjalan, dan hari sudah semakin sore. Waktu pulang pun sudah tiba. Kanaya bersiap untuk pulang. Gadis itupun pergi ke ruangan ganti untuk mengganti pakaiannya. Tak lama kemudian, Kanaya pun sudah keluar dari ruangan ganti. Kanaya ingin segera pergi ke tempat dimana dirinya berjanji untuk menunggu Andi.
__ADS_1
"Kanaya!"
Lagi-lagi suara itu terdengar saat Kanaya tinggal beberapa meter lagi dari pintu utama gedung itu. Dengan terpaksa, Kanaya menghentikan langkah kakinya.
"Seperti aku harus segera menyelesaikan urusan ku dengan orang itu. Aku tidak ingin lagi di kejar-kejar orang itu lagi. Bisa gawat jika si roller coaster kesal karena aku terlalu sering berinteraksi dengan pria lain. Aku takut dia akan mengadu pada ibu,"gumam Kanaya dalam hati.
"Kanaya, ayo, aku antar pulang!"ajak Randy yang berniat membawa Kanaya ke suatu tempat sebelum mengantarkan Kanaya pulang.
"Maaf, pak, saya tidak bisa,"ucap Kanaya tanpa mau menatap Randy.
"Kenapa?"tanya Randy yang merasa heran dengan sikap Kanaya. Menurut Randy, dari kemarin Kanaya sangat berbeda, apalagi hari ini. Kanaya terkesan menghindari dirinya dan nampak tidak nyaman saat di dekatinya.
"Saya tidak mau pergi dengan sembarang pria. Termasuk dengan pak Randy,"sahut Kanaya dengan mata yang berpendar, takut Andi melihat dirinya berinteraksi dengan Randy.
"Apa kamu tidak ingat? Seharusnya kamu memberikan jawaban kamu padaku kemarin,"ujar Randy mengingatkan.
"Saya akan menjawabnya,"sahut Kanaya yang tidak ingin terlalu lama berinteraksi dengan Randy.
"Jangan di sini, Ya! Kita cari tempat lain yang lebih nyaman untuk dijadikan tempat untuk bicara, yuk!"ajak Randy penuh harap seraya meraih tangan Kanaya, namun Kanaya langsung menarik tangannya dari pegangan Randy. Randy mengernyitkan keningnya melihat reaksi Kanaya yang menurutnya semakin aneh itu.
"Saya tidak bisa menerima perasaan pak Randy. Saya sudah di jodohkan ibu saya dengan seorang pria. Jadi, saya hanya bisa menganggap pak Randy sebagai atasan. Mentok-mentok sebagai teman kerja. Maaf! Saya permisi,"ucap Kanaya kemudian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Randy. Pemuda itu berdiri tertegun dengan ekspresi bodoh setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Kanaya tadi.
"Se.. setelah menggantung aku selama empat hari ini, dia menolakku dan pergi begitu saja meninggalkan aku? Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Gimana mau ke penghulu, kalau mentok cuma di anggap teman?"gumam Randy setelah Kanaya pergi agak jauh.
"Plak"
"Astagaa!"Randy sangat terkejut saat tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang. Spontan pemuda itu menoleh pada orang yang menepuknya yang sekarang sudah ada di sampingnya,"Tu.. tuan Rayyan?"ucap Randy tergagap saat melihat orang yang ada di sampingnya adalah Rayyan.
"Yang temenan, kalah sama yang nembak duluan. Yang pacaran, kalah sama yang datang membawa lamaran,"ucap Rayyan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Randy yang masih berdiri bodoh
.
To be continued
__ADS_1